
Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up... Vie mohon dong, mohon banget... jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...
Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh...
Happy Reading...
******
Anan dan Dita membawa kantong hitam berisi monster cacing yang membeku tadi ke arah restoran pizza milik Tuan Worm.
"Apa-apaan ini, mau apa kalian kemari?" tanya Tuan Worm yang terkejut melihat kedatangan Anan dan Dita.
"Apa-apaan? nih yang apa-apaan, masih mau ngelak juga tuan?"
Ucap Anan dengan geramnya membanting tubuh monster cacing yang sudah mati membeku itu di hadapan tuan Worm.
"Aku tak mengerti, aku tak mengerti yang kau letakkan ini," Tuan Worm berusaha menyangkal.
"Sudahlah Tuan Worm, aku muak dengan kebohongan anda. Lihat ini para cacingmu ini kan yang menyebabkan luka seperti ini kepadaku dan pemilik restoran sebelumnya?" Gertak Anan.
"Mana aku tahu, sudahlah kalian pergi dari sini atau ku panggilkan polisi!" Ancam Tuan Worm.
"Butuh bantuan, Ta?" Tanya Pak Herdi yang melirik ke arah Dita.
"Butuh... sini!" Dita menarik tangan Tuan Worm saat pundaknya di sentuh tangan Pak Herdi.
"Ap-apa itu? monster atau hantu?" Pekik Tuan Worm menunjuk ke arah Pak Herdi.
"Lebih menakutkan dari monster cacing anda," ucap Dita.
Monster cacing yang menempel di dinding restoran tuan Worm turun dengan gerakan melata menghampiri sepupunya yang mati membeku. Ia berubah menjadi seorang manusia bertubuh perempuan.
"Ini pasti ulah Ratu Sanca," gumamnya.
"Bukan ini ulah dia," Ucap Dita menunjuk ke arah Pak Herdi.
"Monster macam apa itu?" tanya si cacing.
"Bukan monster, ini hantu pocong yang paling kuat di dunia," ucap Dita membanggakan Pak Herdi.
Sementara Anan menahan tawanya melihat kelakuan Pak Herdi yang bergaya seperti superman.
"Kalau dia bisa membuat saudara mu ini mati, maka kau berhati-hatilah menjaga diri," ucap Dita mengancam.
"Aku... Aku... maaf tuan Worm aku harus pergi, aku tak bisa membantu mu lagi."
Perempuan cacing itu menghilang dan pergi begitu saja.
"Jadi bagaimana Tuan Worm, kau masih berusaha mengelak tak tau apa yang terjadi?" Tanya Anan.
"Aku, maafkan aku... huhuhu... Aku hanya ingin terkenal dan lebih kaya, aku mengikuti saran kawanku Paijo untuk memelihara cacing sialan itu."
"Tapi kau menyebabkan kematian pemilik restoran yang lama, dan kini kau mencoba membunuhku kan secara perlahan?" Tanya Anan dengan wajah geramnya.
"Aku tak mengerti, aku tak mengerti apa yang kau maksud membunuh?" tanya Tuan Worm.
"Ini, lihat ini!" Anan menunjukkan luka di kulitnya yang membusuk dan mengeluarkan belatung dari sana.
__ADS_1
"Kok ada lagi ya yanda, tadi kan udah di obati?" tanya Dita dengan wajah heran.
"Belum ada efeknya bun." Sahut Anan.
"Aku benar-benar tak mengerti dengan ucapan kamu, aku memang menjalankan pizza ini dengan bantuan monster cacing itu, tapi aku tak mengerti dengan yang terjadi pada tubuh mu dan pemilik restoran sebelumnya," ucap Tuan Worm.
"Ta, sepertinya dia tak berbohong," sahut Pak Herdi.
"Lalu apa yang menyebabkan Anan seperti ini?" Gumam Dita.
"Tidakkah itu seperti sihir hitam, dia menginginkan tubuh si penderita lalu membuatnya membusuk agar bisa terserap ke dalam tubuhnya. Tubuhnya akan menjadi lebih kuat dan bahkan abadi," ucap Tuan Worm yang membuka sebuah buku ilmu hitam yang dia ambil dari lacinya.
"Coba lihat," pinta Dita meraih buku tersebut dan mengamatinya.
"Ada yang menginginkan tubuhku?" Tanya Anan dengan suara lirih.
"Ini bisa di obati dengan bantuan mutiara hitam dan jantung Ratu Sanca..." Ucapan Dita terkesan sedih.
"Nah kalian harus mencari Ratu Sanca, temukan mutiara hitamnya makin banyak makin bagus untuk mengobati suamimu," ucap Tuan Worm meyakinkan.
" Jadi gimana, Ta?" tanya Pak Herdi.
"Saya gak tau pak, kita kembali ke restoran dulu yanda, aku pinjam buku ini. Dan ingat buatlah pizza yang bersih dan enak jangan yang banyak cacingnya, awas ya!" Ancam Dita.
Tuan Worm hanya menunduk ia ketakutan juga saat di perlihatkan sosok pocong Pak Herdi.
Lalu Dita keluar dari restoran pizza tuan Worm bersama Anan. Logan datang mengejutkan Dita dan Anan. Dia datang ke sana untuk menjemput ayahnya.
Dita saling sapa dengan Logan. Perempuan itu baru sadar kalau Logan memakai kalung benang merah yang liontinnya berbandul mutiara hitam dan satu gigi taring yang tajam.
"Hai, wah tumben sekali malam begini kalian mengunjungi ayahku?" Tanya Logan.
"Iya begitulah, ayahku ada di dalam kan?"
"Ada, oke kalau begitu kami duluan ya," ucap Dita seraya melambai pada Logan begitu juga dengan Anan.
"Bagaimana Logan bisa dapat mutiara hitamnya ya?" tanya Dita dalam hati saat melangkah menuju restoran Anan.
"Kamu kenapa bun bengong begitu sampai kesandung?" tanya Anan.
" Ummm aku lagi mikir nih, kamu lihat Logan pakai kalung mutiara hitam sama gigi taring enggak?" Tanya Dita.
"Enggak, memangnya kenapa?" tanya Anan.
"Dia tuh pakai kalung mutiara hitam sama gigi taring, persis gigi tajam milik monster cacing," ucap Dita menjelaskan.
"Wah... jangan-jangan dia lagi yang menjadi pelaku sihir hitam itu, bun."
Anan menuduh Logan begitu saja.
"Yah bisa jadi sih, tapi kita enggak punya bukti kuat buat nuduh dia," sahut Dita.
"Lalu...?"
"Tetap awasi dia, apa kita kirim hantu Lily buat awasi dia?" Dita mencoba memberi ide.
"Nanti Anta marah, Lily kan tugasnya jagain Anta."
__ADS_1
"Tapi kan sudah ada Tasya dan Jerry," ucap Dita.
"Terserah kamu aja deh, ayo pulang aku mau mandi nih gatel!" Anan menarik lengan Dita menuju ke mobilnya.
***
Malam itu setelah Dita mengantar Anta yang tidur pulas di samping Anan, ia melihat Tasya sedang termenung di sisi kolam. Dita menghampiri gadis tersebut seraya membawa dua minuman cokelat dalam kemasan karton. Tasya sedang memandangi bulan dan bintang dari sisi kolam renang saat Dita menghampiri gadis itu.
"Gimana seru gak ke Fun Fair-nya?" Tanya Dita.
"Hmmm bete banget, udah banyak hantu, terus aku ketemu Doni dan keluarganya. Dan yang lebih sakit hati si nenek lampir pakai menghina aku segala lagi, Ta." Tasya menepuk air kolam renang dengan kakinya.
"Nenek lampir?"
"Itu Shinta si nenek lampir. Dia banding-bandingin aku sama istrinya Doni." Tasya bersungut-sungut menceritakan pertemuannya dengan Shinta.
"Hmmm udah biasa aku mah dengernya kalau mulut dia pedesnya sampai level sepuluh."
"Oh iya Ta, kenapa ya kalau enggak ada kamu atau Pak Herdi aku tuh takut ketemu hantu?" Tanya Tasya.
"Hmmm bilang aja mau dijagain Pak Herdi, iya kan?"
"Emang boleh?"
"Nih." Dita menyerahkan gelang di tangannya dan memberikannya pada Tasya.
"Ini buat aku?" Tanya Tasya.
"Aku pinjemin, kan sekarang aku udah sama-sama Anan, kemanapun aku akan mengikuti Anan hehehe. Lagi pula ada Ratu Sanca, nanti aku minta di jagain Ratu Sanca ah, semoga dia bisa keluar dari restoran."
Dita juga menceritakan pertempuran Pak Herdi melawan monster cacing bersama Anan.
"Wah seru banget, coba tadi aku ada di sana," ucap Tasya menyimak.
Dita juga menceritakan kecurigaannya pada Logan dan idenya untuk mengirim Lily untuk mengawasi Logan.
"Aku punya ide lain, Ta." Tasya melirik ke arah Dita dengan senyuman.
"Ide apa?"
Tanya Dita yang di buat penasaran dengan pernyataan Tasya.
*****
Masih bersambung ya guys...
Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.
- WITH GHOST (UP)
- Kakakku Cinta Pertamaku
season 1 END
- 9 Lives (END)
- Gue Bukan Player (END)
__ADS_1
Vie Love You All 😘😘😘