Pocong Tampan

Pocong Tampan
Dia Lagi...


__ADS_3

"Tolong saya..."


Hantu itu berucap lirih yang hanya bisa di dengar Dita.


"Ta, Dita kamu gak papa kan? jangan bengong gitu kesambet loh."


"Ayo Nit, buruan." Dita menarik Anita berjalan dengan langkah cepat menuju wahana kolam renang Pak Herdi.


"Kenapa sih Ta, capek tau."


"Udah buruan..!!"


"Ih kesambet kali nih orang."


Dita dan Anita tiba di tempat kerjanya dilihatnya Pak Herdi, Kang Ujang, Doni dan Tante Karin beserta ibunya sudah ada disana.


"Dari mana kamu Ta?" tanya Pak Herdi melihat ke khawatiran di wajah Dita.


"Kamu gak papa kan?"


"Syok kali pak tadi kita abis liat korban kecelakaan ih serem tus dia langsung kesambet jalannya cepet banget."


"Dita ... Dita kamu gak papa kan?" Pak Herdi mengguncang bahu Dita menyadarkannya.


Dita tiba-tiba memeluk Pak Herdi dan menangis.


Semua orang disana menatap heran namun Kang Ujang tau ada sosok menyeramkan mengikuti Dita memantaunya dari gerbang sana.


"Kamu syok nih pastinya, ambilin air anget Don!"


Doni langsung menuju pantry menuruti perintah pak Herdi.


"Serem banget ya Nit?"


"Banget pak, kelindes truk kepalanya ancur ih astagfirullahaladzim ngeri banget." Anita merinding bergidik ngeri menceritakannya.


Pak Herdi berusaha menenangkan Dita membawanya duduk di kursi teras taman depan wahana.


"Minumnya mana Kang?" Pak Herdi menoleh pada kang Ujang.


Kang Ujang meraih segelas air dari Doni dengan mulut berkomat kamit lalu memberikannya pada pak Herdi.


"Minum dulu biar tenang."


Tiga tegukan cukup menenangkan Dita saat itu. Dita mencoba menarik nafas dalam - dalam sambil melihat ke arah Kang Ujang yang mengerti dengan apa yang Dita rasakan.

__ADS_1


"Makanya lain kali kalo ada orang kecelakaan gak usah sok sok an mau liat takut kan akhirnya." Pak Herdi membelai kepala Dita dengan lembut.


"Dita udah mendingan?" Tanya Tante Karin yang ditangannya membawa sebuah bolu pandan.


"Udah Tante, maafin Dita yak hiks hiks." ucapan Dita masih sesenggukan terdengar.


"Kamu gak bilang sama saya kalo mau undang mamanya korban kemarin?"


Pak Herdi berbisik pada Dita.


"Maaf pak, Dita lupa, aku cuma mau korban di doain di sini biar tenang." jawab Dita pelan.


Suara adzan terdengar berkumandang dan Kang Ujang memimpin solat berjamaah di musholanya. Menyisakan Tante Karin dan ibunya serta Anita yang sedang berhalangan kala itu.


Lalu mereka mendoakan agar arwah Jessie tenang disana berdoa dengan kepercayaan yang mereka yakini.


Di teras taman wahana Jessie muncul menghampiri ibunya. Jessie menggandeng tangan Ibu dan Neneknya itu meski mereka tak bisa merasakan kehadiran Jessie.


"Terimakasih ya nak Dita atas jamuan nya."


Ucap Tante Karin yang tubuhnya dipeluk Jessie dari belakang.


"Iya Tante sama-sama aku juga makasih udah bisa main kesini."


"Makasih udah doain Jessie." Tante Karin menyeka air matanya.


"Dita akan selalu doain Jessie kok Tante."


Dita mengecup punggung tangan Tante Karin dan ibunya sebelum mereka pamit.


"Makasih ya kak, udah bikin aku ketemu Mama." Jessie memeluk Dita kali ini.


"Ya sama-sama, terus kamu udah tenang belum?" Dita membelai kepala Jessie.


"Aku mau ikut ujian dulu kak, dua bulan lagi kan ujian, boleh yak?"


"Sudah kuduga, anak pinter kaya kamu mana mau pergi gitu aja, ibarat tidur gak bakal nyenyak kalo belom kesampaian kan?"


Jessie mengangguk.


"Anan mana yah? yaa ampun gelangnya lupa aku pakai tadi." Dita menepuk jidatnya.


"Anan....." Dita memeluk Anan yang akhirnya datang dihadapannya.


"Kamu kenapa sih?" tanya Anan heran.

__ADS_1


"Tadi aku syok liat hantu lagi jijik banget kenapa sih semua hantu suka banget Deket Deket aku."


"Terus kamu nyesel? nyesel dideketin aku, Jessie sama yang lain?"


Jessie menatap tajam Dita menunggu jawaban dari sana.


"Enggak kok aku gak nyesel hehehe, emang udah takdir ku kali yak."


"Kakak itu galak aku takut." Jessie menunjuk kearah Tania yang sedang berdiri memainkan rambutnya.


"Gak papa udah jinak tadinya juga kakak takut eh taunya dia baik banget, ya Tania ya?"


Tania melotot kearah Dita lalu berlalu hilang di dalam kamar mandi.


"Tuh kan galak."


"Udah tenang aja nanti juga baik, kamu belajar gih."


"Pake apa kak?"


"Ke ruang pak Herdi ada laptop kamu pake itu, bisa kan?"


"Oke aku kesana."


"Jessie,,, jangan ngacak-ngacak yak!"


Jessi tersenyum kearah Dita mengangguk dan menghilang.


"Hantunya cowok yak?" ucap Anan.


"Kok kamu tahu Nan."


"Kepalanya kroak, matanya satu yang satu ilang, tus mukanya sebelah ancur, ya kan?"


"Kok kamu tahu tadi kamu disana ya? kok kamu gak nolongin aku sih." Dita menguncang-guncangkan tangan kanan Anan yang dia pegangi sedari tadi.


"Kaya gitu bukan hantunya?" Anan menunjuk hantu pria pengendara motor tadi yang sudah berdiri di depan teras rumah Dita.


Dita memeluk Anan, menenggelamkan wajahnya pada punggung Anan tak mau melihat ke arah hantu itu.


***


Tobe continue...


Happy Reading...

__ADS_1


__ADS_2