
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
"Pak Herdi.....!!!" Dita memeluk sosok pocong dihadapannya itu. Dilihatnya badan tegap Pak Herdi dengan kain kafan yang membalut tubuhnya persis seperti penampakan Anan saat pertama kali Dita bertemu hanya saja kafan Pak Herdi yang menutupi tangannya lebih panjang daripada Anan dulu.
"Lihat Ta, tangan aku utuh lagi hehehee."
Pak Herdi bangga menunjukkan tangannya yang utuh.
"Iya tangan bapak balik lagi, kok bapak bisa disini? pasti gak tenang deh mau cari pembunuh bapak?"
"Kok tahu Ta?" tanya Pak Herdi.
"Udah ketebak pak, alasan arwah-arwah penasaran kaya bapak gini, Anan juga gitu." ucap Dita terlepas begitu saja sosok Anan dari mulutnya.
"Anan? maksud kamu dia juga arwah penasaran?"
"Awalnya pak, tapi sekarang jadi manusia dia masuk ke dalam tubuh kembarannya dan cuma punya waktu sebentar sekitar dua bulan lagi."
"Jadi kamu jatuh cinta sama hantu?"
"Iya pak hehehe." ucap Dita malu.
"Pak, hai aku Anita, masih inget kan?" sapa Anita Kepa pak Herdi yang langsung melongo melihat Anita.
"An...Anita.. kamu hantu penasaran juga?" tanya pak Herdi.
"Bukan pak, saya cuma mau jagain Dita eh taunya pas saya datang lagi kesini Dita udah punya dua hantu yang jagain, si Anan sama Andri." sahut Anita sambil tersenyum menghampiri pak Herdi.
"Andri...?"
"Iya pak, tapi Andri sudah kembali ke alamnya sudah selesai tugasnya di dunia ini, tinggal saya deh sama Anan sama bapak juga yang bakal jagain Dita hehehe."
"Oh iya bapak pasti kesini mau lihat Pak Kevin yak?" tanya Dita.
"Iya bagaimana ya keadaannya?"
"Kita keruangan nya aja tanya Tante Dewi Ta." ucap Anita.
"Ide bagus, tapi aku mau beli cemilan dulu kan tadi, yuk kita kesana." sahut Dita menuju mesin Snack di depannya.
"Pak Dita boleh tanya gak?" tanya Dita sambil memilih beberapa biskuit, chiki dan minuman di mesin makanan cemilan dihadapannya.
"Tanya apa Ta?"
"Kenapa bapak kasih aku harta bapak mana lima puluh persen lagi, aku kan bukan siapa-siapa bapak?"
"Kamu satu-satunya orang yang saya percaya Ta, dan satu-satunya orang yang saya cintai sekarang ini." pak Herdi menatap Dita penuh cinta.
"Ya ampun bucin banget dah ah bos ku, pantesan Anan minta nikahin Dita buru-buru." sahut Anita.
__ADS_1
"Menikah?" pak Herdi menoleh ke Anita dan Dita bergantian.
"Iya pak, jika tak ada halangan Minggu depan aku akan menikah dengan Anan."
"Rupanya memang saya harus merelakan kamu yak, tapi saya boleh kan selalu di sisi kamu buat jagain kamu Ta?"
"Cieeee Dita galau..." Anita menggoda Dita.
"Boleh sih pak tapi kalau ada Anan jaga jarak yak, nanti dia ngamuk."
"Hahahhahah saya malah suka itu Ta." pak Herdi tertawa sambil membayangkan seorang Anan mengamuk.
"Ta, tolong terima ya warisan dari saya tolong jangan kamu tolak, saya yakin kamu bisa memanfaatkan nya dengan baik, dan bisa berbagi dengan yang lain." ucap pak Herdi dengan nada serius kali ini.
"Iya Ta udah terima aja, setelah jerih payah kamu seorang diri paling enggak saat Anan pergi kamu juga punya harta buat diri kamu dan anak kamu nanti." sahut Anita.
"Anita kok bikin aku tambah sedih sih, aku bakal kehilangan kalian semua dong terus buat apa aku kaya huaaaaaaa...." Dita terduduk di lantai dekat mesin makanan cemilan di rumah sakit itu.
"Mbak, mbaknya enggak kenapa-napa kan?" tanya seorang office boy yang sedang melintas dihadapan Dita.
"Enggak kenapa-napa mas, cuma lagu sedih aja huaaaaahuaaaa."
srooootttt Dita menarik ujung kausnya mendekat ke hidungnya lalu meremas bekas ingus yang mendarat di sana.
"Tuh ilfil kan pak sama kelakuan jorok Dita?" ucap Anita yang melihat pak Herdi memandang Dita terkejut.
"Iya enggak nyangka ya Nit hehehe."
"Pokoknya aku gak mau kehilangan kalian, aku gak mau." Dita merajuk sejadi-jadinya.
"Iya iya kita gak akan hilang." Anita berusaha menenangkan Dita dan memeluknya.
"Bangun Ta, saya takut kamu dianggap gak waras lagi duduk mojok disini sambil nangis mana lagi ngomong sama hantu kaya saya hehehe." Pak Herdi tertawa terkekeh merasa lucu dengan ucapannya barusan. Dita dan Anita memandang pak Herdi bersamaan penuh heran.
"Baru ini aku lihat pak Herdi ketawa terus, girang banget kayanya jadi pocong tampan hahahaha." bisik Anita ke Dita.
"Iya Nit ketawa mulu yak."
"Aku denger lho kalian ngomong apa, sudah yuk saya mau lihat kondisi si Kevin." ajak pak Herdi.
"Siap bos." sahut Anita dan Dita bersamaan.
***
"Gimana kondisi pak pengacara Tante?" tanya Dita.
"Alhamdulillah sudah stabil Ta, namun sepertinya dia bakalan gegar otak deh mudah-mudahan sih ringan soalnya luka di kepala belakang akibat benturan cukup parah Ta." ucap Tante Dewi sambil memandangi tubuh pak Kevin yang terbaring.
"Duh kasian, Tante dia sadar tuh." Dita menunjuk kearah tangan pak Kevin yang bergerak-gerak.
"Bentar Tante periksa dulu."
"Lisa... Lisa..." ucap pak Kevin sambil meraih tangan Tante Dewi.
"Maaf pak saya bukan Lisa, saya Dewi." ucap Tante Dewi melepas tangan pak Kevin.
"Kamu Lisa, kamu istri saya."
"HAH? istri bapak?"
__ADS_1
"Kenapa kamu meninggalkanku Lisa kenapa?" pak Kevin menangis mencoba menahan tangan Tante Dewi.
"Apa dia mengalami halusinasi ya Ta?" Tante Dewi menoleh ke Dita.
"Coba tanya dokter ahlinya Tante."
"Terus ini gimana, tangan aku gak dilepas sama dia?" bisik Tante Dewi.
"Udah biarin aja sampai dia pules lagi hehehe jadi inget kejadian tadi pagi ketemu dia."
"Kejadian apa?"
"Dia tanyain Tante sama Anan hehehe."
"Eh apa-apaan sih kamu, emm pak istirahat lagi ya, coba tidur dulu tenangin pikiran dulu." Tante Dewi menenangkan pak Kevin.
"Tapi kamu janji ya jangan tinggalkan aku Lisa."
"Iya saya janji."
Pak Kevin akhirnya menutup matanya dan tertidur kembali, Tante Dewi berusaha melepas genggaman tangannya dengan perlahan.
"Lisa itu mantan istrinya, pergi dengan laki-laki lain." sahut Pak Herdi mengejutkan Dita.
"Ih si bapak ngagetin aja." ucap Dita membuat Tante Dewi menoleh dan bertanya sedikit takut.
"Bapak siapa?"
"Bapak Herdi bos aku yang tadi mayatnya Tante autopsi korban keracunan di lapas." ucap Dita menerangkan.
"HAH? dia jadi hantu gitu? duh lemes banget kaki saya ini Ta." Dita langsung menghampiri Tante Dewi memegangnya segera takut Tante Dewi kehilangan kesadarannya seperti waktu itu.
"Bantuin aku duduk di situ Ta, terus ambilin minum." perintah Tante Dewi.
"Bentar-bentar." ucap Dita segera mengambil segelas air putih untuk Tante Dewi.
"Nih minum dulu Tante."
"Makasih Ta."
Tante Dewi meraih gelas dari tangan Dita namun saat mendekatkan gelas itu ke bibirnya Tante Dewi seperti melihat sesuatu di pantulan dinding gelas dan melemparnya.
"Ih si Tante kenapa ya lempar-lempar gelas gitu untung gak pecah gelasnya, tapi becek nih jadinya." ucap Dita kesal.
"Tadi, tadi aku lihat pocong Ta."
"Pocong?"
****
**
To be continue...
Happy Reading...
Jangan lupa di vote dan tengok novel baruku juga ya di 9 lives, ikuti tentang keseruan Zee si penyihir bersama para makhluk aneh lainnya. 😘😘😘
PS: besok Vie crazy up lho... staytune... kumpulin poin kalian buat crazy vote novel ini ya please....😘😘😘
__ADS_1