Pocong Tampan

Pocong Tampan
Bayi Cantik


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍😊


***


"Bagaimana ini dok, harus dilakukan opsi seksio sesarea terhadap pasien." ucap dokter Handoko selaku dokter spesialis kebidanan dan kandungan saat mengamati laporan mengenai pasien Sandra.


"Baiklah saya akan bertanggung jawab dalam anastesi pasien." ucap dokter Dewi.


"Dokter Marina belum hadir dok, dia akan segera kesini." ucap suster Cindi.


"Baiklah, siapkan pasien di ruangan operasi suster. ucap dokter Dewi


Para dokter dan suster memasuki ruangan operasi. Udara dingin sangat Sandra rasakan dengan balutan pakaian operasi yang tipis tanpa sehelai pakaian dalam apapun di ruangan itu.


"Kak Dewi." ucap Sandra saat melihat dokter Dewi masuk.


"Duduk kan pasien, sus. Hai Sandra saya akan membius kamu ya, kamu tahu kan prosedur nya?" ucap Dewi dengan senyum hangat terpampang di wajahnya.


"Aku tahu kak, aku percaya sama kakak, Kak, tolong kabulkan permintaan terakhir aku." ucap Sandra lirih.


"Permintaan apa San?"


"Jika salah satu dari kami harus memilih tolong selamatkan bayi ku saja ya kak." ada tetes air mata mengalir di ujung kedua mata Sandra saat ia dibaringkan dan dipasangi alat perekam jantung.


"Aku tak perlu memilih San, kamu harus yakin dan kuat." dokter Dewi menepuk pundak Sandra pelan.


***


"Lama banget sih?" Dita berjalan mondar-mandir di hadapan Anan.


"Kenapa kamu yang panik sih Ta? enggak cukup apa kamu mondar-mandir di hati aku sekarang malah mondar-mandir di hadapan aku."


"Apaan sih Anan mah lebay, garing." sahut Dita.


"Aku mau ngintip ah." Anita masuk keruang operasi Sandra.


Tak lama kemudian. "Pusing Ta, eneg banget sumpah, darah dimana-mana belum lagi perut Sandra di potong-potong hiyy." ucap Anita lemas.


"APA? sembarangan banget mereka potong-potong perut Sandra wah gak bisa gue biarin ini mah."

__ADS_1


"Andri tunggu..." Dita terlambat menghentikan Andri yang sudah masuk ke dalam ruangan.


Tiba-tiba Andri keluar ruangan dan duduk disamping ibundanya yang masih mencerna gerak-gerik Dita yang aneh.


"Ya kan Ndri, lihat sendiri kan si Sandra dia apain di dalam sana." ucap Anita.


"Itu namanya operasi secar Nit, emang begitu cara ngeluarin bayi dari perut." jawab Andri.


Anan dan Dita menahan tawanya.


"Maksud aku juga tadi mau ngomong gitu." sahut Dita.


"Ya mana aku tahu hehehe maaf ya Ndri, sudah membuatmu panik." ucap Anita menggaruk kepalanya yang padahal tak gatal.


Satu jam berlalu Sandra berhasil melahirkan bayi perempuan yang cantik mirip seperti Andri. Suster Cindi langsung membawa bayi tersebut ke ruang perawatan para bayi yang baru dilahirkan.


Andri langsung mengikuti suster Cindi bersama Dita, Anan dan Anita.


"Loh kalian mau kemana ini temannya gimana?" ucap ibunya Andri.


"Biarin aja Bu entar juga sadar sendiri." sahut Anan.


***


"Cakep banget dedek nya, mau cium gemes ih." ucap Dita.


"Huuuu nikah dulu tong, jangan kayak gue." Andri menoyor kepala Anan.


"Iyalah gue mah nikah dulu emang kaya elo tempe angus, nabung dulu." Anan menyenggol bahu Andri.


Andri balik menyenggol Anan, berulang kali pula Anan membalasnya sampai mereka saling memiting kepala.


"Jiaaah Ta itu pada berantem sih." tunjuk Anita.


"Udah biasa Nit, biarin aja, ih cantik banget dedeknya." Dita asik menangkap gambar bayi milik Andri dan Sandra.


"Lho ini pak Manan kenapa guling-gulingan sendiri sih?" tanya Cindi yang baru datang dan terkejut.


"Bangun pak, yuk aku bantuin." Tak sengaja Cindi menginjak tubuh Andri saat membangunkan Anan.


"Aduh... sial nih cewek kaga liat apa orang ganteng gini main di injak aja huh." Andri memegang perutnya kesakitan.


Anan tersenyum senang melihat Andri yang kesakitan.


"Ya mana Cindi liat kamu Ndri, aneh lagian berantem mulu hahahaha." sahut Anita.


"Bapak enggak apa-apa kan?" tanya Cindi dengan sangat perhatian.

__ADS_1


"Enggak papa Cin, kalau lupa minum obat emang biasa kumat gitu." sahut Dita sebelum Anan buka suara menjawab.


"Maksudnya Ta?" tanya Cindi.


Dita cuma tersenyum sambil menunjuk dahinya dengan arah horizontal.


"Enak aja Dita, emang aku gila apa?" sahut Anan kesal.


"Siapa yang bilang gila, orang cuma bilang lupa minum obat sih."


"Itu barusan apa di jidatnya gini-gini." Anan menirukan gerakan Dita tadi.


"Hehehhee..." Dita meringis.


"Emang obatnya apa pak, dimana nanti saya ambilin?" tanya Cindi.


"Udah sana Cin, bantuin dokter Dewi nanti dicariin lho."


"Oh iya, hampir lupa saya harus cek pasien nya, maaf ya pak aku terpaksa harus meninggalkan bapak, tapi tenang aja nanti aku segera kembali ko pak." ucap Cindi.


"Sekalian aja nyanyi Cin, kaya lirik lagu tuh barusan." sahut Andri yang tak didengar Cindi.


"Udah sana hush hush." Dita dan Anita mengusir Cindi.


"Nanti aku balik ya pak, pokonya jangan tambah stress pak." Cindi masih berucap sambil berlalu.


"Iya udah sana!" sahut Anan.


"Gara-gara elo sih gue dibilang stress." Anan meninju bahu Andri.


"Emang elo stres." sahut Andri meninju bahu Anan kembali.


"Pada bisa diem gak sih! pusing nih liatnya malah aku yang stress." Dita menengahi keduanya.


"Dia duluan Ta." sahut Anan.


"Dia duluan Ta, liat kan tadi." sahut Andri.


"Udah setoooppp!!! lihat tuh ruang bayi jangan ribut!"


"Yang ribut sih kamu Ta sama Anan, Andri kan gak kelihatan." ucap Anita.


"Oh iya ya." Dita melotot ke arah Andri.


***


To be continued...

__ADS_1


Happy reading... 😘😘


__ADS_2