Pocong Tampan

Pocong Tampan
Doni (Part 2)


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍😊


***


"Kak kita mau kemana?" tanya Doni merapatkan dirinya ke Dita.


"Mau ketemu kakak kamu lah."


"Kok itu tulisannya kamar mayat sih? maksud kak Dita kakakku udah jadi mayat gitu huaaaa huaaaa." Doni tersungkur bertumpu pada lututnya sambil menangis.


"Lah bocah dia mewek disini." sahut Anita


"Kak Shinta... huaaaaa...! maafin Doni kak, belum jadi adik yang baik, belum bisa liat kakak nikah, belum bisa bahagiain kakak, maafin Doni kak huaa huaaaa." tangisan Doni makin kencang terdengar sampai Shinta keluar dari ruang kerjanya.


"Kamu apain Ta adik aku itu?" Shinta bertolak pinggang menantang Dita dari depan ruangannya.


"Kak Shinta huaaaaaa, kakak masih hidup rupanya." Doni langsung memeluk kakak perempuan tersayangnya itu.


"Emang dia bilang aku udah mati Don? wah sembarangan mulut kamu Ta." Shinta melotot ke arah Dita.


"Kok jadi sewot ya aku Nit." bisik Dita dengan wajah kesalnya.


"Iya aku apalagi aku Ta, mana aku udah baper inget dan kangen sama Doni mantan aku dulu, eh pas liat Doni yang ini taunya beda abis kelakuannya sama Doni aku dulu." sahut Anita


"Mantan? jadi kalian pernah jadian dulu kok gak bilang sih, traktir pajak jadian juga enggak huh."


"Lagian kamu sibuk sih sama pak Herdi."


"Enak aja, asal kamu tahu ya banyak hantu yang aku urusin pas di kerja di kolam renang."


"Ya aku kan gak tau kalau kamu buka agen penolong hantu, lagian gak bilang kamu berurusan dengan para hantu."


"Sembarangan emangnya aku agen perhantuan apa, lagipula nanti kalau aku bilang ke kamu terus kamu gak mau temenan sama aku karena takut."


"Ah Dita so sweet banget sih, kamu tuh akan selalu jadi sahabat sejati aku apapun yang terjadi." Anita memeluk Dita.


"Woi...! stress ni orang ngomong sendirian."

__ADS_1


Shinta menimpuk Dita dengan pulpen di kantongnya.


"Dia gak stress kak dia itu.." sahut Doni


"Eh Shin aku lagi akting nih lumayan kalau aku ikut casting bintang iklan hehehe." Dita memotong pembicaraan Doni sambil melotot ke arah Doni agar tidak keceplosan soal keberadaan Anita.


"Sutradara somplak kali yang mau casting kamu hahahaha." ejek Shinta.


"Ya kali Shin tampang ku juga gak jelek-jelek amat kok, buktinya Anan aja klepek-klepek sama aku." ucap Dita lirih dengan sombongnya.


"Apa? ngomong apa kamu barusan?" Shinta berusaha mendengar perkataan Dita lebih jelas.


"Enggak kok bukan apa-apa, ya udah aku balik ya, dah Doni."


Dita berbalik arah memberi kode ke Anita agar pergi dari koridor itu mengikutinya.


Doni mengikuti Shinta masuk ke ruang kerja namun tak lama ia berteriak menghampiri Dita.


"Kak Dita.... tolong....!!"


"Kamu kenapa Don?" tanya Dita penuh heran.


"Ada tiga hantu melotot ke arahku kak di kamar mayat itu."


"Eng... dia capek kali Shin, ketakutan juga liat mayat di dalem." ucap Dita membela Doni.


"Alah cemen banget sih kamu itu Don kalau mau jadi adek aku ya harus pemberani tau." Shinta menarik tangan Doni.


"Aku gak mau kak, aku takut." rengek Doni yang di seret oleh Shinta saat itu.


"Kasian Ta, entar kena serangan jantung aja saking kaget ketakutannya." Anita menyandarkan kepalanya di bahu Dita.


"Shin.. gimana kalau Doni nemuin Anan eh Manan maksud nya, kan kamu mau cari kerja buat Doni di sini kan?" ucapan Dita berhasil menghentikan langkah Shinta dan menoleh padanya.


"Giliran nama Anan ke sebut aja nengok huuu..." sahut Anita.


"Emmm ide bagus juga, kalau gitu tunggu disini ya Don, aku rapih-rapih dulu mau ketemu bos." ucap Shinta melepas pegangannya pada Doni.


"I..iya iya kak." Doni langsung menghampiri Dita kembali. "Ah selamat juga akhirnya, makasih ya kak."


"Kali ini kamu aman suatu saat nanti kamu harus perkuat mental kamu kalau ketemu hantu yang bahkan lebih menyeramkan dari yang kamu liat tadi, contohnya samping aku nih."


"Sial lho Ta, cantik kaya gini dibilang serem." Anita mendorong punggung Dita.


"Aduh kaki aku masih sakit Nit."

__ADS_1


"Eh iya sorry Ta, kelepasan hehehhe."


"Oke Don, ayo kita keruangan pak Manan." ajak Shinta.


"Kamu gak usah ikut ya Ta, ini kan pembicaraan keluarga bersama sang bosnya." larang Shinta yang berharap siapa tau Anan akan menjadi keluarga besarnya nanti.


"Hmmm okelah."


Kalau bukan gara-gara Doni habis wajah kau ku garuk-garuk.


Dita memandang kesal kearah Shinta.


"Makasih ya kak Dita." ucap Doni lalu mengikuti Shinta menuju ruangan Anan.


***


"Ta, liat deh kayanya kenal sama pasien itu Ta." Anita menepuk bahu Dita menahannya untuk memperhatikan pasien yang berada di atas kasur rumah sakit yang didorong oleh dua perawat yang menunggu di depan lift.


"Ah, iya Nit itu pak Herdi." Dita segera menghampiri pasien itu.


"Cindi tunggu sebentar." ucap Dita membuat Cindi menoleh padanya.


"Pasien ini kenapa?"


"Oh dia ini baru aja operasi pemasangan tangan palsu di Singapura, tadinya baik-baik aja eh pas sampai Indonesia tau-tau dia pingsan masuk ICU kan beberapa hari lalu."


"Terus ini mau dipindah kemana?"


"Keruang perawatan lah, tadi pagi dia sempet sadar dan terbangun."


"Kok ini gak sadar?"


"Habis minum obat kali ngantuk hehehe, udah ya tolong minggir dulu, lagian memangnya kamu kenal sama dia?" tanya Cindi sambil menekan tombol lift agar terbuka.


"Dita ..." suara pak Herdi terdengar lirih memanggil nama Dita dengan mengulurkan tangannya ke arah Dita.


"Pak Herdi, hai...!" Dita menyambut uluran tangan pak Herdi dengan senyum manisnya.


Pertanyaan Cindi terjawab sudah rupanya Dita kenal dengan pasien ganteng ini.


***


To be continued...


Happy Reading 😘

__ADS_1


__ADS_2