
Dear readers tersayang... Jangan lupa sebelum membaca di Like and komentar di babnya. Kalau sudah habis membaca jangan lupa juga buat Vote pakai poin kalian buat dapetin Giveaway dari Vie.
Terima kasih and Happy Reading. 😘😊
*******
Tante Dewi mengajak Dita, Anta dan Tasya pergi ke Mall Kota yang dekat dari apartement. Mereka hendak membeli gaun pernikahan untuk Tasya, stelan jas untuk Doni, dan seragam yang sama untuk lainnya.
"Tante, pindah parkiran aja deh," ucap Dita pada Tante Dewi yang hendak melajukan mobilnya menuju basement.
Dita teringat pada para hantu korban kebakaran mall yang tempo hari ia lihat.
"Terus mau parkir di mana?" tanya Tante Dewi yang menghentikan laju mobilnya tiba-tiba.
"Di seberang sana aja!" tunjuk Dita.
"Hmmm... nyape-nyapein aja nih," gerutu Tante Dewi tapi tetap saja menuruti kemauan Dita.
"Emang kenapa sih, Ta?" tanya Tasya.
"Mau kamu ketemu hantu gosong semua apa gak ada kepalanya?" tantang Dita.
"Oh... iya Tante, Dita bener kita parkir di sana aja!" Tasya ikut menunjuk karena ia juga takut kalah bertemu dengan hantu yang Dita sebutkan tadi.
"Bunda, Anta laper nih..." ucap Anta seraya memegangi perutnya yang mulai konser.
"Sama, Bunda juga. Anta mau makan apa?" tanya Dita.
"Spaghetti..." jawab Anta.
"Gaya banget, ajak makan gado-gado lah apa ketoprak gitu," sahut Tasya.
"Nanti Anta mau coba, sekarang Anta mau spaghetti, sama burger, sama kentang, es milo, es krim strawberry, sama..."
"Stop! Tante paham kamu sama Bunda kamu sama aja pasti menu makanannya banyak," ucap Tante Dewi memotong pembicaraan Anta yang langsung meringis bersama Dita.
Memasuki Mall Kota, mereka sudah disambut dengan para sales promotion girl yang berlomba-lomba memberikan brosur ponsel dengan fitur terbarunya.
"Gak ada yang nawarin Anta mainan gitu apa boneka," gumam Anta.
"Ada," sahut Tante Dewi.
"Mana?" tanya Anta.
"Tuh, Bunda kamu, minta aja sama dia, hehehhee..."
Anta langsung mengangkat kepalanya mendongak lalu menatap wajah ibunya dengan tampang memelas.
"Hadeh... kompor banget dah Tante Dewi. Ke sini kan mau cari baju bukan mainan," gerutu Dita.
Brug!
Seorang wanita yang menjinjing dua tas belanja dan sedang terburu-buru itu menabrak Dita.
"Aduh, maaf ya Mbak saya gak lihat," ucapnya.
"Mbak Pia..." sapa Dita yang mengenali wajah tersebut.
"Nyonya Dita? anda kembali lagi ke sini?" sahut Pia balik menyapa.
"Kamu bukannya di kampung?" tanya Tante Dewi.
"Nyonya Dewi juga di sini, apa kabar?" Pia memeluk Dita dan Tante Dewi bergantian.
"Hai, Pia!" tegur Tasya.
"Hai, Tasya... duh senangnya bisa ketemu kalian lagi," ucapnya.
"Kamu kerja apa di sini?" tanya Dita.
"Sa-saya kerja... umm... sebentar maaf mau angkat hape aku bunyi," ucap Pia.
__ADS_1
Wanita itu bergeser menjauh saat menerima panggilan pada ponselnya. Lalu ia kembali dengan wajah bingung dan terlihat gugup.
"Maaf semuanya aku harus segera bergegas, sekali lagi aku mohon maaf ya, dah semuanya..." Pia pamit Lalu bergegas pergi.
"Buru-buru banget, belum juga ngobrol panjang," gumam Tasya.
"Udah biarin, jangan kepo! kita masuk butik itu yuk!" ajak Tante Dewi.
Setelah memilih-milih gaun di dalam untuk tersebut akhirnya pilihan Tasya jatuh ke gaun pengantin yang di pegang Dita. Gaun dengan model beaded flapper-style gown itu terlihat sangat klasik. Pilihan warna yang lembut yaitu putih tulang membuat gaun klasik itu tampak sempurna. Di bagian lapis terluar terbuat dari brokat Prancis dengan motif unik. Di bagian kerah juga unik yaitu langsung seperti jaket. Tasya tampak terlihat cantik saat mencoba gaun tersebut.
"Cantik banget... Nih yang ini jas pengantin buat Doni, bagus kan?" tanya Tante Dewi yang di jawab
anggukan oleh semuanya.
"Buat seragam kita, pakai dress biru pastel ini aja tante, ada yang buat ukuran anaknya juga tuh," tunjuk Dita.
"Boleh, cantik tuh!" ucap Tante Dewi.
"Oke, semuanya aku yang bayar," ucap Tasya.
"Lho ini kan mahal banget Sya, lima puluh juta lebih lho totalnya," ucap Tante Dewi.
"Aku kan punya tabungan, dapet hadiah warisan juga dari hantu Maria, inget kan? kalian tuh udah berjasa banget buat aku, selalu ada buat urusin aku dan bantuin aku, sebentar lagi aku akan menata hidup baru dengan Doni, yang berati aku mau mandiri sama Doni, gak bergantung sama Dita, Anan, Tante Dewi. Jadi, anggap aja ini hadiah seragam sebagai rasa terima kasihku buat kalian."
Tasya menyeka bulir bening yang tak sengaja terlepas begitu saja dari kedua matanya.
Dita dan Tante Dewi langsung menghamburkan diri memeluk Tasya.
"Anta ikutan peluk..." ucap Anta.
"Eh, gaun eyke rusak itu, belum dibayar pula duh gusti..." tegur si penjaga toko.
"Tenang aja say, aku ambil yang ini, jas hitam ini sama seragam semuanya, aku bayarnya gesek atm ya," ucap Tasya.
"Oh... Siap deh kalau begitu, yuk bungkus..." ucapnya.
"Tante Tasya, Anta boleh gak minta mainan sekalian, hehehe..."
"Ya, ya, ya, ya... oke kita lanjut beli mainan," ajak Tasya.
"Sya..." Dita dan Tante Dewi mengucap bersamaan.
"Apa, sih?" Tasya meboleh.
"Ganti baju dulu lah, masa iya kamu pakai gaun itu keliling mall?"
"Oh, iya hehehe hampir lupa, habis gak sabar sih jadi pengantin," ucap Tasya
***
Anan, Doni dan Andri pergi ke KUA untuk mendaftarkan pernikahan Doni untuk besok. Setelah pulang dari sana, mereka mampir ke lokasi syuting Andri. Hari ini Andri akan melakukan pemotretan untuk iklan sabun cair pria di produk yang sama dengan merek iklan shampo sebelumnya.
"Andri, nanti kamu pakai kemeja ini, jangan dikancing ya, terus pose seksi tunjukkin abs kamu," ucap Pak Sutradara.
"Katanya ada model cewek-cewek seksi, Pak?" tanya Andri antusias.
"Ada dong, mereka bakal nemenin kamu di kolam busa, terus main air, tembak-tembakkan sama para modelnya, ada tiga model cewek nanti," sahutnya.
"Asik..."
"Eh, itu dua cowok ini siapa?" tanya Pak Sutradara menunjuk Anan dan Doni.
"Temen saya, Pak."
"Model, bukan?"
"Bukan, Pak. Orang biasa, masa tampang kayak gitu model," ucap Andri mengejek Anan dan Doni yang langsung menatapnya tajam.
"Tapi saya suka sama wajah mereka, kalian sini!" Pak Sutradara memanggil Anan dan Doni yang langsung mendekat.
"Kalian mau jadi model? saya kasih satu juta buat masing-masing?"
__ADS_1
"Tapi kita bukan model, Pak," sahut Anan.
"Udah nanti diajarin, tinggal liat Andri aja main tembak-tembakkan busa sama cewek-cewek, mau ya?"
"Lumayan, Pak Bos. Buat tambahan saya bayar KUA besok," pinta Doni berbisik di samping Anan.
"Hmmm... oke deh itung-itung bantuin kamu," jawab Anan.
"Yah... kalau gue bersanding sama elu mah kalah ganteng dah gue," sahut Andri.
Akhirnya mereka sudah mengenakan kemeja pantai tanpa kancing dan bersiap memasuki kolam busa yang sudah disiapkan di tengah jalan besar yang sudah disewa selama syuting.
"Astaga... Pak banyak yang ngeliatin gini saya malu," ucap Anan masih berusaha menutup dada bidangnya.
"Iya saya malu," sahut Doni.
"Udah sih pede aja nih kayak gue," ucap Andri lalu dengan bangganya membuka kemejanya dan membuat para penonton wanita berteriak histeris.
"Hadeh, punya temen sombong banget gak ketulungan," celetuk Anan.
"Don, Doni, kok kamu gak nyahut?" tanya Anan yang menoleh pada Doni. Pria di sampingnya itu terpana melihat keseksian tiga orang wanita dengan pakaian minim berlenggak-lenggok melintas di hadapannya memasuki kolam renang busa.
"Woi! biasa aja liatnya, besok mau kawin juga, malah kegoda lagi ntar sama tuh cewek-cewek," ucap Anan mengusap wajah Doni dengan telapak tangannya.
"Cakep, Pak. Bening banget tau, ckckkc."
"Kalau kamu ikut aku ke Club House, bakalan lebih banyak yang bening dari itu," ucap Andri.
"Eh, jangan coba-coba ya kamu meracuni Doni ke Club House, awas lho!" ancam Anan.
"Hmmm... mulai deh sok muna nih Anan."
Andri langsung diberi pukulan di kepala belakangnya oleh Anan.
"Hai aku Lia, ini Desi, ini Santa," sapa salah satu model perempuan itu yang begitu terpesona melihat wajah Anan.
"Hai, gue Andri, ini Anan, ini Doni, kita kerja sama ya main air," ucap Doni.
Selama proses syuting berlangsung terlihat keriuhan dari para penonton yang mencoba mengintip proses syuting meski sudah dicoba di halangi oleh crew.
Berkali-kali terlihat Lia mencoba menggoda Anan yang selalu bersikap datar dan sinis. Sementara Andri berusaha mengajari Doni untuk menikmati proses syuting tersebut.
Mobil Tante Dewi terjebak kemacetan di proses syuting Andri tersebut.
"Ada apaan sih, rame banget?" gumam Tasya.
"Tapi nih rese banget, coba kita minggir dulu, Tante mau lihat keadaan."
"Anta mau beli es cendol itu, Bunda!" tunjuk Anta.
"Oke, Bunda juga haus, yuk turun beli es cendol," ucap Dita.
*******
Bersambung...
Stay safe, stay health buat semuanya. Jangan lupa selalu cuci tangan dan pakai masker kalau ke luar rumah.
Mampir juga ke :
- 9 Lives
- Diculik Cinta
- With Ghost
- Forced To Love
- Kakakku Cinta Pertamaku
Vie Love You All... 😘😘
__ADS_1