
Dear readers tersayang... Jangan lupa sebelum membaca di Like and komentar di babnya. Kalau sudah habis membaca jangan lupa juga buat Vote pakai poin kalian buat dapetin Giveaway dari Vie.
Terima kasih and Happy Reading. 😘😊
*******
Pagi itu semuanya sudah bersiap diri menuju kantor urusan agama di pusat kota. Semua tampak rapih dan terlihat beda dari biasanya.
"Saya harus apa seperti ini?" tanya Pak Herdi yang dipaksa Anta memakai dasi kupu-kupu di lehernya.
"Pantes kok, tambah cakep, ya kan Bunda?" Anta menoleh pada Dita yang sedang membetulkan dasi yang dipakai Anan.
"Pantes, cakep, apa mau sekalian pakai jas?" tanya Dita.
"Iya tuh, kapan lagi ada pocong pakai jas," celetuk Anan.
"Haissshhh udah ah gini aja, asal jangan ada hantu lain aja yang liat saya kayak gini, demi Anta nih..."
"Makasih Pak Herdi..." Anta yang sedang naik ke atas kursi itu memeluk Pak Herdi.
"Sama-sama cantik..." ucap Pak Herdi.
"Ayo, bus udah aku siapin di tempat parkir," ucap Andri membuka pintu apartemen Tante Dewi.
"Serius kita naik bus lagi?" tanya Dita.
"Iya nih, masa aku gak di sewain mobil pengantin yang diberi hiasan bunga dan pita sih," gerutu Tasya.
"Mau yang dihias bunga sama pita, kan?" tanya Andri pada Tasya yang menjawab dengan anggukan..
"Beres itu mah spesial buat Tasya sama Doni," ucap Andri dengan bangganya dan membawa mereka melangkah menuju parkiran Apartemen Emas.
Ketika semuanya menuju ke parkiran apartemen, mereka dikejutkan dengan bunyi klakson bus yang terdengar nyaring. Lebih mengejutkan lagi saat mereka menoleh ke arah bus itu di sekelilingnya telah diberi hiasan pita dan bunga. Pada bagian depan ada bunga besar yang bertuliskan "Doni Love Tasya". Di bagian belakangnya bertuliskan "Just Married".
"Ini sih bus pengantin bukan mobil pengantin, Onta!" seru Anan menoyor kepala Andri.
"Ribet kalau pakai sewa dua mobil, udah sih naik ini aja lega. Jarang-jarang lho ada pengantin naik bus," ucap Andri.
"Bukannya jarang, gak pernah dan gak ada yang mau!" sahut Tante Dewi kesal.
"Udah deh biarkan aja, yang penting kita cepet sampai ke KUA, ayo dong saya udah gak sabar, nih," sahut Doni menarik tangan Tasya.
"Eh... gak bisa, kamu sama Anan, Andri dan Pak Herdi. Tasya ikut rombongan cewek-cewek di belakang," cegah Dita.
"Oke deh," ucap Doni lalu naik ke dalam bus tersebut.
***
Sesampainya di kantor urusan agama pusat kota, kehebohan mulai terjadi. Para petugas yang bekerja di sana terlihat tertawa dan sesekali mengambil gambar bus yang mengantar Tasya dan Doni.
"Yanda, kamu udah siapin taman, kan?" tanya Dita berbisik.
"Siap!" sahut Anan.
"Yang mau nikah mana?" tanya Pak Penghulu yang rambutnya sudah berwarna putih semua itu. Kaca mata tebalnya masih tak mampu juga membedakan mana yang pengantin mana yang bukan.
"Hadeh, Pak... ini pengantinnya," ucap Shinta menunjuk Doni dan Tasya.
"Oh, mari kita ke taman!" ajak Pak Penghulu.
"Emang ada apa di taman?" bisik Doni.
"Gak tau, ikutin aja!" sahut Tasya.
Akhirnya mereka mengikuti arahan penghulu tersebut menuju taman. Di sana sudah terdapat meja penghulu dan beberapa kursi tamu lengkap dengan hiasan pengantin dan meja prasmanan yang berisi aneka makanan.
"Ya ampun siapa yang sudah menyiapkan ini?" tanya Tasya.
"Surpriseeeeee... kejutan dari Anan dan aku buat kalian," ucap Dita merentangkan kedua tangannya bersamaan dengan Anan dan Anta.
"Kok bisa, kapan kalian buat ini?" tanya Doni.
"Tinggal telepon jasa WO yang bisa kilat nyusun ini dan jadilah ini kejutan buat kalian," sahut Anan.
"Ah... peluk Dita... Makasih ya buat semuanya," Tasya memeluk Dita dengan eratnya.
"Sama-sama, bahagia selalu ya," ucap Dita memeluk Tasya yang hampir menangis.
__ADS_1
"Jangan nangis Tasya, nanti eyeliner yang udah Tante buat susah-susah luntur, lho..." cegah Tante Dewi padahal dirinya sudah mengusap air matanya dengan tisu sedari tadi.
"Iya udah, cup, cup, cup, duduk sini yuk!"
Dita membantu Tasya untuk duduk di kursi depan meja milik Pak Penghulu.
"Don, tunjukkin kalau kamu bisa satu nafas," bisik Anan.
"Siap, Pak Bos!" Doni mengacungkan ibu jarinya ke hadapan Anan.
"Begini ya, Nak Doni. Dengan mengucap kalimat ijab kabul akad nikah maka status nikahnya sah. Artinya, sang pengantin pria wajib melafalkan kalimat ijab kabul secara lancar dan tegas, sudah hapal?" tanya Pak Penghulu.
"Sudah, Pak!" sahut Doni dengan yakin dan suara lantang.
"Ikuti saya, ya." Pak Penghulu menjabat tangan Doni yang gemetar dan berkeringat.
Doni menoleh ke arah Tasya seraya tersenyum.
"Heh, fokus sama saya dulu, jangan lirik-lirik," protes Pak Penghulu.
"Hehehe... maaf, Pak."
Dan... akhirnya Doni dengan lantangnya mengucap ijab kabul dengan satu nafas.
"Sah?" tanya Pak Penghulu.
"Sah...."
Semua kompak menjawab.
Anan dan Andri yang didaulat menjadi saksi pernikahan, lanjut menandatangani dokumen pernikahan Doni dan Tasya.
"Mana cincinnya, Nta?" tanya Dita.
"Ada nih," ucap Anta lalu melangkah ke arah Doni dan Tasya menyerahkan kotak berwarna merah berbahan beludru yang berisi dua cincin emas sederhana pemberian dari Shinta.
"Makasih ya Ta udah banyu pilih cincin sesuai budget saya," bisik Shinta.
"Sama-sama, mereka bahagia banget ya," bisik Dita.
"Ya ampun, kenapa peristiwa aku keulang sama kamu lagi sih, Don," Anan menepuk dahinya sendiri.
"Hmmm nasib, ya udah aku aja yang ambil."
Doni segera meraih cincin dalam selokan tersebut, parahnya lagi cincin itu masuk ke badan bangkai tikus yang penuh belatung.
Doni menahan nafasnya demi Tasya, ia rela lakukan apapun demi istrinya itu.
"Dapet..." ucap Doni.
"Iyuh... bau tau!" sahut Tasya dengan kesal.
"Tenang aku bawa hand sanitizer nih, kita bersihin dulu," ucap Dita.
"Demi kamu nih, Sya. Mana ada bangkai tikus sama belatung lagi," gerutu Doni bergidik ngeri.
Setelah dibersihkan, Doni sempat memastikan mencium cincin tersebut masih bau apa tidak.
"Aman, udah wangi, nih lanjut pakaiin, habis itu kita *******, Sya." Doni sangat antusias menghampiri Tasya.
"Woi, ada Anta kali..." cegah Anan.
"Oh iya, di rumah aja kalau gitu," ucap Doni.
"Ya udah yuk foto-foto terus makaaaaannnn..." seru Dita.
"Yeay makan...!" sahut Anta.
"Lee, diam ya, kamu kenapa sih lihat ke pohon besar itu terus?" gumam Shinta.
"Dedek Lee lihat Tante gendut itu," tunjuk Anta.
"Astagfirullah, pantesan aja," ucap Dita saat menoleh ke arah pohon besar tersebut.
Di sana terdapat genderuwo wanita yang berbadan gemuk sedang menggoda Lee sambil tersenyum.
"Ada apaan, Ta?" tanya Shinta.
__ADS_1
"Tante Item," ucap Dita.
"Maksudnya sebangsa genderuwo tapi perempuan gitu?" tanya Shinta.
"Iya, udah biarin aja, dia gak jahat kok, gak usa liat ke pohon itu terus," ucap Dita.
"Tapi, si Lee gimana?"
"Biarin aja asal jangan nangis, nih aku udah siapin daging mentah..." Dita mengeluarkan satu kotak makan berisi daging mentah dari kolong meja prasmanan.
"Aduh, makasih banyak ya Ta, aku malah gak kepikiran."
Pak Herdi terlihat sedih berada di dekat pohon besar, lalu Tasya mendekatinya.
"Peluuukkk..." Tasya memeluk Pak Herdi.
"Kamu mah bikin baper saya aja, sana nanti Doni marah lho," ucap Pak Herdi.
"Aku mau ucapin makasih banyak sama Pak Herdi, malah aku maunya Pak Herdi sekarang jagain aku, kan keluarga Dita udah punya Ratu Sanca," pinta Tasya.
"Saya sih mau aja, Sya. Masalahnya..."
"Tasya, ayo kita foto!" ajak Shinta.
"Sudah sana kamu foto dulu." .
"Pak Herdi ikutan, yuk!" pinta Tasya.
"Percuma, Sya. Gak kelihatan saya juga di foto, udah sana!"
Tasya akhirnya mengikuti Shinta untuk berfoto.
"Hai, Sob!" Anan datang di samping Pak Herdi.
"Hai, Sob!" sahut Pak Herdi.
"Kenapa belum bilang sebenarnya sama Tasya?"
"Saya gak tega, Nyan. Apalagi tadi dia minta saya jadi penjaga keluarganya, makin gak tega saya," ucap Pak Herdi.
"Gue salut sama Elu, Bro!" Anan merangkul bahu Pak Herdi.
"Tumben, biasanya udah guling-gulingan?" tegur Dita.
"Tau nih, kesambet apa ya sampai dirangkul Menyan gini," ucap Anan.
"Ah tofu basi, bikin gue sewot aja," Anan menarik ikat kepala Pak Herdi dan menjepitnya di ketiak.
"Udah ih, lebih seneng lihat kalian seperti tadi juga," ucap Dita.
"Oh iya, besok kita pergi ke rumah lamaku, ya?" pinta Anan.
"Oke, if you go, I will go... (Kalau kamu pergi, aku juga akan pergi...)" sahut Pak Herdi.
"Cakep... gue demen nih pocong," sahut Anan.
Dita memperhatikan dua pria di hadapannya itu dengan tatapan penuh sayang dan bahagia.
*******
Bersambung...
Stay safe, stay health buat semuanya. Jangan lupa selalu cuci tangan dan pakai masker kalau ke luar rumah.
Mampir juga ke :
- 9 Lives
- Diculik Cinta
- With Ghost
- Forced To Love
- Kakakku Cinta Pertamaku
Vie Love You All... 😘😘
__ADS_1