
Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...
Happy Reading semoga makin suka 😊😊😊
*****
"Bu apa dia bawa pistol?" bisik Ken pada Ibu Eva saat melihat akting Dita seolah-olah menyembunyikan pistol di belakangnya.
"Bisa jadi, kamu harus waspada," Bu Eva mencoba menghampiri Dita perlahan-lahan mau menangkap Dita, tetapi Sahid sudah bergerak cepat menyekap ibu Eva dari belakang. Tangan kiri Sahid menahan tangan wanita itu sementara tangan kanannya pura-pura menunjuk bagian pinggang wanita itu seperti sebuah pistol.
Melihat tindakan Sahid, Anan tak jadi menghampiri sel Pak Herdi dan berjaga di samping Sahid.
"Bunda kamu buka ikatan Anta!" pinta Anan.
"Tolong jangan ceroboh, pistol mu itu bisa membunuhku," ucap ibu Eva.
"Aku tak perduli jika perempuan jahat seperti mu terbunuh huh!" sahut Sahid.
"Ja-jangan ku mohon...."
"Jika kau tak ingin ku bunuh, maka cepat lakukan apa yang di perintahkan perempuan ini!" ucap Sahid dengan suaranya yang berubah menjadi berat.
"Kamu buka pintu sel itu!" Dita menunjuk Ken agar mengikuti perintahnya.
Ken menatap bu Eva yang mengangguk. Ken pun menurut akhirnya.
Dita segera melepas Anta saat Ken membuka kunci sel yang menyekap Pak Herdi dan Arga.
"Bunda..." Anta memeluk Dita.
Saat Ken ada di dalam sel, Pak Herdi langsung meninju Ken sampai tersungkur di lantai dalam sel.
"Ayo Arga kita keluar dari sini!" ucap Pak Herdi meraih tangan Arga yang sangat terlihat lemah melangkah.
Pak Herdi segera mengunci sel tersebut.
"Hei lepaskan aku!" ucap Ken.
"Rasakan gantian ada di dalam wlek..." ucap Pak Herdi menjulurkan lidahnya.
Arga lalu tak sadarkan diri di samping Pak Herdi. Sahid yang panik terlupa dengan aktingnya lalu menghampiri Arga dengan segera.
Ibu Eva bergegas kabur dari gudang namun Anan sudah siap menendang ibu Eva. Sayangnya Anan tak bisa menyentuh Ibu Eva sehingga terlepas begitu saja. Ibu Eva lari ke dalam hutan dan bertemu dengan Suku Ro.
"Ah dasar lontong kisut, gitu aja sampai lepas padahal waktu saya yang jadi hantu saya hebat lho," Pak Herdi mencibir Anan.
"Lagian siapa juga yang betah jadi hantu kayak gini, elu aja kali yang betah," balas Anan dengan nada ketusnya.
Anta menarik tangan Anan dan Pak Herdi menuju meja pemujaan. Anta meraih air dalam mangkok emas berukir naga di sekelilingnya. Anta menyiramkannya air tersebut pada Anan dan Pak Herdi.
"Yanda sama Om pelukan," pinta Anta.
Anan dan Pak Herdi menatap Anta tak mengerti.
"Idih yanda gak mau peluk dia nanti yanda gatel-gatel," ucap Anan.
"Idih siapa juga yang mau pelukan sama kamu, langsung sakit kulit saya," cibir Pak Herdi.
"Bisa gak sih gak pakai ribut, apalagi di depan Anta, hah?!" Dita menepuk-nepuk tangannya di hadapan Pak Herdi dan Anan.
__ADS_1
"Kan dia duluan..."
"Udah yanda... Udah... sekarang turutin Anta, coba kalian pelukan!" pinta Dita .
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Pak Herdi dan Anan berpelukan. Keduanya bertukar wujud kembali seperti semula. Anan kembali menjadi manusia sementara Pak Herdi berubah menjadi hantu pocong kembali.
"Bunda, aku kembali," ucap Anan yang langsung di beri pelukan oleh Dita.
"Ah...yanda syukurlah..."
Anta juga langsung memeluk Pak Herdi setelah merentangkan kedua tangannya tapi tak berhasil mendapat pelukan dari bundanya.
"Eh lupa Pak Herdi sini aku peluk, boleh kan yanda," ucap Dita.
"Ya udah."
Dita menoleh tak percaya, Anan membiarkan Dita memeluk Pak Herdi. Mendengar ucapan Anan yang tak di sangka-sangka itu, Pak Herdi langsung menarik tangan Dita dan memeluknya.
"Bentaran doang udah jangan lama-lama lepas pak!" pinta Anan.
Pak Herdi juga menarik tangan Anan dan memeluknya.
"Ih lepas lepas gue jijik tau!" ucap Anan.
"Kapan lagi saya peluk," ucap Pak Herdi makin kencang memeluknya dengan senyuman jahil.
"Ini mah nyakitin ala pelukan the rock, awww lepasin pak!" Anan berteriak kesakitan.
"Udah pak Herdi kasian lepasin yandanya aku," Dita mencoba melepas tangan Pak Herdi dari pelukannya ke Anan.
"Hehehehe habisnya gemes," sahut Pak Herdi.
"Ummm maaf bisa bantu saya, badan Arga semakin panas ini," ucap Sahid lalu ia membopong Arga menuju mobilnya.
"Oh iya ayo kita buru-buru kita bawa Arga ke rumah Sakit, yanda gendong Anta ya," ucap Dita
Lalu Pak Herdi menyusul Sahid bersama Dita dan Anan.
Sebelumnya pak Herdi menghentikan langkahnya dan menoleh ke hantu Mina dan Ibunya yang terkejut melihat perubahan Pak Herdi. Keduanya saling berpelukan ketakutan.
"Kalian gak usah takut sama saya, saya hantu juga, tapi beda ya sama hantu yang lain?"
Kedua hantu itu mengangguk.
"Oke, ku beri kalian satu kekuatan... duh kayak om jin saya," ucap Pak Herdi menghampiri hantu Mina dan ibunya.
"Nah kalian bisa mengganggu dia, saya serahkan pria jelek itu pada kalian, terserah mau di apain hahahaha," tawa Pak Herdi menggema seraya ia berlalu menyusul Dita.
Di dalam sel dalam gudang, Ken bersusah payah untuk mengeluarkan dirinya dari balik jeruji. Hantu Mina dan ibunya mendekati Ken dan menganggu pria besar itu. Mereka menampakkan dirinya di hadapan Ken tanpa kepala bahkan saling bertukar kepala. Pria besar itu langsung meraung-ruang ketakutan, ia berteriak di dalam gudang yang sepi itu tanpa seorang pun bisa menolongnya kala itu.
***
Anan menggantikan Sahid menyetir mobilnya.
"Kok berhenti yanda?" tanya Dita.
"Jembatannya..." ucap Anan.
"Udah lewat aja, bismillah," ucap Dita.
__ADS_1
Kabut pekat itu menghilang kini terlihat jelas para hantu yang memblokade jalan di jembatan besar itu. Para hantu yang tak utuh bagian tubuhnya itu menghadang mobil yang di kendarai Anan. Mereka melangkah terseok-seok. Ada juga yang merangkak dengan tangannya karena tak berkaki, bahkan ada yang merayap dengan perutnya karena tak mempunyai kaki dan tangan lagi.
"Ayo Nan, tunggu apa lagi?" tanya Sahid yang tak bisa melihat para hantu itu lagi seperti tadi.
"Lu udah gak bisa lihat ya? itu banyak banget hantunya di depan mobil kita," sahut Anan.
"Ah masa sih, perasaan sepi gitu terang benderang gak ada kabut lagi," ucap Sahid.
"Ada hid, banyak banget tuh hantunya , ah elu mah gimana sih dikasih liat cuma bentaran doang kayak gitu tuh jadi gak guna kalau di tempat kaya gini," Anan mencibir Sahid.
"Pada berisik aja ya," Pak Herdi menepuk bahu Sahid entah mendapat kekuatan dari mana sehingga Pak Herdi dapat membuka mata batin Sahid kala itu.
"Wuaaaaaaaa itu rombongan zombie dari mana?"
"Itu bukan zombie, itu hantu, hantu yang di bantai suku Ro," ucap Dita.
"Gimana nih bunda?" tanya Anan menoleh pada Dita.
Dita gantian menoleh ke arah Pak Herdi yang duduk menyilangkan tangannya ke ketiaknya.
"Hmmm..."
"Jadi gimana?" tanya Dita, Anan dan Sahid bersamaan.
"Lah kenapa pada nunggu saya, saya aja bingung mau ngapain," ucap Pak Herdi.
"Haisshhh kirain aku udah hmm hmm gitu mau kasih saran apa ide yang harus di lakuin, huuuuuu!" Dita menarik ikatan kepala Pak Herdi saking kesalnya.
"Wah ngelunjak Dita," Pak Herdi merapikan lagi ikatan pocongnya bercermin melaui spion.
"Anta punya ide... kita buummm semua," ucap Anta.
"Maksudnya apa tuh Bunda?" tanya Anan.
"Kata Anta kita tabrak aja semua," sahut Dita menjelaskan.
"Oh... terus mereka buyar gitu kabur?"
"Ya enggak tau," sahut Dita mengangkat bahunya.
"Oke semuanya pegangan, yanda mau full ngegas nih nabrak semua," Anan bersiap.
"Nan, lihat itu!" Pak Herdi menunjuk ke arah depannya ke sesuatu yang berada di balik para hantu.
"Astagfirullah... cobaan apa lagi ini..." Dita memeluk Anta yang duduk di pangkuannya lebih erat.
*****
Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...
Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.
- WITH GHOST
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â 9 Lives (END)
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â Gue Bukan Player
__ADS_1
Vie Love You All 😘😘😘