
Hayo sebelum pada baca tolong ya tombol Likenya di pencet dulu, jangan lupa rate bintang lima. Lalu, kirimkan poin kamu untuk Vote, kirim koin juga boleh banget lho...
Happy Reading... 🥰😊
******
"Maaf ya, gak sengaja kena pipis Anta, nih tangannya aku balikin. Anta mah baik kok, sini Anta pasangin tangannya," ucap Anta berusaha menyambungkan kembali tangan anak kecil yang putus itu.
"Ya ampun, anaknya Dita... hiiiiisssshhh," ucap Tasya dengan jengkelnya.
"Yah, susah nih, kamu pegang sendiri ya, Anta mau naik lagi ke bus, dadah..." ucap Anta seraya melambaikan tangannya dan langsung naik je atas bus.
Logan sempat memperhatikan Anta dan langsung menanyakan pada Tasya.
"Ada apa dengan Anta?" tanya Logan yang tiba-tiba datang mengejutkan Tasya.
"Astaga, kamu bikin aku jantungan aja sih, ngagetin tau!" seru Tasya sambil memukul bahu Logan dengan kencangnya.
"Awww sakit, Sya!" pekik Logan.
"Tante, mau cuci tangan..." pinta Anta seraya menunjukkan kedua tangannya.
Tasya segera mengambil hand sanitizer di dalam tasnya untuk Anta.
"Dadah... sampai ketemu lagi ya," ucap Anta melambaikan tangannya pada para hantu di luar bus dari balik jendela.
"Astaga, mana tuh hantu serem-serem lagi," Tasya langsung menutup tirai jendela bus tersebut.
"Heh! kenapa masih bengong aja," Tasya menepuk paha Logan yang masih merasa bingung dengan penglihatannya pada Anta.
"Sebenarnya, Anta ngomong sama siapa sih?" tanya Logan.
"Yakin mau tau, nanti pingsan lagi hehehe, jangan deh nanti aja kalau sama Dita," ucap Tasya.
"Kalian biasa aja gitu kalau lihat yang serem?" tanya Logan.
"Gak sih awalnya juga aku takut sampe sekarang juga masih takut sih, kalau Anta udah kebal kayaknya gak ada yang dia takuti selain Tuhan sama orang tuanya," ucap Tasya melirik ke arah Anta yang sudah tertidur pulas.
"Aku pangku sini Anta biar nyaman, terus kamu geser," pinta Logan pada Tasya.
Pletak!
Pak Herdi memukul kepala Logan dengan sebuah jitakan keras.
"Awww, sakit ya!" pekik Logan memperhatikan sekelilingnya.
"Sebaiknya kamu kembali ke kursi kamu aja, daripada duduk sama aku," ucap Tasya yang melirik ke arah Pak Herdi. Pocong itu sudah di atas Tasya di tempat untuk menaruh tas dalam bus.
"Maksud kamu yang barusan pukul saya..."
Tasya langsung menganggukan kepalanya, menjawab pertanyaan Logan.
"Oh, baiklah saya kembali ke kursi saya aja," ucap Logan.
Tasya melihat lagi ke arah Pak Herdi di atasnya.
"Ada ya pocong yang muat duduk di sana, hadeh... ada-ada aja," gumam Tasya.
Pak Herdi menoleh ke arah Tasya sambil tersenyum.
Tiba-tiba seorang anak kecil yang bisa melihat sosok Pak Herdi langsung menjerit. Dia menunjuk Pak Herdi dengan raut wajah ketakutan dan menangis.
Tasya lalu menoleh ke arah anak laki-laki itu.
__ADS_1
"Hayo lho Pak Herdi, anak orang dibikin nangis, hayo lho..." bisik Tasya.
Pak Herdi langsung turun dan berjongkok di depan kursi Anta.
"Kok tuh anak bisa lihat saya, ya? biasanya cuma Anta doang yang lihat saya?" bisik Pak Herdi.
Padahal tanpa ia berbisik pun tak akan ada yang mendengar suara dia kecuali Anta dan Tasya.
Tasya lalu menoleh ke anak laki-laki yang masih menangis itu.
"Wah, badannya panas," ucap Logan menyentuh dahi anak tersebut.
"Iya, kalau dia sakit sampai demam tinggi, biasanya suka lihat penampakan hantu," sahut ibu si anak tersebut.
"Hahaha... yang benar saja bu, di zaman modern seperti ini kenapa Anda masih percaya dengan hantu," cibir Ms. Lucy.
"Sudah Lucy, jangan bicara seperti itu," pinta Logan.
Setelah diberi obat penurun panas yang ditempel di dahi anak tersebut, akhirnya anak tersebut mulai tenang. Apalagi Pak Herdi masih berjongkok di depan kursi Anta.
"Sampai kapan, nih? saya pegel juga nih," ucap Pak Herdi.
"Lagian biasanya juga ngilang terus muncul nunggu di panggil, eh ini kenapa masih di sini aja," celetuk Tasya.
"Saya gak mau kamu dekat-dekat sama Logan, jadi saya mau menjaga kamu," tegas Pak Herdi berucap.
Deg.
Tasya langsung melirik ke arah Pak Herdi dan memandangnya lekat. Pak Herdi mulai terlihat salah tingkah dan akhirnya meluruskan kakinya setelah lama menekuk saat berjongkok.
"Kamu ngapain sih ngeliatin saya kayak gitu?" tanya Pak Herdi.
"Emang gak boleh," tanya Tasya.
"Boleh sih, tapi saya jadi malu hehehe."
Namun, makin dilihat lebih dalam dan lebih dekat wajah Pak Herdi tiba-tiba berubah jadi wajah Doni yang tersenyum menatap Tasya.
Lho, kok? haduh... kenapa sih aku gak bisa move on dari Doni...
Tasya lalu menoleh ke arah lain demi menghindari tatapannya dengan Pak Herdi.
Pak Herdi sebenarnya mendengar apa isi hati Tasya, namun ia tak mau bicara apa-apa lagi. Ia biarkan gadis itu larut dalam pikirannya.
***
Doni mengetuk pintu rumah Anan di pagi itu. Wajah panik langsung menghinggapinya. Dari semalam ia tak dapat terlelap karena terus memikirkan sosok pria yang mirip dengannya.
Saat Anan membuka pintu, Doni langsung bergegas masuk ke dalam rumahnya.
"Wow, salam dulu baru masuk rumah," tegas Anan.
"Oh iya, saya ulang," ucap Doni lalu kembali ke luar rumah Anan dan masuk kembali dengan mengucapkan salam.
Anan malah tertawa memandang kepolosan Doni.
"Siapa, Yanda?" tanya Dita.
"Aku, Kak," sahut Doni.
"Oh, kamu, sini sarapan bareng!" ajak Dita.
"Bagus, makasih banget, saya kangen sama masakan Kak Dita.
__ADS_1
"Kamu kenapa Don, panik kayak gitu tadi mukanya?" tanya Anan.
"Gini, Pak, eh Kakak aja lah," ucap Doni lalu menceritakan kejadian janggal yang ia temui semalam terkait dengan Mitha.
Ia menceritakan dengan yakin sekaligus menyanggah keberadaan bayi dalam kandungan Mitha itu anaknya.
"Duh jadi kangen Om Item," ucap Dita.
"Emang kamu yakin itu Om Item?" celetuk Anan yang pernah di ceritakan Dita tentang sosok Lee suami Shinta yang sebenarnya keturunan Genderuwo.
"Lah iya juga ya, tapi kan cuma sejenis Om Item yang bisa merubah bentuk seperti manusia," ucap Dita.
"Lalu kira-kira siapa ya, Kak?" tanya Doni yang dengan lahapnya menyantap nasi goreng buatan Dita.
"Laper, Don?" celetuk Anan yang sedari tadi memperhatikannya.
"Iya, Kak hehehee enak banget sih!"
"Tenang Don, kalau mau nambah masih banyak tuh," tunjuk Dita.
"Gini aja kita coba selidiki ke sana kalau si Mitha sama Shinta gak ada di rumah, bagaimana?" Anan mencoba mengusulkan pendapatnya.
"Kamu yakin, Yanda? kalau itu makhluk ternyata ganas banget gimana?" tanya Dita.
"Wah iya ya, mana Ratu Sanca belum gede lagi, berati kita nungguin Pak Herdi," ucap Anan.
"Emang Pak Herdi kemana?" tanya Doni.
"Ikut Tasya sama Anta kemping ke Gunung Hijau," jawab Anan.
Brak!
Gebrakan tangan Doni di meja makan itu langsung mengejutkan Anan dan Dita yang langsung berpelukan .
"Kenapa sih, Don? ngagetin aja," protes Dita.
"Enak banget dong Pak Herdi menang banyak," geram Doni.
"Beuh... sama pocong aja cemburu," ucap Anan seraya menoyor kepala Doni dengan gemas.
"Kayak Pak Anan gak cemburu aja kalau Kak Dita di deketin Pak Herdi," ucap Doni bersungut-sungut.
"Ye, sembarangan, jelas-jelas gantengan saya di banding tuh Pocong, tanya aja Dita waktu saya pakai baju pocong itu juga dia kelepek-kelepek, belum pernah kan nyobain pakai baju pocong?" ucap Anan mencibir Doni.
"Idih, ogah! belum siap saya, Kak kalau disuru pakai baju pocong, mau ganteng kayak apa juga tetep aja hiyyy setan," ucap Doni bergidik ngeri.
Anan langsung menoyor kepala belakang Doni dengan kesal.
Dita hanya tertawa memperhatikan keduanya yang langsung terlibat adu mulut di hadapannya.
*******
Bersambung...
Mampir juga ke :
- 9 Lives (Jilid II - On Going)
- Diculik Cinta (On Going)
- With Ghost (END)
- Gue Bukan Player (END)
__ADS_1
- Kakakku Cinta Pertamaku (END - Musim Kedua hiatus 😁)
Vie Love You All... 😘😘😘