
Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...
Happy Reading semoga makin suka 😊😊😊
******
Anan pulang ke rumah bersama Anta dengan membawa banyak barang. Dita langsung menghampiri suami dan anak tercintanya itu untuk membantunya.
Seorang anak perempuan terlihat di jendela ruang tamu rumah seberang sedang memperhatikan Dita.
Mobil Jeep Hijau datang dan terparkir di halaman seberang Dita dan Anan.
Sepasang suami istri turun dari mobil tersebut dan menyapa Anan. Dalam bahasa inggris yang fasih mereka saling berbincang.
"Jadi anda tentangga baru di sini? halo namaku Kate, ini suamiku Jhon," ucap perempuan berambut warna cokelat itu seraya menjabat tangan Anan lalu menjabat tangan Dita, begitu juga dengan suaminya.
"Mainlah ke rumah kami nanti malam, anggap saja sebagai jamuan makan malam sebagai acara sambutan selamat datang untuk kalian," ucap Kate.
"Boleh yanda, nanti aku buatin rendang sapi untuk mereka," bisik Dita ke Anan.
"Boleh, kami akan pastikan kami hadir nanti malam, okay see you Kate, see you Jhon!"
Kate dan Jhon masuk ke dalam rumahnya sambil berangkulan.
"Bunda, itu kakaknya kok ngumpet?" Anta menunjuk ke dalam rumah tersebut.
"Mungkin malu, yuk ke dalam, bunda masak sup ayam enak buat Anta," ajak Dita.
"Kalau kamu mau buat rendang aku beli bahan-bahannya dulu nih," ucap Anan.
"Jauh gak supermarketnya?" tanya Dita.
"Ya sepuluh menit dari sini," sahut Anan.
"Aku ikut deh, sekalian beli bumbu-bumbu lainnya," ucap Dita.
"Anta juga ikut, Anta mau beli es krim di sana lagi ya yanda, tadi kan es krim nya enak banget," sahut Anta.
"Hmmm ya udah ayo!"
Anan menyalakan mesin mobilnya kembali untuk berangkat menuju supermarket.
***
Jerry bersembunyi di balik tubuh Tasya menuju kamar Granny Rose.
"Kamu yakin lihat sesuatu di kolong kasur, bukan ular kan?" tanya Tasya memastikan karena baginya bertemu ular besar jauh lebih menakutkan dari pada bertemu hantu.
"Itu wajah manusia Sya, aku lihat matanya merah menyala seperti senter, ih nakutin...!" ucap Jerry mendorong punggung Tasya pelan menuju kamar nenek Rose.
"Duh mana gak bisa panggil Pak Herdi lagi," gumam Tasya.
"Panggil siapa Sya?" tanya Jerry yang mendengar sekilas.
"Enggak, enggak panggil siapa-siapa kok," ucap Tasya seraya membuka pintu kamar Nenek Rose.
Tubuh nenek Rose terlihat melayang di atas ranjangnya.
"Sya... Itu si Granny kenapa?" tanya Jerry dengan nada suara gemetar.
Sosok hantu Samanta muncul dari kolong ranjang. Tangannya yang memperlihatkan kulit yang mengelupas sampai menunjukkan tulang hasta itu merangkak muncul dari bawah kasur. Suara gemericit kuku dan lantai membuat ngilu yang mendengarnya membuat Tasya dan Jerry menutup telinganya.
Hantu Samanta membalikkan tubuhnya menunjukkan wajahnya yang menyeringai dengan bola mata yang hampir keluar melotot pada Tasya dan Jerry.
"Tu- tuh - tuhkan... Ada han-han-hantu...!" Jerry menunjuk hantu Samanta dengan penuh gemetar.
"Kamu si-siapa?" tanya Tasya pada hantu Samanta.
"Siapa yang merawat Granny Rose?" tanyanya dalam bahasa negara Flower.
"Me..." Jerry menunjuk takut-takut.
__ADS_1
"Hmmm... kau pengganti suster Agata ya?"
Jerry mengangguk menjawab pertanyaan Samanta.
"Memangnya dia tak bilang tentang ku?!" bentak Samanta.
Tasya dan Jerry menggeleng bersamaan.
"Emang kamu kenal Sya sama suster Agata?" bisik Jerry.
"Enggak!"
"Terus kenapa ikut geleng kepala?" tanya Jerry.
"Reflek aja spontan ikut geleng, kan emang aku gak tau tentang dia, ya kan?" Tasya menoleh pada Jerry.
"Iya juga ya bener," gumam Jerry.
"Oke sekarang dengarkan aku! aku mau setiap pagi harus ada roti gandum dan susu cokelat di meja itu, lalu lilin aromaterapi lavender harus menyala, dan jangan nyalakan lampu kamar ini, cukup lampu tidur aja yang menyala jika sudah malam!" ucap Samanta memberi tahu kebiasaannya.
"Ba-baik besok akan saya siapkan," ucap Jerry masih dengan ucapan yang terbata-bata.
"Memangnya ini kamar kamu atau Granny Rose?" tanya Tasya memberanikan diri lalu di translate oleh Jerry.
"Ini kamarku! Nenek ini mengambilnya dari ku, dan sekarang kalian juga menambah ramainya rumah ini," keluh Samanta.
"Oh penunggu rumah ini dia," bisik Tasya pada Jerry.
"Hooh, mungkin tante Agata gak betah kali ya, makanya dia serahkan pekerjaan ini sama aku, huh awas aja kalau nanti suatu saat ketemu dia," Jerry memukul telapak tangan kirinya dengan tinjunya sendiri raut wajah kesal muncul di sana.
Hantu Samanta menghilang seketika.
"Kok kamu bisa lihat dia ya Ry?" tanya Tasya.
"Ih mana aku tahu, kamu sendiri kan juga bisa lihat dia, ya kan?"
"Aku mah udah biasa," sahut Tasya keceplosan.
"Hah udah biasa gimana Sya?" tanya Jerry.
"Ah rese kamu Sya!"
***
"Menjelang makan malam di rumah keluarga Jhon dan Kate, masakan Dita rupanya belum matang.
"Udah belum bunda?" tanya Anan.
"Dikit lagi, nunggu sepuluh menit lagi deh biar empuk," sahut Dita.
"Anta udah cantik kan?" tanya Anta pada Anan.
"Sudah, yang kepang rambut kamu kayak gini siapa?" tanya Anan.
"Lily, tadi dia yang kepang aku, bagus ya yanda?"
"Bagus, boleh juga tuh hantu buka salon hantu hihihi," gumam Anan.
"Awww... panas panas panas!" pekik Dita saat tangannya tak sengaja terkena asap yang keluar dari cooker pressure.
Anan langsung menghampiri istrinya itu sambil meniup tangan Dita yang terkena panas. Di bawanya tangan Dita menuju keran air dan membasahinya.
"Kalau pake cium pasti panasnya hilang," Dita memberi kedipan mata kanannya pada Anan.
"Hmm... kalau kayak gitu mah gak usah di minta juga emang mau banget nih aku cium nih..!" Anan menciumi tangan Dita lalu memeluk pinggangnya. Beralih dengan ciuman di sisi leher, pipi, dan seluruh wajah Dita. Anta ikut tertawa dan menghampiri kedua orang tuanya.
"Anta mau cium, Anta mau cium," pinta Anta.
Anan dan Dita langsung memberi serbuan cium pada Anta.
Mark yang baru pulang melihat ke jadian di dapur itu dan menghentikan langkahnya. Ada wajah takjub dan iri melihat kebahagiaan Anan bersama anak dan istrinya.
__ADS_1
"Hmm... kapan ya aku seperti mereka, apalagi punya istri seperti Dita, dia cantik sekali," gumam Mark mengamati Dita dengan seksama. Wanita yang tiba-tiba disukainya itu memakai gaun warna biru muda selutut. Warna yang senada dengan gaun yang di kenakan Anta. Sepatu heels mereka juga sama warna putih. Rambut Dita di jepit di bagian tengah dan sisanya di biarkan terurai dengan rapih.
"Hai Mark kamu udah pulang?" tanya Anan yang melihat sosok Mark hadir di dekat tangga dan melihat ke arah dapur mengamati mereka.
"Oh hai... kalian rapih banget, mau kemana?" tanya Mark.
"Tuan Jhon dan Nyonya Kate mengundang kami makan malam, apa kau mau ikut?" tanya Anan.
"Tuan Jhon dan Nyonya Kate? hei apa kau tau, tidak ada tetangga di sini yang mau bertandang ke rumahnya," ucap Mark.
"Mereka itu pasangan psikopat, anaknya saja ku dengar terbunuh di tangan ayahnya," ucap Mark.
"Apa kau yakin?" tanya Anan.
"Ya rumor mengatakan demikian, jadi berhati-hatilah jika kau mau kesana," Mark menepuk bahu Anan.
"Lalu anak perempuan di sana itu siapanya mereka?" tanya Dita yang sudah siap membawa daging rendang siap saji di tangannya.
"Oh itu anak yang mereka adopsi sekitar dua tahun lalu, dia tak pernah keluar sih, selain ke sekolah," ucap Mark.
"Oh begitu, jadi yanda bagaimana, kita jadi ke sana atau tidak?" tanya Dita.
"Kita kan diundang, dan sudah mengiyakan untuk hadir, kita ke sana aja, menghormati undangan tetangga, lagi pula semua berita tadi kan cuma rumor," ucap Anan.
"Ya udah yuk kita ke sana, oh iya Mark nanti bilang sama Tasya dan lainnya kalau mau makan malam rendang buatan aku ada di meja ya, silahkan menikmati," ucap Dita.
"Rendang? Rendang itu apa?" tanya Mark.
"Rendang itu masakan olahan daging sapi, yang dihasilkan dari proses memasak suhu rendah dalam waktu lama menggunakan aneka rempah-rempah dan santan, pokoknya enak banget nagihin," ucap Dita menjelaskan.
"Wah masakan kamu pasti enak ya, pastinya saya juga suka, beruntung banget Anan punya istri seperti kamu," ucap Mark memuji Dita.
"Hmmm... tolong ya kalau pandang istri saya jangan kayak gitu, apalagi muji-muji," ucap Anan yang langsung bergerak menghalangi pandangan Mark dari Dita. Anan berdiri di antara keduanya menatap tajam ke arah Mark.
Dita hendak menyentuh bahu Anan, ia takut cemburu Anan yang berlebihan kumat lagi. Namun, sebelum Dita menyentuh pundak suaminya tersebut Anan sudah berkelakar.
"Takut ya?" Anan menunjuk wajah Mark yang pucat dan takut Anan akan marah itu sambil tersenyum nakal.
"Hehehehe..." sahut Mark membetulkan posisi kacamatanya.
"Aku bercanda kok, tapi tetep aja aku gak suka ya kamu puji istri saya cuma niat mau godain," ucap Anan sedikit mengancam Mark.
"Hahaha ya enggak lah, biasa aja kok, masa istri orang saya godain," Ucap Mark lalu melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.
"Oke bun ayo kita ke rumah tetangga!" ajak Anan.
"Bawain dong yanda daging rendangnya," pinta Dita.
"Yanda, bunda tunggu bentar ya, Anta mau bawa Lily," pinta Anta segera menaiki tangga menuju kamarnya.
"Gelang kamu standby kan?" tanya Anan menoleh pada gelang di tangan Dita.
"Kamu takut juga ya, ya kan? kamu mau pastiin aku bisa panggil Pak Herdi kalau kita kenapa-kenapa ya kan?" Dita. mencolek pipi Anan.
"Aku sih gak takut kenapa-kenapa, aku cuma takut kamu sama Anta yang kenapa-kenapa, tapi enggak lah sepertinya tetangga kita orang baik kok, kan cuma rumor doang," ucap Anan mencubit hidung Dita dengan gemas.
Lagi-lagi Mark memperhatikan dari lantai dua mengamati adegan romantis Anan dan Dita yang menggemaskan dan membuatnya sangat iri.
******
Masih bersambung ya guys...
Jangan bosen-bosen untuk VOTE dan maaf ya kalau Vie mulai slowres balas komen-komen kalian tapi aku selalu like dan baca lho komen kalian sebagai penyemangat Vie untuk nulis. Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.
- WITH GHOST (UP)
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â Kakakku Cinta Pertamaku
(season 1 END, Season 2 - hiatus)
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â 9 Lives (END)
__ADS_1
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â Gue Bukan Player (END)
Vie Love You All 😘😘😘