
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
****
Dita mengancam sosok nyai dengan gunting yang di ambil dari tangan Anan, gunting yang sekarang ditangannya itu berada di hadapan lukisan nyai.
"Jangan..! baiklah aku akan menunggu Arjuna saja, ku mohon letakkan benda itu dan menjauh dari lukisanku." ucap sosok nyai itu.
"Memangnya ada hubungan apa kamu dengan papi?" tanya Anan
"Dia adalah suamiku." ucap sosok nyai.
"APA? SUAMI?"
ucap Dita, Anan dan Anita bersamaan.
"Ya, sebelum dia menikah dengan perempuan Jepang itu dia sudah lebih dulu menikahi ku, aku yang memberinya semua harta ini kepadanya."
"Enggak mungkin! kamu bohong kan papi aku gak mungkin menikah dengan hantu sepertimu." Anan meraih gunting ditangan Dita lalu menyodorkan pada sosok nyai penuh ancaman.
"Nan, biarkan dia bercerita." Dita mencegah Anan. "Bisa kau lanjutkan ceritamu?" pinta Dita.
"Semua sudah ku ceritakan, kami memang menikah dengan perjanjian gaib, dia selalu tidur denganku kala Aiko tak mau bersamanya, setelah itu dia menjamu ku dengan darah segar, sekarang aku rindu padanya, rindu berbagi darah segar dengannya." ucap sosok nyai dengan raut sedih.
"Papi aku seperti itu, seburuk itukah dia? pantas saja dia tega menumbalkan ku dan Manan." Anan terlihat kecewa.
"Bukankah kau juga hantu yang meminjam raga orang lain? aku melihat auramu seperti itu?" tanya sosok nyai itu.
"Iya, lalu kenapa?" sahut Anan kesal.
"Sama saja kau denganku, berharap menikahi manusia sepertinya." sosok nyai menunjuk Dita. "Lebih baik menikah dengan ku." ucap nyai tersenyum menggoda Anan.
"Heh udah di bilang yak nyai, yang ini punya aku yak, udah aku tandain nih lihat aja bibirnya banyak stempel bibir aku." Dita menunjuk bibir Anan membuat Anan merasa malu namun menyukai ucapan Dita barusan.
"Seh Dita, bahasanya stempel wkwkwk." ucap Anita sambil tertawa.
"Ya sudah lah aku akan menunggu Arjuna saja, tapi bisakah kau sediakan aku darah?" pinta sosok nyai. "Waktu itu aku menyukai darahmu dan terasa enak sekali."
"Gak mau, pasti kamu menghisap darah Doni ya?" tanya Dita.
"Hantu wanita ini sudah menggangguku bagaimana aku bisa menghisap darah pemuda ini, padahal darah laki-laki ini pasti lezat karena auranya masih perjaka." nyai tersenyum penuh keinginan menghisap darah Doni.
__ADS_1
Anita langsung menghalangi sosok nyai. "Enggak bisa, yang ini punyaku." ucap Anita.
"Ah kalian ini, aku bosan tau menghisap darah Anji*g itu apalagi sekarang dia mati." sahutnya.
"APA? jadi kamu buat molly mati?" Anan terlihat marah berusaha mengejar sosok nyai namun sudah terlanjur sosok nyai yang pergi buru - buru menghilang.
"Kurang ajar awas kau ya nyai." Anan terlihat sangat marah dan kesal.
"Sabar Nan, dia itu istri hantu papi kamu, kalau dia hilang siapa tau papi kamu seperti ada ikatan batin dan tau kalau dia hilang, nanti papi kamu kesini lagi terus ambil kamu dari aku." Dita mencoba menenangkan Anan.
"Sini Ta guntingnya biar aku acak-acak gambar jelek dia."
"Jangan Nan, nanti kalau hantu itu hancur terus bertelepati dengan papi kamu lalu dia datang kemari gimana?"cegah Dita.
"Lah tadi kamu aja mau ngancurin kan?"
"Aku kan cuma mengancam dia Nan, ini aku simpan guntingnya di laci lagi ya, kayaknya ini gunting bukan sembarang gunting deh, takut banget si nyai sama gunting ini." ucap dita
"Kamu gak apa-apa Nit?" tanya Dita langsung menghampiri Anita.
"Gak apa-apa Ta, coba tolong Doni Ta ngeri nih anak gak bangun - bangun." Anita menunjuk Doni. Anan dan Dita segera menghampiri nya.
"Don, bangun Don." Anan menepuk pipi Doni. "Doni bangun!" Anan mengulanginya lagi namun tanpa reaksi.
"Jangan - jangan masih pingsan Ta." ucap Anan.
"Ah masa dari tadi pingsan terus sih." Dita mengguncang tubuh Doni lebih kenceng.
"Ah enggak kok nih masih nafas." Dita menyentuh hidung Doni menaruh tangannya di depan hidung Doni yang masih berhembus nafasnya.
"Terus Doni kenapa Ta, apa perlu nafas buatan dari ku ya?" Anita mencoba menghampirinya Doni.
"Itu mah emang modus nya kamu Nit." Dita menepuk bahu Anita menghentikannya
"Ya kali Ta butuh nafas buatan hehehe."
"Coba aja Ta, kali Anita bener Doni butuh nafas buatan." ucap Anan.
"Lah emang Doni tenggelam apa butuh nafas buatan." sahut Dita.
"Coba gih Nit." perintah Anan ke Anita.
"Coba ya." Anita mencium bibir Doni seketika.
Anan yang melihat Anita mencium Doni malah meremas tangan Dita dengan gemas.
"Apa?" Dita melirik ke arah Anan dengan tajam.
"Enggak jadi inget hehehe." sahut Anan malu.
__ADS_1
"Udah Nit jangan lama - lama, itu mah kamu doyan emang maunya." Dita menepuk bahu Anita.
"Hehehe lupa aku kalau kalian masih ngeliatin aku." Anita tersipu malu.
"Hooaaammm masih pagi Bu, lima menit lagi." ucap Doni memiringkan tubuhnya sambil meregangkan tubuhnya.
"Huuuuuu kirain pingsan taunya pules." Anan menoyor kepala Doni saking kesalnya.
"Sompret nih bocah bikin panik aja gak sadar - sadar." Dita melempar bantal ke arah wajah Doni.
"Gempa, gempa, ada gempa yak." Doni langsung tersadar panik memeluk bantal yang di lempar Dita tadi sambil berdiri.
"Gempa kepala Lo." sahut Anan kesal.
"Lah ini pada kenapa disini?" tanya Doni heran.
"Dasar kebo *****, dari tadi di gangguin hantu nyai sampai di cium Anita bener - bener gak sadar hadeh." Dita menepuk wajahnya.
"Apa? aku dicium Anita?" Doni menoleh ke Anita dengan perasaan takut.
"Sedikit Don, kasih nafas buatan hehehe." ucap Anita dengan wajah polos.
"Bibirku tak perjaka lagi huaaaa." ucap Doni yang lalu dilempar bantal oleh Anan.
Anita membalas lemparan bantal Anan kembali ke wajah Anan, Dita yang tak terima membalas Anita melempar bantal pada wajah Anita, dan terjadilah pertempuran bantal di kamar nyai malam itu.
****
Ibu Mey bergegas menaiki tangga menuju kamar Dokter Dewi. Suara ketukan pintu kamar dokter Dewi yang terketuk cepat oleh ibu Mey. Pagi itu kepanikan melanda ibu Mey sehingga membangunkan dokter Dewi saat itu.
"Kenapa sih Bu..." Tante Dewi membukakan pintu kamarnya sambil meregangkan tubuhnya.
"Nyonya Aiko pulang."
"HAH? sama kak Arjuna kah? wah gawat ini." sahut Tante Dewi penuh kepanikan.
"Ndak nyonya Aiko sendirian, bagaimana ini nyonya Dewi?"
"Bangunkan semua penghuni Bu, nanti saya temui dan jelaskan pada kak Aiko apa yang terjadi dirumah ini."
"Baik Nyonya." ibu Mey segera mengetuk pintu kamar Anan dan Dita serta penghuni lainnya pagi itu.
****
To be continued...
Jangan lupa semua bab nya di like ya terus di Vote please...
Dan yang gak sabar Anan dan Dita menikah serta misteri kematian Anan terungkap bagaimana dia akhirnya nanti mohon maklum adanya yak biarkan Vie memperpanjang novel ini, silahkan di skip kalau tak suka.
__ADS_1
Vie selalu berharap dan berdoa di setiap tulisan novel ini semoga kalian makin suka dan gak bosen bacanya terus vote buat dukung Vie... Serta terima kasih banyak buat yang selalu menunggu novel ini up dan nge vote... I love you to the moon and I won't back lah pokoknya 😘😘😘