Pocong Tampan

Pocong Tampan
Stress


__ADS_3

"Dita sini..!" Doni berbisik memanggil Dita kearahnya sambil memberi minyak kayu putih di dahi Anita yang sudah siuman dari pingsannya.


"Kenapa Don?"


"Gue bilang apa, kalo ada korban lagi fix ini mah ni wahana cari tumbal."


"Masa sih Pak Herdi kaya gitu?" sahut Anita ikut berbisik.


"Gue gak curiga sama Pak bos, gue curiga sama Bu Devi." Doni mengeluarkan ponselnya.


"Nih liat yang tadi pagi gue sempet ambil gambarnya."


Dita dan Anita memperhatikan layar ponsel Doni dengan seksama.


"Ini Bu Devi Don?" tanya Dita.


"Iya lah siapa lagi coba, karyawan cewek disini kan cuma elo, Anita sama dia."


"Emang dia lagi ngapain ini?"


Anita menarik ponselnya ke arahnya lebih dekat.


"Liat dong baik-baik dia bawa sesajen tuh terus komat kamit kaya ngomong sama siapa gitu."


"Ini foto Don bukan video mana tau kita kalo dia komat kamit ngomong sama seseorang." sahut Dita.


"Oh iya yak, harusnya gue videoin, tapi asli sebelum ada korban si perenang, sama anak tenggelam itu, mungkin dia juga ngelakuin hal yang sama kaya gitu gue, soalnya gue selalu liat dia dari arah belakang situ."


"Bener juga ya Ta, gue jadi curiga sama Bu Devi." ucap Anita mengangguk-angguk.


"Tapi Kang Ujang juga suka ngelakuin kaya gitu, naro sesajen." ucap Dita membuat Doni dan Anita terkejut dengan mata terbelalak.


"APA..?! Kang Ujang..?!" Dita dan Doni kompak menyahut.


"Iya terus masalah, itu kan kepercayaan dia aja." jawab Dita santai.


"Berati tersangka gue nambah dong."


ucap Doni mengeluarkan sebuah catatan kecil mencatat setiap detail yang berhubungan dengan kasus kecelakaan di wahana ini.


"Maksudnya Don?" Anita melirik kearah catetan Doni.


"Iya tadinya gue curiga sama Bu Devi, tapi gue jadi curiga sama Kang Ujang." Ucap Doni sambil menunjukkan catatan nya.


"Alah udah itu kan asumsi kamu doang Don, jangan suka suudzon sama orang." sahut Dita menutup catatan ditangan Doni.


"Ya siapa tau kan, abis jiwa detektif gue mendadak muncul nih."


"Emmm lagakmu jiwa detektif, jiwa kepo kali ah."


Anita menepuk bahu Doni yang meringis kesakitan.


"Kalian pada ngapain di sini?"


Suara Pak Herdi mengagetkan ke tiganya, Doni langsung menyembunyikan catatan kecil itu kesakunya.


"Eh pak ni barusan minjetin Anita abis pingsan, capek katanya."

__ADS_1


Sahut Doni sembari memijit kaki Anita.


"Orangnya udah sadar kan? cepat kembali ke section kalian..!" Ucap Pak Herdi ketus lalu berlalu ke dalam ruangan nya.


"Jutek banget tumben pak Bos, mana aku lagi dibawa-bawa buat alesan mu Don ckckckc." Anita menjambak rambut di kepala Doni saking kesalnya.


"Udah udah ayo balik kerja, mungkin Pak Herdi stress sama kejadian tadi ditambah bentar lagi ada acara family gathering, maklumin aja."


Dita berdiri menuju pantry.


"Mau kemana Ta?" tanya Anita.


"Buatin kopi pak Herdi biar relax."


"Gue juga ya Ta kopi susu yak." Doni mengacungkan tangannya.


"Aku juga Ta, teh manis anget, sama biskuit kalo ada hehehe." sahut Anita ikut - ikutan.


"Kopi lima ribu, teh manis tiga ribu yak, tambah biskuit lima ribu." sahut Dita lalu menghilang ke arah pantry.


"Yeee macam ibu kantin aja si Dita hahhahaha." Doni tertawa sambil menyentuh dagu Anita.


"Dih... najong..." Anita mengelap dagunya.


***


Tok tok...


"Ini Dita pak, boleh masuk?"


"Pak ini aku bawain kopi susu plus krimer buat bapak."


"Makasih Ta, taro aja di meja."


Pak Herdi masih sibuk dengan laptop di hadapannya.


"Ini pak diminum mumpung anget." ucap Dita seraya menaruh secangkir kopi buatannya di atas meja kerja Pak Herdi.


"Heeemmm."


"Yaudah, saya permisi dulu pak."


Pak Herdi menahan tangan Dita agar jangan pergi. Dia menaruh laptopnya lalu berdiri menuju hadapan Dita.


Pak Herdi memeluk Dita.


"Pak maaf ini kenapa ya?"


"Saya butuh kamu Ta, biarin saya begini aja sebentar."


"Saya saya gak enak pak kalo ada yang masuk liat kita begini."


"Kamu gak suka ya Ta sama saya?"


Deg...


Ini kenapa Pak Herdi bahas kaya gini sih.

__ADS_1


"Ta...?"


"Ma maaf Pak, saya saya suka kok sama bapak, bapak itu bos yang baik sama karyawan nya."


Pak Herdi melepas pelukannya memandang Dita dengan tatapan yang lembut.


"Saya suka sama kamu Ta, bukan suka antar karyawan dan bos tapi suka antar lelaki dan perempuan."


"Maksudnya Pak?" Dita bertanya dengan polosnya.


Pak Herdi menyentuh kedua pipi Dita.


"Saya mau kamu jadi pendamping saya?"


Haaahhh apaaaa somplak nih otak nya pak bos saking stressnya, bisa bisanya dia bilang itu ke aku, ya ampun Gusti muka ku pasti merah banget ini.


"Ta..? kamu kaget yak, sampe gak bisa jawab gitu ?"


"Maaf Pak, saya bingung mau jawab apa, saya belum tau."


"Saya kasih kamu waktu buat mikir kalo kamu setuju, saya mau kamu secepat nya jadi istri saya."


Deg...


mateng aku duh gimana ini.


"Herdi tadi aku dapet..."


Bu Devi terkejut melihat Pak Herdi sedang menyentuh kedua pipi Dita. Dita buru-buru menepis kedua tangan Pak Herdi mundur beberapa langkah.


"Kenapa Vi?"


"Aku tadi dapet telpon dari pihak EO besok kalo ada sedikit perubahan." Bu Devi melihat Dita dengan tajam.


"Maaf pak, saya permisi." Dita keluar dari ruangan dengan kepala tertunduk tak berani menatap Bu Devi.


***


"Kenapa kamu Ta?"


"Gak tau Nit bingung, aarggghhh."


Dita menutup wajahnya dengan buku besar dari atas mejanya.


"Stress nih orang, minum obat gidah, ngeri kambuh ntar." celetuk Anita.


"Sial lho, emang aku orang gila apa."


"Bukan sih, hampir hihihi."


Dita menepuk bokong Anita yang sedang berdiri disamping Dita dengan buku besar ditangannya.


***


To be continued...


Happy Reading... 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2