Pocong Tampan

Pocong Tampan
Surprise... part 2


__ADS_3

Jangan lupa vote sebelum membaca...😊😊


***


Dita juga memandang dengan ekspresi wajah Dr. Dewi yang berubah keheranan itu.


"Ikut saya!"


Setelah hening cukup lama akhirnya Dr. Dewi mengeluarkan kata sakti yang entah kenapa tak bisa Dita bantah.


"Pakai baju ini!"


"Buat apa dok? aku gak bakal di operasi kan?"


tanya Dita polos.


"Kamu saya ajak masuk keruang ICU itu jadi harus pake baju steril ini." ada senyum lucu tersungging di bibir merah Dokter Dewi.


Berparas cantik ayu rupawan dengan tinggi semampai persis wajah seorang model, tubuh langsing dengan kulit putih dengan mata agak sipit mirip mata Anan.


ckckkckc perfect banget nih perempuan.


"Ehm maaf kenapa yak ngeliatin saya kaya gitu?"


"Enggak dok gak papa, cantik banget sumpah."


"Anda orang ke lima ratus ribu yang bilang saya kaya gitu."


"Dih sama pedenya kaya Anan." gumam Dita melihat Dokter Dewi menyemprotkan desinfektan ke tangannya.


Dita mengikutinya lalu masuk ke ruang ICU melihat sosok yang terbaring itu lebih dekat.


"Mirip banget sih, mana ganteng banget lagi."


ucap Dita yang kagum memandangi sosok pria yang terbaring itu.


"Coba lihat nama di data pasien itu!" Dokter Dewi menunjuk papan data pasien di depan ranjang.


"Mananta Prayoga, tuh kan si Anan eh tunggu Mananta? kan namanya Ananta?" Dita menoleh ke Dokter Dewi.


"Lihat kan? Mananta bukan Ananta."


"Lalu apa mereka beda orang?"


"Iya, ini saudara kembarnya Anan yang kamu bilang koma itu, sejak kecelakaan setahun lalu dia tak pernah sadarkan diri."


"HAH...!! KEMBAR...!!"


Tok tok... seorang suster mengetok kaca ruangan itu memanggil Dokter Dewi untuk keluar.


"Kamu jangan kemana-mana sampai saya ijinkan keluar yak, awas kalau kamu pergi, urusan kita belum selesai..!" ancam Dokter Dewi.


"Iya iya, galak banget untung cantik."


Dokter Dewi tersenyum sinis lalu pergi dari ruangan ICU itu.

__ADS_1


Dita memanggil Anan dan Andri untuk masuk.


"Anan ternyata dia saudara kembar kamu pantes mirip." Dita mengguncang lengan Anan.


"Pantesan mirip banget Nan." sahut Andri.


"Tuhkan bener beda ada tahi lalat di idungnya, lebih mancung, bibirnya lebih sexy, duh tampan banget nih cowok."


"Ta... Ta....sssttt liat tuh." Bisik Andri menyuruh Dita menoleh ke Anan yang tampak sedih memandangi sosok saudara kembarnya yang terbaring.


Anan mengitari ranjang itu memperhatikan sosok Mananta dengan seksama.


"Masa sih ini sodara kembarku, kok aku gak inget apa-apa yak."


Anan menyentuh wajah saudara kembarnya itu dengan telunjuknya.


"Gerak-gerak liat deh tangannya gerak." ucap Dita menunjuk jemari tangan Mananta yang barusan bergerak sebentar.


"Mana, ah perasaan kamu aja kali Ta." sahut Andri.


"Enggak kok, barusan gerak, coba Nan sentuh lagi."


Anan mengiyakan perintah Dita menyentuh wajah Mananta sekali lagi. Tak Ada reaksi apapun gerakan apapun pada jari jemari Mananta.


"Oh... perasaan ku kali yak."


Andri menyikut lengan Dita menyuruhnya terdiam memandangi sosok Anan yang masih memperhatikan nya dengan seksama.


Terdengar langkah dari luar ruangan yang ternyata Dokter Dewi telah kembali keruangan ICU tempat Mananta terbaring.


"Gak ngerti dok, emang tadi kita lagi belajar yak?" jawab Dita menggaruk kepalanya yang terbungkus pembungkus macam shower cap.


"Ah dasar kamu... ini soal Anan, jujur kenapa kamu bisa kenal dia, asal kamu tahu.."


Dokter Dewi menarik nafas panjang dengan mata berkaca-kaca.


"Ya dok??" tanya Dita perlahan.


"Ananta keponakan saya, sudah, dia sudah meninggal."


Entah kenapa tetes air mata mengalir begitu saja ke pipi Dita mendengar kata-kata mengenai Anan yang sudah meninggal.


Apa sih yang aku harapkan toh nyatanya memang Anan udah meninggal, ini kenapa sih jadi sedih banget hati aku rasanya hancur banget yak.


Anan menoleh pada Dita hatinya juga terasa sakit dan kesedihan melanda tubuhnya saat memandangi Dita apalagi mendengar isi hati Dita barusan.


Andri memilih pergi menghilang dari ruangan itu, ada keharuan yang mengganggunya sehingga ia putuskan untuk pergi dari situ.


"Kita keluar dari ruangan ini!" ucap Dokter Dewi.


"Iya dok."


Setelah merapikan semua pakaian tadi Dita duduk di kursi koridor bersama Dokter Dewi.


"Bagaimana kamu bisa mengenal Anan?"

__ADS_1


"Apa anda bisa ceritakan pada saya bagaimana dia meninggal?"


"Kamu saja belum menjawab pertanyaan ku?"


"Baiklah, ini memang terdengar tidak logis, tapi apakah anda percaya, terserah mau percaya atau tidak."


"Cepatlah jangan bertele-tele masih banyak hal yang harus saya kerjakan, asal tau saja saya kepala rumah sakit disini." sahut Dokter Dewi ketus.


Dita menarik nafas panjang setelah ketiga kalinya akhirnya dia berani berucap.


"Apa anda percaya hantu?"


"APA..?? Buuaahhh hahahhahaha... jangan bilang kalau kamu bertemu dengan hantunya Anan, atau malah kalian berteman, atau malah kalian pacaran, atau malah kalian menikah, hahahhahaha menikahi hantu hahahhahaha lucu sekali."


Dokter Dewi memegangi perutnya yang sakit karena tertawa saking lucunya dengan teorinya namun diam seketika saat melihat Dita serius sekali menganggukkan kepalanya.


"Kamu gak gila kan?" tanya dokter Dewi pada Dita.


Dita menggeleng.


"Aku emang temenan kok sama Anan, Deket... gak tau deh jadian apa enggak, kalo nikah sih ya belum lah, jadian aja belum jelas." sahut Dita cemberut sambil bertolak pinggang.


"Nanti saya kasih surat rujukan ke temen saya yah, dia psikolog di sini."


"Tuh kan anda gak percaya, Anan itu ada dihadapan anda sekarang dia hilang ingatan gak tau bagaimana dia bisa gentayangan di rumah sakit keluarga XX terus sampai sekarang nemenin saya jagain saya, paham anda!!"


"Hahahha nanti saya rekomendasikan dokter untuk Anan siapa tau ingatannya pulih yak, dasar anak ini ckckckc tingkat halusinasimu itu lho, eh tapi tunggu di rumah sakit mana katamu?"


"Rumah sakit keluarga XX ."


"Itu memang tempat Anan menghembuskan nafas terakhirnya sebelum rumah sakit ini lebih maju dari rumah sakit itu."


"Coba Nan tendang tong sampah samping kamu!" ucap Dita.


PRANG...prang prang prang...


Tong sampah di hadapan dokter Dewi jatuh berguling tiba-tiba.


"Kamu sulap kan?" tanya Dokter Dewi.


"Ahhhh... sudah ku bilang itu Anan yang tendang."


"Ta ta tapi bagaimana bisa?"


"Bisa lah tinggal anda percaya atau tidak."


Dokter Dewi berdiri dan mencoba menghindari Dita namun Dita menarik tangan dokter Dewi menahannya agar jangan pergi.


"Sekarang bisa ceritakan bagaimana Anan meninggal dokter...??"


Dita memandang dokter Dewi dengan senyuman yang memohon.


***


To be continued...

__ADS_1


Happy Reading...


__ADS_2