Pocong Tampan

Pocong Tampan
The Wedding (Part 4)


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍😊


***


Bak putri raja yang menuruni tangga di dampingi sang ratu, Dita terlihat sangat cantik dan anggun.


"Serius itu punya Anan om?" Ucap Anan lirih di samping Kevin.


"Cantik ya Nan, beruntung banget kamu." Sahut Kevin.


"Iya dong om, Anan gitu lho."


"Tapi om lebih beruntung Nan, om sudah mendapatkan seorang ratu mendampingi om." Kevin meraih tangan Tante Dewi dan mencium punggung tangan Tante Dewi.


"Ehm ehm...." Ucap Anan melirik Tante Dewi yang membiarkan Kevin mencium tangannya.


"Iya mas, udah ya di lepas malu tau." Ucap Tante Dewi.


"Nah ini pujaan hati kamu, silahkan di ambil." Ucap mami Aiko menggoda Anan sembari memberikan tangan Dita ke telapak tangan Anan.


"Makasih mami." Sahut Anan.


Anan menggenggam tangan Dita menuju pesta kebun melanjutkan acara potong kue pengantin yang tadi tertunda. Potongan kue pertama di berikan pada sang mami. Berikut nya pada Tante Dewi dan pak Kevin. Pesta masih berlanjut sampai sore tiba.


"Pak bos ini si Shane telpon nanti dia ke lokasi bareng James." Bisik Doni.


"Wah hampir lupa gue, terus gimana dong ini aja siang pertama gue gagal masa nanti malam juga gagal?"


"Terserah bos sih, coba ngomong dulu sama kak Dita." Ucap Doni.


"Oke deh, tapi di hotel xx kan?" Tanya Anan.


"Iya bos kamar 1010 lantai sepuluh."


"Oke Lo urus deh nanti shane sama James jangan lupa obatnya Lo bawa biar mereka mabok dan bisa jawab semua dengan jujur."


"Beres bos." Doni segera pergi menarik lengan Anita menuju hotel xx untuk mempersiapkan jebakan bagi Shane dan James.


"Ta ayo ikut!" Ucap Anan menarik Dita.


"Mau kemana?"

__ADS_1


"Kamar."


Anan menarik Dita menuju kamar pengantin secara sembunyi-sembunyi padahal Kevin tau gerak- gerik Anan namun dia membiarkan Anan melakukannya, Kevin hanya tersenyum sambil menghalangi Tante Dewi agar tak melihat Anan.


"Wuidih cakep banget ini kamar." Ucap Anan yang terpesona dengan dekorasi kamar pengantin berhias tirai cantik berwarna merah muda di atas ranjangnya dan tirai jendela yang berwarna senada. Lilin - lilin aromaterapi menghiasi sekeliling kamar serta ribuan kelopak bunga mawar yang bertabur manja di atas ranjang pengantin Anan dan Dita.


"Tante Dewi sama mami yang dekor keren ya?"


"Ayo Ta buruan!" Anan sudah membuka jas nya bersiap membuka kancing kemeja satu persatu.


"Ya ampun, jadi narik-narik buru-buru mau ngajakin kaya gini." Dita menepuk dahinya.


"Nih ya masih inget rencana mau jebak Shane dan James ?" Tanya Anan di jawab anggukan kepala oleh Dita.


"Nah Doni berhasil kontak mereka dan mereka bakal datang nanti malam di hotel xx lantai sepuluh yang sudah aku pesan."


"Ya udah hayo kita ke hotel buat jebak mereka." Ajak Dita menuju lemari pakaian nya untuk mengambil baju ganti.


"Lah terus urusan sore pertama aku gimana?" Ucap Anan.


"Sore pertama?" Tanya Dita heran.


"Ya kalau nungguin malam pertama kelamaan Dita sayangku."


"Tapi kalau buru-buru gak seru nanti lho."


"Terserah deh sini aku bantuin buka gaunnya." Anan menghampiri Dita lalu melepas gaun yang melekat pada tubuh Dita menyisakan pakaian dalam ditubuh dita yang warnanya senada dengan tirai. Anan menahan tawanya.


"Siapa yang pilihan Ta?" Tanya Anan.


"Semua pakaian Hari ini yang milih Tante Dewi emang kenapa?"


"Coba lihat Tirai jendela sama tirai di ranjang." Ucap Anan masih menahan tawanya.


"Waahhh kok sama sih." Dita menutup tubuhnya segera dengan kedua tangannya.


"Sana jangan liatin aku, aku kan malu." Rengek Dita.


"Ya udah sih gak apa-apa, lepas semua aja malah bagus." Anan mencoba menggoda Dita sambil membuka kemejanya, badan tegap dengan perut penuh roti sobek itu terpampang nyata menggoda Dita.


"Ahhh kamu mah jadi laper kan mau ngunyah roti sobek kamu, tunggu ya aku lepas perhiasan dulu yak, ribet banget nih." Sahut Dita tak sengaja gelangnya bergemerincing mendatangkan Pak Herdi.


"Apa ada yang bisa saya bantu?" Ucap pak Herdi sambil menahan senyumnya melihat Anan dan Dita di hadapannya yang hampir saja memulai pertarungannya sore itu.


"Ini kenapa tofu basi pakai nampak kesini sih." Anan merentangkan tubuhnya menutupi Dita agar tak terlihat pak Herdi.


"Kan saya dipanggil sama Dita barusan." Jawab lak Herdi.


"Hehehe Dita gak sengaja pak bunyiin gelangnya." Dita meraih gaunnya menutupi tubuhnya itu.

__ADS_1


"Oh ya udah gak apa-apa." Sahut pak Herdi tak beranjak.


"Terus ngapain Lo masih disitu tofu basi?" Pekik Anan dengan kesalnya mendorong pak Herdi menuju jendela kamar.


"Kalau kamu butuh bantuan kan saya siap membantu menyan."


Sahut pak Herdi sambil tertawa melirik ke arah Dita sedikit sehingga membuat Anan makin marah dan mendorongnya jatuh dari jendela langsung mendarat ke dalam kolam renang.


"Nah sukurin Lo persis gedebong pisang hanyut di kali hahaha."


"Ayo Ta terusin awas ya mikirin pak Herdi datang lagi." Ancam Anan yang langsung menerkam Dita membawanya ke atas ranjang pengantin.


****


"Dita mana ya?" Tante Dewi mencari Dita celingukan.


"Sudah ditarik Anan menuju kamarnya." Sahut Kevin sambil tersenyum menyeruput minumannya.


"Astaga masih sore gini jam setengah lima lho udah gak sabaran banget si Anan."


"Dulu juga kita gitu Lis, gimana mau ikutan juga ke kamar?" Kevin menggoda Tante Dewi dengan lirikan matanya.


"Ah tau amat lah aku mau mandi." Tante Dewi bergegas menaiki tangga menuju kamarnya takut jika Kevin mengikutinya ke kamar.


***


Ponsel Aiko berdering.


"Iya yang mulia ada apa gerangan menghubungi ku?" Tanya Aiko.


"Bagaimana apa jiwa-jiwa kesukaanku sudah bersatu?" Tanya yang mulia pemilik sekte yang Aiko ikuti dari sebrang sana.


"Hari ini mereka menikah, semoga saja mereka cepat di karuniai anak yang bisa dijadikan media sang ratu untuk hadir kebumi." Ucap Aiko.


"Bagus, jangan lupa berikan kalung penjaga itu pada anak perempuan mu agar kita bisa selalu memantau keberadaanya dan makin menguatkan dirinya dengan sang ratu."


"Baik yang mulia akan saya pastikan Dita memakai kalung pemberian dari ku."


"Nah sekarang kembalilah dulu kau kesini jalankan ritual seperti biasa disini, aku membutuhkan mu sebagai pendampingku."


"Baik yang mulia saya akan kembali." Aiko menutup ponselnya.


****


To be continued...


Happy reading buat semua pembaca jangan lupa vote nya yak kan Vie sedih kalau ada yang minta up terus dan crazy up tapi gak pernah nge vote si Pocong Tampan ini...


Nah terus tiap bab nya di like dari awal jangan sampai ke skip...

__ADS_1


Mampir juga ya ke 9 lives...


Nb: Di episode 200 nanti Vie akan mengadakan GA lagi neh... Kira-kira hadiahnya apa ya?😊😊😊


__ADS_2