Pocong Tampan

Pocong Tampan
Ke Kampung Doni Part 3


__ADS_3

"Alhamdulillah sampe juga, rumah kamu jauh juga ya Don." ucap Anita sambil meregangkan tubuh pegalnya.


"Ya tadi kan jauh gara-gara ada korban kecelakaan, biasanya aku mah naik motor cuma se jam." sahut Doni.


Keluarga Aden sudah menyambut jenazah Aden dengan tangisan.


Doni memeluk ibunya Aden dan ketika menghampiri ayah Aden sebuah tamparan keras mendarat di pipi Doni.


"Kamu bilang mau jagain Aden, HAH...?! mana janji kamu, dari kecil kamu saya urus sampe sekarang jagain adeknya aja gak becus."


"Udah Abah udah, ini udah takdirnya Aden, si Doni teh gak salah." Ambu membela Doni yang masih tertunduk sedih di hadapan keluarganya.


Jenasah Aden di baringkan di ruang tamu sebelum di bersihkan dan dimandikan rencananya malam ini juga akan dikuburkan segera sesuai syariat Islam.


"Teteh bilangin Abah, ni bukan salah aa Doni." Aden melingkarkan tangannya di lengan Dita sambil merengek.


"Abah kamu lagi emosi sabar dulu."


bisik Dita.


"Tapi kasian aa Doni."


"Iya saya tau, nanti kita bicarakan yak Den."


"Sssttt ngapain kamu ngomong sendiri?" tanya Anita yang memperhatikan gerak-gerik Dita sedari tadi.


"Eng enggak orang lagi ngedumel aja capek kayaknya aku Nit."


"Duduk dulu yuk, tuh udah disiapin makanan laper lagi aku hehehe."


"Pede banget kamu, ditawarin aja belom udah mau nyamperin makanan."


"Noh liat para supir sama keneknya aja udah ngopi cantik noh ya kan? berarti tuh makanannya buat kita juga."


"Ah dasar lo Nit, gak bisa liat makanan."


"Makanan kampung Ta, jarang-jarang lho kita ketemu makanan kampung yang rasanya masih fresshh endollll bingits."


"Au ah.."


"Neng kadiye, kemari atuh nge teh dulu." sahut seorang ibu dari sebrang sana.


"Alhamdulillah... iya kan ditawarin... rezeki mah gak kemana hihihi." Anita menarik lengan Dita menghampiri para ibu diseberang sana.


"Dimakan neng." ucap ibu itu.


"Wah makasih Bu..." sahut Anita yang langsung melahap ketan kelapa di hadapannya.


"Eh kok bau angus yak, jangan-jangan tungku apinya belum saya matiin." Ibu itu bergegas berlari menuju dapur.

__ADS_1


"Ih si ibu untung aja gak kebakaran."


Ibu itu pun kembali dengan raut wajah heran.


"Udah mati Bu apinya?" tanya Anita.


"Gak nyala tuh, tapi ini kok bau gosong yak, apanya yang gosong yak?" ibu itu mengendus-endus sekitarnya.


Dita berusaha menahan tawanya karena dia yakin betul bau gosong itu berasal dari Andri dan Aden.


Anan malah tertawa ngakak mengejek Andri dan Aden.


***


Jenazah Aden akhirnya selesai di ke bumikan pada pukul sebelas malam. Para tamu juga pulang kerumah masing-masing. Dita dan Anita membantu ibunya Aden membersihkan rumah.


Para supir ambulance dan keneknya memutuskan untuk tidur dan melanjutkan perjalanan pulang jam enam pagi besok.


Sesekali Dita melihat Ibunya Aden memeluk dan menangisi foto anaknya, Padahal dibelakang nya ada Aden yang juga ikut menangis memeluk Ibunya dari belakang.


Doni masih terdiam merenung menyendiri menatap bintang di langit yang terlihat mendung itu.


"Ikut aku Don." ajak Dita.


"Mau kemana Ta, ketemu bapaknya Doni."


"Don, ini sih emang udah jalan Aden ya buat menghadap Allah, tapi gue jadi yakin sama ucapan kamu soal tumbal."


"Apaaa... maksud kamu Aden dijadiin tumbal?"


"Mungkin gak sengaja aja kali karena dia pas ada diarea penumbalan."


"Jadi elo percaya kan sama gue, siapa Ta siapa Bu Devi kan apa kang Ujang?"


"Bukti itu sih belom ada, tapi Anita liat bu Devi pas kejadian, aku juga sekilas liat dia melintas di gerbang."


"Wah harus gue laporin nih ke pak Herdi."


"Jangan Don, belum ada bukti kita ngawasin aja dulu pelan-pelan biar gak tertlalu mencolok."


"Kang Ujang gimana?"


"Kita juga biasa aja depan dia, gak usah bahas soal tumbal, sekarang ikut aku yuk."


Doni terdiam tak mau bergerak.


"Hayoookk...!!" Dita menarik paksa Doni.


"Coba kamu sentuh aku Den, di pundak." Dita menyuruh Aden untuk menyentuh pundaknya.

__ADS_1


"Kamu ngomong sama siapa Ta, lepas ah tangan aku gak enak kalo diliat Anita."


"Ih apaan sih aku juga ogah pegang tangan kamu sebenarnya. tunggu bentar, kamu udah bisa liat belom?"


"Liat siapa?"


"Aden..." Dita menunjuk Aden dengan bahasa bibirnya yang dimonyongkan.


"Jangan gila deh Ta."


"Mungkin itu cuma berlaku sama aku kali Ya." sahut Andri.


"Terus gimana dong biar Doni bisa liat Aden?"


tanya Dita ke Anan dan Andri.


"Dita kamu ngomong sama siapa sih?" Doni mundur selangkah agak takut melihat tingkah Dita.


"Ikut aku teh." ajak Aden.


"Ayok Don, ikut aku juga."


Dita menarik Doni mengikuti Aden, untungnya Anita sudah terlelap dikursi ruang tamu.


Dita melihat Abah yang sudah menatap Aden dengan air mata yang sudah menetes.


"Abah bisa liat?"


Abah mengangguk sambil memeluk Foto keluarga bersama Ambu, Aden, dan Doni.


"Kamu udah bisa liat Don?"


"Liat apa sih?"


Abah mengulurkan tangannya menggapai Doni menyuruhnya untuk menyentuh foto keluarga itu bersama.


"A a aden...." ucap Doni terkejut melihat Aden.


"Oh... ini caranya Aden terlihat dari benda kesayangan mereka." ucap Anan merangkul Dita.


"Beda ya sama cara gue." ucap Andri yang ikut merangkul Dita namun di tepis oleh Anan.


Dita melotot kearah keduanya menyuruh mereka agar diam jangan memulai pertengkaran melihat keharuan Doni, Aden dan Abahnya itu.


***


To be continued...


Happy Reading... 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2