
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
"Dari mana kalian?" Tante Dewi sudah bertolak pinggang menunggu Anan dan Dita di ruangannya.
"Aku pulang Tante, terus aku mandi ganti baju deh." sahut Dita.
"Anan juga?" tanya Tante Dewi mendelik pada Anan.
"Iya Tante ku yang cantik aku pulang kan mandi juga bareng Dita."
"Apa? mandi bareng? kalian ini yak."
"Tunggu - tunggu tante, dari tadi ya pada salah paham gini dengan kata-kata mandi bareng, kita sama-sama pulang mandi tapi dirumah masing-masing kok, kalau Tante gak percaya tatap mata saya tatap mata saya." Dita memicingkan matanya menatap Tante Dewi.
"Nih apaan si Dita becanda aja kaya gini mana Tante ikutan ngeliatin mata kamu lagi."
"Hehehehe lagian Tante terpesona kan sama mataku?"
"Ampun deh. Kamu ngapain Nan rebahan disitu? ayo ikut, fotographer nya udah dateng dari tadi tau!"
"Hmmm gak bisa liat aku nyender dikit sih." Anan berdiri mengikuti Tante Dewi berjalan keluar menuju ruang pemotretan di ikuti Dita yang berjalan di belakang nya.
"Mana sih si Anita." Dita mencari sosok Anita yang tak kelihatan sedari tadi.
BRUG..!
Dita menabrak punggung seorang pemuda yang bertampang blasteran di hadapannya.
"Hey what are you doing?" tanyanya pada Dita.
"Hey, sorry mister, yes thank you." ucap Dita dengan senyum manisnya.
"Hadeh belepotan banget bahasa Inggris kamu Ta." ucap Tante Dewi gemas.
"Sorry Paul, she is my niece, is she bothering you?"
__ADS_1
Tante Dewi membuat Dita takjub dengan bahasa Inggrisnya yang fasih.
"No, its okay nevermind, where is Mr. Prayoga?" tanya Paul.
"There he is." Tante Dewi membawa Anan ke hadapan Paul.
"He is good looking actually, ok you have to change your clothes."
"Sure, I Will." ucap Anan lalu pergi ke kamar ganti berganti pakaian.
"Wuidih keren juga bahasa Inggris kamu belajar dimana Nan?" tanya Dita takjub sambil membawa jas untuk Anan pakai saat pemotretan.
"Iya dong, aku kan pinter bahasa asing, eh kok aku paham ya Ta?"
"Nah mungkin ingatan kamu mulai pulih Nan."
"Apa cuma keceplosan aja ya tanpa sadar." Anan membuka kausnya di hadapan Dita.
"Astagfirullah, maafin hamba ya Rabb." Dita berbalik badan menutup wajahnya, namun karena penasaran Dita melirik Anan sedikit.
"Ya ampun dia malah ngaca disitu?" Dita melempar Anan dengan jas ditangannya.
"Duh, sakit tau. Aku cuma lagi liat tubuh si Manan ini Ta lihat deh." Anan menunjuk luka jahitan di dada nya.
"Ini kan tubuh Manan ya, tapi di dalam sini kan jantung aku Ta."
"Ya, terus? udah ganti baju yak cepetan nanti Tante Dewi marah-marah."
Dita berbalik badan kembali menutup wajahnya.
"Udah siap, ganteng gak?" Anan menepuk bahu Dita.
cakep banget sih Nan, duh pengen peluk-peluk gemes gitu.
"Wow.... ! biasa aja sih." ucap Dita berbohong.
"Masa sih Ta, coba rambut aku kasih jelly dulu ya biar rapih."
"Sini aku pakein dasinya." Dita menarik kerah baju Anan melingkarkan dasi biru itu di lehernya.
"Hmmm udah wangi nih rambutnya." Anan menciumi kepala Dita berkali-kali.
"Udah deh, modus aja nih." Kedua bola mata Dita bertemu dan bertatapan dengan mata Anan.
Anan menyentuh dagu Dita dan membawanya mendekat, Dita tak bisa menolak nya tubuhnya menurut tak bereaksi dengan sentuhan Anan. Hidung Anan dan Dita sudah berdekatan, Dita menutup kedua matanya berharap sentuhan lebih dari Anan.
__ADS_1
"Ehm ehm pantesan ganti bajunya lama banget." Tante Dewi masuk ke ruang ganti tiba-tiba mengejutkan Dita yang mendorong dada Anan seketika jatuh ke lantai.
"Aduh sakit Ta pantat aku." protes Anan sambil mengelus bokongnya.
"Maaf Nan, habis Tante Dewi ngagetin."
"Kan kalau aku gak ngagetin bakal nerus tuh tadi adegannya, ya kan?" kerling mata Tante Dewi menggoda Dita dan Anan.
"Ayo Anan cepetan si Paul udah nungguin tuh." ajak Tante Dewi.
"Oke oke." Anan mengikuti langkah Tante Dewi namun tak lama kembali kepada Dita.
"Nanti lanjut ya Ta." Anan menggoda Dita.
"Hu.... dasar....!!" Dita menoyor kepala Anan.
Pemotretan Anan bersama Tante Dewi dan beberapa suster yang bergantian untuk menjadi model icon rumah sakit itu cukup membuat para suster histeris dan cari perhatian saat melihat Anan. Apalagi suster Cindi mati-matian berusaha bertukar peran dengan suster lainnya agar bisa berfoto dengan Anan.
"Hadeh nyari minum dingin dulu lah, panas banget kayanya liat para suster itu kecentilan." gumam Dita.
Srak.. srak.. tas besar milik Paul bergerak-gerak seolah ada sesuatu yang hendak keluar dari dalamnya.
"Mas, itu kok tas nya gerak sendiri ya?" tegur Dita pada asisten Mr. Paul yang sedang mengganti lensa.
"Masa sih mba? coba saya cek." lelaki itu membuka tas besar hitam milik Paul dan memperlihatkan isi tas yang hanya terdapat alat-alat pemotretan dan beberapa lensa yang terlindung busa.
"Gak ada apa-apa kok mba." ucap nya mengeluarkan isi tas itu namun Dita melihat dua bola mata yang memandang ke arah nya.
"Bentar mas coba aku penasaran itu apa." Dita makin mendekat.
"Budi, come here." ucap Paul memanggil Budi.
"Ok mister, mbak titip dulu ya tolong beresin."
pinta Budi.
"Iya mas." Dita makin mendekat mencoba merapikan barang-barang kembali kedalam tasnya sampai kepala anak kecil tiba-tiba menyembul keluar dari tas itu dengan wajah penuh darah, anak itu tertawa lirih ke arah Dita.
Dita jatuh terduduk ke lantai menutup mulutnya menahan teriakan yang ingin ia keluarkan.
***
To be continued...
😘😘😘
__ADS_1