Pocong Tampan

Pocong Tampan
Rumah Anan (Part 3)


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak ... apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget yak... thank u so much... love u all... 😘😍😊


***


Makan malam bersama Anan kali itu terlihat menyebalkan untuk Dita. Mereka hanya berdua di meja sebesar itu, Anan diujung sana dan Dita diujung sini, para pelayan melayani Dita dan Anan selebihnya hanya berdiri menatap ke arah mereka.


Selesai dengan makan malam ala Putri itu Dita memutuskan untuk menghirup udara segar di taman belakang rumah Anan. Sementara Anan masih mengobrol dengan Bu Mey sambil menanyakan masa lalunya.


Di taman belakang Anita menemani Dita menikmati udara malam yang sejuk menusuk kulit itu.


"Ta, kok kolam renang nya kaya ada yang berenang yak?" Anita menunjuk arah kolam renang Anan di dekat taman.


"Ah mana gak ada apa-apa kok, paling daun apa binatang jatoh, jangan nakutin kamu mah." ucap Dita


"Iya kali yak, aku salah liat, heran yak rumah segede gini isinya pembantu semua, yang punya rumah malah gak ada." ucap Anita.


"Lah kan ada Anan."


"Kan sebelumnya gak ada Ta, tuh kamar-kamar kosong diatas tuh gak ada yang nempatin ih serem ih."


"Nit heran deh, kamu kan hantu kenapa masih takut aja sih."


"Aku emang hantu tapi rasa manusiawi ku masih banyak masih takut lah sama yang kaya gitu."


Sosok bayangan putih melompat-lompat di dekat pohon mangga di taman belakang rumah Anan.


"Si Anan ngapain coba di situ, gemes banget liatnya." ucap Dita.


"Siapa Ta? Anan? mana?" tanya Anita.


"Itu pocong Anan lagi iseng main nabrak pohon itu." tunjuk Dita.


"Ta, yakin itu Anan, ngapain dia masih pake kostum pocong, kan dia udah ada di badan Manan." Anita bersembunyi di balik tubuh Dita.


"Astagfirullah iya Nit aku lupa, pura-pura gak liat Nit, terus kita masuk rumah yuk."


ucap Dita mengendap-ngendap masuk ke dalam rumah namun terlambat sosok pocong itu sudah berada di belakang Anita menepuk bahunya.


"Aaaaa... pait pait pait jangan deket-deket Cong." Anita menutup wajahnya ketakutan.


Dita menoleh ke Anita, pocong dibelakang Anita sudah memamerkan giginya yang menghitam meringis ke arah Dita.


"Tolong bukakan ikatan ku." ucap pocong itu membungkukkan tubuhnya menunjukkan ikatannya pada Dita.


"Kamu aja Nit yang buka gih kan kamu sesamanya." Dita menepuk Anita.


"Gak mau ah, kamu aja, kan kamu biasa sama beginian." Dita gantian menepuk bahu Dita.

__ADS_1


"Ba ba bang kenapa mi mi minta di buka." ucap Dita terbata-bata saking takutnya dengan wajah si pocong yang hitam, kain kafan yang lusuh, dan dari matanya keluar ular Hongkong pakan burung.


"Ikatan saya belum di buka neng, kepala saya pusing." sahut pocong itu.


"Dih.. mi mi minum obat bang kalo pusing." sahut Anita tubuhnya gemetar ketakutan.


"Ish si Anita mah, emang kamu tahu obat pusing buat pocong?" tanya Dita berbisik.


"Ya kali Ya, kasih obat pusing buat manusia dia ilang pusingnya." bisik Anita.


"Oh iya ya, coba aku tanya. Bang maaf nih yak pernah ke apotik belum beli obat pusing terus minum?"


Pocong itu menggeleng. "Tolong bukain ikatan saya neng." ucapnya.


"Haduh, gimana ini? coba ya bang saya bukain." Dita mencoba meraih ikatan kepala di pocong itu menahan nafas karena bau busuk yang tercium dari pocong itu.


"Gak bisa bang, gak bisa lepas." ucap Dita menyerah setelah berkali- kali mencoba.


"Bukain ikatan saya neng." ucap pocong itu lagi.


"Enggak bisa Abang, susah dibuka....!" pekik Dita kesal.


"Bukain ikatan saya neng."


"Ih minta di jambak ni pocong, coba sini kupingnya mana nih, ENGGAK BISA DI BUKA BANG...!!"


"Nit, liat tuh kupingnya berdarah netes hiiyy..." sahut Dita menunjuk darah yang merembes dibagian telinga pada kafan pocong itu.


"Hiyaaaaaa... tanganku kena darahnya." Anita mengibaskan tangannya dan mengelapnya di baju Dita.


"Kampret ih tadi kan aku udah mandi Nit." sahut Dita kesal.


"Kayaknya kita harus ke kuburannya deh, jangan-jangan pas di kubur ikatan dia lupa di buka." ucap Dita.


"Iya Ta, jangan-jangan gitu."


"Bukain ikatan saya neng." selalu itu yang diucapkan si pocong.


"Astagfirullahaladzim lama-lama gedeg juga aku Nit, ih Abang Cong pergi dulu deh bawa alamat kuburannya dimana, nanti aku datengin minta tolong kuncen nya buat bongkar kuburan Abang, terus buka iketan nya."


"Setuju." sahut Anita.


"Bukain ikatan saya neng." ucap pocong itu lagi.


"Ah au amat lah...! cabut Nit hayo kedalam mau ganti baju aku nih." Dita berlalu meninggalkan pocong itu yang masih melompat-lompat tak tau arah.


"Pocong keder kayanya tuh Ta." ucap Anita mengikuti langkah Dita.


"Hayo pada dari mana?" Anan mengagetkan Dita.

__ADS_1


"Ish kamu tuh yak ngagetin sama kaya pocong tadi." ucap Dita menepuk dada Anan.


"Pocong ?" tanya Anan.


"Iya pocong, kembaran kamu."


"Masa sih ada pocong disini?"


"Ada di taman belakang lagi lompat - lompat gak jelas terus bilang, tolong bukain ikatan ku neng, gitu deh."


"Berati ikatan dia belum kebuka kali pas dikubur."


"Nah aku juga tadi mikir gitu." sahut Anita.


"Aku kali yang mikir Nit." sahut Dita .


"Iya maksudnya Dita mikir kaya gitu hehehe."


"Ya udah besok kita ke kuburannya." ajak Anan.


"Mana aku tahu kuburannya dia ditanyain gak jelas gitu cuma bilang bukain ikatan ku, udah ah aku mau ganti baju terus tidur."


"Ya udah tidur yang nyenyak yak mimpiin aku." ucap Anan menggoda Dita.


"Dih pede banget sumpah, kocak." Dita melayangkan tangannya mengarah ke pipi Anan yang sudah menutup mata khawatir Dita akan memberinya tamparan.


Cup... Dita mencium pipi Anan.


"Good night." bisik Dita lalu berlalu menuju kamar tamu meninggalkan Anan yang masih terpaku sambil memegang pipi yang Dita beri kecupan.


"Cieeee Dita. Uhuuuyy..." goda Anita.


"Udah deh gak usah dibahas." sahut Dita sambil mengganti pakaiannya, mencuci muka dan menggosok giginya.


"Ta pocong itu ada didepan kamar Ta, tuh bayangannya di jendela." tunjuk Anita.


"Udah lah ah aku ngantuk biarin aja selama dia gak bisa masuk kamar ini, yang aku takutin malah itu tuh." Dita menunjuk lukisan wanita di kamarnya itu.


"Iya Ta aku juga takut, gimana kalo kita tutup kain sprei?" Anita memberi ide.


"Oke setuju, yuk tutup."


Dita dan Anita menutup lukisan itu dengan seprai kamarnya, lalu Dita terlelap dalam tidurnya bersama Anita yang ikut tertidur disampingnya.


***


To be continued...


Happy Reading 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2