Pocong Tampan

Pocong Tampan
Dimas


__ADS_3

Kaya gitu bukan hantunya?" Anan menunjuk hantu pria pengendara motor tadi yang sudah berdiri di depan teras rumah Dita.


Dita memeluk Anan, menenggelamkan wajahnya pada punggung Anan tak mau melihat ke arah hantu itu.


"Tolong aku..." lirih nya.


Anan memaksa Dita menarik tangannya untuk bergeser agar Dita bisa melihat sosok itu.


"Gak mau...!!! aku gak mau lihat...!!"


"Tolong aku, hanya kamu yang bisa menolongku."


"Ta kasian dia minta tolong masa kamu cuekin, mana nih Dita yang baik hati itu."


"GAK MAUUUU.....!!!"


Dita makin memeluk pinggang Anan dengan erat. Anan tersenyum puas makin kegirangan di peluk Dita.


"Kakak Dita aku mau tanya dong." Suara Jessie datang menarik kaus Dita.


"Apa Jess?" Dita menoleh perlahan ke arah Jessie.


"Kak aku mau tanya cara nyari luas permukaan kerucut tapi Sisi selimutnya sama tinggi gak ada cuma ada volume dan luas alas gimana?"


"Pake phytagoras Jess, aduh gimana ya jelasinnya kakak gak mau lepas dari Anan nih."


"Cieeee mesra banget sih, gak malu apa aku liatin." Jessie meledek Dita.


"Bukan gitu tuh gara-gara om itu tuh." Dita menunjuk ke arah hantu pria itu.


"Aaaaaaaaaaaaa..."


Jessie pergi menghilang meninggalkan Dita dan Anan dengan teriakannya.


"Tuh dia yang hantu aja takut liat dia gimana aku?"


"Ya emang bentuknya dia serem gitu gak tampan kaya aku mau diapain coba, hihihi."


"Awww..."


Dita mencubit pinggang Anan.


"Coba mas bang bro siapa kek kamu bisa gak jangan kaya gitu tampilan penampakannya yang biasa aja gak usah diserem-seremin, bisa gak?"


Dita bertanya dari balik punggung Anan tak mau melihat sosok hantu itu.


"Tolong aku.." ucap sosok itu.


"Iya nanti aku tolongin asal jangan kaya gitu bentuknya takut nih."


"Hahahhahaha sumpah kocak banget ini."


Anan meledek Dita dengan membungkukkan badannya agar Dita melihat ke sosok itu namun Dita masih menutup matanya.


"Kamu kaya gitu lagi aku gak mau temenan sama kamu lagi nih." ancam Dita.

__ADS_1


"Yakin...? gak mau temenan sama aku? oke lepas nih."


"Eh jangan dong jangan lepas, Anan sini aja."


"Tuh kan gak bisa jauh dari aku." goda Anan.


"Ya udah gimana caranya saya nolong kamu?"


Dita masih bersembunyi di balik punggung Anan.


"Cari di saku ku, berikan pada ibuku." ucap sosok itu.


"Cari Nan di sakunya sana!" Dita emndoring tubuh Anan sambil masih berlindung di punggungnya.


"Ya gak bisa lah, harus disaku tubuh asli manusianya lah."


"Oh iya yak, terus dimana dong carinya yak."


"Di warteg apa toko bangunan ada noh."


"Emang mayat dia dibawa kesana apa lewat sana terus yang ada disakunya jatuh gitu, pinter juga cara pikir kamu Nan, jadi warteg mana nih dan toko bangunan mana nih?"


"Ditaaaaaaaa....!!! aku tuh becanda tau....!"


Anan menepuk jidatnya kesal mendengar ucapan Dita.


"Kenapa ih aku kan cuma nanya."


"Ya mayatnya dibawa lah ke rumah sakit buat otopsi gimana sih kamu."


"Coba kamu bisa kembali ke wujud waktu kamu manusia gak?" tanya Anan pada sosok itu.


"Beri saya air mawar lalu siram ke saya." ucapnya.


"Cari dimana malem-malem gini air mawarnya, besok aja deh yak." ucap Dita.


"Tolong saya segera."


"Iya besok aku tolong kamu, namanya siapa mas, bang, bro?"


"Saya Dimas."


"Tuh kan bener Mas manggilnya hehehe."


"Awww sakit Anan."


Anan mencubit tangan Dita yang masih memeluknya.


"Bisa gak sih serius?"


"Iya iya, maaf mas Dimas rumahnya dimana?"


"Di Jalan Antasari nomer sepuluh di Ngawi, temui ibu dan adik saya segera dan serahkan benda di saku saya."


"Oke Mas, eh mas Dimas besok aku cari info tentang mas ada dimana jasadnya."

__ADS_1


"Terima kasih ya, maaf saya tadi sengaja melukai temanmu."


"Iya gak papa cuma lecet doang sikunya Anita, tenang aja."


"Terimakasih Dita."


"Udah hilang tuh udah gak ada."


ucap Anan menepuk punggung tangan Dita.


"Ah akhirnya ... terus gimana nih?"


"Ya besok aku temenin kamu cari dimana jasadnya terus kerumahnya nemuin ibunya."


"Atau malah jasadnya sudah sama ibunya yak."


"Gak mungkin Ta, kan tadi kamu denger dia dari Ngawi, jauh kan pasti jasadnya masih di tahan tim forensik."


"Iya yah, yaudah deh besok aku ajak Anita."


"Yakin mau cari mayat sama Anita?"


"Ah iya juga yak, apa sama Kang Ujang yak?"


Dita menepuk dagunya dengan telunjuknya.


"Mending sama Anita deh daripada bawa kang Ujang." sahut Anan.


"Apa sama Pak Herdi ya, emmm."


"Terus Ta, aku gak suka yak kamu deket - deket sama dia."


"Kenapa? cemburu ya, cieeee..."


"Iya, kenapa memangnya?"


Deg...


Serius nih Anan cemburu sama pak Herdi kalo deket-deket aku, kok bisa yak?"


"Serius lah, bisa lah, terus kenapa gak boleh gak suka?" protes Anan.


"Aduh hati aku keceplosan terus kan curang kamu mah bisa denger hati aku tapi aku gak bisa denger kamu uhhgg.."


Anan menghampiri Dita menarik tubuh Dita kepelukannya dan menahan kepalanya erat kedalam dada bidangnya.


Hati Dita makin berdegup kencang tak tertahan, ada rasa nyaman di pelukan Anan.


Entah kenapa Dita merasa mendengar detak jantung Anan, padahal sosok yang dipeluknya ini kan hantu.


Anan dan Dita tak saling bicara hanya berpelukan erat saat itu.


***


To be continued

__ADS_1


Happy Reading... please Vote yak... 😘😘


__ADS_2