Pocong Tampan

Pocong Tampan
Kebenaran dari Citra


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍😊


***


Tiba di sebuah restoran pasta yang terkenal mahal di kota ini sangat membuat Dita, Anita dan Doni terasa senang. Memasuki sebuah interior mewah bergaya negara Italia itu membuat Dita tercengang dan bersua foto bersama Anan.


"Udahan Ta, percuma gak ada foto akunya." ucap Anita kecewa.


"Yah iya, maaf ya Nit, padahal dulu kita jarang foto tempat mewah gini."


"Gak pernah malah Ta."


"Udah udah ini kesini mau makan terus nemuin Tante Dewi apa foto?" Suara Anan lirih.


"Eh iya, kira-kira duduk dimana ya mereka?" Dita memperhatikan sekitarnya.


"Nah tuh sebelah luar sana dekat taman." tunjuk Anita.


"Yeeeeaaayyy om bule." Citra langsung berlari menghampiri Paul dan melompat ke punggungnya, seketika Paul merasa leher dan punggungnya sakit kembali.


"Are you okay?" tanya Tante Dewi.


"I don't know this hurt aarghh it comes again." rintih Paul.


"Hai Tante." sapa Anan.


"Eh Anan, sama sia.... ah ngapain tanya ya jelas-jelas sama Dita." ucap Tante Dewi melambai pada Dita.


"Ehm sebagai keponakan tampan yang baik hati ramah dan tidak sombong, aku boleh gak ngobrol sama Paul, mau mastiin dia utuh okay buat Tante."


"Well okay we can talk now." ucap Paul yang mulai sedikit-sedikit paham bahasa Indonesia.


"Ya udah ngobrol aja sini ajak Dita kesini ngapain duduk disitu?" sahut Tante Dewi.


"Justru ini pembicaraan antar lelaki, Tante ngobrol sama Dita gih."


"Mau ngobrolin apa sih? bikin kepo ih."


"Udah nurut sana ada yang mau Dita omongin penting." Anan menarik lengan Tante Dewi perlahan agar berdiri dari kursinya. Tante Dewi akhirnya menuruti Anan dan menghampiri Dita. Anan memulai obrolan basa-basi nya dengan Paul.


"Ngobrolin apa sih Ta mereka?" tanya Tante Dewi meletakkan gelas minum yang dia bawa dari meja sebelumnya ke atas meja tempatnya sekarang.


"Gak penting tante, ini yang penting."


"Maksudnya?"


"Bentar Tante ada yang lebih penting, mas sini aku mau pesen spagheti bolognese satu, fetucini keju satu, drum stick satu porsi, hmmm spagheti with tomato sauce satu deh, minumnya air mineral tiga botol, es teh dua, soda satu, makasih ya mas."


Dita menyerahkan pesanannya pada mas pelayan di restoran itu.


"Cakep Ta." sahut Anita.


"Ya ampun itu pesenan kamu semua Ta?" tanya Tante Dewi heran.

__ADS_1


"Enggak kan ada Doni."


Doni tersenyum membungkuk kan badannya sebentar ke arah Tante Dewi.


"Tapi masa habis sama Doni, sedangkan Anan disana."


"Ada Anita."


"Oh iya Tante lupa temen kamu yang gak keliatan banyak."


"Gak kok Tante cuma satu."


"Tetep banyak Ta, oh iya tadi mau ngomong apa?"


"Ini soal Paul Tante, masih inget kan hantu yang nemplok di punggungnya Paul?"


"Iya dia nemplok lagi ya?"


"Iya, tapi Tante dengerin aku baik-baik ya, dan aku mohon jangan bereaksi berlebihan dulu santai dulu yak."


"Ada apa sih sebenarnya, tinggal cerita aja repot bener."


"Permisi ini semua pesanannya yak, saya ulang yak spagheti bolognese satu, chese fetucini satu, drum stick satu, spagheti with tomato sauce satu, air mineral tiga, es teh dua, soda satu semua lengkap yak, ada tambahan lagi?" tanya mas pelayan itu menyela pembicaraan Dita dan Tante Dewi.


"Udah dulu mas nanti kalo masih lapar aku nambah." sahut Dita.


"Baik mbak, selamat menikmati hidangan restoran kami." ucap pelayan itu kembali ke tempatnya.


"Yoi mas."


"Terus Ta, hantu tadi kenapa?"


"Udah makan tadi, lho itu kok spagheti nya berkurang yak? aduh pusing Tante liatnya merinding."


"Nit, ngumpet apa makannya?" bisik Dita.


"Dimana Ta?"


"Dikolong meja gih."


"Emangnya aku anji*g apa kamu suruh makan dikolong."


"Huahahhaa uhuk uhuk uhuk." Doni tersedak mendengar ocehan Anita.


"Sukurin emang enak mau ngetawain aku malah keselek." ucap Anita melotot ke arah Doni yang langsung tertunduk takut.


"Yu udah Tante gak usah diliatin, liat ke Dita yang cantik, manis, dan menyenangkan ini." Dita tersenyum lebar.


"Malah tambah eneg Ta."


"Ih Tante mah, kali-kali kek puji aku."


Errrgghhh...!


Suara sendawa Dita, Anita dan Doni muncul bersamaan.


"Gimana mau muji anak perawan jorok kaya gini." sahut Tante Dewi dengan nada sebel.


"Maaf Tante enak sih habisnya nambah lagi enak kali yak mumpung Anan yang bayar mau gak Don, Nit?"


Anita mengangguk bersamaan dengan Doni.

__ADS_1


"Stop, cerita dulu baru makan lagi!"


cegah Tante Dewi sebelum Dita mengangkat tangannya memanggil mas pelayan.


"Yaaaahh..." ucap Anita dan Doni.


"Oke deh cerita dulu nanti baru nambah yak?"


"Terserah, kalau perlu lima porsi Tante pesenin."


"Jangan Tante kebanyakan muntah aku entar begah."


"Dita..! cepet ih cerita!"


"Sabar Tante, tuh kerutannya entar muncul banyak lho."


"Hufff anak ini." Tante Dewi mencubit pipi Dita gemas lalu menarik nafas panjang dan melegakannya agar merasa tenang dan santai.


"Iya iya, nih aku cerita, jadi anak itu namanya Citra."


"Terus?"


"Diem dulu apa sih dengerin sampai habis dulu." ucap Dita


"Oke."


"Citra itu korban tabrak lari, kepalanya darah semua ngalir ke wajahnya dia ditinggalkan begitu saja di selokan depan rumahnya yang saat itu kondisinya sepi."


BRAK... "APA?" pekik Tante Dewi sampai menggebrak meja membuat semuanya memandangnya termasuk Anan dan Paul.


Anita terkejut langsung memeluk Doni ketakutan dengan gebrakan Tante dewi.


"Tenang tante, sabar ya sabar, ayo duduk lagi. Maaf semuanya cuma salah paham." ucap Dita pada pengunjung, Anan juga menahan Paul yang hampir saja menghampiri Tante Dewi saat itu.


"Habisnya aku kesel Ta, kurang ajar banget tuh penjahat bisa-bisanya dia tabrak lari ninggalin korban gitu aja gak ada tanggung jawabnya, itu motor apa mobil Ta yang nabrak?"


"Mobil Tante."


"Jadi anak itu enggak tenang yak?"


"Nah itu tante, makanya Citra masih disini karena dia gak bisa tenang."


"Terus kenapa dia gangguin Paul apa hubungannya apa ada orang lain juga kaya Budi yang di gangguin Citra?" tanya Tante Dewi penuh ingin tahu mendekatkan wajahnya ke Dita.


"Cuma Paul sih setau aku Tante, Citra kaya gitu karena dia butuh pertanggung jawaban dari pengendara yang menabraknya dengan cara mengganggunya, tapi sepertinya pengendara mobil itu lupa sama perbuatannya."


"Siapa pengendaranya Ta? jangan bilang kalau orangnya Paul." Tante Dewi makin memasang wajah marah ke arah Dita yang langsung mundur menjaga jaraknya agak takut dari Tante Dewi.


"Emmmm sayangnya orang yang di gangguin Citra itulah yang ingin dia mintai pertanggung jawaban." ucap Dita perlahan agak takut.


"APA?" Tante Dewi berdiri hendak menghampiri Paul namun dicegah oleh Dita.


"Tahan tante, jangan marah-marah disini?"


"Baiklah aku enggak akan marah disini." Tante Dewi duduk kembali lalu mengeluarkan ponselnya.


"Halo kantor polisi."


****


To be continued...😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2