Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Bekerja


__ADS_3

Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up... Vie mohon dong, mohon banget... jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...


Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh...


Mampir ya ke Novel terbaru aku yang uwwu


"Diculik Cinta" yang siap mengocok perut kalian.


Happy Reading...


******


Di Restoran milik Anan.


"Bunda..." Anta langsung memeluk bundanya saat turun dari taxi.


Dita baru saja sampai mengendarai mobilnya. Dia langsung merentangkan kedua tangannya dan bersiap menyambut pelukan gadis kecilnya itu.


"Anak bunda..., cantiknya...," ucap Dita seraya menyambut pelukan Anta.


"Bunda, Anta punya temen baru tau di sekolah," ucap Anta.


"Oh ya, wah bagus dong, pindahan dari mana?" tanya Dita.


"Tanya dulu dong, Ta," sahut Tasya.


"Maksudnya, Sya?" Dita menoleh pada Tasya.


"Kamu tanya dulu temennya manusia apa hantu," ucap Tasya menahan tawanya.


"Hmmm gak usah ditanya kalau arahnya kesana aku pasti tau maksudnya, teman kamu hantu, 'kan?" Dita menoleh ke Anta yang langsung memamerkan senyum manisnya berikut deretan gigi yang mulai karies.


"Iya hehehe, namanya Rian. Tapi, dia gak mau ikut pulang Anta katanya mau di sekolah aja. Jadinya, si Rian hantu penunggu sekolah deh, hahaha..." tawa Anta dengan raut wajah bahagia.


Dita mengacak-acak gemas rambut putrinya itu. Sebenarnya ada kesedihan bagi Dita, karena sampai saat ini Anta tak pernah menceritakan pertemanannya dengan kawan manusia. Anta selalu saja bercerita tentang pertemanannya dengan para hantu. Dita takut suatu saat nanti, sampai Anta besar dan pindah sekolah pun, tak ada manusia yang mau berteman dengannya karena takut.


Saat Dita membuka pintu restoran yang sudah mulai ramai pengunjung itu, Jerry nampak kewalahan melayani para tamu karena sendirian. Tasya langsung sigap memakai celemeknya dan langsung terjun membantu Jerry.


"Hai, Ry!" sapa Dita menepuk bahu Jerry.


"Aaahhh mbak Dita, gimana kondisi mas Anan?" tanya Jerry.


"Mas, mas, enaknya panggil aja Anan, atau Pak. Dia baik, syukurlah operasinya berhasil, tapi dia ada di rumah dulu biar istirahat," sahut Dita.


"Oh, syukurlah. Ia sebentar..." Jerry langsung menghampiri seorang tamu yang memanggilnya.


"Anta ke atas gih sama Ratu Sanca, bunda mau ke dapur dulu," ucap Dita memberi perintah pada Anta.


"Oke, siap bunda!" seru Anta langsung menuju lantai dua.


"Halo...!" Dita menyapa juru masak baru tersebut.


"Oh halo nyonya, senang bertemu anda. Saya tau anda pemilik restoran ini dari foto keluarga di lantai atas waktu saya mengambil baju seragam saya," ucap Laura menjabat tangan Dita.


"Jadi, anda yang bernama Laura?" tanya Dita.

__ADS_1


"Iya, saya Laura. Saya akan buktikan kalau anda tak akan pernah menyesal menerima saya bekerja di sini," ucap Laura.


"Semoga, hehehe... baiklah mana pesanan yang belum dibuat, biar saya bantu?"


Laura memberikan secarik kertas pesanan pada Dita.


"Nasi ayam bakar madu dan sambel matah, oke aku buat yang ini," ucap Dita langsung cekatan mengerjakan pekerjaannya.


Laura sempat melirik sekilas ke arah Dita. Wanita cantik bertubuh ramping itu membuatnya kagum. Meskipun Dita bukan juru masak profesional, tapi keahlian memasaknya patut diacungi jempol. Senang rasanya ia bekerja sama dengan Dita. Seolah aura kebahagiaan berpendar menyelimuti dapur tempat dia bekerja itu.


***


Pukul setengah tiga siang, Dita sudah kehabisan beberapa bahan makanan. Akhirnya ia putuskan untuk menutup restorannya hari ini.


"Ih gak nyangka ya, rame banget," ucap Jerry seraya menyeka peluh keringat di pelipisnya dengan tisu.


"Iya ih gak nyangka, rame juga ya, banyak pesanan via online juga," ucap Tasya.


"Ya, alhamdulillah kalau begitu terus setiap hari, jadi bisa pulang cepat, ya gak?" Dita tersenyum saat menoleh pada Laura.


"Iya, nyonya saya senang banget."


"Jangan panggil saya nyonya! lagipula aku rasa usia kamu lebih tua dari saya, cukup panggil saya Dita saja," pinta Dita.


"Ah gak enak cuma panggil nama sama bos," sahutnya.


"Kalau gak enak tambahkan micin aja di dapur, tuh!" tunjuk Dita ke arah dapur.


"Ah nyonya, eh Dita bisa saja. Kalau begitu saya bersihkan dapur dulu sampai jam kerja saya berakhir."


"Oke," Sahut Dita.


"Tadi aku suruh main sama Ratu Sanca di atas," jawab Dita.


"Udah pules dia, tadi udah minta nasi goreng ayam campur mie goreng, terus susu cokelat juga. Aku yang bawa ke atas, eh tadi aku cek dia pulas tidur di badannya ular besar. Gak bahaya kan tuh ular?" tanya Jerry.


"Lho, kok kamu bisa lihat itu ular?" tanya Dita.


"Oh iya aku belum cerita ya, dia bisa lihat Pak Herdi sama Lily sama hantu lainnya juga sekarang, pas dia telan dua mutiara hitam, hahaha." sahut Tasya.


"Iyakah? wah selamat ya, Ry!" Dita menjabat tangan Jerry.


"Idih... kalau yang namanya ucapan selamat itu sama sesuatu yang membahagiakan dan menyenangkan, bukan selamat karena aku tertimpa musibah, ihhhh." pekik Jerry dengan nada gemasnya.


"Kok, musibah sih? kita harusnya bersyukur dalam hal apapun, Ry," ucap Dita.


"Bersyukur gimana, bisa melihat hantu mbak Dita bilang bersyukur, hadeh... yang ada senam jantung terus tiap hari kaget liat penampakan, hiyyy."


Jerry menepuk dahinya sendiri lalu pamit pergi merapikan area tengah dan depan restoran.


"Jerry lucu, ya?" celetuk Dita.


"Emang baru tau ya tuh makhluk tulang lunak itu lucu, hehehe," sahut Tasya.


"Makhluk tulang lunak? hahaha ada-ada aja kamu. Aku ke atas ya mau bangunin Anta terus kita siap-siap pulang," ucap Dita yang dibalas dua acungan ibu jari milik Tasya ke hadapan Dita.

__ADS_1


Setibanya ia di lantai dua, benar saja, sosok Ratu Sanca sudah melingkarkan tubuhnya sendiri. Dan pada bagian tengahnya, Dita baru melihat anak kecil perempuannya tidur melingkar di sana.


"Astaga... si Anta bisa-bisanya tidur di atas badan ikan besar ckckkc" decak kagum Dita terdengar. Keberadaannya langsung membuat Ratu Sanca terbangun.


"Eh... maafkan aku," ucap Dita lirih.


"Iya tak apa, oh iya bagaimana kabar suamimu, kudengar ia sakit?" tanya Ratu Sanca yang bergerak perlahan karena tak mau membangunkan Anta.


"Dia sudah membaik, doakan saja penyakitnya tak akan berpindah," jawab Dita mencoba meraih Anta.


Erangan Anta terdengar karena tidurnya yang masih terlelap terganggu begitu saja. Anta masih ingin tidur.


Dita terpaksa menggendongnya untuk ia bawa pulang.


"Dita, tunggu!" Ratu Sanca mencegah Dita pergi.


"Ya, ada apa, Ratu?" tanya Dita.


"Jika... ummm... jika Anan tak jua sembuh, aku bersedia memberikan jantungku."


"Sudahlah, aku tak akan menggunakan jantungmu. Aku masih percaya pada hal medis apapun yang bisa membantu Anan, asal jangan pakai jantungku," sahut Dita.


"Tapi yang ku tahu, sihir hitam itu sangatlah kuat, tak akan luntur begitu saja, kecuali dengan jantung seorang siluman sepertiku," ucap Ratu Sanca.


Dita menatap Ratu Sanca.


"Kenapa kau ingin membantuku dan Anan?" tanya Dita.


"Kalian orang baik, aku tak ingin melihat kalian menderita. Maka, jika Anan masih memiliki penyakit itu, tolong ambil saja jantungku!" pinta Ratu Sanca.


"Ratu, bagaimana pula aku bisa tega membunuhmu untuk mengambil jantungmu? ya tentu saja tak bisa," ucap Dita.


"Perintahkanlah pada Anan yang ambil, aku akan parah kok, aku bahagia malah bisa membantu kalian," sahutnya.


Dita masih saja menggeleng. Ia tak akan mau dan tak akan pernah melakukannya.


"Doakan saja aku, biar aku terus kuat menghadapi cobaan hidup bersama Anan," Dita tersenyum manis pada sang Ratu lalu pergi menuruni tangga, meninggalkan Ratu Sanca.


"Jika hal yang ku takutnya terjadi, maka aku akan siap menyerahkan jantungku," lirih sang Ratu sambil tersenyum memandang punggung Dita yang langsung menghilang.


Setelah semuanya beres dan rapih kembali, Dita dan Anta segera pulang masuk ke dalam mobil. Tasya dan Jerry juga mengikuti di belakangnya. Sementara Laura pulang dengan menggunakan busway.


******


Bersambung ya...


Mampir juga ke :


- Diculik Cinta


- With Ghost


- 9 Lives


- Gue Bukan Player

__ADS_1


- Kakakku Cinta Pertamaku


Vie Love You All... 😘😘😘


__ADS_2