
Yang mau Pocong Tampan musim ketiga yuk di Vote, Jangan lupa VOTE ya biar masuk top 20 rangking vote. Kalau enggak masuk juga Vie gak jadi semangat buat UP Pocong Tampan musim ketiga lho huhuhuhu...
Happy Reading.
*******
Tante Dewi segera dilarikan ke Rumah Sakit Keluarga oleh Andri dan Anta. Gadis kecil itu juga menghubungi Doni dan Tasya dari ponsel Tante Dewi. Mereka akan segera menyusul ke rumah sakit.
Tasya yang langsung panik segera membawa Doni ke toko perlengkapan bayi.
"Kok, kita ke sini, Sya?" tanya Doni.
"Kamu tahu kan, Tante Dewi mau melahirkan, nah dia kan belum beli apa-apa buat Raja, udah deh diem aja," sahut Tasya.
Kemudian ia sibuk memilih perlengkapan bayi untuk anak yang di lahirkan Tante Dewi nanti.
Sosok hantu perempuan bergaun putih penuh darah berdiri di sudut toko. Wajahnya tertutup rambutnya yang berantakan.
"Astagfirullah..." pekik Doni yang tak sengaja melintas dan menginjak kaki sosok hantu perempuan itu. Sosok hantu itu mengangkat kakinya segera.
Doni langsung bersembunyi di balik tubuh Tasya.
"Aku heran banget ih, masa di toko bayi yang bagus kayak gini ada hantunya," bisik Tasya.
Sosok hantu itu menunjuk ke arah sebuah foto berwajah dirinya memakai gaun pengantin.
"Oh... itu mukanya kali, Don," tunjuk Tasya.
"Kenapa, Kak? Mau cari perlengkapan bayi untuk anak perempuan apa laki-laki?" tegur seorang pelayan.
"Eh, iya Mbak, aku mau cari yang untuk bayi laki-laki. Oh iya, Mbak, aku boleh tanya, gak?"
Tasya menyahut seraya menoleh pada si pelayan dan menunjuk foto di dinding itu.
"Itu foto siapa ya, Mbak?" tanya Tasya seraya mengangkat bahunya menepis Doni yang sedari tadi bersembunyi di balik kaus Tasya.
"Oh, itu pemilik butik ini terdahulu, tapi sudah meninggal," bisiknya.
"Meninggal kenapa?" Tasya balas berbisik juga.
"Denger-denger sih bunuh diri karena mergokin suaminya selingkuh," bisik pelayan itu.
Sosok hantu tadi menggelengkan kepalanya dan Tasya melihatnya.
"Ah yang bener, bukan bunuh diri kali, tapi dibunuh," bisik Tasya.
Sosok hantu itu menganggukkan kepalanya.
"Kita juga pada curiganya gitu, masa gak lama kemudian suaminya nikah laki sama perempuan itu yang lagi sarapan sama suaminya seberang toko ini," tunjuk si pelayan.
__ADS_1
"Ih, sadis. Terus kenapa fotonya masih dipajang emang tuh istri baru gak takut?" Tanya Tasya.
"Katanya bawa hoki, Kak."
"Astaga... Ini kenapa jadi pada bergosip sih, ayo cepetan beli barang-barang bayinya kita kan mau ke rumah sakit," tegur Doni.
"Oh iya lupa, Mbak pokoknya cariin saya semua perlengkapan buat bayi laki-laki baru lahir ya, nanti suami saya yang bayar," ucap Tasya.
"Emangnya, Kakak yang mau lahiran?" tanya si pelayan.
"Bukan, tapi Tante saya yang mau lahiran, udah buruan, saya masih di sini dulu mau milih-milih yang di sini," ucap Tasya.
Mbak si pelayan itu mengangguk.
"Kamu mau ngapain masih di sini?" tanya Doni.
"Masih kepo sama si Mbak itu," tunjuk Tasya.
"Udahlah biarin yuk, nanti juga suaminya kena karma," sahut Doni.
Tasya menghampiri hantu tersebut dan mencoba memberanikan diri menepis rambut yang menutupi wajah hantu itu. Betapa mengejutkan saat ia melihat lubang di dahi si hantu. Lubang yang Tasya duga tercipta dari tembakan senjata api.
"Tasya gak tau harus bantu Mbak seperti apa, aku cuma bisa bantu doa, semoga suaminya dapat karma ya," ucap Tasya.
Hantu perempuan itu mengangguk.
"Nah, berhubung aku buru-buru, besok aku ke sini lagi sama anak ajaib namanya Anta. Dia bakal liat kejadian saat kamu mati dan siapa tau dia dapat petunjuk buat nolong kamu, oke Mbak?"
"Semangat ya, Mbak, kamu mending hantui terus tuh selingkuhan suami kamu, jangan menyerah..." ucap Tasya lalu bergegas menghampiri Doni.
Si pelayan perempuan itu sempat menoleh ke arah Tasya dengan perasaan heran. Namun, ia hanya terdiam dan menyiapkan barang belanjaan yang sudah ia pilih untuk Tasya dan Doni.
"Makasih ya, Mbak."
Tasya dan Doni lalu pamit pergi.
***
Sesampainya Tasya dan Doni di rumah sakit, rupanya Tante Dewi sudah berada di ruang bersalin. Dokter bernama Halimah yang memimpin operasi persalinannya.
"Dokter, bagaimana keadaan Tante Dewi?" tanya Tasya saat melihat dokter tersebut baru saja keluar dari ruang persalinan.
"Tasya, haduh... saya mah heran ya, Dewi itu sudah terlalu tua untuk menjadikan dirinya sebagai rahim pengganti, saya sudah peringatkan dan akhirnya begini," ucapnya.
Dokter Halimah memang sudah mengenal Tante Dewi dan diceritakan mengenai keberadaan Raja di dalam perut Tante Dewi.
"Lalu, kondisinya bagaimana sekarang? dia baik-baik aja kan, Dok?" Tasya mulai panik.
"Kondisinya lemah, tapi bayi yang dilahirkan baik. Tadi kami melakukan operasi secar pada Dewi. Karena dia juga tak bisa menyusui maka rumah sakit akan menyediakan susu formula bagi bayi itu," ucap Dokter Halimah.
__ADS_1
"Dokter, bagaimana keadaan Dewi?"
Andri yang baru datang dari cafe bersama Anta langsung memberondong Dokter Halimah dengan pertanyaannya.
"Kondisi Dewi sangat lemah, tinggal tunggu tekad dari Dewi yang mau bertahan hidup atau tidak, sementara dia dilarikan ke ruang ICU. Akan tetapi kondisi bayi yang dilahirkan sehat sempurna, dia sekarang ada di ruang perina dan untuk sementara masuk inkubator karena bobot bayi yang terlalu rendah dan agak kuning," ucap Dokter Halimah menjelaskan.
"Adik Anta warnanya kuning?" sahut Anta yang belum mengerti.
"Bukan, Anta. Adik Anta baik-baik aja, maksudnya agak kuning itu di khawatirkan adik bayi mengalami penyakit kuning, tapi ini cuma kekhawatiran, Dokter yakin adik Anta baik-baik aja," ucap Dokter Halimah mencoba memberikan Anta pengertian.
"Anta mau lihat dedek bayi, boleh?" tanya Anta.
"Aku mau ketemu Dewi, boleh?" tanya Andri.
"Boleh, harus menuruti sesuai prosedur di ruangan ya," pinta Dokter Halimah.
"Oke, Don, kamu temani Andri ke ruangan Tante Dewi, aku nemenin Anta ke ruangan bayi," ucap Tasya.
Doni mengangguk lalu ia mengikuti Andri bertemu dengan Tante Dewi.
***
"Yang mana Raja, Tante Tasya, perasaan semua bayi mukanya sama," ucap Anta lirih.
"Iya, ya, semua bayi kenapa mukanya sama gini ya," bisik Tasya.
Keduanya sudah memakai pakaian steril saat memasuki ruang perina mencari sosok Raja.
"Tadi cari bayi Raja Ananta Prayoga, kan?" tegur seorang suster bertubuh kurus dengan *** lalat besar di dahinya itu.
"Ia benar, Suster," sahut Tasya.
"Mari ikuti saya," pinta Suster tersebut.
Mereka mengikuti suster tersebut. Mereka sampai di tempat Raja di letakkan di sudut ruangan.
"Jangan disentuh ya, cukup lihat aja," ucap Suster itu lalu pamit pergi.
Sesampainya Tasya dan Anta di sudut ruangan bayi itu, wajah Anta dan Tasya langsung berbinar. Senyum merekah terpancar dari keduanya. Sosok yang Tasya dan Anta rindukan itu hadir di sana. Mereka sudah menggendong Raja dan menoleh ke arah Tasya dan Anta sambil tersenyum.
******
Bersambung di Ekstra Part berikutnya...
Hayo... Bayar cerita Vie pakai VOTE...
Jangan lupa pembaca tersayang Votenya ke sini dulu ya. Terima kasih.
Sssttt... spoiler....
__ADS_1
Vie lagi buat cover baru buat ceritanya Anta dan itu berarti...