Pocong Tampan

Pocong Tampan
Bertemu Kembali


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍😊


***


Dita menemani Pak Herdi menuju ruangan perawatannya, tangan pak Herdi selalu menggenggam tangan Dita seolah enggan melepasnya.


"Kamu kenal dimana Ta sama mas ganteng ini?" bisik Cindi.


"Dia itu bos aku waktu aku kerja di wahana kolam renangnya dulu."


"Tajir dong?"


Dita mengangguk. "Ya namanya bos tajir lah."


"Pantesan keliatan sih kelihatan gitu tampang bos kaya persis pak Manan, tapi kok dia narapidana ya Ta, jangan-jangan dia koruptor hmmm."


"Dia orang baik ko Cin, dia cuma dijebak."


Dita mengelus punggung tangan Pak Herdi yang tertidur kembali karena pengaruh obat. Dita sempat mengingat kejadian tragis saat di kolam renang lalu dia juga memandang Anita sebentar yang ternyata Anita sedang menangis mengingat kematiannya jika melihat ke Pak Herdi.


Keluar dari lift mereka menuju sebuah koridor dengan beberapa ruangan perawatan yang mereka lewati.


"VIP nomor 505 ini ruangannya sampai deh."


ucap Cindi sambil membuka pintu kamar tersebut. Sementara teman perawat Cindi merapikan ranjang untuk pak Herdi lalu cindi membangunkan pak Herdi dari tidurnya.


"Maaf pak, mau dibantu pindah atau pindah sendiri?" tanya Cindi.


"Saya bisa sendiri sus, makasih." ucap pak Herdi tampak masih lemas terdengar.


"Aku bantu Pak." sahut Dita mencoba memapah pak Herdi, Cindi akhirnya ikut membantu memapah pak Herdi ke atas ranjang nya yang sudah di siapkan perawat temannya Cindi.


"Aku tinggal ya Ta." ucap Cindi.


"Oke makasih banyak yak Cin.


Lumayan, kayanya Dita deket deh sama tuh pasien terus kalau Dita deket sama dia kan pak Manan bisa aku deketin lebih leluasa hihihi


Cindi menutup pintu ruangan perawatan Pak Herdi.

__ADS_1


"Bapak mau nonton tv gak? aku nyalain yak." Dita menekan tombol turn on pada remote tv di atas meja.


"Tolong naikin saya Ta?" ucap pak Herdi lirih.


"Apa? pak kalau ngomong jangan sembarangan ya, emang saya cewe apaan disuruh naikin bapak." sahut Dita kesal.


"Saya gak ngerti Ta maksud kamu, kan saya cuma minta naikin posisi saya, soalnya saya mau duduk nonton tv."


"Oh, bilang dong pak, jadi malu saya hehehe." Dita memutar kenop ranjang pak Herdi agar naik posisinya Dita tak mau memandang wajah Pak Herdi karena ucapannya barusan.


Anita tampak murung berdiri di depan pintu kamar sambil memandang wajah Pak Herdi.


"Sini ngapain ngeliatin pak Herdi kaya gitu?" Dita menegur Anita yang berada di sudut pintu kamar pak Herdi.


"Nit? Nit siapa Ta, oh iya aku ingat kamu bisa lihat hantu yak." ucap pak Herdi sambil tersenyum memperlihatkan kerut manja di sudut kelopak matanya.


"Anita pak." sahut Dita.


"Anita? Anita sahabat kamu? apa dia masih marah sama saya Ta?" tanya Pak Herdi dengan raut wajah khawatir.


"Aku gak marah kok Ta, tapi hati aku gak ikhlas aja gitu, sakit banget kalau liat wajah pak Herdi makin kebayang wajah Doni sama Bu Devi semua gara-gara iblis jahat yang merasuk ke tubuh pak Herdi kan?" ucap Anita sedih.


"Tapi kan Nit, dia gak salah dia bahkan kasih tau caranya menghancurkan iblis jahat itu dengan mengorbankan tangannya, dia juga kehilangan istrinya Tania yang sangat ia cintai."


"Iya sih Ta, tapi aku..."


Dita menarik tangan kanan Anita membawanya menuju tangan kanan pak Herdi. "Sini pak tangannya." Dita mendekatkan tangan pak Herdi dan tangan Anita agar berjabat tangan.


ucap Dita.


Meski pak Herdi tak bisa melihat Anita namun ia bisa merasakan aura kehangatan yang terasa di telapak tangannya.


"Anita mohon maafkan saya, seandainya saya bisa menukar nyawa saya untuk menghidupkan kamu, saya rela Nit."


Ada ketulusan yang Anita rasakan dari ucapan mantan bosnya itu. Tak terasa air mata Anita membasahi punggung tangan Pak Herdi.


"Anita nangis ya Ta, kok tangan saya berasa kena tetesan air ya?"


"Iya pak, udah Nit jangan nangis, seandainya waktu bisa aku putar aku pasti mau kamu pulang duluan gak balik ke kolam."


Dita memeluk Anita dari samping, dirinya jadi ikut menangis.


"Maafin saya ya Nit, maafin saya juga Ta."


"Iya pak, huaaaaa."


"Kok makin kenceng Nit nangisnya?" Dita berusaha menyeka air mata yang mengalir di pipi Anita.

__ADS_1


"Kangen Doni Ta, hiks hiks hiks.."


"Nit, udah deh nanti kalau Doni tiba-tiba ke dunia ini terus ngikutin aku kaya kamu gini, lama-lama Tante Dewi rumahnya jadi kos-kosan para hantu lho."


"Iya ya Ta, sumpek entar."


"Doni yang ada aja gih, kan lumayan tuh Nit."


"Ah Dita kok aku baru kepikiran yak, aku samperin ah, eh kalian berduaan doang dong, hati-hati entar Anan ngamuk lho."


"Ah kalau dia percaya sama aku, dia gak akan salah paham."


"Tetep aja Ta cemburu mah picek gak bakal ngeliat jelas."


"Hahahaha... belum buta ya Nit baru picek."


"Yohaa...." Anita kembali tersenyum manis dengan senangnya.


"Nah gini dong, ini baru Anita sahabatku yang selalu ceria mencerahkan hariku."


"Ah Dita, peluuukk."


Pak Herdi memandang heran ke arah Dita karena tak mampu melihat Anita, Pak Herdi hanya melihat Dita memeluk udara.


"Anita mana Ta? sini aku peluk juga." pak Herdi membuka kedua tangannya bersiap menyambut pelukan Anita.


"Udah pergi pak, nyamperin gebetan."


"Oh..." pak Herdi menggaruk kepalanya kikuk dan salah tingkah sambil sedikit tersenyum ke arah Dita.


"Mau minum pak?" Dita menghampiri sebuah lemari pendingin di sudut ruangan samping sofa.


"Emang saya boleh minum es Ta?"


"Emang ada larangan gak boleh minum es tadi kata suster?"


"Saya gak inget Ta."


"Halah udah jangan kaya bocah kalau lagi sakit terus dilarang gak boleh minum es hehehhee nikmatin aja, nih."


Dita menyerahkan teh dingin dalam kemasan kotak ke tangan pak Herdi.


"Iya ya Ta, lagian seger banget ini."


astaga senyumnya pak, manis banget, hati aku meleleh ini mah, maafin aku ya Nan, pak Herdi ganteng banget ini.


***

__ADS_1


To be continued...


Happy Reading guys 😘😘


__ADS_2