
Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...
Happy Reading semoga makin suka 😊😊😊
*****
Dita memandangi Leona yang menatapnya dengan pandangan datar. Tasya menuangkan sereal coklat tersebut ke dalam mangkuk beserta susu untuk Leona.
"Yuk di makan!" ucap Tasya sambil membelai lembut kepala Leona.
"Dia pasti sangat ketakutan ya Sya, nanti malam dia tidur sama kamu dulu, toh si Anta masih suka tidur sama Dita," ucap Tante Dewi yang di jawab anggukan oleh Tasya.
"Jerry sini! kamu temani tante Dewi selagi nenek Rose masih tidur, jangan tinggalkan Tante Dewi bersama anak itu!" bisik Dita.
"Kenapa sih mbak Dita?"
"Udah jangan banyak tanya, pokoknya turuti saja perintahku!" pinta Dita masih dengan berbisik.
"Oke," sahut Jerry dengan nada berbisik juga.
"Sya, ikut aku ke atas!" Dita mengajak Tasya ikut serta sambil menarik tangan Anta juga menuju kamarnya.
"Ada apa sih? tunggu bentar!" sahut Tasya lalu menyusul Dita menuju kamar Dita.
"Kenapa Ta?" tanya Tasya.
"Kamu percaya sama aku kan?" tanya Dita.
"Maksud kamu apa sih? sejak kapan aku gak percaya sama kamu," ucap Tasya duduk di atas sofa kamar Dita.
"Anta tutup pintunya!" pinta Dita memberi perintah pada Anta.
"Oke bunda," ucap Anta seraya melangkah menuju pintu kamar dan menutupnya.
Dita memanggil Pak Herdi, agar dia bisa juga mendengarkan penuturan yang akan dia sampaikan perihal Leona.
"Kalian simak cerita aku baik-baik, kecuali Anta ya," ucap Dita.
"Emang kenapa sih bunda?" tanya Anta ingin tahu.
Tetapi Dita sudah siap meraih ipod dan earphone busanya dan di letakkan pada telinga Anta. Suara musik dari lagu anak-anak terdengar, membuat Anta menggoyangkan kepalanya sambil bernyanyi.
"Anta kamu dengar bunda nak...?" tanya Dita memastikan Anta tak mendengar ucapannya. Tak ada jawaban dari Anta yang asik dengan lagu yang ia dengar menandakan upaya Dita berhasil.
Dita lalu menceritakan perihal yang ia tahu mengenai kejadian yang menimpa Tuan Jhon. Semua penuturan yang tadi Clara ceritakan, di ceritakan kembali oleh Dita pada Pak Herdi dan Tasya.
"Yakin Ta?" tanya Tasya agak ragu, dia terlanjur iba terhadap Leona karena mengingatkannya tentang nasibnya sebagai yatim piatu dan pernah tinggal di panti asuhan.
"Makanya kamu percaya gak sama aku?" tanya Dita meyakinkan Tasya.
"Aku percaya sama kamu tapi..."
__ADS_1
"Tapi aku percaya sama Dita," sahut Pak Herdi membela Dita.
"Dari awal aku lihat anak itu, ada sesuatu yang tak beres dari anak itu, tapi bukan makhluk gaib sepertiku, dia mengendalikan sendiri dirinya sendiri tanpa bantuan makhluk gaib. Jadi, jika dia menyakiti seseorang itu murni karena gangguan kejiwaan dia sendiri, yang entah bagaimana bisa ia mendapatkan aura jahat itu," ucap Pak Herdi membantu Dita meyakinkan Tasya.
"Jadi dia tega menjadi pembunuh ayah yang mengadopsinya sendiri, dan tega menjebak ibu angkatnya juga, Ta?" tanya Tasya.
"Iya begitulah... makanya aku ingin kau waspada, apalagi Tante Dewi memberi perintah pada kamu untuk menemani Leona tidur, ya kan?"
Dita memastikan earphone di telinga Anta tidak jatuh.
"Terus gimana nih?" tanya Anta mulai ketakutan.
"Ya udah kamu temenin, ikuti perintah si Dewi, selagi Dita berusaha meyakinkan siapa itu Leona, nanti saat tidur saya temani kamu," ucap Pak Herdi.
"Ehm ehm... cie yang mau nemenin Tasya tidur," Dita menggoda Pak Herdi.
"Ta... kamu mah gimana sih, kan saya hanya menawarkan bantuan, masa mau si Lily yang nemenin, dia aja kalah kesiksa sama Leona, ya kan?" Pak Herdi menoleh pada Dita.
"Ke siksa sama Leona?" tanya Tasya.
"Bentar nih.." Dita melepas earphone pada telinga Anta.
"Kenapa bunda?" tanya Anta.
"Anta masih inget gak, waktu kak Leona nakal sama Lily?" tanya Dita.
"Ehmm tunggu sebentar, Anta ambil Lily dulu," ucap Anta berlaku seperti orang dewasa sambil bertolak pinggang lalu ia berjalan menuju kamar Tasya meraih boneka Lily.
Dita menangkap tatapan Pak Herdi pada Tasya, lalu pria dalam bungkusan kain kafan dan ikat kepala itu tersenyum sesudah melihat Tasya. Pak Herdi menoleh ke arah Dita yang memandangnya sambil tersenyum. Senyuman Dita yang penuh arti itu membuat pak Herdi salah tingkah. Pria itu yakin Dita pasti melihatnya saat menatap Tasya.
"Nih ya Anta udah bawa tante Lily, pas Anta lagi main sama Ara, kak Leona patahin kepala Lily kayak gini," ucap Anta seraya mematahkan kepala boneka Lily.
'"Awwww.... sakit Anta...!!!" pekik Lily.
"Lalu semua tangan Tante Lily juga di patahin terus badannya di banting, di injek kayak gini, tuh kan tante Lily sampe teriak, berarti kan kesakitan ya tante?" ucap Anta dengan polosnya bertanya pada Lily yang sudah mengaduh kesakitan dari tadi.
"Bisa gak di ceritain aja Ta, gak usa pake praktek, ini namanya Lily ke siksa dia kali tau!" protes Lily yang langsung membuat Dita, Tasya dan Pak Herdi terbahak-bahak tak kuat lagi untuk menahan tawanya.
***
Sepulangnya Anan dan Om Kevin dari kantor polisi, Dita menceritakan kejadian tadi pada Anan. Anan yang sudah mandi dan berganti pakaian piyama putih bergambar sapi senada dengan Dita dan Anta. Anan merebahkan dirinya di atas ranjang kamarnya disusul Dita yang menaruh kepalanya di dada Anan.
"Sulit rasanya meyakinkan tante Dewi kalau ia sudah sayang sama Leona," ucap Anan sambil mengusap kepala Dita, sesekali ia mengecup lembut kepala istri tersayangnya itu.
"Terus gimana dong Yanda, gimana caranya kita untuk meyakinkan Tante Dewi?" tanya Dita sambil memilin put*ng di dada Anan dengan ibu jari dan telunjuknya.
"Aku juga bingung, malahan yang tadi aku tangkap saat Tante Dewi menghubungi hape om Kevin, kalau tante itu berniat mau mengadopsi Leona," ucap Anan yang menikmati sensasi sentuhan sayang Dita.
"HAH?! yang bener yanda? masa iya itu Leona mau di adopsi?" pekik Dita yang terbangun sambil menekan dada Anan dengan keduabtangannya yang menumpu di perut Anan.
"Awww... sakit bunda!" pekik Anan.
__ADS_1
"Eh maaf yanda, maaf ya habisnya gemes, ceritanya terkejut gitu pas denger ucapan kamu tadi," ucap Dita kembali merebahkan kepalanya kembali ke atas dada Anan.
"Ya udah, sekarang Anta mana?" tanya Anan melirik jam dinding yang menempel di kamarnya.
"Masih main sama Tasya, sama Jerry, sama Leona juga kali, tapi aku udah suruh Tasya buat waspada," ucap Dita.
"Sepuluh menit yuk bunda, cukuplah sebentar sayang-sayangnya hehehe..." ucap Anan menggoda Dita. Tangan pria itu kini sampai di tempat kesukaannya di bagian sensitif milik Dita.
"Tuh pak Herdi suruh jadi juri gitu?" Dita melirik ke arah Pak Herdi yang sedari tadi masih duduk membaca majalah sport di sofa kamar Dita dan Anan.
"Astaga, tofu basi...!!! udah tau kita lagi mesra-mesraan di sini, dia malah asik baca majalah di situ!" Anan melempar Pak Herdi dengan bantal di sampingnya.
"Oh... saya pikir mau di bantuin, maksudnya mau di bantuin bicara mengenai Leona gitu hehehe..." sahut Pak Herdi menggoda Anan karena sangat ingin membuatnya kesal.
"Pergi gak!" pekik Anan sambil menimpuk Pak Herdi kali ini dengan guling yang ia raih di sampingnya.
"Hahaha... " Suara tawa Pak Herdi mengisi ruangan kamar Anan dan Dita lalu menghilang keluar dari kamar itu.
***
"Tuh lihat! si Leona ngapain di pojokan kolam renang gitu?" tanya Jerry melirik Leona.
Leona sedang mengamati rumah milik om Kevin tersebut sambil menyelupkan setengah kakinya ke dalam kolam renang. Senandung lirih terdengar dari bibir gadis tersebut.
"Tante masuk yuk... Anta takut..." ucap Anta.
"Ry, aku temenin Anta ya ke atas, kamu temenin Leona," ucap Tasya lalu meraih tangan Anta.
"Enggak mau ah, tau gak ih takut banget aku sama dia, kayaknya anaknya gak beres deh agak lain gitu, apalagi pas kita denger dia kasih racun serangga di taman kan? semenjak itu aku takut sama dia," ucap Jerry.
"Ya udah kamu tidur sama aku sama Anta aja, biar si Leona tidur di kamar kamu itu," ucap Tasya memberi ide.
"Ide bagus!" sahut Jerry mengacungkan dua ibu jarinya ke arah Tasya.
****
Masih bersambung ya guys...
Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.
- WITH GHOST (UP)
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â Kakakku Cinta Pertamaku
season 1 END
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â 9 Lives (END)
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â Gue Bukan Player (END)
Vie Love You All 😘😘😘
__ADS_1