Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Di Rumah Duka


__ADS_3

Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up... Vie mohon dong, mohon banget... jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...


Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh...


Happy Reading...


******


Tasya menghubungi Dita untuk memberitahukannya perihal kematian ibunya Logan.


"Baiklah aku dan Anan akan segera kesana," ucap Dita lalu menutup ponselnya.


"Kenapa bunda?" tanya Anan.


"Ibunya Logan meninggal, kita harus ke rumah duka untuk berbela sungkawa."


Dita bergegas membersihkan restaurannya.


"Anta mau di ajak?" tanya Anan.


"Ajak aja. Ry kalau aku tinggal, gak apa kan? aku mau ke rumah duka, ibunya Logan meninggal."


Dita menoleh pada Jerry yang sedang menyapu halaman.


"Ya sudah, nanti aku kunci semuanya, sebentar lagi juga selesai," sahut Jerry.


"Anta...!" Dita berseru pada gadis kecilnya.


"Ya bunda...!" Anta bergegas menuruni tangga menghampiri ibundanya.


Ratu Sanca mengikutinya dari belakang.


"Ratu, aku titip restoran ini ya?" pinta Dita.


"Oke. Aku hendak kemana masih sore begini sudah mau pulang?" tanya Ratu Sanca.


"Kau tahu istri Tuan Worm? dia meninggal."


Dita merapihkan rambut Anta yang acak-acakan.


"Oh pantas saja dia meninggal, karena salah satu monster cacing itu sudah mati. Tuan Worm harus segera mencari lagi manusia untuk menjadikannya media si Ratu Cacing lagi."


"Tunggu, katamu Tuan Worm? tapi dia tak tahu apapun soal luka di tubuh Anan. Dia bilang itu semacam sihir hitam untuk mengambil tubuh yang dia incar agar menjadi abadi. Jadi, aku curiga pada Logan."


Dita menghampiri Ratu Sanca.


"Aku jadi tak mengerti, jadi kini kau mencurigai Logan, atau malah kita harus curiga pada keduanya. Pada ayah dan anak itu," ucap Ratu Sanca.


"Lalu kemana cacing yang satu lagi?" tanya Dita.


"Bersembunyi, sampai media untuknya siap. Kurasa tubuh tuan Worm tak kuat, pasti dia butuh lagi media manusia lain untuk mengembalikan Ratu Cacing tersebut."


"Apa kau tahu cara menyelamatkan Anan dari ilmu hitam yang membuatnya seperti itu?"


"Tidakkah mutiara hitam dariku cukup untuk mengobatinya?" Ratu Sanca menoleh pada Dita.


Sepertinya Ratu Sanca belum tau mengenai jantungnya yang bisa mengobati Anan. Tak tega rasanya jika aku bilang obatnya ada pada jantungnya.


"Hei nyonya Dita, aku bicara padamu!" Ratu Sanca menyentak lamunan Dita.


"Eh belum cukup, luka Anan masih berpindah-pindah," jawab Dita.


"Hmmm baiklah berikan aku film drama yang sedih agar aku menangis di malam hari lalu esoknya kau kumpulkan mutiara hitam dari air mataku, ya?"


"Baiklah, terima kasih sebelumnya. Aku pamit dulu ya, oh iya jangan kau takuti pria lembut di depan itu." Dita menunjuk ke arah Jerry.


"Oh si pria cantik itu, oke aku tak akan mengganggunya."

__ADS_1


Ratu Sanca itu tersenyum pada Dita.


Dita pamit pada Ratu Sanca bersama Anta dan Anan pergi ke rumah duka.


Jerry yang selesai membersihkan halaman masuk ke dalam restoran dan mengunci pintunya. Ia takut jika ada preman yang iseng masuk ke sana dan menggodanya.


"Lantai satu udah beres, coba bersihin lantai dua deh sebelum aku pulang," gumam Jerry seraya bersenandung menaiki tangga.


"Wuidih besar banget tv nya di sini, buat apa ya? mungkin biar Anta betah kalau lagi di sini."


Tiba-tiba layar tv-nya menyala dengan sendirinya mengejutkan Jerry.


"Bangun-bangun makan kodok!" teriak Jerry.


Ratu Sanca tertawa di buatnya. Ia berbohong pada Dita soal tak akan mengganggu Jerry. Padahal dia sangat suka sekali menggoda manusia seperti Jerry.


"Ih, kok nih tv nyala sendiri sih?" gumam Jerry bertanya pada dirinya sendiri.


Ia mematikan layar tv besar di hadapannya itu. Baru dua langkah menuju kamar mandi, tv itu menyala kembali.


"Ih ini kenapa sih? jangan-jangan rusak. Cabut aja kali ya kabelnya."


Jerry menarik kabel listrik itu dari stop kontak. TV lebar itu kembali menyala.


"Aaaawww...!!!" Jerry berteriak makin kencang.


Kali ini tanpa tunggu aba-aba lagi, pikirannya langsung sinkron dengan gerakan tubuhnya yang berlari kencang menuruni tangga. Jerry langsung keluar dari restoran tersebut dan mengunci pintunya.


***


"Yanda, aku gak tega kasih tau Ratu kalau kamu butuh jantung dia buat obat sihir hitam itu," ucap Dita.


Dita menoleh sekilas ke kursi belakangnya. Anta sudah tertidur pulas di jok belakang.


"Memangnya tadi kamu cerita sama dia?" tanya Anan.


"Aku cuma cerita soal kematian istri Tuan Worm, lalu penyakit kamu yang kambuhan. Dia malah semangat untuk menghasilkan mutiara hitam. Sepertinya dia tak tau tentang jantung Ratu Ular yang sangat berharga."


"Sepertinya iya, aku bangunin Anta dulu ya." Dita menepuk paha Anta dan membangunkannya.


Ketiganya bersiap memasuki rumah duka yang sudah ramai kerabat Tuan Worm.


Tasya yang melihat kedatangan Dita langsung menghampirinya.


"Logan mana?" bisik Dita bertanya pada Tasya.


"Tadi ada di samping ayahnya, sekarang kemana ya?" Tasya menoleh ke belakangnya yang ia temui hanyalah Pak Herdi yang tersenyum meringis menatapnya.


"Liat Logan gak pak?" tanya Tasya.


"Enggak tuh, aku kan tugasnya jagain kamu bukan Logan," seru Pak Herdi.


"Bunda, Anta mau pipis nih," ucap Anta menarik ujung baju milik Dita.


"Ya udah yuk, bunda juga mau ke toilet." Dita menggenggam tangan Anta menuju toilet.


Anan menghampiri tuan Worm dan menjabat tangannya mengucapkan bela sungkawa. Tasya mengikutinya di belakang bersama Pak Herdi. Gadis itu berjuang menghindari Doni yang baru saja tiba bersama istrinya.


Sementara itu saat menuju ke toilet, Dita berpapasan dengan Mark.


"Halo cantik...," sapa Mark mencolek pipi Anta.


"Hai om! duh Anta kebelet nih, duluan ya om!" Anta menarik tangan Dita memasuki toilet perempuan di sana.


"Duh, bunda nunggu di luar sini ya, Anta bau banget ee nya tadinya kan bilangnya mau pipis." Dita menggerutu sembari menekan hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk.


"Anta kebanyakan makan nih, jadi harus ada yang Anta keluarkan, uurggghhh..."

__ADS_1


"Hadeh anak ini." Dita bercermin merapikan kondisi rambutnya agar terlihat lebih rapih dengan sisir yang ia keluarkan dari dalam tas kecilnya.


Sosok wanita hadir dari dalam bilik paling sudut di dalam toilet perempuan itu mengejutkan Dita.


"Halo nyonya," ucap Dita menyapa wanita tersebut.


Sosok wanita itu menghampiri Dita.


"Aduh dia melayang lagi," gumam Dita menepuk dahinya sendiri.


"Anta buruan...!!!" teriak Dita.


"Iya bunda, dikit lagi."


Hantu itu tersenyum menyeringai seraya menunjuk rambutnya yang terurai berantakan. Bau busuk tercium sampai membuat Dita terasa mual. Tubuh hantu wanita paruh baya itu penuh dengan luka berongga. Darah dan nanah bercampur jadi satu.


"Kau mau apa?" tanya Dita.


Hantu itu menunjuk kepalanya dan sisir di tangan Dita.


"Kau mau aku merapihkan rambutmu?" tanya Dita.


Hantu itu mengangguk.


"Duh sering banget kayaknya ketemu hantu di kamar mandi terus minta di rapihin rambutnya, sini deh!" Dita akhirnya menyerah dan merapihkan rambut hantu tersebut.


Karena sudah terlalu kusut, Dita tak sengaja menarik rambut itu terlalu kencang sampai kulit kepala hantu itu terlepas.


"Aduh... kulitnya lepas!" pekik Dita.


Hantu itu menoleh pada Dita. Tak berapa lama kemudian, Anta keluar dari kamar mandi.


"Wah bunda main salon-salonan sama boneka barbie, di tapi kok barbienya tua sih bunda?"


Dita langsung membekap mulut Anta, ia takut hantu itu akan marah padanya dan Anta.


"Anta gak boleh bilang gitu, si Lily mana, Nta?" tanya Dita.


"Di tas Anta di tinggal dalam mobil," jawab Anta.


"Aduh terus gimana ini ya?"


"Sini bunda aku bisikin, rambut hantunya di sanggul aja terus ditempel."


"Pakai apa sanggulnya?"


Anta menarik jepit rambutnya dah menyerahkan pada Dita.


"Kok bau sih jepitannya?" gumam Dita.


"Hehehe Anta lupa cuci tangan."


"Anta...!!!"


*****


Masih bersambung ya guys...


Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.


- WITH GHOST (UP)


- Kakakku Cinta Pertamaku


season 1 END


- 9 Lives (END)

__ADS_1


- Gue Bukan Player (END)


Vie Love You All 😘😘😘


__ADS_2