
"Dita sini...!!"
Dokter Andri melambaikan tangannya dari dalam mobil sedan hitamnya.
"Hai dok, aku naik mobil ambulance aja."
sahut Dita menghampiri Andri.
"Di ambulance udah ada Pak Paijo sama Kubil lho, kamu mau duduk sama mayatnya si Dimas?"
Dita melamun berpikir hendak ikut di mobil mana.
"WOI...!! noh liat pocong nya naik noh." tunjuk Andri saat kedua orang pria berpakaian perawat memasukkan jasad yang sudah dibungkus kafan kedalam ambulance.
"Ikut dia aja Ta, ada aku ini." sahut Anan.
Dita membuka pintu belakang mobil dokter Andri.
"Kamu mau ngapain?" tanya Andri.
"Mau masuk tadi katanya nawarin tumpangan."
"Emangnya aku supir kamu? sini depan sama aku!"
"Emmmm, ya udah deh."
Dita melihat Anan yang memasang wajah cemberut di kursi belakang.
Setelah empat jam perjalanan mereka memutuskan untuk berhenti di rest area.
"Makan dulu ya, ke pecel ayam sana." ajak Andri.
"Bos tanya dulu harganya nanti kaget loh pas bayar." ucap kubil.
"Ah masa sih, nanti liat harga di list menu."
"Kalo gak ada harganya?" tanya Dita.
"Semahal apa sih, tenang aja aku yang bayar."
Andri hendak menggandeng tangan Dita namun Anan segera mengganti tangan kubil di genggaman Andri.
Dita tertawa kecil melihatnya.
"Mau makan apa Ta, pesen aja pilih."
"Bos mah saya jadi malu, nih saya buka neng Dita bos." sahut Kubil.
"Ah sial loh, kirain tangan Dita tadi, pantes kasar banget perasaan gue."
Pak Paijo dan Dita makin tertawa dibuatnya apalagi Anan yang sukses mengerjai Andri.
"Bang kubil jangan duduk disitu." sahut Dita karena melihat sosok perempuan berdaster putih mirip Tante Key duduk di sana menundukkan wajahnya sambil menggendong bayi.
__ADS_1
"Kenapa neng?"
"Ya jangan aja, bangkunya mau patah kayanya."
"Oh... makasih yak dibilangin."
Seseorang mengambil bangku itu dan mendudukinya.
"Lah itu bisa didudukin." sahut Kubil menunjuk arah bangku itu.
"Eh iya bisa, kirain mau patah tadi hehehe."
Mampus deh aku sekarang diliatin sama si Tante mana pake melotot lagi haduh itu bayinya tulang sama daging nya keliatan belatung semua, Astagfirullahaladzim kuatkan hamba yaa Allah.
Dita menutupi wajahnya dengan tangan kirinya sambil menikmati hidangan nasi dan cumi goreng saus Padang dengan terpaksa.
"Kenapa Ta? kamu pusing?" tanya Andri heran melihat tingkah Dita.
"Enggak dok, eh Ndri emang gini kalo aku lagi makan hehehe."
Dita mencoba menoleh ke arah Tante kuntilanak itu namun Anan sudah menghalaunya pergi menjauh dari Dita.
Makasih Nan, untung ada kamu.
"Enak banget ini soto ayamnya bos." sahut Pak Paijo.
"Iya lah ditambah lagi laper Pak, enak banget ini dah." Kubil menyantap pecel lele di hadapannya.
"Eh mobilnya udah dikunci kan?" tanya Andri pada kubil.
"Ya kali nanti pocongnya kabur lho jalan-jalan hahahaha."
Kubil dan Pak Paijo menimpali bercandaan Andri hanya Dita yang tersenyum kecut karena sedari tadi selain Tante kuntilanak yang dia lihat bergentayangan juga banyak penampakan pocong yang loncat kesana kemari, belum lagi ada sosok korban kecelakaan yang jauh dari kata utuh bentuk tubuhnya, lalu penampakan hantu dengan wajahnya macam monster di film ultraman.
"Husss gak boleh..!" ucap Dita melihat seorang tuyul yang sedang merogoh laci uang pedagang pecel ayam.
"Kamu kenapa Ta? ngomong sama siapa?" tanya Andri.
"Oh enggak, aku aku cuma ngomong dalam hati gak boleh nambah nanti gendut hehehe."
Dita mencari alasan yang masuk akal sambil matanya menatap tajam ke arah tuyul yang sedang tertawa itu melihat Dita.
"Yaudah balik yuk ke mobil jalan lagi." ajak Andri.
"Siap bos."
"Kamu ke mobil duluan ya Ta, ni kuncinya aku mau kekamar mandi dulu."
"Oke." sahut Dita menuju mobil Andri.
"Astagfirullah... itu pocong perempuan nungguin kamu ya Nan di depan pintu mobil."
"Sembarangan kamu, coba aja tanya ngapain?"
__ADS_1
"Permisi mbak, mau masuk mobil, geser dikit yak." Dita memberanikan diri menggeser pocong perempuan itu.
"Oh kamu bisa liat saya ya hihihihi." Pocong perempuan itu menoleh ke arah Dita.
"Astagfirullah mba maskernya pada retak tuh gradakan gitu."
Dita menutup matanya tak berani menatap wajah pocong perempuan itu yang wajahnya retak dengan garis darah merah dan nanah menyerbakkan bau anyir yang tercium.
"Heeerrrgghhhh kamu yak berani-beraninya ngatain aku." pocong itu menggeram.
"Aku gak ngatain mbak, kan mbak cantik banget cuma itu maskernya aja retak hehehhe."
"Ini wajahku tau, coba liat baik - baik ."
"Mbak mbak coba liat sampingnya tuh ada pocong ganteng kan, dari tadi dia nanyain mbak."
Pocong perempuan itu langsung menoleh ke arah Anan.
"Sialan kamu Ta." sahut Anan.
"Ihhhhhh ganteng banget masnya haiiii anak baru ya disini?"
"Enggak enggak saya bukan anak baru, saya penjaganya dia." Anan buru-buru masuk ke dalam mobil mengikuti Dita.
"Ih mau kemana, masa kamu mau jadi piaraan perempuan jelek itu, mending sama aku stay disini, nanti aku aja jalan-jalan."
"Hey, apa kamu bilang aku jelek...??!!"
Dita keluar dari dalam mobil menarik ikatan di atas kepala pocong perempuan itu.
"Awww kasar mainnya Jambak."
Dimas datang membantu Dita menghalau hantu pocong perempuan itu.
"Hebat banget elo punya piaraan dua cowok cakep gini, awas yak kalo ketemu lagi." Pocong perempuan itu menghilang sembari mengumpat pada Dita.
"Makasih ya mas Dimas, apa kamu Nan liat-liat aku."
"kamu tuh rese banget sih masa aku di tumbalin ke dia."
"Ya abisnya sama sih bentuknya hehehe."
"Oh gitu nih aku pergi yak gak mau nemenin kamu." ancam Anan.
"Yah yah jangan dong, Anan tampan Anan ganteng duh cayang ayo masuk temenin aku dong." Rayu Dita.
"Ta kamu ngapain masih diluar ayo masuk mobil kita lanjut jalan." Andri datang mengagetkan Dita.
"Iya ya, ayo." Dita masuk kedalam mobil melirik kespion melihat Dimas di kursi belakang dengan Anan disampingnya dengan muka kesal
***
To be continued...
__ADS_1
Happy Reading...