Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Kedatangan Sahid


__ADS_3

Sekedar pemberitahuan Giveaway pulsa 25rb buat 4 orang pemenang masih terus ya berlangsung. Nanti awal bulan aku kasih tau pemenangnya, makanya kumpulin POIN kalian buat VOTE ke Pocong Tampan.


Terima Kasih...


Happy Reading 😘😊


******


Pria itu kemudian berdiri dan melangkah masuk ke dalam toko roti. Saat ia membuka pintu toko tersebut, aura tampan memancar dari wajahnya. Bagai membawa lampu senter di punggungnya. Bagi Shinta pria gagah itu seperti layaknya matahari pagi yang sinar hangatnya menerpa tubuh Shinta.


Pria gagah itu menghampiri meja Shinta dan Dita. Ia lalu membuka suaranya dan menyapa Dita.


"Hai, Ta!" sapa pria itu.


"Sahid! Hai, apa kabar?"


Dita langsung menjabat tangan Sahid. Namun, tentu saja Sahid langsung memeluk Dita.


"I miss you so much!"


(Aku kangen banget sama kamu!)


Sahid makin erat memeluk Dita.


"Aduh, lepasin tolong sesek banget nih," ucap Dita berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Sahid dengan mendorong tubuh Sahid menjauh.


"Sebentar aja, Ta. Mumpung gak ada Anan," ucap Sahid.


"Heh, tapi ada aku, nanti aku aduin lho sama Anan," sahut Shinta dengan nada mengancam.


"Eh jangan dong, ini cuma salah paham, kok. Anan juga kenal sama Sahid," sanggah Dita.


"Ini siapa?" tanya Sahid.


"Hai, aku Shinta, temennya Dita." Shinta mengulurkan tangan kanannya pada Sahid.


"Idih ngaku temen, dekatnya juga baru, sih." Dita melirik tajam ke arah Shinta yang memasang wajah sumringah dan semangat sekali berkenalan dengan Sahid.


"Hai, aku Sahid, mantannya Dita."


"Heh, enak aja! siapa juga yang pernah jadian sama kamu," ucap Dita memukul bahu Sahid.


"Hehehe kan mengharap sedikit boleh lah..." Sahid menjabat tangan Shinta namun wanita itu tak jua melepaskan genggaman tangannya dari Sahid.


"Ini kok gak di lepas-lepasin, ya?" tanya Sahid berusaha menarik tangannya dari Shinta.


"Shinta! lepas dih, jangan ganjen-ganjen banget apa, heran dari dulu gak bisa lihat cowok bening dikit," hardik Dita seraya memaksa tangan Shinta lepas.


"Habisnya udah lama gak lihat cowok ganteng macam gini selain Anan," sahut Shinta menunjukkan senyum senangnya.


"Idih... ganjen!" cibir Dita.


"Ambil kursi tuh, duduk bareng sini!" Dita memberi perintah pada Sahid seraya menunjuk kursi di meja sebelahnya.


"Oke. Mas tolong pesanan saya di meja depan bawa ke sini ya," pinta Sahid.


"Baik, Pak."


"Kamu ngapain ada di negara ini?" tanya Dita.


"Aku cari kamu sampai sini."


"Sahid...."


"Aku bercanda, aku ke sini ada kerja sama dengan perusahaan Wave Corporation," sahut Sahid.


"Tunggu sebentar, kamu tadi bilang perusahaan apa?" tanya Shinta menegaskan kembali pendengarannya.


"Wave Corporation, kenapa memangnya?" Tanya Sahid.


"Itukan perusahaan tempat Mitha bekerja, kamu mau kerjasama di bidang apa sama perusahaan Mitha?" tanya Shinta lagi menegaskan sementara Dita menyimak sembari menghabiskan kue dan kopinya.

__ADS_1


"Ada kerjasama di bidang kuliner dengan perusahaan tersebut, nanti saya mau buat restoran di sini," ucap Sahid.


"Apa?" Dita yang terkejut langsung menyemburkan kopi di dalam mulutnya ke wajah Sahid.


"Eh maaf, maaf ya, habisnya kamu ngagetin aja mau buat restoran di sini," ucap Dita seraya menyeka kopi di wajah Sahid tersebut.


"Hmmm sungguh penyambutan yang wow banget dari kamu, Ta."


"Habisnya kamu sih, terus restoran kamu di negara Ginseng, gimana?" tanya Dita.


"Bangkrut, Ta. Di sana gak berkembang makanan dari Timur Tengah, kali aja kalau di sini restoran saya bisa berkembang."


"Tapi kamu tuh waktu di sana sudah merebut restoran burger Anan terus sekarang kamu juga mau jadi pesaing bisnis Anan, kan bikin kesel aja," sahut Dita.


"Memangnya kamu buka restoran di sini sama Anan?" tanya Sahid.


"Iya, dan lumayan berkembang."


"Ya maaf aku kan gak tau," ucap Sahid.


"Gak apa buka aja restorannya, nanti aku bantuin kamu," sahut Shinta dengan nada manja yang dibuat-buat.


"Ih... wanita ini, dasar..." Dita melirik kesal ke arah Shinta.


"Oh iya, gimana kabar Arga?" tanya Dita.


"Dia baik-baik aja, dia sehat, setau aku sih gitu, sekarang ikut ibunya liburan ke Pulau Baru," jawab Sahid dia berusaha tersenyum menyembunyikan kesedihannya.


"Hmmm... kamu kangen kan sama Arga?" terka Dita setelah mengamati raut wajah Sahid.


"Hehehe kelihatan ya kalau aku kangen banget sama Arga, kayak kangen aku sama kamu," ucap Sahid.


"Astaga nih orang masih belum kapok juga berantem sama Anan." Dita menepuk bahu Sahid.


Ponsel Dita kemudian berdering, rupanya Tante Dewi yang menghubunginya.


"Halo ya kenapa, Tante?" tanya Dita.


"Ada, memangnya kenapa Tante?"


"Ini anaknya nangis aja, habis makan daging ayam mentah satu ekor eh dia nangis aja nih, mungkin mau susu, di kasih susu Anta gak mau," ucap Tante Dewi.


"Ya iyalah masa anak bayi gitu dikasih susu Anta yang udah umur lima tahun, eh bentar Lee makan daging ayam mentah, yang bener?" tanya Dita yang tak percaya.


"Eh kamu ngomongin Lee anakku?" Shinta segera meraih ponsel Dita.


"Haish dasar wanita ini, belum pernah dijambak sama kuyang kali, ya."


Dita melirik ketus pada Shinta dan membuat Sahid tertawa melihat Dita.


"Halo, Ibu Dewi, ada apa sama Lee?" tanya Shinta.


"Ini nangis aja, kamu cepet pulang ya," pinta Tante Dewi lalu menutup sambungan ponselnya.


"Pulang yuk, Ta! anakku nangis aja katanya," ucap Shinta mengajak Dita pulang.


"Oke, yuk! eh makasih ya Sahid kamu udah bayarin pesenan kita semua," ucap Dita menepuk bahu Sahid seraya tersenyum.


"Hmmm benar-benar deh si Dita, eh minta alamat rumah kamu, dong?" pinta Sahid.


"Gak usah lah, nanti Anan marah," sahut Dita.


"Rumahnya seberang rumah aku, minta aja alamatnya sama Mitha," ucap Shinta.


"Oh, oke. Tapi beneran nih gak mau diantar pulang?" tanya Sahid.


"Lumayan Ta, tunjangan gratis kan sepuluh menit dari sini kalau jalan juga pegel," ucap Shinta.


"Iya juga ya, ayo deh antar kita pulang," jawab Dita.


"Nah, gitu dong. Aku kan jadi tau alamat rumah kamu," ucap Sahid dengan nada senang.

__ADS_1


"Shinta, itu beneran si Lee makan daging ayam mentah?" tanya Dita saat masuk ke dalam mobil Sahid.


"Iya bener, aku juga bingung kenapa tuh anak sukanya sama daging mentah, daripada di masak," sahut Shinta.


"Oh, persis ayahnya berarti, tapi gak pernah makan tikus selokan yang warna item botak gede-gede kan?"


"Ih apaan sih Dita, jijik banget ngomongnya, ya enggak lah, gak mungkin anak aku suka begituan," sahut Shinta.


"Ya kalau nurunin ayahnya mah biasanya doyan, hehehehe." Dita mencoba menggoda Shinta agar makin cemas dengan makanan kesukaan Lee yang hampir sama dengan Om Item.


"Kalian pada ngomongin apaan sih?" tanya Sahid.


"Ngomongin anaknya dia nih," tunjuk Dita ke arah Shinta yang masih merasa cemas dengan kondisi anaknya.


"Oh iya gimana kabar Anta, pasti makin cantik kayak kamu?" tanya Sahid.


"Jangan mulai deh..."


***


Tak lama kemudian, mobil sedan warna hitam milik Sahid sampai di halaman rumah Dita bersamaan dengan kedatangan mobil Anan.


"Heh, elo ngapain di sini?" hardik Anan.


"Hai Bro, apa kabar, Lo?" ucap Sahid seraya tersenyum meledek Anan.


"Gue bukan sodara Lu, jangan sok akrab deh. Bunda kamu ngapain naik mobil dia?" tanya Anan seraya menunjuk Sahid.


"Tadi gak sengaja ketemu di toko roti jadi sekalian antar aku sama Shinta soalnya Shinta udah panik dengar Lee nangis terus," jawab Dita yang langsung memeluk Anan berharap bisa meredakan emosi Anan dengan sentuhannya.


Shinta langsung masuk ke dalam rumah Tante Dewi dan segera meraih Lee untuk mendiamkan anak itu.


"Hai, Om Sahid!" sapa Anta saat melihat Sahid di halaman rumahnya.


"Halo Anta, duh makin cantik aja, Om kangen nih sama kamu," ucap Sahid seraya menyambut Anta dengan menggendongnya.


"Lepasin, lepasin! Anta gak boleh ya di gendong sama dia," ucap Anan seraya meraih Anta dari tangan Sahid.


"Yanda kenapa sih, kok marah-marah gitu?" tanya Anta.


"Yanda gak suka ya kalau kamu dekat sama si Onta ini," ucap Anan.


"Hadeh... udahan deh ributnya, Sahid mendingan kamu pulang deh, biar Anan tenang dulu," ucap Dita.


"Oke deh, aku juga lagi malas ribut sama si sipit ini," ucap Sahid.


"Eh apa kamu bilang?"


"Yanda, udah ih tahan emosinya ada Anta gak pantes dilihat sama Anta," ucap Dita berusaha menenangkan Anan.


"Dah Sahid udah sana pulang!" ucap Dita.


"Dadah Om..." Anta melambaikan tangannya pada Sahid.


"Oke, Bye..." Sahid masuk ke dalam mobilnya dan melaju pergi.


******


Bersambung...


Mampir juga ke :


- 9 Lives


- Diculik Cinta


- With Ghost


- Forced To Love


- Kakakku Cinta Pertamaku

__ADS_1


Vie Love You All... 😘😘


__ADS_2