
Jangan lupa Vote sebelum membaca...🤗😊
Pembaca harap bijak dengan adegan di bab ini...
***
srek srek srek...
Seseorang sedang menyeret tubuh di lantai menuju kedalam ruangan. Dita mendengar kan langkah orang itu dengan seksama, Dita sedikit membuka kelopak matanya untuk mengintip.
Apa Kang Ujang...!!! dan itu... kaki jenjang itu.. kaki milik Bu Devi, bagaimana bisa dia melakukannya.
Bu Devi menyeret Kang Ujang yang wajahnya penuh luka pukulan dan di perutnya masih mengeluarkan darah segar akibat tusukan pisau, menuju sudut ruangan dan membiarkan tubuh Kang Ujang terbaring disana.
Terdengar erangan dari Kang Ujang yang rupanya masih hidup.
Bu Devi bersenandung sambil membawa pisau di tangannya menghampiri Kang Ujang mencoba menusuk Kang Ujang kembali namun Doni tak tahan untuk bersuara.
"Dasar wanita iblis...!! hentikan ...!!" Teriak Doni dengan lantang membuat Bu Devi terkejut dan menoleh pada Doni.
Kini ia mulai menghampiri Doni mengarahkan pisau itu pada Doni.
Dita memberanikan diri untuk berdiri dan mendorong Bu Devi jatuh lalu merebut pisau ditangan Bu Devi.
Dita menggunakan pisau itu untuk membuka ikatan tangan Doni namun terlambat Bu Devi sudah menjambak rambutnya dan menariknya menjauh dari Doni.
"Lepas... lepaskan aku...!!!" pekik Dita meraih tangan Bu Devi yang menarik rambutnya dan menyeretnya.
Dita meninggalkan pisaunya di belakang tubuh Doni berharap Doni dapat menjangkau pisau itu membuka ikatannya sendiri.
Dibalik pintu keluar itu Dita melihat sosok pria yang ia sangat kenal dan sangat ia harapkan.
"Pak Herdi...!!! tolong kami pak...!!"
pekik Dita saat melihat pak Herdi berdiri membuka pintu ruangan itu.
Pak Herdi langsung menghampiri Doni. mengambil pisau dan membuka ikatan tangan dan Kaki Doni.
"Sudah ku duga pak, dia dalang semua ini, dia yang selalu cari tumbal dan ngebunuh orang-orang disini."
ucap Doni menunjuk ke arah Bu Devi yang masih menjambak rambut Dita.
"Lepasin Dita...!!! Bu, sekarang kamu kalah jumlah, hubungi polisi pak sekarang!" ucap Doni menepuk bahu Pak Herdi.
__ADS_1
"Lepasin dia sayang."
Doni menoleh ke arah Pak Herdi yang bersuara dan ...
Jleb...
Pak Herdi menusukkan pisau itu pada perut Doni menusuknya makin dalam. Darah segar mengalir dari perut Doni rasa sakit teramat sangat Doni rasakan memegang perutnya dan terhunyung jatuh ke lantai.
"Kenapa Pak? kenapa harus anda dan Bu Devi orangnya?" ucap Dita sambil menangis memandang Doni dan Kang Ujang.
Prok prok prok...
"Dita... Dita.... kenapa kamu yakin sekali dia itu Devi hah...??"
ucap Pak Herdi sambil bertepuk tangan.
"Ma ma maksud bapak?"
"Coba dong perhatiin dia baik baik. sini sini duduk sama saya."
Pak Herdi mengambil kursi dan memegang kedua pundak Dita menaruhnya di kursi lalu mengikat tubuh Dita di kursi.
"Anak pintar duduk tenang yak disini." Pak Herdi menepuk kepala Dita yang berusaha meronta-ronta."
"Hahaha percuma Dita sayang, kita ada diruang bawah tanah dibawah ruang kerjaku yang tak pernah kamu tahu dan tak ada yang bisa mendengarmu."
Pak Herdi memainkan ujung pisau di dagu Dita. Tercium anyir darah di pisau itu. Darah segar dari Kang Ujang dan Doni.
"Dimana Anita pak?" tanya Dita penasaran dengan keberadaan Anita.
"Coba dong tanya sama Dia kan tadi dia yang menghabisi Anita sahabatmu itu hahahhahaha." Pak Herdi menunjuk Bu Devi.
"Kurang ajar kalian...!!! dasar pembunuh ...!!"
"Bukan aku lho yang bunuh, tanganku hanya terkotori barusan oleh si tengik Doni itu."
"Dimana Anita...?" tanya Dita kesal
"Ckckkckc sabar dong pelan aja gak usa ngegassss... Dimana dia sayang?"
Pak Herdi menoleh ke Bu Devi yang kemudian menunjuk dinding di luar sebrang pintu masuk ruangan.
"Oh bagus sekali sayangku... begini ya Anandita sayang sahabatmu Anita akan membusuk dia akan menguatkan fondasi bangunan wahana ini dibalik dinding itu, begitu pula dengan Ujang dan Doni hahahaha pintar kan design kantor ku hahahhaa..."
__ADS_1
"Cih sehina itukah dirimu pak demi kekayaan mu kau tumbal kan kami, kau yang selalu kami sanjung karena kebaikan mu ternyata berhati busuk, cih..." Dita meludahi wajah pak Herdi.
Plak...
Tamparan keras mendarat di pipinya Dita sebelah kanan.
"Herdi itu memang baik, sangat baik dia bahkan tergila-gila padamu dan hampir saja menikahimu jika seandainya saja kau bilang iya, namun terima kasih kau tak pernah menjawabnya."
Pak Herdi memandang wajahnya di cermin wastafel yang berada di ruangan itu sambil mencuci tangannya.
"Ternyata aku tampan juga yak, tapi kenapa kau tak mau dengan Herdi? apa karena dia duda?"
"Maksud bapak?"
"Oh iya aku lupa memperkenalkan diri, namaku Jordi. Aku dan Herdi memang satu tubuh tapi kepribadian kami berbeda, lucu kan? sebenernya aku hanya ingin tubuh ini milikku, namun Herdi selalu datang dan menganggu dengan perasaan cintanya padamu sama seperti perasaan cintanya pada Tania."
"Tania..?? jadi dia isteri Pak Herdi?"
"Yah, tentu saja Tania istri Herdi yang juga istriku, benarkan Tania."
Pak Herdi menoleh ke arah Bu Devi. Mengulurkan tangannya ke arah Bu Devi yang bersambut. Pak Herdi mencium tangan Bu Devi lalu menyuruhnya duduk di kursi di hadapan Dita.
"Kau pasti sudah kenal dengan sosok Tania bukan?" tanya Pak Herdi ke Dita.
Dita mengamati sosok Bu Devi dihadapannya, bagaimana bisa tubuh Bu Devi itu adalah Tania.
"Devi hanyalah alat agar Tania bisa masuk ke raganya selama dalam pengaruhku."
Pak Herdi memegang leher Bu Devi mendongak kan ke atas menghadap ke wajahnya yang membungkuk dan melumat bibir Bu Devi itu didepan Dita.
"I love you Tania... now.. do it baby."
Ucap Pak Herdi lirih sambil menaruh pisau ke tangan Bu Devi.
Sosok Bu Devi itu tersenyum memandang Dita, mengarahkan pisau yang tajam itu ke lehernya lalu menggorok lehernya sendiri.
"Tidaaaaaakkk .....!!!"
Dita berteriak sekuat tenaganya.
***
To be continued
__ADS_1
Happy Reading...