
Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...
Happy Reading semoga makin suka 😊😊😊
******
Pak Herdi muncul di samping Dita yang langsung mendapat semburan kunyahan kentang goreng dari mulut Anta.
"Om nya ngagetin bunda..." rengek Anta.
"Tau nih pak Herdi datang-datang ngagetin aja deh," ucap Dita.
"Duh... Anta," gumam Pak Herdi sambil mengusap wajahnya.
Pak Herdi menceritakan apa yang ia lihat mengenai Ken yang kabur dan pertemuan si pria misterius itu dan dokter di klinik tempat Arga di rawat.
"Jadi kita harus peringatkan Sahid untuk mengeluarkan Arga dari sana," ucap Dita.
"Ya sekarang saatnya jangan di tunda lagi atau nanti kita akan menyesal," ucap Pak Herdi.
"Ayo bunda, kita bayar dulu lalu pergi!" ajak Anan langsung menggendong Anta.
"Aku tak percaya kalau Ken tega meninggalkan ku," gumam Ibu Eva, di belakangnya ada Pak Herdi yang menertawakannya sambil berpura-pura meninju bu Eva bagai berhadapan dengan samsak.
Anan, Anta dan bu Eva menunggu di mobil sementara Dita memperingatkan Sahid tentang peringatan dari Pak Herdi tadi.
"Tapi anak bapak belum pulih, sebaiknya jangan di bawa pergi dulu " pinta sang dokter.
"Saya mau pindah ke rumah sakit besar saja," ucap Sahid setelah menyelesaikan urusan administrasi di klinik tersebut.
"Tapi pal, kondisi anak bapak belum stabil," sang dokter mencoba menahan Sahid.
"Makanya saya mau segera membawa anak saya ke rumah sakit pak, terima kasih atas kerjasamanya," ucap Sahid membopong tubuh Arga masuk ke dalam mobilnya. Anan segera melaju setelah semuanya siap. Mereka keluar dari daerah yang menyeramkan karena ada suku Ro.
***
Lelah di perjalanan, Dita memutuskan untuk menginap di sebuah hotel yang letaknya tak jauh dari pantai yang mereka lewati.
"Kakak Arga gak usah takut ya, kasian yanda tuh capek biar kita pada istirahat," bisik Anta ke Arga.
"Iya Anta, aku harus belajar berani seperti kamu," sahut Arga.
"Ini hotel asli kan bunda?" tanya Anan.
"Asli... paling juga ya ada yang aneh mondar-mandir gitu deh, tenang jangan kalah sama Anta," Dita melingkarkan tangannya di lengan Anan.
"Hadeh... jangan manja-manjaan deh, gak pantes tau depan anak-anak kecil kayak gini," ucap Sahid dengan sinisnya.
__ADS_1
"Ih sirik aja sih kamu," ucap Anan mencibir.
"Maaf, apa saya boleh tidur bersama Dita?" pinta ibu Eva.
"Kenapa bu? anda takut ya?" tanya Dita.
"Entahlah mungkin bisa dibilang seperti itu, kok saya ngerasa seperti ada yang mengikuti saya ya hmmm," gumam Ibu Eva.
"Baiklah kalau begitu, aku sama ibu Eva dan Anta, nanti yanda sama Sahid dan Arga," ucap Dita.
"Apa? aku harus sama dia? idih ogah!" sahut Anan.
"Ih... siapa juga yang mau sama kamu!" Sahid balas menjawab.
"Udah ayo masuk!" ajak Dita.
Setelah memesan dua kamar hotel, Anan bergegas merebahkan dirinya di atas ranjang yang empuk itu.
"Nan ranjang cuma ada dua, si Arga satu aku satu ya kamu di sofa," pinta Sahid.
"Sembarangan elo aja situ berdua sama Arga di situ, gue sendiri," ucap Anan mulai kesal.
"Abi..." Arga menunjuk ke balik pintu kamar mandi.
"Ada apa Arga?" tanya Sahid.
Saat Anan menoleh, rupanya ada sebelah mata yang mengintip di sana. Rambut panjangnya terurai sampai ke lantai. Senyumnya tersungging menyeramkan. Anan langsung menghampiri Sahid.
"Ini ngapain sih malah dempet-dempet gak jelas kayak gini?" tanya Sahid berusaha melepas tangan Anan di sikunya.
"Emang kamu gak bisa lihat apa, tuh anak kamu aja bisa lihat," ucap Anan sambil menepuk punggung Sahid.
"Emang ada apa Ga?" tanya Sahid menoleh pada Arga yang kini bersembunyi di balik Anan.
"Ada perempuan Bi," sahut Arga.
Anan mendorong Sahid pelan-pelan menuju ke arah kamar mandi, sementara dia dan Arga mengikuti di belakangnya.
"Ini kenapa pada dorong aku kayak gini sih?" gumam Sahid mulai kesal.
"Coba lihat sana!" Anan masih mencoba mendorong pelan Sahid.
"Oke nih aku lihat," Sahid menghampiri kamar mandi dan mendorong pintu itu seketika, Namun karena Sahid tak melihat penampakan perempuan itu ia mendorong pintu itu dengan kuat dan membentur dahi si hantu perempuan itu. Hantu itu jatuh seketika ke lantai.
"Dasar manusia bodoh, emang gak lihat apa eyke udah senyum cantik kayak gini masih di aniaya juga, ih mana sakit banget nih jidat di pentokin pintu," ucap hantu perempuan yang ternyata laki-laki itu menggerutu di lantai.
"Mana gak ada siapa-siapa kan? kalian berdua tuh terlalu ketakutan tau gak!" Sahid makin membanting pintu dan menunjukkan tak ada apa-apa di sana.
__ADS_1
"Woi ini lihat aku! ada aku ini di depan kamu!!!" hantu itu meneriaki Sahid dengan geram. Rambut panjang yang cuma bertengger di setengah kepala itu terjuntai sampai ke lantai. Mata yang satunya hilang menyisakan rongga hitam di sana. Di bagian dadanya yang bersilikon juga bolong di sebelah kirinya, sepertinya hantu itu kehilangan organ jantungnya. Sama juga halnya dengan bagian samping kanan di perutnya juga terdapat sayatan yang menyeruak. Kedua ginjalnya juga hilang.
Entah kekuatan apa yang dia punya, tapi hantu itu dapat membuat Sahid seperti patung kala ia menepuk pipi Sahid seketika.
Anan dan Arga saling berpelukan kali ini. Kaki mereka gemetar dan tak bisa bicara apapun, terlebih melihat perbuatan hantu itu pada Sahid.
"Hei kalian berdua bisa kan lihat aku?" hantu itu menunjuk ke arah Anan dan Arga yang mengangguk ketakutan.
"Bilang sama nih manusia, jangan sombong! untung aja cakep, kalau jelek ihhh udah eyke cabik-cabik tuh muka! bilangin sama dia jangan macem-macem sama Lili," ucapnya sambil mengibaskan rambutnya yang lepas seketika.
"Ih gimana sih nih, gak permanen banget, aku kan mau jadi hantu kuntilanak perempuan yang cantik bukan hantu botak macam tuyul gini ihhh sebel!" Hantu Lili itu menggerutu.
"Eh muka Lili udah cakep kan, putihnya permanen nih, eyeshadow hitamnya juga keren kan?" tanya hantu Lili pada Anan dan Arga sekali lagi.
"I-iya ganteng, eh cantik," sahut Anan.
"Ih sembarangan, udah pasti cantik lah pakai bilang ganteng, hmmm oke deh selamat beristirahat, dan jangan berisik, aku penunggu kamar hotel ini, jadi kalau kalian tenang dan baik, aku juga bisa tenang dan baik, tapi kalau kalian rese, aku bisa lebih rese, paham...!!!" bentak Lili.
Anan dan Arga mengangguk.
"Oke Lili cabut dulu ya, dadah bye bye..." Lili menjentikkan jarinya di hadapan wajah Sahid.
"Kalian pada kenapa bengong, ketakutan gitu?" tanya Sahid.
Anan dan Arga langsung berebut menceritakan perihal pertemuannya dengan seorang hantu setengah perempuan setengah laki-laki yang baru saja membuat Sahid terdiam seperti patung.
"Pasti pada mengigau nih, saking kecapekan, iya kan?" tanya Sahid masih tak percaya.
Hantu Lili yang hanya lewat semata, menoyor kepala belakang Sahid sambil berjalan dengan gemulai dan bersenandung. Lalu hantu itu menghilang.
Sahid terdiam seribu bahasa sambil memegang kepala belakangnya. Rupanya Anan dan Arga tak berbohong batinnya.
******
Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...
Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.
- WITH GHOST (UP)
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â 9 Lives (END)
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â Gue Bukan Player (END)
Vie Love You All 😘😘😘
__ADS_1