Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Anan dan Kucing


__ADS_3

Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...


Happy Reading 😊😊😊


*****


"Bunda, Anta mau sekolah boleh gak?" tanya Anta.


"Hah? Sekolah? tapi kamu kan usianya masih kecil banget Anta, nanti gurunya bingung," jawab Dita.


"Anta nanti ngomongnya cuma iya sama enggak deh, Anta janji, gak bakal bawel kaya bunda," ucap Anta sambil meringis.


"Udah sih sekolahin aja nanti saya jagain," ucap Pak Herdi.


"Lah nanti kalau ada anak yang bisa lihat Pak Herdi terus ketakutan gimana?" tanya Dita pada Pak Herdi.


"Ya saya ngumpet atau berubah jadi mode tampan," ucapnya seraya mengangkat alisnya berulang-ulang.


"Hahahaha... paman pocong lucu," ucap Anta menunjuk Pak Herdi.


"Tuh Anta aja masih suka keceplosan nunjuk paman pocong hayo...?"


"Oh iya, Anta lupa hehehe," sahut Anta.


"Rame bener pada ngobrol apa sih?" tanya Tasya.


"Anta mau sekolah ante," sahut Tasya.


"Wuidih... keren..."


"Kok keren sih Sya, nanti gurunya bingung gimana, masa anal umur dua tahun udah lancar banget kayak anak umur lima tahun coba tuh?" ucap Dita yang sembari tadi sedang menyiapkan nasi goreng ayam buatannya.


"Iya juga ya, tapi kasian tau Ta, daripada Anta bergaul sama pocong mulu," bisik Tasya melirik ke Pak Herdi.


"Tasya......" Pak Herdi menatap tajam ke arah Tasya.


"Hehehehe... biasa aja kali pak, jangan melotot gitu takut copot," Tasya tak mau melihat ke Pak Herdi dan bergegas menuju kamar mandi.


"Oke deh nanti bunda cari kelompok bermain yang pas buat kamu, tapi hari ini sama paman pocong dulu ya," pinta Dita.


"Oke bunda, mana susu cokelat Anta?"


Dita menyerahkan segelas susu cokelat untuk Anta dan nasi goreng buatannya.


"Udah yuk makan dulu semuanya." ajak Dita.


"Eh Doni kemana ya?" tanya Tasya yang keluar dari kamar mandi.


"Lho emang dari tadi gak ada?" tanya Dita.


"Dari semalam malah gak ada," ucap Tasya.


"Coba aku telpon tante Dewi mau tanya Doni ada dimana, kalian makan dulu nih," perintah Dita lalu mencari ponselnya.


Tak lama kemudian Dita kembali ke meja makan dan duduk bersama.


"Gimana Ta?" tanya Tasya.


"Nanti di cek, soalnya tante Dewi kan jagain Om Kevin, nanti aku kabarin juga sekalian cari sekolah sekalian bantuin hantu nenek yang di restoran burger waktu itu Sya," ucap Dita.


"Hmmm pasti bareng Anan ya?" Tasya menggoda Dita.


"Lho bunda sama Yanda perginya, aku ikut dong!" pinta Anta.


"Duh bunda gak bisa bawa anak kecil nak, bunda kan harus ke banyak tempat, lagian Anta kan suka keceplosan kalau lihat hantu, nanti aja ya pas jalan-jalan ke taman apa ke mana gitu yang seru-seru," ucap Dita.


"Yah bunda mah gitu," sahut Anta kecewa.


"Ya udah sama om pocong dulu mainnya gimana?"


ucap Pak Herdi.


"Yah main sama om mah paling nonton kartun, gimana kalau main barbie?" ajak Anta.


"Iya in aja udah, nanti barbie Ken di bungkus kain putih biar mirip Pak Herdi ya Ta?" ucap Tasya menahan tawanya kala melirik Pak Herdi.


"Hahaha si Tasya, aku geli banget tau bayanginnya," Dita mengomentari ucapan Tasya.


"Oke deh nanti Anta main pocong barbie ya om," pinta Anta menatap Pak Herdi penuh harap sekitar lima menit, sampai akhirnya Pak Herdi mengangguk mengiyakan.


***


"Makasih ya pak, ini kembalinya ambil aja," ucap Dita pada driver ojek online yang mengantarnya sampai halaman restoran *Big Hit Burger.


BRUG...


"Aih kamu ngapain berdiri di sini?" ucap Dita saat menabrak Dewa di halaman restoran.


"Kok gue cium wangi parfum nenek ya?" gumamnya.


Jelas saja karena hantu sang nenek sudah berdiri sedari tadi di samping Dewa.


"Kamu hadap kanan gih, terus kamu rentangkan tangan kamu terus kamu seolah-olah peluk, karena nenek kamu ada di sini," ucap Dita.


"Kamu serius Ta?" tanya Dewa.


"Aku serius," Dita tak kuasa menahan tangis haru kala melihat hantu nenek itu menyandarkan kepalanya di dada Dewa.


"Iya aku makin cium wangi nenek dan hangat banget dada aku," ucap Dewa yang tak kuasa juga menahan tangisnya.

__ADS_1


"Idih... serem banget sih peluk nenek, tapi tangan buntung," ucap Anan yang keluar dari dalam restorannya.


Plak...


Dita memukul kepala Anan dengan brosur sekolah untuk Anta di tangannya.


"Momennya lagi haru begini dia komen serem issshhh," ucap Dita gemas.


"Ya maaf, sakit juga tau, eh apaan tuh?" tanya Anan pada selebaran brosur yang Dita pegang.


"Ini buat sekolah Anta," ucap Dita.


"Dih bukannya Anta baru dua tahun kok udah sekolah?" tanya Anan.


wah rupanya Anan masih inget sama umur Anta.


"Heh, di tanyain malah bengong!" Dita tersentak dengan tepukan tangan Anan di hadapan wajahnya.


"Ummm ya emangnya kenapa, lagipula perkembangan Anta cepet kok, anak kamu itu emang spesial," ucap Dita.


"Eh tunggu apa tadi lo bilang, anak kamu? anaknya dia maksudnya? jadi kalian udah punya anak? katanya baru pacaran?" tanya Dewa menunjuk Anan.


"Ya... emang... ummm emang kita pacaran?" tanya Anan gugup ke arah Dita.


"Enggak...! udah nikah malah...! ayo kita ke pabrik di belakang sana!" ajak Dita yang dengan ketusnya berucap sambil melangkah menuju pabrik pembuatan sosis.


Dewa tertegun di samping Anan lalu memperhatikan raut wajah Anan yang tersipu saat mendengar ucapan Dita. Mereka bergegas menyusul Dita.


Sesampainya di sana cukup rumit untuk menceritakan perihal pencarian cincin nenek yang bernama Yuan itu. Apalagi jika harus bilang atas perintah si hantunya pasti Dita dan lainnya sudah terusir dari halaman pabrik tersebut.


Setelah bernegosiasi dan akhirnya Dita memutuskan untuk menjadi pelanggan tetap dari merek sosis tersebut ke tokonya, kepala pabrik tersebut mengantar Dita dan rombongan menuju ke dalam pabrik untuk melihat-lihat.


Menuju ke mesin pemotongan, Dewa bergegas mencari di sekitar mesin bersama Anan sementara Dita mencoba mengalihkan perhatian si kepala pabrik.


"Ketemu gak Nan?" tanya Dewa.


"Belom nih lagi rogoh-rogoh bagian dalamnya." sahut Anan.


"Adaw... apaan nih ada yang cakar gue barusan?" gumam Anan yang langsung merinding ketakutan berlari menghampiri Dita.


"Kenapa sih?" tanya Dita.


"Ada yang cakar gue Ta, di dalam mesin itu," ucap Anan.


"Masa sih?" tanya Dita.


"Bagaimana jika saya periksa," ucap Pak kepala pabrik lalu merogoh ke dalam mesin.


"Aww...!!!" pekik si kepala pabrik.


"Tuh kan Ta ada yang serem di dalam mesin itu," ucap Anan.


"Ini apa ya?" gumam si kepala pabrik mengamati dengan seksama.


Dita dan Anan serta Dewa ikut mendekat.


"Waaaaaaa... tulang jari....!!!" Kepala pabrik tersebut reflek melempar si anak kucing sampai ke wajah Anan. Tulang jari manusia yang sebagian masih ada dagingnya itu terbang ke mulut Dewa.


"Fuih fuih fuih... iyakss jijik banget gue!" pekik Dewa melepeh tulang jari itu dari mulutnya.


"Alhamdulilah untung kucingnya gak apa-apa," ucap Dita mencoba meraih kucing berwarna calico yang sedang gemetaran di wajah Anan.


"Kucingnya mah gak kenapa-napa, tapi wajah aku Nih kecakar," Anan menunjuk dirinya sendiri.


"Cincin nya mana?" tanya Dita ke Dewa.


"Nih dapet," Dewa meraihnya dari lantai di dekat mesin potong.


"Syukurlah... ini kucingnya saya bawa ya pak, kasihan gak ada induknya mana takut ke potong lagi ngumpet di sini," ucap Dita kepada kepala pabrik.


"Iya bu silahkan, daripada dijadikan hama di pabrik," ucapnya.


"Hama? kucing di jadikan hama? ih kalian tega, lebih baik dikumpulkan lalu pindahkan ke tempat aman, bukan dijadikan hama terus mau dibunuh," bentak Dita karena merasa sangat kesal mendengar penuturan si bapak kepala.


"Ta terus wajah gue gimana ini perih?" rengek Anan.


Di dahi dan dagu Anan memang terkena cakaran si kucing saat mendarat di wajahnya tadi.


"Nanti aku obatin, kita ke petshop deket sini dulu ya," pinta Dita.


"Ya udah kalau gitu gue pamit ya," ucap Dewa


"Hei tidak semudah itu Dewa sampai kau bisa pergi dari hadapan aku!" ucap Dita sambil menatap Dewa dengan pandangan tajam dan ketus.


"Lo kenapa sih Ta?" tanya Anan membuyarkan sikap Dita yang sudah serius tadi.


"Ah... rese banget sih, ceritanya mau drama gitu, lagian Dewa kamu kan belum ijin dan bilang ke nenek," ucap Dita.


"Jadi aku harus kembali kesana?" tanya Dewa.


"Iya lah biar memastikan pada nenek kamu kalau cincin udah ketemu dan jangan gentayangan di deket restoran lagi," sahut Dita meyakinkan Dewa.


"Ya udah kalau gitu aku ikut hayo," ajak Dewa.


"Eits... cari petshop dulu," ucap Dita.


Anan hanya bisa menggerutu di belakang Dita meski wajahnya terasa perih, dia tetap mengikuti Dita.


"Deket sini ada pet shop nih jalan lurus terus belok kiri," ucap Dewa.

__ADS_1


"Terus wajah gue gimana, panas nih mana perih juga?" tanya Anan.


"Iya nanti di obatin, sabarin sayang," ucap Dita membuat Anan tersipu malu mendengarnya.


Sesampainya mereka di Pet Shop Lucu, Dita membeli pet cargo untuk si kucing calico yang baru di temukan Dita tadi. Makanan, tempat pup dan pasir untuk kucing pun Dita beli bersama perlengkapan lainnya.


"Mbak obat buat luka ada gak?" tanya Dita pada si pelayan toko.


"Ini di semprot kalau kucing nya luka," sahut si pelayan.


"Bukan mbak, buat dia tuh kena cakar," Dita menunjuk Anan.


"Mbak...woi...!!!"


Si pelayan yang asik memandangi Anan itu tersentak karena teguran Dita.


"Eh maaf kak, habisnya mas itu ganteng hehehe," ucap nya.


"Ada gak obatnya?"


"Saya ada p3k kak, tunggu bentar saya ambilkan," ucap si pelayan itu lalu pergi ke dalam untuk mengambil kotak p3k.


"Wah rese lo, pasti mau kasih gue obat buat kucing ya?" Anan menuduh sambil menunjuk Dita.


"Gigit juga nih jari, jangan berburuk sangka sama aku, aku gak jadi kok beli obat buat kamu, mbaknya mau pinjemin p3k buat ngobatin kamu" ucap Dita menepis telunjuk Anan yang menunjuk ke arahnya.


"Mbak ini kotak obatnya," ucap mbak pelayan menyerahkan kotak itu pada Dita.


Dita mengobati luka cakar di wajah Anan.


"Duh masa pake obat merah nanti muka gue jadi jelek, aduuhhh...!!" pekik Anan saat Dita menekan obat merah di lukanya lebih keras karena mulai kesal dengan rengekan Anan.


"Bawel banget sih, daripada infeksi makanya di obatin nanti juga kalau lukanya udah sembuh ganteng lagi," ucap Dita.


"Hehehe gue ganteng ya Ta?" tanya Anan.


"Iya," ucap Dita tanpa sadar.


Anan langsung salah tingkah dan tersipu malu.


"Waduh, kok muka kamu tambah merah sih, jangan-jangan alergi lagi ya sama obat merah?" ucap Dita dengan polosnya tak menyadari bahwa wajah Anan bersemu merah karena malu.


"Masa sih muka gue merah?" tanya Anan.


"Ah modus tuh, itu mah merah malu itu," sahut Dewa yang sedari tadi bermain dengan para kucing di dalam kandang yang terletak di pojok ruangan.


"Ih siapa yang mukanya merah, enggak kok biasa aja kenapa harus malu juga lagi?" ucap Anan mencoba mengelak.


"Udah sih yuk balik ke restoran, Dewa tolong bawain ya kucing nya, terus kamu tolong bantu bawa pasir ini sama tempat pup nya," ucap Dita.


"Lah terus elo bawa apa?" tanya Anan.


"Bawa ini lah," Dita menunjukkan biskuit untuk kucing kemasan satu setengah kilo, dan tempat makan serta tempat minum untuk kucing.


"Huuuu... curang dah enak di kamu bawa yang enteng," Anan menggerutu.


Ketiganya berjalan kembali menuju tempat kerja Anan. Sesampainya di restoran tempat kerja Anan, Dita menaruh barang-barang yang baru ia beli ke atas meja teras di halaman restoran Anan. Dita dan Dewa bergegas menemui hantu nenek di gang tersebut. Anan langsung mengikuti keduanya.


"Terima kasih Sadewa cucu ku, nenek sekarang tenang karena kau sudah menemukannya, dan nenek harap kau menemukan jodoh terbaik untukmu," ucap si nenek yang di komunikasikan kembali oleh Dita ke Dewa, lalu hantu nenek itu memeluk cucunya Sadewa.


Air mata Dewa bercucuran kala merasakan pelukan hangat sang nenek. "Nek, Dewa kesepian nek," ucap Dewa sambil terisak menangis.


"Kau akan baik-baik saja, eh nak kalian semua tolong temenin cucu saya, kalau sampai dia gak punya temen, awas aja ya," ancam hantu nenek tersebut pada Anan dan Dita lalu dia menghilang.


"Dih masa maksa suruh temenin nih cucunya, kalau dia kuper gimana?" gumam Anan.


"Heh gue denger ya, gue juga punya temen kok, cuma kalau dirumah gue kesepian," sahut Dewa.


"Ya udah hayo bantuin gue di dalam, si Onta gak masuk ucap Anan pada Dita.


"Dewa elo juga daripada di rumah tadi katanya kesepian," tegur Anan menunjuk Dewa.


"Gue mau latihan sama band gue, nanti malam aja gue manggung di resto luh," sahut Dewa lalu berbalik badan dan melangkah menuju halte bis.


BRAK...!!!


Tiba-tiba sebuah mobil truk pengangkut pasir melintas kencang dan menabrak Dewa sampai terpental jauh sekitar dua puluh meter.


*****


Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...


To be continued...


Jangan lupa main ya ke cerita terbaru ku


“WITH GHOST”


ramaikan disana.


Baca juga :


-          Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)


-          9 Lives (END)


-          Gue Bukan Player


Vie Love You All 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2