
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍
****
"Pada lihat gak? itu mobil box nya nurunin orang lho barusan." ucap Dita.
"Ah masa sih Ta, mana gerbangnya langsung ketutup gitu juga." ucap Anan menimpali. Tasya dan Andi juga ikut menoleh ke arah yang ditunjuk Dita.
"Serius Nan, tadi aku lihat orang-orang turun dari mobil box itu wah jangan-jangan mereka itu..."
"Mungkin karyawan nya kali lagi nurunin barang-barang." sahut Anan memotong ucapan Dita.
"Iya kali yak." ucap Dita akhirnya.
Bu Mey sudah siap sedia selalu menyambut kedatangan Dita di depan pintu utama rumah besar Anan.
"Non tadi nyonya Aiko telepon, dia cuma pesen jangan lupa kalung dari dia di pakai."
ucap Bu Mey, Dita langsung menyentuh lehernya.
"Oh iya hari ini aku lupa pakai kalung dari mami."
"Jangan sampai lepas non, nanti nyonya marah lho." ucap Bu Mey lagi.
"Iya, asal yang hari ini jangan bilang ya kalau aku lupa pakai kalung dari mami hehehe." pinta Dita dengan senyum manisnya ke arah Bu Mey.
***
Setelah makan malam selesai, Dita mengantarkan Andi ke kamarnya untuk beristirahat. Doni masih mencoba mendekati Tasya saat Tasya pergi ke dapur membantu Pia mencuci piring.
"Duh lucu banget sih Ta, jadi gak sabar mau gendong anak juga, tapi jika saat itu tiba aku masih bisa gendong gak ya?" gumam Anan melihat Dita yang selesai mendongeng sampai Doni tertidur.
"Satu bulan lagi ya suami, tapi aku yakin lho waktu kamu masih lama, tuh badan kamu aja masih bagus sempurna, masih wangi hmmmm harum." Dita mencium leher Anan.
__ADS_1
"Ah kamu mah bisa aja sih, jadi mau olah raga nih sampai pagi sama kamu." Anan langsung membopong tubuh Dita masuk ke kamarnya.
***
Pukul dua dini hari suasana malam yang hening dan sepi hanya detak yang berbunyi dari jam dinding di kamar Dita dan Anan.
Dita terbangun karena haus yang menyayat tenggorokan nya yang kering kala itu. Dita menyalakan lampu tidur di samping kasurnya lalu mengambil segelas air dan meminumnya.
Dita mematikan lagi lampu kamarnya tetapi samar-samar di sudut ruangan kamarnya Dita melihat sosok perempuan paruh baya sedang berdiri. Dita menyalakan lagi lampunya sosok hantu itu menghilang. Lalu ia matikan lagi dan muncul sampai akhirnya Dita nyalakan lampu kamarnya itu seterusnya.
Hantu perempuan paruh baya itu tiba-tiba muncul dan menghampirinya sambil mencekik Dita. Hantu itu mengenakan kain songket pemberian Shinta hari ini.
"Kamu siapa?" tanya Dita perlahan sambil melepas cekikan hantu tersebut.
"Aku menginginkan mu mati!" bisik hantu itu.
Dita mencoba meraih Anan namun tak bisa ia jangkau, Dita tak bisa membangunkan Anan. akhirnya dia memikirkan pak Herdi dengan mengguncang gelang ditangannya.
Pak Herdi yang tiba-tiba muncul langsung menarik hantu wanita tua itu agar melepas cekikannya dari leher Dita.
"Huhuhuhu makasih pak." Dita memeluk pak Herdi segera.
"Saya gak tau pak, tiba-tiba dia datang mencekik saya, dia bilang dia ingin saya mati." jawab Dita sambil menangis.
Hantu itu mencoba mencekik Dita lagi namun Pak Herdi sudah sigap menahannya namun pak Herdi terdorong sampai menindih Anan.
"Awwww... Dita kamu nakal ya." Anan memeluk pak Herdi tanpa sadar.
Hantu itu berhasil mencekik Dita lagi kali ini mendorong Dita sampai ke dinding kamar.
"Menyan woi...! bangun woi...!" pak Herdi berteriak-teriak di telinga Anan membangunkannya.
"Kok elo di pelukan gue sih, ih jijik banget sumpah." ucap Anan mengusap tubuhnya.
"Tuh tolongin Dita jangan tidur aja." pekik pak Herdi.
"Woi lepasin bini gue!" Anan langsung sigap menghampiri Dita menarik lengan hantu itu namun sulit dan terlalu kuat.
Pak Herdi akhirnya memeluk hantu itu dari belakang untuk menariknya sementara Anan mengigit tangan hantu tersebut agar lepas sambil meninju perut hantu tersebut.
Hantu itu melepas cekikan nya dari Dita dan pak Herdi masih sibuk menahan hantu itu di pelukannya.
__ADS_1
"Bakar kainnya!" seru pak Herdi ke Dita dan Anan.
"Kain songket dari Shinta kan ini?" tanya Anan.
"Iya Nan, ayo kita bakar." ajak Dita.
Anan membawa kain tersebut ke teras belakang rumahnya bersama Dita. Mereka membakar kain songket pemberian Shinta disana, di sebuah tong yang berisikan daun kering. Hantu itu pun lenyap seketika.
"Gila Shinta bener-bener gila, ini gak bisa di maafkan." pekik Anan dengan kesalnya.
"Aku pikir dia berubah ternyata dia sengaja kasih aku hadiah itu supaya hantu itu bisa melenyapkan ku." Dita memeluk Anan.
"Maafin aku ya sayang aku gak bangun waktu kamu minta tolong." ucap Anan membelai rambut Dita.
"Iya gak apa sayangku, aku juga gak bisa gapai kamu tadi, untung aku inget ada pak Herdi." sahut Dita.
"Makasih ya Pak." Anan memberikan jempolnya pada pak Herdi yang menatapnya kala itu.
"Sama-sama, kan udah gue bilang gue bakal jagain Dita sampai saatnya gue pergi." ucap Pak Herdi sambil tersenyum.
"Besok liatin aja aku akan kasih pelajaran buat Shinta." ucap Anan.
"Jangan Nan, kasian Doni dia mati-matian mau berusaha ngerubah kakaknya, aku takut Doni sedih."
"Tuh kamu gitu deh selalu mentingin orang lain."
"Gimana kalau aku aja yang kasih pelajaran buat Shinta?" pak Herdi memberi ide.
"Nah cakep." Anan setuju sambil memberi tos ke pak Herdi.
Dita tersenyum pada keduanya, ini pertama kalinya Anan dan pak Herdi bisa akur demi Dita.
***
Special Crazy Up...
Jangan lupa crazy votenya yak...
Mohon maaf jika masih ada typo.
Happy Ramadhan... Happy Fasting 😘😘😘
__ADS_1