Pocong Tampan

Pocong Tampan
Terjun Payung


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍😊


****


"Wuihhh... keren banget apartemen nya Pak." Doni terkesima melihat pemandangan nan mewah dari lobby apartemen.


"Biasa aja dong, sampai melongo gitu." sahut Anita.


Tring...


Pintu lift terbuka dan mereka masuk kedalamnya. "Jadi kangen Bani." ucap Dita.


"Iya biasanya ada Bani yang nyambut kita pas pintu lift kebuka di lantai sepuluh." sahut Anita.


"Tapi kamu gak kangen main terjun payung kan Nit?" tanya Dita.


"Kangen sih, tapi enggak ada temennya masa aku mau ajak kamu main terjun payung."


"Aku mau Nit." sahut Doni.


Anita, Dita dan Anan tertawa mendengar ucapan Doni. "Kok pada ketawa sih?" tanya Doni heran.


"Tau enggak Don, dulu ada hantu namanya Bani dia jatuh dari lantai sepuluh kata dia mah terjun payung jadi ngajak Anita main bareng, terus kalau kamu mau terjun bareng sama Anita ya siap-siap aja kalau hidup ya paling pada patah tulang atau koma." Dita masih mencoba menahan tawanya.


"Beuuuhhh kalau terjun payungnya kaya gitu mah aku gak jadi lah, ogah."


Anan tertawa terbahak-bahak bersama Dita dan Anita. Pintu lift terbuka. Anita menggandeng tangan Doni. "Ayo Don cobain kita terjun bareng." ajak Anita menggoda Doni.


"Enggak mau! ogah! tolongin pak." Doni mencoba meraih lengan Anan menahannya dari tarikan Anita. "Ampun Nit ampun enggak mau!" rengek Doni memohon agar Anita melepasnya.


"Udah Nit lepas! tuh dia ngompol lagi." tunjuk Dita.


"Ih jorok banget elo! bawa baju ganti gak?" sahut Anan kesal.


"Maaf pak kelepasan, saya bawa baju kok pak di tas saya, ini pak tolong suruh Anita lepasin saya, saya gak mau terjun payung kaya gini."


"Lepas Nit." Anan membuka pintu apartemen nya. "Sana elo mandi dulu ganti baju terus elo cuci pakaian elo sendiri ya!"

__ADS_1


Anita melepas tangan Doni sambil tertawa lalu beradu telapak tangan tos dengan Dita.


"Iya pak, makasih maafin saya ya pak." Doni segera berlari ke dalam kamar apartemen Anan segera mencari kamar mandi di dalam rumah itu.


"Tunggu Ta." Anan menahan Dita sebelum masuk apartemen Tante Dewi. Anan menatap Anita tajam mengisyaratkan agar Anita menyingkir.


"Oke aku ngerti." ucap Anita masuk ke dalam apartemen Tante Dewi.


"Ada apa lagi udah malem tau, aku pasti kena semprot Tante Dewi nih udah setengah sebelas lewat, dia biasanya nunggu di sofa terus nanti marah-marah terus..."


CUP...


Anan memberi kecupan pada bibir tipis Dita.


"I love you Ta."


Anan kembali memberi kecupan pada kening Dita lalu masuk ke dalam apartemennya sambil tersenyum memandang Dita. Dita masih terpaku membisu rasanya waktu berhenti seiring gerakan tubuhnya yang terhenti.


"Dita....! good night...! dah sana masuk!" ucap Anan mengejutkan Dita.


"I..iya iya aku masuk, dah Anan, good night."


Dita masuk ke apartemen Tante Dewi dengan tersipu-sipu.


Seperti biasa Tante Dewi sudah bertolak pinggang menunggu Dita dari tadi.


"Sekarang jam berapa? kan Tante udah bilang jangan pulang malem, paling lambat tuh jam sepuluh pulang ini sampai jam sebelas kurang, kamu tuh ya lama-lama Tante gak ijinin nih keluar malem lagi sama Anan, Dita kamu denger gak sih?"


"Tante.......!" Dita memeluk Tante Dewi erat lalu menggenggam kedua tangan Tante Dewi mengajaknya berjingkrak-jingkrak berputar kegirangan.


"Kamu kenapa sih Ta?" tanya Tante Dewi menghentikan putarannya.


"I love you Tante, I love you pokoknya." Dita mengecup pipi kanan dan kiri Tante Dewi lalu melompat kegirangan sambil bernyanyi menuju kamarnya.


"Jangan-jangan kesambet tuh anak, apa gara-gara hantu temennya si Anita itu yak?"


gumam Tante Dewi.


"Sembarangan tante, masa aku disalahin sih, aku aja diem disini, Tante woi, Tante ini Anita yuhuuu Tante Dewi woi...!" ucap Anita mengibaskan kedua tangannya di depan wajah Tante Dewi.


"Kok aku merinding yak hiiyyy masuk ah." ucap Tante Dewi lalu masuk ke dalam kamarnya.


"Dih emang gak peka nih sama hantu." ucap Anita merebahkan dirinya diatas sofa.


***

__ADS_1


"Pagi Tante... sarapan siap, nasi goreng telor ala Dita." sapa Dita pada Tante Dewi yang sudah siap dengan pakaian kerjanya.


"Banyak banget Ta, emang habis segini?" Tante Dewi menaruh bokongnya di kursi makannya.


"Tenang Tante nanti juga ada yang habisin."


Tak lama kemudian ketukan pintu datang dari pintu rumah Tante Dewi dan masuklah Anan beserta Doni yang ikut bergabung untuk sarapan.


"Oh... harusnya aku tahu ya, enggak udah pakai nanya buat siapa sarapannya, ditambah lagi ada si Doni nih."


"Halo Bu, selamat pagi." sapa Doni.


"Kamu tinggal sama Anan? betah?" tanya Tante Dewi.


"Bukan betah lagi, rugi saya nawarin dia berisik banget tidurnya, ngoroknya pakai toa sih." sahut Anan.


"Maaf pak, soalnya saya capek terus ngantuk banget jadi ngorok deh."


"Udah makan dulu, ayo abisin ya masakan aku." Dita menyiapkan satu piring kosong disampingnya.


"Itu buat siapa Ta?" tanya Tante Dewi.


"Buat Anita, nih Nit makan yang banyak." Dita menyendoki piring Anita dengan dua sendok besar nasi goreng.


"Masih pagi bawaannya udah horor aja." ucap Tante Dewi yang ketakutan melihat sendok yang berpindah dan nasi goreng yang habis karena hanya dia yang tidak bisa melihat Anita di ruangan itu.


Tak lama ponsel Tante Dewi berbunyi tertera nomor rumah sakit milik keluarga Anan.


"Ya halo, ini Dewi kenapa sus?" ucap Tante Dewi di ponselnya.


"APA? oke saya segera kesana."


Tante Dewi menutup ponselnya.


"Kenapa Tante?" tanya Dita ingin tahu.


"Sandra Ta, kayaknya mau melahirkan deh tapi pendarahannya hebat." Tante Dewi bergegas mencari kunci mobilnya.


"Aku ikut Tante, Anan sama Doni beresin yak sebelum nyusul ke rumah sakit." perintah Dita lalu pergi mengikuti Tante Dewi.


***


To be continued...


Happy Reading...😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2