Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Kematian Tuan Jhon


__ADS_3

Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...


Happy Reading semoga makin suka 😊😊😊


*****


Anan mengetuk pintu rumah Nyonya Kate dengan kencang. Tak ada yang membuka pintu tersebut cukup lama. Om Kevin mengintip di balik jendela. Tubuh Nyonya Kate bersimbah darah, ia menangis ketakutan sampai jatuh tak sadarkan diri.


"Dobrak pintunya Nan!" Om Kevin memberi perintah.


Anan melaksanakan perintah tersebut.


"Gak kuat Om, kita dobrak berdua yuk!" ajak Anan.


"Apa yang terjadi?" tanya Tante Dewi.


"Kamu hubungi polisi sekarang, nyonya Kate pingsan, tubuhnya penuh darah," ucap Om Kevin.


"HAH?! baik aku pulang dulu telepon polisi," ucap Tante Dewi.


Dita mengintip dari jendela sementara kedua pria di sampingnya itu sibuk mendobrak pintu secara paksa.


Benar yang di katakan Om Kevin, tubuh Nyonya Kate penuh darah.


"Kira-kira darah siapa ya itu?" tanya Dita pada dirinya sendiri dengan suara lirih.


Pintu rumah itu berhasil dibuka paksa, ketiganya bergegas masuk ke dalam. Betapa terkejutnya Dita dan lainnya saat mendapati tubuh Jhon tewas dengan luka gorokan di leher. Darah masih keluar dari lehernya, kemungkinan Jhon tewas belum lama sekitar beberapa jam yang lalu. Pisau besar itu ada di tangan Nyonya Kate yang pingsan.


"Kita keluar dari sini, kita gak mau merusak barang bukti yang ada di sini, semuanya keluar kita tunggu pihak kepolisian!" ucap Om Kevin memberi perintah.


"Tapi Om, itu nyonya Kate..."


"Enggak Ta, jangan ada sidik jari kita di tempat kejadian perkara ini, bisa repot urusannya," ucap Om Kevin.


"Astaga..." Tante Dewi yang terkejut saat masuk ke dalam rumah itu langsung memeluk Om Kevin. Mereka semua akhirnya keluar dari rumah nyonya Kate menunggu mobil polisi datang.


Tak berapa lama satu unit mobil polisi datang ke rumah Tuan Jhon. Dua opsir polisi turun untuk memeriksa. Satu diantaranya menghubungi bantuin polisi lainnya, mereka juga menghubungi mobil ambulance.


Awak media sudah ramai meliput kejadian pembunuhan tersebut. Dugaan sementara kuat adanya jika pembunuhan terhadap Tuan Jhon tersebut di lakukan oleh sang istri yang dalam pengaruh alkohol. Botol alkohol di temukan di tempat sampah. Nyonya Kate sendiri di borgol tangannya dalam keadaan sempoyongan. Awak media yang menyorotnya dengan lampu kamera dan menghujaninya dengan banyak pertanyaan tak bisa ia jawab. Nyonya Kate kembali tak sadarkan diri saat di bawa ke dalam mobil polisi.


"Di mana Leona?" tanya Tante Dewi.


"Entahlah, coba ku tanyakan pada polisi itu," ucap Om Kevin, lalu ia beranjak melangkah menuju salah satu polisi itu dan menanyakan Leona.


"Kami belum menemukan anak itu, rekanku sedang mencarinya di dalam," ucap Pak Polisi tersebut.


Dita menuju taman belakang tempat Nyonya Kate memelihara tanaman berbagai jenis mawar. Hantu Clara menangis di sudut ruangan. Di sanalah tempat kesukaannya saat melukis.


"Apa yang terjadi Clara?" tanya Dita.


"Dia membunuh ayahku!" sahut Clara dengan nada kesal.

__ADS_1


"Dia? dia siapa yang kamu maksud?" tanya Dita penasaran.


"Dia, si anak itu si Leona, dialah pembunuh ayahku," ucap Clara. Hantu itu berusaha menyentuh tangan Dita, tapi ia tak bisa. Clara makin marah, meski dia tak bisa menyentuh manusia tapi ia dapat mengeluarkan energinya untuk mengangkat para tanaman mawar itu dari tanah. Perlahan akarnya tercabut paksa dan muncul ke atas permukaan.


"Clara tenanglah, ibu mu tak akan suka ini, mawar-mawar itu kesayangannya," Dita berusaha mencegah Clara.


"Kenapa aku bisa melakukan ini tapi semalam aku tak bisa menyentuh anak itu?" tanya Clara pada dirinya sendiri.


"Mungkin sekarang marahmu bertambah berkali kali lipat dari semalam, dan pikiran mu telah terpusat ingin menghancurkan tempat ini," ucap Dita masih mencoba menenangkan Clara.


"Bisakah aku bertemu ibuku?" tanya Clara.


"Tentu bisa, asalkan kau bisa keluar dari tempat ini, dari rumah ini, nanti akan ku pertemukan ibumu dan dirimu," ucap Dita.


"Sepertinya aku tak bisa keluar dari rumah ini," ucap Clara.


"Kalau begitu, kau tetap harus menunggu sampai ibu mu pulang, nanti aku akan menjenguknya di kantor polisi, ini pasti akan jadi cobaan yang berat baginya," ucap Dita lalu duduk di hadapan Clara.


"Sekarang ceritakan kepadaku, apa yang terjadi malam tadi, kejadian mengerikan yang menimpa ayah mu?" tanya Dita yang sudah memasang wajah serius dan menyimak untuk mendengarkan penuturan dari Clara.


"Aku mendengar ayah memarahi ibu yang sedang mabuk, ibu ingin ayah percaya kalau aku masih ada berkeliaran di rumah ini, tapi ayah tetap tak percaya," ucapnya.


"Lalu?" tanya Dita.


"Pertengkaran demi pertengkaran terjadi bahkan tak henti-hentinya ayah menyalahkan ibu atas kematian ku, dan ternyata ayah lebih mabuk parah dari pada itu yang hanya meminum alkohol, ayah mengkonsumsi ganja lebih tepatnya."


Clara menjelaskan sambil berusaha merapikan kembali kebun mawar yang ia rusak barusan.


"Lalu hubungannya dengan Leona?" tanya Dita.


"Apa yang terjadi selanjutnya, apakah Leona marah?" tanya Dita yang seolah yakin arah pembicaraan selanjutnya akan seperti apa nanti.


"Ya, dia marah dia menimpuk ayah dengan botol alkohol milik ibu, botol itu melukai kepala ayah, lalu ibu memarahi Leona agar berhenti melukai ayah, tapi Leona mendorong ibu sampai jatuh tak sadarkan diri," ucap Clara.


"Lalu?"


"Cannabis yang ayah gunakan di suntikan ke dalam darah ibu oleh Leona, aku berusaha mencegahnya tapi tak bisa. Pot yang aku coba gerakkan hanya bisa jatuh ke lantai bukan malah mengenainya," ucap Clara.


"Jadi selanjutnya, Leona yang membunuh ayah mu, dan membuat ibu mu yang seolah-olah membunuhnya?" Dita mencoba menerka.


"Benar, dia melakukannya dengan sadis, padahal aku berusaha sangat untuk mencegahnya huhuhuhu... sekarang aku harus kehilangan ayahku, dan membiarkan ibuku mendekam di penjara huhuhu hiks hiks..." ucap Clara sambil menangis.


"Kau tahu Clara, aku akan berusaha membuktikan kalau ibu mu tak bersalah," ucap Dita mencoba memeluk Clara tapi ia tak bisa menyentuhnya. Ia seperti memeluk angin yang makin ia paksakan malah akan membuatnya jatuh.


"Nyonya apa yang kau lakukan di kebun itu?" tegur salah satu opsir polisi tersebut.


"Aku sedang memeriksa keadaan bunga mawar milik nyonya Kate," sahut Dita.


"Cepat lah keluar! kami akan segera memberi garis polisi di sekitar rumah!" ucap polisi tersebut berseru memperingatkan Dita.


"Baiklah pak, saya akan segera ke sana," ucap Dita.

__ADS_1


"Aku harus pergi Clara, nanti aku kembali ke sini lagi," ucap Dita melangkah pergi.


"Tante tunggu! ku mohon tolonglah ibuku," Clara menahan langkah Dita.


"Pasti..." Dita menoleh ke arah Clara sambil mengangguk dan tersenyum.


***


Dita kembali ke rumah yang di sambut pelukan Anta yang takut dan bersembunyi di balik tubuh Dita.


"Kamu kenapa Ta?" tanya Dita.


"Itu di dapur," ucap Anta menunjuk ke arah Dapur.


"Yanda mana?" tanya Dita.


"Tadi pergi sama Om Kevin ke kantor polisi, mereka di minati keterangan sebagai saksi karena mereka yang menemukan pertama kali tempat kejadian perkaranya," sahut Tasya.


"Bunda itu..." Anta menunjuk kembali arah dapur.


Dita melangkah ke arah dapur di ikuti Anta di belakangnya. Betapa terkejutnya Dita kala ia melihat sosok Leona sedang duduk di kursi makan dan menatap Dita dengan senyuman yang sebenarnya menyeramkan untuk Dita lihat.


"Sedang apa dia di sini?" tanya Dita pada Tante Dewi.


"Dia di temukan bersembunyi di dalam lemari di bawah kitchen set, dia ketakutan Ta."


Tante Dewi menyerahkan kotak sereal rasa coklat dan sekotak susu vanila ke hadapan Leona.


"Ia, jadi sedang apa dia di sini?" tanya Dita lagi.


"Dia ketakutan Ta, dia tak punya tempat tinggal, dia juga tak punya sanak saudara, dia akan tinggal di sini, sampai departemen sosial datang dan membawa anak ini ke panti asuhan, kalau perlu tante yang akan mengadopsinya," ucap Tante Dewi yang menyentak Dita.


Dita yang sedang meminum segelas air itu langsung terbatuk-batuk karena tersedak. Ucapan tante Dewi itu benar-benar membuatnya sangat takut. Bagaimana dia akan membuat tante Dewi percaya bahwa Leona lah pembunuh Tuan Jhon jadi sangat sulit. Karena segala yang ingin tante Dewi lakukan itu tak akan pernah bisa Dita bantah. Dan sekarang Dita harus bisa menghadapi kenyataan bahwa Ia harus berada dalam satu rumah dengan si anak sakit jiwa ini.


Sekarang aku harus lebih waspada


Batin Dita sambil berpandangan dengan Anta yang sebenarnya ingin mencoba protes dengan Tante Dewi tapi tak bisa.


*****


Masih bersambung ya guys...


Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.


- WITH GHOST (UP)


-          Kakakku Cinta Pertamaku


season 1 END


-          9 Lives (END)

__ADS_1


-          Gue Bukan Player (END)


Vie Love You All 😘😘😘


__ADS_2