
Please Vote sebelum membaca... 😊
***
"Bangun Ta subuh." Anita mengguncang tubuh Dita yang masih pulas.
"Jam berapa Nit hooaaammm."
"Jam setengah lima, aku mandi dulu yak."
Anita berlalu ke kamar mandi rumah Doni.
"Ta bangun woi, dia lanjut lagi tidur nya kelitikin juga nih."
"Anan mah geli tau."
Anan mendekatkan wajahnya pada wajah Dita membuat Dita tersipu dengan detak jantung yang berdegup makin kencang. Anan menyentuh bibir Dita dengan ibu jarinya.
Duh Anan mau cium aku lagi nih kayaknya, deg degan mampus aku ini...
"Enggak kok Ta, itu di sudut bibir kamu kerak iler yak?" Ucap Anan membuat Dita gusar dan mendorong Anan menjauh.
"Awas lho aku solatin nih sekalian kirimin Yasin." ucap Dita kesal lalu pergi menyusul Anita ke kamar mandi rumah Doni.
"Hahahhahaha gitu aja marah."
"Dasar lontong kisut kasian anak perawan udah dibikin sawan subuh-subuh." sahut Andri.
"Ah ngintip aja luh tempe angus, elu mau ikut jamaah?" tanya Anan ke Andri.
"Emang bisa? panas kaga badan kita?"
"Lah bukan panas aja makin gosong kali badan Luh wkkwkwkwkwk."
"Sue Luh." Andri menarik ikatan pocong dikepala Anan dengan kesal.
***
"Gimana Don, Aden udah pergi kan?"
"Udah Ta, eh sejak kapan elo kaya Kang Ujang suka liat begituan."
"Ah enggak juga kok cuma sekilas aja bisa ngerasain, tapi kamu diem-diem aja yak gak usah lebay ngomong ke Anita tau sendiri kan Anita."
"Oh ok siap Ta, gue simpen rahasia elo, eh omong-omong makasih ya untung elo ikut kesini."
Dita tersenyum ke Doni lalu membantu Anita membawa bekal yang sudah disiapkan Ambu untuk mereka santap di jalan.
Anita melirik arloji ditangannya pukul setengah enam tertera namun rasanya kampung Doni masih terasa gelap sekali masih minim cahaya matahari.
"Kita pamit ya Abah dan Ambu." ucap Dita yang mencium punggung tangan keduanya
hal yang sama juga dilakukan Anita dan para supir ambulance. Doni memeluk keduanya lalu menghampiri mobil ambulance.
"Kamu gak mau tidur disini Don?" Anita menunjuk keranda bekas di pakai Aden.
"Sembarangan elo ngomong baek-baek kesambet isi keranda Lo hiyyy..."
__ADS_1
"Tutup Ta tutup pake kain itu anggep aja meja buat kita ngopi."
"Apaan sih lo Nit gak jelas mau nakutin malah takut sendiri."
Akhirnya mobil ambulance mereka pergi menjauh dari kampung Doni.
Sepuluh menit berlalu dari perjalanan sepertinya ada hal aneh yang menghinggapi pak sopir.
"Kayanya kita nyasar deh bang." ucap Pak sopir Saidi pada Doni.
"Lah si bapak gimana masa kita sampe sini, ini kan hutan terlarang pak gak boleh dimasukin." ucap Doni agak kesal.
"Lah saya mah perasaan bener deh jalannya tapi kok sampe sini yak."
"Mas gimana sih, piye iki lho?" sahut kenek satu lagi yang bernama Joko.
"Emboh iki, berenti sek yok, neng warung kae." ucap Pak Saidi pada Joko.
"Kok kita berhenti sih?" tanya Anita.
"Coba kita turun." ajak Dita.
"Ta... kalian masuk ke alam lain lho hati-hati." ucap Anan.
Andri melingkarkan tangannya di lengan Anan.
"Kenapa elo yang takut tempe angus? gentleman dong, malah takut."
"Bawaan manusiawi Nan, serem juga ni hutan."
"Manusiawi? elo aja udah jadi hantu."
"Husss udah pada diem." sahut Dita.
"Kenapa Ta, aku dari tadi belum ngomong apa-apa kok." Anita heran dengan Dita.
"Bukan kamu jangkrik itu lho aku suruh diem."
"Dih gak jelas."
sungut Anita.
"Kita sarapan di warung itu dulu neng sekalian tanya jalan." ucap Pak Saidi.
"Oke lah, pengen ngopi saya juga." sahut Doni.
Seorang perempuan cantik berbadan sintal dengan kebaya pas-pasan datang dengan senyum mereka.
"Cakep juga tuh cewe." sahut Andri.
"Ah playboy tengik dasar." sahut Anan.
"Mbak sendirian disini?" tanya Joko.
"Enggak kok tuh sama nenek saya." jawabnya.
"Enggak takut mbak sendirian disini? serem lho mba gak ada rumah lagi, perasaan saya disini hutan deh." ucap Doni menyantap pisang goreng di atas meja warung itu.
__ADS_1
"Masa sih? disini udah banyak rumah Kang, tapi agak jauh-jauh biasanya juga pendaki gunung sama orang sebrang yang mampir sini."
Ucap perempuan itu sambil mengaduk kopi untuk Doni, pak Joko dan Pak Saidi.
"Mie goreng ada mbak?" tanya Anita.
"Ada, mau pake telor?"
"Boleh." Anita duduk disamping Doni.
Dita masih mengamati sekeliling, ditengoknya arloji ditangannya yang tak bergerak masih menunjukkan pukul setengah enam pagi.
"Kayaknya jam aku rusak deh apa abis baterenya." gumam Dita.
"Kamu ngapain Ta?" tanya Anan.
"Mau tanya orang lewat masa sepi banget sih Nan."
"Kan aku udah bilang ini alam lain mana ada orang lewat."
"Astagfirullahaladzim... terus warung tempat mereka makan itu jangan-jangan warung setan."
"Tuh liat mbaknya itu senyum ke arah Andri kan, berarti dia bisa lihat Andri."
"Yudah yuk samperin mereka Nan."
Dita tak bisa lagi berjalan mendekati warung itu, seolah ada pembatas yang seperti kaca membuatnya tertahan disitu.
"Gimana ini Nan?"
"Coba cari kuncen deket sini ayok buruan."
Dita berusaha berteriak memanggil mereka yang sedang bersantai di warung itu namun mereka tak mendengar akhirnya Dita memutuskan untuk berkeliling bersama Anan mencari kuncen setempat.
"Semoga aja aku masih bisa nolong mereka Nan."
"Aamiin ayo buruan Ta, itu lagian si Andri mentang-mentang cewe cakep kok gak peka itu setan."
"Tau tuh playboy tengik, padahal kan masih cakep aku ya Nan?"
"Iyalah cakep kamu kemana tau."
Anan menggenggam tangan Dita menaruh keduanya di dada Anan.
"Pokoknya Ta, buat aku kamu tuh paling cantik."
Cup
Anan mencium kening Dita.
Dita tersenyum membiarkan tangannya tergenggam.
"Astagfirullah Nan kita ngapain coba romantis an kaya gini, kan kita mau cari rumah kuncen sini buat nolong mereka hayok ah buruan." Dita menepis genggaman tangan Anan.
"Khilaf Ta, kebawa suasana hehehehe."
****
__ADS_1
To be continued
Happy Reading...