
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
****
"Permisi, boleh aku masuk Tante?" Dita membuka pintu ruang perawatan Sandra perlahan.
"Eh nak Dita, kok tau kita ada disini?" tanya ibunya Andri.
"Tadi kebetulan aku lihat Tante sama mbak Sandra jadi aku cari informasi deh."
"Hai Ta apa kabar?" ucap Sandra lemah.
"Baik mbak, gimana kondisinya?"
"Alhamdulillah anak aku baik - baik aja, dokter suru aku bed rest gak boleh capek."
"Syukurlah, Andri khawatir banget mbak."
"Dia ada disini?"
"Ada, bentar ya."
Seperti sebelumnya untuk menampakkan Andri di hadapan orang - orang tersayangnya butuh ekstra tenaga yang Dita habiskan.
***
"Makasih ya Ta."
"Sama sama, duh aku capek Ndri.. "
Dita duduk dilantai saking lelahnya.
"Gue gendong yak?"
"Gilak kalau kamu gendong aku orang-orang nanti takut lihat aku melayang."
"Bentar aku panggil Anan yak." Anita berlari lalu menghilang dari pandangan Dita segera.
"Wuih lihai juga si Anita udah bisa ngilang." Dita terkejut melihat perubahan sahabatnya itu.
"Iya dong kan gue yang ngajarin." ucap Andri bangga.
Tak lama Anan sudah berlari menghampiri Dita.
"Kamu gak papa kan? kata Anita kamu pingsan?"
"Apa? pingsan? Dih aku cuma capek kok gak pingsan." Dita dan Anan menoleh ke Anita bersamaan.
"Dudududududu aku bingung mau ngomong apa lagian Anan kan lagi meeting jadi biar Tante Dewi ngijinin dia keluar jadi aku bilang aja ke Anan kalau kamu pingsan hehehe." Anita mencari alasan sambil mundur beberapa langkah.
"Lagian kamu kenapa sih sampai kelelahan kaya gini?" tanya Anan kesal.
"Habis nolongin Andri."
"Gue mau gendong dia Tong, tapi Dita gak mau takut orang kaget liat dia melayang karena gak bisa lihat gue." sahut Andri.
__ADS_1
"Lagian ya tempe angus gue juga gak bakal ijinin elo gendong Dita, ayo naik!"
Anan sudah berjongkok menunjukkan punggungnya pada Dita menyuruhnya naik.
"Gak mau ah malu." ucap Dita.
"Jangan sampai aku bopong paksa ya, ayo cepet aku gendong." perintah Anan.
"Udah Ta naik aja kapan lagi di gendong Anan uhuy." goda Anita.
Karena rasa lelah yang teramat sangat membuatnya tak bisa berjalan akhirnya Dita terpaksa menuruti perintah Anan.
"Cie... uhuy." ledek Anita.
"Elo mau gue gendong Nit?" tanya Andri.
"Huuu modus aja ih, tapi boleh deh Ndri capek aku tadi terjun ke bawah."
"Hah terjun? bukannya ngilang?"
"Bukan, aku terjun dari tangga situ langsung nyublek ke bawah hehehe."
"Hadeh sia-sia gue ngajarin elo, ayo naik!"
"Hap..."
"Badan kecil gini tapi berat banget sih, kebanyakan dosa elo kayaknya." Andri menyindir Anita.
"Awwww.." Anita menjambak rambut Andri.
"Kalau ngomong tuh di ayak dulu makanya, lebay banget gendong aku aja pake bilang berat, rindu sama dilan noh yang berat." Anita mengguncang kepala Andri.
"Sakit Nit, ampun awww.." rengek Andri.
Di depan Andri, Anan menggendong Dita di punggungnya melewati ruang suster membuat suster cindi yang menunggunya sedari tadi terkejut dengan perlakuan Anan pada Dita.
"Aku berat gak Nan?" tanya Dita melingkarkan kedua tangannya di leher Anan.
"Eng enggak." ucap Anan dengan susah payah.
"Bohong aku berat yak?"
"Iya."
"Tuh kan, udah turunin aja di sini."
"Siapa bilang mau aku turunin, makanya jangan suka ngemil malam."
"Tuh kan nyebelin, turunin aku!" rengek Dita membuat orang-orang yang melihat Anan dan Dita tersenyum-senyum heran, ada juga yang memandang sebal bahkan cemburu dengan kemesraan Dita dan Anan.
"Akhirnya sampai juga." Anan menurunkan Dita di sofa ruang dokter Dewi.
"Kenapa si Dita bisa pingsan?" tanya Tante Dewi.
"Dia gak pingsan cuma kakinya sakit." sahut Anan malas menjelaskan kejadian sebenarnya.
"Kok di bawa kesini bukannya ke IGD?"
"Eh jangan Tante aku cuma kram aja kok." sahut Dita segera.
"Bener udah gak papa?"
"Bener Tante." Dita memberikan senyum lebarnya.
__ADS_1
"Maaf Tante Anan ninggalin meeting terus hasilnya gimana?"
"Besok kita foto karyawan yak, sama foto buat poster iklan terbaru."
"Kenapa gak sewa model aja sih buat foto, kok kita juga?"
"Kan pemilik rumah sakitnya kamu sama Tante masa mau panggil papi kamu kesini."
"Jangan Tante jangan dulu, aku gak mau papi nya Anan ambil tubuh Manan kalau dia kesini." sahut Dita.
"Oh iya ya Ta, oke deh aku mau jadi modelnya." sahut Anan.
"Nah gitu dong."
Telepon ruangan Tante Dewi berbunyi.
"Ya kenapa? apa? oke aku kesana."
"Kenapa Tante?" tanya Anan.
"Ada pasien napi pasca operasi kondisinya memburuk, Tante kesana dulu yak." ucap Tante Dewi .
"Oh iya awas jangan macem-macem ya ruangan ini ada cctv nya." ancam Tante Dewi sebelum pergi keluar ruangan.
Ponsel Dita berbunyi. "nomer siapa nih?"
👩 : Hai Dita, aku cindi kamu kok tadi digendong pak Manan sih? jadi kepo 😊😅
"Oh Cindi."
"Siapa Ta?"
"Suster di ruangan tadi."
"Oh suster yang tadi minta nomer telepon Anan yak?" ucap Anita yang tiba-tiba muncul.
"Nomor telepon aku?"
"Aku jawab apa Nit?"
"Jawab aja kalau kamu pacarnya Anan."
"Kan dia tanya kenapa tadi aku digendong, ya jawab aja kaki ku sakit kok jawab aku pacarnya Anan sih gak nyambung."
"Tadi kamu nanya mau jawab apa, giliran aku kasih saran malah punya jawaban sendiri ngapain nanya kalau gitu huh." sungut Anita.
👩 Dita : tadi kaki aku sakit.
👩 Cindi : Oh, trus nope Pak Manan dong?"
👩 Dita : Tanya sendiri katanya
👩 Cindi : Wah lampu ijo nih, ok d nti q tanya sdr thx gws y.
"Pede gila nih cewek mirip Shinta." gumam Dita.
"Nambah lagi kan saingan nekat mu." sahut Anita.
"Ngomongin apa sih aku gak ngerti?" tanya Anan polos.
"Au amat...!"
***
__ADS_1
To be continued
Happy Reading guys...