Pocong Tampan

Pocong Tampan
Rencana Makan Malam (Part 2)


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍


***


"Non tamunya datang tuh." ucap Bu Mey pada Dita.


"Kakek nenek Harja Bu?" tanya Dita memastikan.


"Iya non mereka datang tuh."


"Oke Bu aku kesana segera menyambut, buatin minum ya Bu." ucap Dita.


"Ayo Nan buruan kita sambut mereka." Dita menarik lengan Anan untuk menyambut kedatangan kakek nenek Harja.


"Malam nek, wah senangnya akhirnya aku kedatangan kalian juga dirumah ini." sapa Dita dengan senyum hangatnya.


"Halo selamat malam, saya nenek Atika, ini suami saya Kakek Harja." ucap Nenek Atika.


"Halo kek, saya Dita, ini suami saya Anan." ucap Dita menjabat tangan nenek Atika dan kakek Harja bergantian begitu pula dengan Anan.


Bu Mey datang membawa biskuit dan teh manis untuk semuanya.


"Silahkan di minum." ucap Dita dengan sopan dan ramah.


"Oh iya, saya bawa kado pernikahan buat kamu." nenek Atika menyerahkan tas kertas bermotif batik yang dia bawa untuk Dita dan Anan.


"Wah makasih banyak ya nek, kalian datang aja saya udah seneng lho eh ini repot-repot bawa hadiah." ucap Dita.


"Keluarga Arjuna kemana ya?" tanya kakek Harja.


"Papi sama mami di Jepang kek, sudah lama mereka tinggal disana untuk pengobatan mami aku." sahut Anan.


"Oh begitu ya dulu kami sering main tenis bersama lho." ucap kakek Harja menyeruput teh nya.


"Mana yang lainnya?" tanya nenek Atika.


"Tetangga yang lain rumahnya jauh-jauh ya tadi juga banyak yang keluar negeri, cuma kita aja yang deket makanya saya undang kakek sama nenek aja." ucap Dita.

__ADS_1


"Ya memang yang saya suka tinggal disini jauh dari keramaian tidak saling bergantung dan terlalu berinteraksi satu sama lain." sahut nenek Atika.


sombong banget nek, kalau gak deket sama tetangga, nanti siapa yang nolong coba, pantes aja jarang dan hampir gak suka bersosialisasi dengan tetangga.


Dita memandang nenek Atika dan memperhatikannya dengan seksama saat berucap dengan nada kesombongannya.


Tante Dewi menuruni tangga berdua om Kevin. Keduanya langsung menyapa kakek dan nenek Harja.


"Kamu adiknya Arjuna kan?" tanya nenek Atika.


"Betul nek, halo apa kabar jarang ketemu ya kita." sahut Tante Dewi menjabat tangan nenek Atika dan kakek Harja bergantian.


"Baik bagaimana dengan dirimu dan... ini siapa?" tanya nenek Atika menanyakan keberadaan om kevin.


"Saya suaminya nek." sahut om Kevin sambil tersenyum.


"Lho bukannya dulu kamu menikah dengan orang bule ya? apa ini suami ke dua kamu?"


Om Kevin dan Tante Dewi bertatapan dengan kikuk. Dita dan Anan juga saling bertatapan tak tau lagi harus menjawab apa.


"Ummm nek mari ke ruang makan kami sudah menyiapkan jamuan yang enak dan lezat buat kalian para tamu undangan." Tante Dewi mencoba mengalihkan pembicaraan lalu mengajak para tamu ke meja makan.


Makan malam yang lezat di isi dengan obrolan santai seputar kehidupan bisnis masing-masing. Sampai Dita tak tahan menanyakan keberadaan orang yang pernah ia lihat turun dari mobil box.


"Memangnya bergerak di bisnis bidang apa kek?" tanya Anan.


"Macam-macam tergantung permintaan pasar, kadang di bidang kesehatan, kecantikan maupun alat-alat rumah tangga." sahut kakek Harja.


"Oh gitu... boleh liat katalog nya gak kek, saya mau tau banget nih." pinta Dita.


"Kita tidak menyediakan katalog tergantung permintaan pasar kan tadi saya bilang." sahut kakek Harja.


"Oh siapa tau kek, kita bisa kerja sama ya gak Yanda ku?" Dita mencolek perut Anan.


"Iya iya bener tuh kek." sahut Anan.


"Boleh nanti kapan-kapan kita bicarakan lagi, sayang ayo kita pamit sudah malam." ajak kakek Harja.


"Oh iya sayang sampai kita lupa waktu ya main kesini hihihi." sahut nenek Atika.


"Ih manis banget masih panggil sayangku." ucap Tante Dewi.


"Iya pastinya, meski kami tak bisa punya anak tapi kamu selalu menjaga ke romantisan keluarga kami ya sayang." ucap kakek Harja.


Lalu mereka pamit dari rumah besar Anan. Dita melihat sosok pocong berwajah hitam mencoba menakuti kakek Harja dan nenek Atika namun tak bisa. Pocong itu tampak kesal padahal sudah dengan wajah seram penuh darah dan belatung namun tetap saja ia tak terlihat.

__ADS_1


"Kesel banget kayak nya om pocong sama tuh kakek Ta." sahut Tasya yang ikut memperhatikan sedari tadi.


"Iya Sya kayaknya ada sesuatu gitu deh yang bikin tuh om pocong kesel sama si kakek, eh Andi gimana udah tidur?"


"Tadi sih sama Doni lagi main ular tangga di kamar Doni." sahut Tasya.


"Oh yaudah kalau begitu, yuk beres - beres." ajak Dita.


"Ta nih hadiah dari Tante." Tante Dewi menyerahkan kotak berwarna ungu pada Dita.


"Apa ya isinya kira-kira?" Anan meraihnya dari tangan Dita dan mengguncang kotak tersebut.


"Ya makanya buka." ucap Tante Dewi sambil tersenyum bertatapan dengan om Kevin.


"Aku buka ya." Dita menarik pita dan membuka tutup kotak tersebut.


"Wah... tiket pulang pergi ke pulau xx." ucap Dita penuh takjub.


"Plus menginap tiga hari di hotel xx dekat dengan pantai pasir putih yang bagus banget Ta." sahut Tante Dewi


"Ah... bagus banget sih, pas banget kadonya baru tadi aku ngobrol mau bukan madu bareng Anan eh ini dikasih akomodasi nya, aaahhh makasih ya Tante." Dita memeluk Tante Dewi kesayangannya itu.


"Nah manfaatkan sebaik-baiknya ya buat bikin debay hihihi." bisik Tante Dewi.


Anan juga memeluk Tante Dewi dengan erat dan berterima kasih juga.


"Keren banget Ta, terus kado dari nenek tadi apa Ta?" tanya Tasya ingin tahu.


"Coba ya aku buka." Dita membuka tas kertas batik pemberian nenek dan kakek tadi.


"Wah pigura cantik ada cermin juga nih cocok buat taruh foto pernikahan dan hiasan di atas meja rias ya Yanda." Dita menoleh ke Anan.


"Iya bagus." sahut Anan.


"Eh kok tadi Kevin diem aja ya pas nenek Atika tanya apa ini suami ke dua? dia cuma ngeliatin aku lho padahal kirain bakal panjang nanti tanya-tanya aku." ucap Tante Dewi saat om Kevin sudah di kamarnya bermain laptop.


"Nah coba tanya gih Tante." sahut Dita.


"Masa aku tanya gengsi ah gak mau nanya duluan biar aja kali dia butuh penjelasan ya nanti aku jelasin aja lah." Tante Dewi memilin ujung rambutnya.


"Ah susah kalah gengsi mah." sahut Dita.


***


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2