
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
"Laper banget ya Ta udah mangkuk ke dua?"
"Abis enak banget asli ini gak pake penglaris." sahut Dita dengan suapan penuh ke mulutnya.
"Iya enak banget untung di pojokan Ta jadi gak ada yang lihat aku makan hihihi." sahut Anita.
"Nit taro garpu nya."
"Kenapa sih Ta lagi enak makan juga."
"Bocah depan kaca ngeliatin kamu tuh."
"Hadeh ngapain juga tuh bocah di depan kaca gitu."
"Hai..." Anan menyapa bocah itu yang membalas sapaan Anan.
"Udah cepetan abisin yuk udah sore." ucap Anan.
"Kita belum naik MRT tadi kan baru naik busway." pinta Dita.
"Tante ngomel entar nih kalau kita kemaleman."
"Tenang ada tatapan maut aku Tante pasti gak jadi marah hehehe."
"Kalau di tatap kaya gitu juga aku gak bakal bisa marah sama kamu Ta." Anan menggenggam kedua tangan Dita dihadapannya.
"Asik adegan romantis lagi." Anita memperhatikan dengan seksama kali ini.
"Lepas ah tanggung satu biji lagi baksonya hap."
"Hmmmm kaga peka Dita mah Nan."
"Iya Nit, rese yak."
***
"Berasa jalan sama artis nih banyak banget cewek-cewek yang ngeliatin Anan Ta."
"Emang juga bikin nyolot kan Nit."
"Udah deh kan cuma kamu yang ada di hatiku." Anan memberikan finger heart pada Dita.
__ADS_1
"Cieeee..." sahut Anita.
"Kamu beli kartu tiket dulu yak disana." tunjuk Dita.
"Mau ke mana nih?"
"Ke Mall Taman Kota aja kan nanti persis turun di stasiun sebrang mall."
"Oke tunggu bentar yak."
"Nan kamu ngantri dari belakang yak jangan kaya tadi main di depan aja."
"Iya iya paham."
Anan menuju antrian loket pembelian tiket kereta api di stasiun xx itu.
"Mending samperin Ta, liat tuh cewek-cewek pada cari perhatian tuh modus ke Anan."
"Malu ah prosesif banget akunya entar bom lagi aku malu Nit, gak pantes kayanya aku sama Anan."
"Kok pikiran kamu gitu sih, wah parah tuh pake minta foto segala Ta."
"Udah lah biarin anggap aja pacaran sama seleb."
"Ehm maaf mbaknya sehat?" tegur seorang pemuda memakai topi putih di hadapan Dita.
"Sehat mas, kenapa ya?"
"Dari tadi ngomong sendirian, mau saya temenin gak?"
"Tapi saya boleh ya duduk samping mbaknya." pemuda itu hampir saja menduduki Anita yang buru-buru berdiri ke samping Dita.
"Hai namaku Erwin." ia mengulurkan tangan kanannya.
"Hai, gue pacarnya." Anan langsung menyambar tangan Erwin dan menjabat nya.
"Oh hai... maaf kirain mbaknya sendirian gak ada yang nemenin maaf ya." Erwin langsung berlalu pergi meninggalkan Anan dan Dita.
"Kamu tuh gak boleh bicara sama orang yang baru dikenal." tegur Anan.
"Lah kamu foto-foto salam salaman sama cewek-cewek yang baru dikenal itu."
"Ya aku kan em aku kan bingung kalau mau nolak, kenapa kamu gak samperin aku malah ngeliatin aja."
"Aku gak mau ganggu kesenangan kamu, mana tiketnya."
"Hmmm ngambek lagi aja. Nih."
"Kok tiga sih."
"Kan kita bertiga."
"Hello Anan aku kan gak ke itung gak keliatan gimana sih." sahut Anita.
__ADS_1
"Oh iya lupa gue Nit, kasih siapa dong ini kartu?"
"Kasih aja penumpang yang lagi baris itu, tapi ingat kasihnya ke cowo jangan cewek entar ke pedean lagi dapet tiket dari kamu."
"Iya iya." Anan menuruti perintah Dita.
***
Sesampainya di mall Dita memutuskan membeli sweater pasangan yang kekinian berwarna ungu untuknya dan Anan.
"Harus ya Ta ungu?" tanya Anita.
"Bagus banget Nit lucu hehehhe."
"Udah mau beli apa lagi?" tanya Anan.
"Aku mau pipis ya tunggu disini yak." pinta Dita.
"Aku tunggu di cafe itu yak." Anan menunjuk coffee shop dihadapannya.
"Ya udah, bentar ya, Nit anterin yuk ke toilet."
"Oke."
Sesampainya di toilet Dita buru-buru menuntaskan hajatnya. Setelah mencuci tangan Dita melihat Anita dengan heran.
"Kenapa Nit?"
"Ta, Ta, itu.. itu... ha-han-hantu." Anita menunjuk sesuatu yang berada di sudut toilet sepi itu sedang berjongkok menjilati sesuatu.
"Itu Kunti kan? terus dia ngapain Nit?"
"Coba liat Ta." Anita mendorong Dita pelan.
"Kebiasaan nih kamu yang hantu tapi kamu yang takut sama sejenisnya hadeh." Dita berusaha melangkah maju.
Hantu perempuan berdaster lusuh mirip kuntilanak namun berhidung lancip seperti gambaran nenek sihir dan bergigi taring itu menoleh ke Dita. Di genggaman nya terdapat pembalut wanita yang penuh darah mentruasi lalu sosok itu menjilatinya.
"Hueeek... mau muntah Nit hueeeek." Dita memuntahkan semua isi perutnya ke wastafel toilet.
"Yah Dita dia nembak sayang makanannya deh."
"Gila mual banget aku."
Sosok hantu itu tertawa mendekati Dita dan Anita.
"Ta.. Ta...itu dia mau apa."
Dita menyiram hantu itu dengan cipratan air membuat hantu itu mundur beberapa langkah.
"Mbak Kunti maaf ya aku gak ganggu jadi please jangan ganggu, ayo Nit kabur."
"Ta tunggu, itu kaki siapa?" Dita menunjuk sepasang kaki milik wanita dengan sepatu datar hitam terbaring keluar dari pintu toilet. Dita memberanikan diri menghampiri kaki itu tanpa memperdulikan sosok Kunti yang masih asik menjilati pembalut itu.
__ADS_1
"Cindi..!" ucap Dita.
***