Pocong Tampan

Pocong Tampan
Bertemu Ibu Andri


__ADS_3

Sebelum membaca... jangan lupa klik Like and Vote yak... koin seikhlasnya juga boleh banget... makasih lho para Readers tersayang... 😊😘


***


"Kalian saling kenal?" ucap Dita yang berada diantara dokter Dewi dan Suster Sandra.


"I iya iya Ta, kita saling kenal." sahut suster Sandra dengan nada sungkan di ucapannya.


"Kamu mau apa kesini?" tanya Dokter Dewi.


"Aku, aku mau ketemu ibunya Andri, kak." suster Sandra mengelus perutnya.


"Oh... , kamu nanti keruangan Manan ya Ta." ucap dokter Dewi seraya pergi meninggalkan Dita dan Sandra.


"Cuma OH....." sahut Andri.


"Emang elo pikir mereka berdua bakal ngapain?" tanya Anan.


"Ya gitu takut gue mereka perang."


"Sebenernya ada apa sih elo sama Tante gue?"


"Udah lah gak penting."


"Pentinglah makanya jawab." Anan menarik tangan Andri.


"Udah deh jangan mulai." Dita menatap tajam kearah keduanya yang akhirnya takut menunduk melihat tatapan mematikan Dita.


Suster Sandra masih keheranan melihat Dita yang berbicara sendirian namun dia menyikapi nya dengan tenang.


"Udah Ta... yuk." ajak suster Sandra.


"Sus, mau tanya boleh? kok bisa kenal Tante Dewi?"


"Emmm aku... aku malu jelasinnya Ta."


Tring... Pintu lift sudah terbuka.


"Nanti aja ya Ta aku jelasin." ujar suster Sandra.


"Bagus, kepo banget sih Dita tanya-tanya." sahut Andri di belakang Sandra.


Dita menoleh dan memonyongkan bibirnya ke Andri dengan kesal.


Dita dan suster Sandra menuju ruangan tempat ibu Andri dirawat.


"Assalamualaikum... permisi Tante..."


Dita mengetuk pintu kamar ibunya Andri yang sedang duduk santai di atas kasurnya menikmati FTV kala itu.


"Ya, maaf siapa yak?" tanya ibu Andri.


"Saya Dita Tante, ini suster Sandra kita temennya Andri." ucap Dita mencium punggung tangan ibu Andri begitu pula dengan Sandra.

__ADS_1


"Iyakah..? temennya Andri? ... saya Irma."


"Hallo Tante Irma gimana keadaannya sekarang?"


Seketika Ibu Irma menangis.


"Maaf Tante kok nangis, aku salah ngomong yak?" tanya Dita.


"Enggak nak, Tante cuma inget Andri, terus ayahnya juga masih belum sadar Tante takut sendirian gak mau kehilangan siapa-siapa lagi." Isak ibunya Andri.


"Tante boleh pinjem tangannya sebentar." pinta Dita lalu meraih tangan ibunya Andri, dan tak lama Andri menyentuh bahu Dita.


Seketika Tante Irma melihat Andri dan makin menangis memeluk Andri.


Saat itu Andri menjelaskan keberadaan Sandra dan ingin ibunya itu menerima Sandra dan calon anak yang dikandungnya itu agar menjadi bagian keluarga besar Andri sudah tiga puluh menit mereka saling melepas rindu sampai akhirnya Dita menyerah menjadi medianya Andri karena lelah.


"Ibu seneng banget nak dengernya meski kecewa dengan apa yang kalian lakukan namun semua sudah terlanjur dan kalian sudah melakukan yang terbaik dengan bertanggung jawab menjaga anak itu, kamu tinggal dimana nak?" tanya Tante Irma pada Sandra.


"Saya tinggal dengan ibu, ayah dan dua adik tiri saya Tante." jawab Sandra.


"Sebaiknya kamu tinggal bersama Tante, pasti Andri maunya begitu ya kan?" Ibu Irma menoleh pada Dita yang sudah kehabisan tenaga menjadi media nya Andri.


"Iya Tante, kata Andri iya." sahut Dita.


"Baiklah saya akan tinggal sama Tante." jawab Suster Sandra.


"Panggil saja saya ibu, besok saya sudah boleh pulang, kamu jemput saya ya?" pinta ibu Irma sambil mengelus perut suster Sandra yang menginjak usia tujuh bulan.


"Siapa yang motong bawang nih kok mataku pedes yak Nan, pengen nangis." ucap Dita lirih.


"Ah Anan so sweet..." Dita memukul bahu Anan.


"Itu adeknya kenapa ya nak?" tanya ibu Irma pada Suster Sandra melihat Dita ngomong sendirian.


"Lagi akting Bu biasa calon artis FTV hehehe."


"FTV wah kaya yang di tv itu dong nanti dia main disitu? hebat kamu nak Dita."


Dita tersenyum meringis lalu pamit malu meninggalkan ibu Irma dan suster Sandra untuk berbincang-bincang.


"Thank you banget ya Ta." Andri memeluk Dita di ujung koridor ruangan depan kamar perawatan ibunya.


"Iya Ndri sama-sama."


"Eh tempe angus bisa gak jangan pake peluk Dita gue." Anan menarik kemeja belakang Andri.


"Yaelah tong peluk dikit doang juga cemburuan amat sih." sahut Andri.


"Gak ada yang boleh sentuh Dita kecuali gue, sini Ta sama aku." Anan meraih tangan Dita menjauhi Andri dan merangkulnya.


"Dih bucin banget emang nih lontong kisut."


"Eh elo tuh ya...."

__ADS_1


"Stop udah yak... berisik tau aku laper nih capek kehabisan tenaga mau cari makan." Dita menahan Anan yang hampir maju menarik Andri.


Dita berlalu menuju lift dan masuk kedalamnya menekan tombol lantai G bagian bawah rumah sakit.


"Oke Ta, aku ikut ya cari makan." ucap Andri.


"Aku juga." sahut Anan.


"Ya udah yuk, Ndri bentar lagi kamu tenang dong?" tanya Dita.


"Aku udah tenang kok Ta, cuma urusannya belom kelar, mau liat anak aku lahir dulu."


"Yah masih lama aja gangguin kita Ta." sahut Anan yang dibalas pukulan Andri di belakang kepalanya.


"Udah deh berantem mulu nih capek tau gak kaya guru TK yang tiap hari misahin murid-murid hiperaktif nya aku tuh."


"Dia duluan sih Ta." ucap Anan menoyor Andri.


"Lah kok gue, kan elo duluan Tong.." Andri menarik rambut Anan.


"Setooooppp...!!!" teriak Dita.


"Kenapa mbak saya kan mau masuk lift kok di stop." ucap seorang bapak yang kaget hendak masuk ke lift.


"Enggak pak, tadi saya liat semut takut keinjek hehhee." Dita mencoba memberi alasan.


"Ohhh kasian ya dek kalo semutnya mati keinjek saya."


Dita tertawa kecil mendengar gurauan bapak itu.


"Garing..." sahut Anan.


"Hooh alot malah." sahut Andri.


"Sssttt berisik." bisik Dita tersenyum menoleh ke bapak dalam lift.


***


"Bang mie ayam dua bungkus yak komplit." ucap Dita ke penjual mie ayam sebrang rumah sakit yang dijawab anggukan oleh si penjual.


"Perasaan ada yang lupa apa yak, yang berhubungan sama Tante Dewi."


Dita menyentuh dagunya dengan telunjuknya berpikir sejenak.


"Yoghurt blueberry, dia kan suka banget sama itu." sahut Andri.


"Ah iya yoghurt blueberry... thanks ya Ndri nanti mampir toko depan situ dulu deh, eh ngomong-ngomong kok kamu tau banget kesukaan Tante Dewi, cerita dong..." pinta Dita .


Anan menatap tajam ke arah Andri memasang telinganya dengan seksama siap mendengarkan penuturan Andri.


***


To be continued

__ADS_1


Happy Reading...


Semoga suka... love you all...


__ADS_2