
Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up... Vie mohon dong, mohon banget... jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...
Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh...
Mampir ya ke Novel terbaru aku yang uwwu
"Diculik Cinta" yang siap mengocok perut kalian.
Happy Reading...
******
Keesokan harinya, Anan sudah diperbolehkan untuk pulang karena kondisinya sudah stabil.
"Bunda, kita ke restoran dulu ya," pinta Anan saat Dita sedang membereskan pakaiannya dan memasukkan dalam tas.
"Enggak! kita pulang dulu, kamu harus istirahat, soal restoran, nanti ada Tasya sama Jerry yang urus. Aku juga mau ke sana sebentar, mau ketemu sama juru masak yang baru," ucap Dita.
"Ya udah kalau begitu, maafin aku ya bunda," ucap Anan.
"Minta maaf untuk apa?" tanya Dita.
"Karena punya suami lemah sepertiku," ucap Anan menunduk lesu.
Dita langsung menghampiri Anan dan memeluknya.
"Jangan pernah bilang kayak gitu, kamu itu selalu bisa berjuang menghadapi tantangan apapun, buktinya kamu selalu bisa melewatinya, kan? Jangan pernah bilang kamu lemah, kamu yang selalu buatku kuat yanda..." Dita mulai terisak saat masih memeluk Anan.
Lelakinya itu makin erat memeluk sang istri penuh cinta. Kemudian Anan menyentuh kedua pipi Dita, menatapnya lekat penuh cinta dan kasih sayang.
"I love you, bunda."
"I love you too, yanda."
Pagutan demi pagutan bibir tercipta di antara keduanya.
Mark yang hendak mengunjungi Anan menghentikan langkahnya untuk masuk. Pemandangan panas yang membuat darahnya mendidih itu membuatnya mengepalkan tangannya.
Brug...
Keranjang buah yang ia bawa sampai terjatuh ke lantai. Anan dan Dita langsung menoleh ke arah keranjang buah yang jatuh itu. Buah apel, pir, anggur dan jeruk berserakan di lantai.
"Hei, Mark! ngapain kamu di situ?" tanya Anan menyapa laki-laki yang akhir ini seringkali membuat Dita kesal.
"Eh, ini aku, aku mau jenguk kamu, malah plastik keranjangnya jebol nih, licin juga tanganku," sahut Mark memberi alasan bohong.
"Buah buat siapa?" tanya Anan yang menghampirinya seraya membantu Mark memunguti buah-buahan yang jatuh itu dari lantai.
"Ini buat kamu, aku mau jenguk kamu," sahut Mark sekilas menatap Dita.
"Wah, kamu tuh ya repot-repot banget sih, lagipula aku juga udah mau pulang," ucap Anan.
"Oh iya? bagus dong kalau gitu."
"Buahnya, kamu berikan saja sama kawan-kawan kamu, para penderita kanker yang suka kamu kunjungi itu," sahut Dita dengan tatapan sinisnya.
"Kata dia buahnya kan buat aku," ucap Anan.
"Gak usah yanda, lebih berkah kalau bagi-bagi buat pasien di sini," ucap Dita menimpali, padahal dalam hatinya ia jadi takut menerima kebaikan Mark, apalagi kebaikan itu ditujukan pada Anan.
"Hmmm, okay baiklah, akan kuberikan pada kawan-kawanku di sini," ucap Mark lalu pamit membawa keranjang buahnya itu.
"Kamu kok ngomong kayak gitu sih sama Mark, seperti menghina?" tanya Anan.
"Yanda percaya deh sama aku, aku tuh gak suka sama sikap dia. Semua udah siap, ayo kita pulang!" ajak Dita.
Sebenarnya ingin rasanya ia ceritakan pada Anan tentang kelakuan Mark, namun sebaiknya ia simpan saja. Ia tak ingin nantinya suaminya itu banyak pikiran, apalagi jika itu karena dia. Biarlah untuk sementara ini Dita simpan saja semua tentang kelakuan Mark yang sangat menyukainya.
__ADS_1
***
Di sekolah Anta, hantu Rian terus menemani Anta selama belajar. Dia juga duduk di kursi kosong paling belakang menyimak pelajaran. Saat bel istirahat berbunyi, Anta segera pergi ke kantin. Tak ada murid yang mau berteman dengannya. Anta selalu saja ceroboh dan keceplosan tentang hantu yang ia liat. Sehingga hal itu membuat kawan-kawan sekolahnya ketakutan dan menjauhinya.
Anta duduk di meja paling sudut di dalam kantin. Ia menikmati bekal nasi goreng buatan Tante Dewi. Sebenarnya rasa nasi goreng itu tak seenak buatan bundanya, tapi ia tetap berusaha menikmatinya bersama hantu Rian di sampingnya.
Sebenarnya di kantin Anta disediakan makanan sehat, namun Anta lebih suka membawa bekal ketimbang makan makanan kantin yang selalu tak ada rasa tanpa penyedap rasa itu.
"Siapa saja temanmu di sini?" tanya Rian.
"Tante yang di toilet, om kepala buntung di perpustakaan, kakak perempuan tanpa tangan di gudang, dan sekarang kau," sahut Anta.
"Apa? masa temanmu hantu semua? maksudku yang manusia?" tanya Rian lagi tak percaya.
Anta menggelengkan kepalanya.
"Tak ada yang mau berteman denganku, mereka takut katanya."
Rian mengamati wajah Anta, gadis kecil itu pasti kesepian saat di sekolah karena tak ada yang mau main dengannya.
"Berapa usiamu?" tanya Rian.
"Tiga bulan lagi, usiaku empat tahun."
"Lho, bukankah kawan-kawanmu di kelas rata-rata usianya sudah lima atau enam tahun. Kupikir juga usiamu sudah 5 tahun lebih karena lancarnya aku berbicara," ucap Rian.
"Bunda tuh, yang bikin umurku tua hahaha," sahut Anta tertawa kecil.
"Ups maaf ya, aku tak sengaja menumpahkan air jerukku," ucap si anak perempuan kurus itu yang sebenarnya sengaja menumpahkan air jeruknya ke atas meja Anta.
"Wah korban sinetron remaja ya? kata bunda gak boleh jahil kayak gitu," ucap Anta mengelap tumpahan air jeruk dengan tisu yang ada di tas bekalnya.
Rian sudah sigap berdiri mau membalas tapi Anta cegah.
"Gak usah kamu duduk aja," ucap Anta pada Rian.
"Ku rasa memang dia gila deh makanya tak ada yang mau menemaninya," sahut kawan yang kurus itu sambil membawa baki makanan di tangannya.
Timbul niat jahil Rian terhadap dua anak tadi. Ia berdiri dan menepis baki di tangan anak perempuan yang kurus itu sampai jatuh berserakan ke lantai.
"Ih kalau jalan hati-hati, tuh kan berantakan, pasti ibu nanti mengomelimu," ucap si anak gemuk tadi.
"Aku tak tahu, tiba-tiba baki ini jatuh sendiri," sahutnya.
Tiba-tiba si anak berbadan gemuk tadi terjatuh.
Bedebum...!!!
Tubuh tambunnya seolah menggetarkan lantai kantin saat jatuh. Ternyata sedari tadi Rian sudah sibuk mengikat tali sepatu anak itu menjadi satu.
Sontak tawa riuh anak-anak kelompok bermain dan taman kanak-kanak itu menertawakan dua anak yang menjahili Anta tadi.
"Astaga Rian jahil banget sih," ucap Anta menepuk dahinya sendiri.
"Biar tau rasa kalian, hahahaha..." Rian tertawa terbahak-bahak.
"Halo Anta, kamu kok makan sendirian?" tanya Logan menyapa Anta.
"Eh, pak Logan, halo..." ucap Anta balas menyapa.
"Kamu kenapa makannya kok sendirian kan duduk sama yang lain?" tanya Logan lagi.
"Habisnya gak ada yang mau nemenin Anta kecuali hantu," ucap Anta tak sengaja keceplosan dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Hantu?" Logan mengernyitkan dahinya.
"Ummmm... pak Logan, Anta permisi ya mau ke toilet, bapak gak boleh ikut kan bapak laki-laki, kalau Anta perempuan jadi gak boleh masuk toilet yang sama," ucap Anta asal saja memberi alasan dan langsung membuat Logan tertawa.
__ADS_1
"Kamu lucu sekali ya..." logan mencubit pipi Anta dengan gemas.
"Iya dong, Anta kan lucu, cantik, dan menggemaskan pastinya. Dah pak Logan..." Anta berlari kecil langsung menuju toilet.
"Anta kotak... bekal kamu, yah nanti sajalah aku kembalikan," gumam Logan.
Pria itu lalu merapihkan kotak makan Anta dan memasukkannya ke dalam tas bekal Anta tadi. Ia akan mengembalikannya sepulang sekolah nanti.
***
Bel yang menandakan waktu pulang berbunyi, Anta segera bergegas merapihkan bukunya.
"Rian, kamu mau pulang ke rumahku, apa di sini?" tanya Anta.
"Aku di sini saja, aku mau berkenalan dengan para hantu disini. Lagipula kalau di rumah aku takut sama kakak Samanta," ucap Rian.
"Oh ya sudah kalau begitu, aku pulang ya sampai jumpa besok..." ucap Anta.
Tasya sudah menunggunya di tempat tunggu para orang tua murid.
"Bunda belum pulang ya sama yanda?" tanya Anta.
"Hari ini pulang kok, nanti ketemu bunda sama yanda di rumah, tapi kita ke restoran dulu ya," jawab Tasya.
"Anta, tunggu!" Logan berteriak sambil membawa tas bekal Anta.
"Ini punya kamu, tadi ketinggalan, hai Tasya!" Sapa Logan pada Tasya.
"Hai, Logan!"
Oh iya aku kan harus sering deket sama Logan buat cari tau tentang sihir hitam itu ya, duh baru keingetan nih.
Tasya tersenyum manis pada Logan.
"Kamu kenapa?" tanya Logan.
"Tau ih, tante Tasya genit," celetuk Anta yang mulutnya langsung di bekap oleh tangan Tasya.
"Enggak, enggak kenapa-kenapa kok. Cuma mau bilang kamu ganteng," ucap Tasya mencoba merayu padahal dalam hatinya ia jijik juga mengucapkan kata ganteng itu pada Logan.
"Hahaha terima kasih ya. Oh iya aku baru ingat, malam nanti ada festival budaya Jepang, apa kau mau ke sana bersamaku?" tanya Logan.
"Anta ikut ya?" celetuk Anta yang langsung di bekap lagi mulutnya..
"Gak usah di dengarkan hehehe. Tentu saja aku mau, siapa sih yang tak mau diajak kencan olehmu," ucap Tasya.
"Kencan? aku kan hanya mengajakmu pergi bersama, tapi okelah kalau kau sebut itu kencan," ucap Logan.
"Oke, sampai jumpa nanti malam ya..." ucap Tasya pamit pada Logan.
Tasya menggenggam tangan Anta memasuki mobil taxi yang ia pesan sedari tadi. Mereka meluncur menuju restoran.
******
Bersambung ya...
Mampir juga ke :
- Diculik Cinta
- With Ghost
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
- Kakakku Cinta Pertamaku
__ADS_1
Vie Love You All... 😘😘😘