
Dear readers tersayang... Jangan lupa sebelum membaca di Like and komentar di babnya. Kalau sudah habis membaca jangan lupa juga buat Vote pakai poin kalian buat dapetin Giveaway dari Vie.
Terima kasih and Happy Reading. 😘😊
*******
Saat semuanya sedang menyantap hidangan yang sudah disiapkan tim wedding organizer pernikahan Doni dan Tasya, tiba-tiba Lee sudah menaiki pohon besar tanpa disadari oleh Shinta dan lainnya. Lee terjatuh dari sana mengejutkan semua orang.
Dita melihat perubahan bentuk di area kaki Lee yang cedera. Ternyata Lee kesulitan menggerakkan bagian tubuh tersebut.
"Kayaknya kaki Lee patah, deh," ucap Dita.
Lee menangis dengan kencangnya, dan benar saja apa yang dikatakan Dita. Anak kecil itu mengalami patah tulang di kaki kanannya.
Anan segera memanggil taxi untuk membawa Lee ke rumah sakit yang terdekat. Akhirnya ia memutuskan untuk membawa Lee ke rumah sakitnya dulu.
"Kalian pulang aja ya, nanti kita ketemu di rumah, biar aku sama Anan yang menemani Shinta," ucap Dita.
"Anta mau ikut, Bunda, boleh?" tanya Anta.
"Jangan ya, Nak. Kamu pulang aja sama Tante Dewi," sahut Dita dengan senyum manisnya pada Anta.
"Yah, oke deh..."
Lalu Dita dan Anan menaiki taxi tersebut dan melaju menuju Rumah Sakit Keluarga. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Lee tak berhenti juga menangis.
Sesampainya mereka di rumah sakit, Lee langsung dibawa oleh para suster menuju ruang instalasi gawat darurat.
Dokter spesialis anak yang sedang berada di rumah sakit pada jam tersebut langsung menuju ruangan tempat Lee masih menangis dengan kencangnya.
Dokter tersebut akhirnya memberikan penanganan dengan mengecek kondisi Lee menggunakan sinar X. Dokter itu memberikan penanganan yang sesuai dengan tingkat keparahan patah tulang pada bocah itu.
Setelah diamati ternyata ada pergerakan tulang di kaki Lee sehingga anak itu harus mendapat tindakan operasi (reduction) karena ada pergeseran tulang.
"Bagaimana nanti dengan Lee saat operasi?" tanya Shinta pada dokter.
"Begini bu, nanti kita akan menggunakan pin logam yang dipasang di dalam tulang kaki anak ibu untuk menyatukan tulang-tulang yang patah," tutur dokter itu.
"Lalu bagaimana dengan kondisi pergerakannya nanti, Dok?"
"Tenang saja, Bu. Semua penanganan dan tindakan di rumah sakit ini pasti aman."
"Udah, Shinta, tenang aja. Kita serahkan semua sama dokter," ucap Dita.
"Ya udah deh, lakukan yang terbaik aja, Dok."
Shinta menggenggam kedua tangan dokter spesialis anak yang bernama Halimah itu.
"Baik, Bu. Bantu dengan doa ya," ucap Dokter itu dan ia langsung menuju para suster untuk membawa Lee ke ruang operasi.
"Shinta, aku sama Anan mau cari makanan dulu ya, kamu tunggu di sini, kan?" tegur Dita.
"Iya, aku mau berdoa buat anakku, semoga dia baik-baik aja," ucap Shinta.
"Oke, aku akan segera kembali sama Anan."
Dita lalu menghampiri Anan dan bersiap masuk ke dalam lift.
__ADS_1
"Dita..." panggil Shinta.
"Ya..." Dita menoleh dan menghentikan langkahnya sementara Anan menahan pintu lift itu agar tidak tertutup.
"Kalian berdua, terima kasih ya sudah menolongku dan Lee," ucap Shinta.
Dita mengangguk seraya tersenyum pada Shinta lalu masuk ke dalam lift tersebut.
"Gak nyangka ya, Shinta bisa berubah seperti itu, dulu mah ih rasanya pengen aku santet balik dia hahahaha," ucap Dita.
"Itu kan juga karena kebaikan kamu yang gak pernah padam, kamu gak pernah balas kejahatan dengan kejahatan pasti bawaannya mau berbuat baik terus, ya kan?"
Anan mengecup pucuk kepala Dita dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Saat keduanya keluar dari rumah sakit, Dita melihat sosok yang ia kenal sebelumnya. Tepat di pohon besar rumah milik Om Item.
"Tunggu, Yanda!" pinta Dita menahan langkahnya dan langkah Anan.
Perlahan ia menarik lengan Anan menuju sudut parkir dekat dengan sosok tersebut.
"Om Item..."
Sosok berbadan besar penuh bulu hitam itu menoleh pada Dita. Taringnya yang penuh noda darah karena menyantap tikus dalam selokan itu membuat Dita dan Anan menutup mata karena jijik.
Mata merah itu menyala dengan senyum sumringah.
"Dita...!" pekik sosok berbadan besar itu.
"Nah, bener kan, Om Item. Jangan mendekat!" cegah Dita menahan langkah sosok genderuwo itu agar tak melangkah maju menghampirinya.
"Kenapa, Bunda?" tanya Anan.
Sosok besar itu memperhatikan kedua tangannya lalu tertawa.
"Oh iya kotor, aku cuci tangan dulu ya."
"Kalau bisa mode cakep jangan kayak gitu ya," pinta Dita.
"Baiklah..."
"Oh iya, Om Item, aku punya kejutan," ucap Dita menahan langkah sosok besar itu.
"Pasti ayam goreng, atau ayam bakar, aku bosen makan sajen sama tikus got terus," keluhnya.
"Sebenarnya sih bukan makanan, tapi nanti aku beliin makanan deh ayam goreng, nah kejutanku lebih kejutan yang sangat menyenangkan dari makanan, udah sana cepetan!"
"Baiklah..."
"Ayo, Yanda, kita beli ayam goreng dulu buat dia!" ajak Dita.
***
Sosok genderuwo besar itu sudah berubah menjadi sosok pria muda yang layaknya seorang bintang drama korea paling populer.
"Ganteng, kan?" tanya Om Item.
"Ganteng Anan sih, tetep... hehehe ganteng lah..."
__ADS_1
"Aku kangen banget tau sama kamu, sama ayam goreng ini juga, kalau aku ke warung itu pasti gak bisa masuk buat ambil ayam gorengnya," ucap Om Item.
"Kenapa gak bisa masuk, kan gak kelihatan?" tanya Anan.
"Yang punya warung makan imannya kuat, setiap malam dia mengaji, sebelum buka warung dia baca surat yasin, jadi kan aku gak bisa masuk."
"Kalau warung yang di pojok sana, kan sama-sama ayam goreng, kenapa gak masuk sana?" tunjuk Dita ke warung nasi yang menjual ayam rempah.
"Ah, tak enak, tak lezat! dia menggunakan demit Nenek Wajan."
"NENEK WAJAN?"
Tanya Dita dan Anan bersamaan.
"Iya, Nenek Wajan, dia pemilik wajan sakti, siapapun yang menggunakan wajan itu, maka semua masakannya enak, tapi... enak jika dimakan di situ, kalau di makan di luar ya gak enak, makanya aku gak mau."
"Oooo... pesugihan jatuhnya," ucap Dita.
Dan Anan menimpali ucap Dita dengan anggukan kepalanya.
"Sudah habis, terima kasih ya. Oh iya kejutan apa yang ingin kau berikan padaku?" tanya Om Item.
"Ayo, ikut aku ke dalam!" ajak Dita.
Om Item langsung mengikuti Dita dan Anan ke dalam rumah sakit menemui Shinta.
"Bun, kira-kira di lift sebelah sana, masih ada hantu Kakek genit, gak ya?" tunjuk Anan.
"Gak mau ah ke lift itu, lagi males sama Kakek itu nanti bayi aku ihhhh amit-amit jabang bayi," ucap Dita seraya mengelus perutnya.
"Apa kau sedang mengandung, Dita?" tanya Om Item.
Dita menjawab dengan anggukan dan tersenyum.
"Anak aku nih, nanti tampan kayak Yanda-nya," sahut Anan mengelus perut Dita.
"Wah, selamat ya buat kalian, duh aku jadi kangen sama anak yang dikandungan Shinta, kira-kira sudah seperti apa ya dia," gumam Om Item.
Dita dan Anan saling berpandangan dan menebar senyuman. Sebentar lagi pasti Om Item akan senang bertemu dengan Shinta dan anaknya.
******
Bersambung...
Stay safe, stay health buat semuanya. Jangan lupa selalu cuci tangan dan pakai masker kalau ke luar rumah.
Mampir juga ke :
- 9 Lives
- Diculik Cinta
- With Ghost
- Forced To Love
- Kakakku Cinta Pertamaku
__ADS_1
Vie Love You All... 😘😘