Pocong Tampan

Pocong Tampan
(Pemenang GA) Musim Kedua - Restoran Baru Sahid


__ADS_3

Assallamualaikum...


Berikut Vie umumkan pemenang give away berhadiah bagi-bagi pulsa sebagai wujud syukur Vie karena Pocong Tampan tembus 5 juta Viewer, Alhamdulillah...



Mariya Ulfa


inga riyanti


Ratna Eling


Taty S


Ke empat orang itu harap DM vie via instagram @vie_junaeni ya untuk konfirmasi nomor telepon agar bisa Vie kirim pulsa @25rb untuk setiap pemenang.


Jangan bosen untuk terus VOTE Pocong Tampan karena nanti Vie akan buat lagi giveaway bagi-bagi pulsanya di bulan berikutnya.


******************************************************


Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...


Happy Reading 😊😊😊


******


"Tante Dita..." sapa seorang anak laki-laki yang menuruni tangga menghampiri Dita.


"Arga...???"


"Anak bos kenal sama mbak ini?" tanya si pelayan pada Arga.


"Kenal dong ini kan temannya Abi, Abi... abi... ada tante Dita," Arga berteriak dari lantai bawah memanggil Abinya.


"Yah pake di panggil lagi abinya, perasaan gue makin gak enak nih," gumam Anan.


"Kamu ngomong apa Nan?" tanya Dita.


"Gak kok gak ngomong apa-apa," sahut Anan.


Sahid menuruni tangga dan langsung mempercepat langkahnya menghampiri Dita.


"Kamu kenapa Ta, kok pipinya biru gitu?" Tanya Sahid menyentuh pipi Dita, tetapi Anan langsung menepis tangan Sahid agar tak menyentuh pipi Dita.


"Coba lihat Ta," Anan memegang kedua pipi Dita di hadapan Sahid.


"Boleh minta air es sama handuk gak buat kompres?" pinta Anan.


"Saya ada salep untuk luka memar," ucap pelayan itu menawarkan.


"Boleh tuh, coba minta," ucap Anan.


"Kamu kenapa sampai kayak gitu? coba sini duduk," Sahid menarik kursi dan mempersilahkan Dita untuk duduk.


Dita menurut. "Makasih ya," ucap Dita.


Anan kalah cepat kali ini, Sahid berhasil duduk di samping Dita. Namun, Anan tak kehilangan akal ia menarik kursi di sebelahnya dan membawanya ke dekat kursi Dita.


"Ini pak salepnya," ucap si pelayan itu menyerahkan salep anti memar pada Anan.


"Makasih ya," ucap Anan meraihnya.


"Ih si bapak, ini kursi udah saya beresin di acak-acak lagi," gumamnya.


Arga duduk di hadapan Dita memperhatikan ketiga orang di hadapannya ini dengan antusias karena kelihatannya akan seru untuk di lihat.


"Aku aja sini yang oles," pinta Sahid.


"Apaan sih, salep nya sama gue juga, udah gue aja," ucap Anan mulai mengolesi ke pipi Dita yang memar.

__ADS_1


"Awww sakit," ucap Dita.


"Maaf ya maaf," ucap Anan.


"Makanya pelan-pelan! nih di sebelah sini nih juga memar," sahut Sahid menunjuk pipi Dita.


"Udah ih bawel banget, gue yang ngobatin elu yang bawel!" Anan menatap tajam pada Sahid.


"Udah sih pada ribut aja ya heran," sahut Dita.


"Habisnya ada ya suami kayak dia buat orang sebaik kamu," ucap Sahid mencibir Anan.


"Ngomong sekali lagi, gue colok mata elu pake nih salep," Anan mengancam Sahid.


"Kamu kenapa sampai memar gini?" tanya Sahid tak memperdulikan ancaman Anan.


"Ada dua orang preman yang mau memperkosa aku sampai aku pingsan di pukul salah satunya, untungnya ada Anan yang nyelametin aku," ucap Dita.


"Kamu masih inget orangnya biar aku laporin polisi setempat?" tanya Sahid.


"Oh iya ya kenapa gue baru kepikiran," gumam Anan lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi polisi Erik untuk melaporkan kejadian tadi.


"Tuh Anan udah lapor," ucap Dita.


"Arga belum tidur?" tanya Dita.


"Nunggu abi selesai baru pulang tidur," sahut Arga.


"Astagfirullah aku lupa kabarin Tasya, ponsel aku mati lagi, boleh pinjem telpon aku mau telepon ruko?" pinta Dita.


"Tentu boleh, silahkan."


Sahid menunjukkan letak telepon restoran pada Dita.


"Bentar kok aku baru sadar kalau ini itu restoran..."


"Elo beli dari Tuan Ming bukan?" tanya Anan pada Sahid.


"Iya aku beli sama Tuan Ming," jawab Sahid.


"Wah brengsek tuh si Ming, kan gue udah bilang mau bayarin Ini resto malah keburu di jual aja," gumam Anan dengan kesalnya, sementara Dita menghubungi Tasya perihal memberitahukan Tasya agar jangan cemas tentang keberadaannya malam itu.


"Memangnya kenapa kalau aku beli dari Tuan Ming?" tanya Sahid.


"Restoran ini bekas burger gue," ucap Anan.


"Oh... bagus dong," ucap Sahid tertawa puas.


Dita selesai menghubungi Tasya dan langsung menghampiri Anan, menahannya agar tidak menyerang Sahid karena kesal.


"Udah deh gak lucu tau berantem mulu kayak anak kecil, malu tuh sama Arga," ucap Dita.


"Ayo Arga kita pulang," ajak sahid.


"Kita boleh numpang gak?" tanya Dita.


"Emang aku mau nawarin kamu kok Ta, tapi si..."


"Anan ikut ya," ucap Dita.


"Gak usah lah kita jalan aja," sahut Anan terlalu gengsi menumpang mobil Sahid.


"Aku gak mau ketemu dua preman tadi, udah ikut Sahid aja," ucap Dita menarik tangan Anan dan akhirnya Anan pasrah menuruti Dita.


"Ini restoran ada yang nginap gitu?" tanya Dita.


"Iya aku sewa satpam di ruang depan sana ada dua orang jaga gantian dan dua orang pelayan tinggal menginap di sini," ucap Sahid.


"Oh... gitu... terus kamu tinggal di mana?" tanya Dita.

__ADS_1


"Di Family Apartement, sementara Arga ikut sama aku karena umminya ke luar negeri jadi foto model gak jelas," ucap Sahid ketus.


"Oh deket lho dari ruko aku, dan itu apartemen yang sama dengan Tante Dewi dan Om Kevin tinggal," ucap Dita.


"Tapi serem tante, banyak hantunya hiiyyy tapi abi gak percaya sama aku," celetuk Arga.


"Ah bangunan mewah gitu masa ada hantunya kan aneh ya Ta, Arga terlalu banyak halusinasi kayaknya," Sahid mengacak-acak rambut Arga.


"Hmmm kadang para hantu juga bisa tinggal di bangunan mewah terserah mereka gak harus di kuburan apa tempat sepi tak berpenghuni gitu," ucap Dita.


"Udah belum nih ngobrolnya katanya mau pulang?" Anan memotong percakapan ketiga orang di hadapannya itu dengan kesal.


Akhirnya semuanya naik ke mobil Sahid menuju rumah toko Dita. Di pertengahan jalan saat lampu merah menyala, Sahid menghentikan laju kendaraannya.


Tiba-tiba jendela mobil Sahid yang berada di samping Arga di ketuk seorang perempuan berambut panjang terurai berantakan.


"Aaaaaaaa..." Arga berteriak ketakutan.


"Kamu kenapa sih Ga?" tanya Sahid pada anak nya itu.


"Itu... Itu... ada hantu perempuan, mukanya banyak luka, banyak darah lagi ngintip di jendela," ucap Arga menundukkan kepalanya tak mau melihat.


"Mana sih? gak ada apa-apa kok?" tanya Sahid.


"Arga bener kok, memang ada hantu perempuan yang menempelkan wajahnya di kaca jendela," ucap Dita.


Anan sudah menyembunyikan wajahnya di bahu Dita sedari tadi ketakutan.


Tin... Tin...


Lampu hijau sudah menyala, bunyi klakson mobil di belakang mobil Sahid tak sabar untuk melaju mengejutkan Sahid.


"Iya bentar, nih jalan!" teriak Sahid lalu melakukan kendaraannya.


Ternyata sang hantu perempuan tadi malah ikut naik di mobil Sahid dengan posisi tengkurap di atas mobil Sahid.


Di jalanan depan yang sepi itu kamu minggir, terus rem mendadak ya," pinta Dita pada Sahid.


"Mang kenapa Ta?"


"Udah ikutin aja sih jangan bawel," sahut Anan membuat Sahid jadi emosi dan menghentikan laju mobilnya dadakan.


"Kamu ngajak saya ribut apa?!" Sahid menantang Anan.


"Eh udah sih lihat tuh," Dita menunjuk depan mobil Sahid. Hantu perempuan tadi langsung jatuh ke aspal saat Sahid melakukan rem mendadak.


"Apaan sih gak lihat apa-apa?" tanya Anan.


"Ada, abi, ada hantuuuu," ucap Arga menunjuk hantu yang terjatuh di atas aspal.


Hantu itu lalu berdiri dan mau menghampiri mobil Sahid dengan wajah menyeramkan penuh luka sayat di wajah dengan darah bercampur nanah.


"Sahid jalan sekarang! cepetan...!!!" Dita menepuk bahu Sahid berkali-kali.


****


Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...


Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.


- WITH GHOST


-          Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)


-          9 Lives (END)


-          Gue Bukan Player


Vie Love You All 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2