
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
Tiba di rumah Andri itu mengingatkan Tante Dewi akan kenangan pahit pertama kali dan terakhir kali nya ia menginjak kan kakinya di sana. Namun kenangan pahit itu segera ia tepis tatkala melihat Andara di gendongan ibundesi, ibunya Andri. Seorang suster seusia ibunya Andri mendorong ayahnya Andri yang duduk di kursi roda akibat struk yang di deritanya pasca kecelakaan tempo dulu. Ia keluar dari dalam rumahnya menyambut kedatangan ibu Desi dan Andara.
Meski kesulitan berbicara, ayah Andri rupanya masih ingat dengan Tante Dewi saat Tante Dewi mencium punggung tangan ayahnya Andri. "Apa kabar pak? semoga sehat selalu ya pak." ucap Tante Dewi yang di balas anggukan dengan senyuman oleh pak Handriawan ayahnya Andri.
Ibu Desi menunjukkan cucu perempuan cantiknya itu pada suaminya.
"Ini Andara pak, cucu kita putrinya Andri." ucapnya sambil menahan tangis yang jatuh dari matanya.
Pak Handri berusaha menyentuh kepala cucunya, ibu Desi mengarahkan Andara mendekat ke wajah pak Handri agar menciumnya.
"Sekarang Andara sama kita ya pak, nanti Dewi sama temen-temen nya Andri, ada nak Dita ada Anan bantu merawat Andara kesini."
"Sa.. sa... sandra ma.. ma.. mana..?" ucap pak Handriawan terbata-bata.
"Sandra.... sudah pergi pak menyusul Andri." ucap Ibu Desi lirih dan akhirnya air mata tak tertahankan jatuh juga di pipi ibunya Andri.
Pak Handriawan langsung menangis mendengar penuturan ibu Desi. Mereka lalu saling berpelukan dan mencium Andara.
"Andri kalau nangis ya nangis aja di pundak ku tapi jangan pake ingus dong." sahut Anita mencoba menepis Andri.
"Maaf Nit, gue pengen peluk mereka juga jadinya." Andri menghamburkan diri memeluk kedua orangtuanya dan anaknya.
"Kamu juga Nit, jangan di pundak ku juga dong." bisik Dita.
"Eh iya Ta, kelepasan hehehe." Anita menyeka air mata nya dari pundak Dita.
__ADS_1
"Kamu juga Ta kenapa tangan aku jadi peperan ingus kamu." ucap Anan melirik Dita.
"Hehehehe... sama Nan kelepasan, sedih Nan soalnya." jawab Dita menyeka air mata dan ingusnya.
"Dita jorok ih kebiasaan." sahut Tante Dewi
Srooot... semburan ingus Tante Dewi mendarat keras di sapu tangan nya.
"Samanya nih Tante pelan-pelan kek, banyak banget kayaknya tuh ingus." sahut Dita.
Andri lalu berbalik melanjutkan menangis sambil memeluk Tante Dewi dari belakang.
"Kok aku engap yak?" tanya Tante Dewi "Kayak ada yang gelayutan di leher aku nih."
"Emang aku monyet apa Bi, gelayutan!" Andri menepuk punggung Tante Dewi.
"Tuh kan ada yang dorong aku." bisik Tante Dewi ke Dita.
Anan dan Dita malah tertawa melihat Tante Dewi yang ketakutan.
Tante Dewi, Dita dan Anan serta Anita dan Andri masuk mengikuti ibu Desi ke dalam rumah.
"Silahkan duduk, saya mau taruh Andara di kamarnya dulu, Dewi mau ikut?" tanya ibu Desi.
"Boleh Bu."
"Aku ikut boleh Bu?" tanya Dita.
"Boleh mari silahkan." ajak ibu Desi dengan senyuman.
"Mbok tolong teh sama kuenya di keluarin yak." Bu Desi memerintahkan asisten rumah tangga yang di dapur untuk menjamu para tamu.
Dita dan Tante Dewi memasuki ruangan serba hijau yang menghiasi kamar bayi tersebut. Lengkap dengan ranjang bayi berwarna hijau dan gantungan memutar di atas ranjangnya. Lemari bayi di sudut ruangan juga berwarna hijau.
"Ini semua Sandra yang buat, dia bilang suka warna hijau katanya netral supaya cocok dengan anaknya kalaupun lahir laki-laki atau perempuan." ucap ibu Desi.
"Bagus banget Bu, adem lihatnya." jawab Tante Dewi.
__ADS_1
"Iya bener, lucu ih gantungannya bisa muter."
"Dita ih norak."
"Lucu soalnya Tante, gak pernah liat mainan kaya gini waktu Ali bayi paling cuma kecrekan."
"Ali?"
"Adik aku Tante, dia meninggal bareng ibu pas kecelakaan." sahut Dita mendadak sedih.
"Oh maaf ya Ta, bukan maksud aku buat ingetin kamu kejadian itu."
"Iya Tante enggak apa-apa kok."
"Maaf, ibu titip Andara ya, mau bikin susu, ini kayaknya lapar." ucap ibu Desi meletakkan Andara pada ranjangnya bayinya.
"Cup cup sayang jangan nangis yak." Tante Dewi menggoyangkan pelan ranjangnya agar Andara tenang tak menangis.
"Awas lho Tante nanti nangis dedek Andara nya." goda Dita.
"Makanya jangan sampe nangis Ta, bantuin sini."
"Dita." seorang perempuan mendadak muncul di belakang Dita menepuk bahunya.
"Aaaaaaaaaaa." pekik Dita terkejut mengagetkan Andara yang langsung menangis keras.
"Dita dedeknya jadi nangis nih." ucap Tante Dewi panik menggendong Andara.
"Sini aku gendong."
"Ta ini kok Andara melayang sih?" ucap Tante Dewi takut.
"Hehehe itu Tante ada kak Sandra lagi gendong Andara." sahut Dita.
"Sandra....?"
BRUK...! Tante Dewi jatuh tak sadarkan diri.
__ADS_1