
Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...
Happy Reading semoga makin suka 😊😊😊
*****
Sahid berhasil menemukan mobil van yang di kendarai Ken dan Eva yang sedang menculik Anta.
"Ayo buruan kita susul!" ucap Anan mulai kesal.
"Iya ayo cepetan Sahid!"
"Sabar, kita ikuti dulu dia sampai mana, nanti kalau kita hentikan begitu saja, kita jadi gak tau dimana mereka menyembunyikan Anta dan Herdi itu," ucap Sahid.
"Oke, yang penting jangan sampai kehilangan jejak," ucap Dita menimpali.
Mobil van bu Eva berhenti di sebuah mini market.
"Jagain dia yang bener!" perintah bu Eva pada Ken.
"Jangan lupa tante, Anta mau roti, permen lolipop, permen cokelat caca, chiki jagung, susu cokelat..."
"Stop stop stop, iya nanti saya beliin asal kamu tenang ya, diam-diam aja jangan kemana-mana," ucap Bu Eva lalu masuk ke dalam mini market.
"Umur kamu berapa?" tanya Ken pada Anta.
"Mau tiga tahun," sahut Anta menunjukkan lima jari di tangan kanannya.
"Itu lima bukan tiga," protes Ken.
"Oh... Anta kan harus sekolah om," sahutnya.
"Masa anak umur tiga tahun udah lancar banget sih ngomongnya?" gumam Ken.
"Iya dong, kan Anta pinter," ucap Anta dengan nada sombong ala bocah.
"Hmmm iya lah iya lah kamu pinter, semoga aja Yang Mulia Iblis Ro suka sama kamu," gumam Ken.
Anta menoleh ke belakang mobil sambil tersenyum ke arah mobil milik Sahid. Anta tau bunda dan yandanya mengikutinya. Si gadis cilik itu juga yakin kalau orang tuanya akan menolongnya.
Bu Eva keluar dari mini market dengan membawa sekantung makanan untuk Anta serta untuk Arga dan Pak Herdi.
Mobil van itu melaju ke dalam pelosok hutan untuk memotong jalan sampai ke sebuah jembatan besar.
"Astagfirullah... serem banget sih," Dita menutup wajahnya begitu juga dengan anak yang menutup wajahnya dengan kain kafan.
Banyak makhluk astral di sepanjang jembatan dengan kondisi tubuh yang tak utuh, bahkan hancur berjalan mondar mandir tak tau arah di atas jembatan. Kabut asap menerpa kaca jendela Sahid.
"Duh gak kelihatan nih," ucap Sahid berusaha menyeka kaca jendelanya yang berkabut.
Tet...tet...
Klakson mobil truk besar berbunyi mengejutkan dan hampir saja beradu kepala mobil dengan mobil Sahid.
"Alhamdulillah untung aja masih bisa menghindar," ucap Sahid.
Brag... sosok perempuan dengan wajah hancur membentur kaca jendela Sahid.
"KYAAAAA... APA ITU...?!" Sahid berteriak karena melihat sosok itu sekilas lalu menepikan mobilnya ke pinggir jalan.
__ADS_1
"Ta, ta-tadi barusan apakah manusia yang aku, aku tabrak?" tanya Sahid dengan nada gemetaran yang terdengar.
"Coba yanda lihat itu manusia apa bukan?" Dita meminta Anan untuk melihatnya.
"Gak berani bunda, aku takut," Anan masih menutupi wajahnya dengan kain kafan.
"Woi dimana-mana tuh hantu gak usah takut sama hantu!" Sahid yang sudah bisa melihat sosok Anan mengejeknya.
"Sekarang gue tanya, elu berani kaga?" Anan menatap Sahid tajam.
"Kaga."
"Nah itu, makanya diem aja kalau sama-sama takut," ucap Anan.
"Hush bisa pada tenang gak sih, ini gimana masih mau lanjut gak, kita kehilangan jejak nih?" ucap Dita.
"Oh iya gimana nih? habis kabutnya tebal banget Ta," sahut Sahid.
"Nekat aja deh, yang penting keluar dari jembatan ini, nanti kita pikirkan lagi kira-kira ke arah mana selanjutnya," Anan memberi ide.
"Oke, kita pelan-pelan," Sahid melajukan mobilnya perlahan menuju akhir jembatan besar yang menyeramkan tersebut.
"Ini terus kemana?" tanya Sahid tak mengerti harus lurus atau belok kanan ke arah tanah lapang atau malah belok kiri ke jalan raya lagi.
"Bunda lihat, permen cokelat warna- warni di tanah," Anan menunjuk ke arah tanah.
"Ya bener, itu permen cokelat kesukaan Anta, ayo kita belok kanan!" ucap Dita sambil mengamati permen yang berjatuhan di tanah tersebut dan mengikutinya.
"Kita berhenti di sini, terus kita jalan biar gak ketahuan, gimana?" tanya Sahid.
"Ya udah, yuk turun!" ajak Dita.
Anan melompat di belakang Sahid dan Dita.
"Sstt... jangan berisik apa?" bisik Sahid.
"Gue kan lagi jadi hantu kaga mungkin dia pada denger gue!" sahut Anan mulai kesal.
"Yanda... Udah deh jangan berisik tahan dulu ya," pinta Dita.
Ketiganya menemukan gudang tua tempat Bu Eva menyembunyikan Pak Herdi dan Arga.
"Hai om..." Anta menyapa pria besar tanpa kepala di depan pintu gudang.
"Kamu ngomong sama siapa?" tanya Bu Eva.
"Itu, om yang berdiri di situ," tunjuk Anta.
Ken dan ibu Eva saling bertatapan tak mengerti.
"Kamu duduk sini ya," ucap Bu Eva lalu mengikat tangan Anta ke belakang kursi kayu tersebut.
"Anta..." Pak Herdi memanggil Anta dari dalam jeruji.
"Om pocong...!" Anta menoleh pada Pak Herdi dan Arga.
"Oh rupanya kalian saling kenal ya, hmmm dunia memang sempit," ucap ibu Eva.
"Tante tolong saya, anak ini demam," ucap Pak Herdi.
__ADS_1
"Lalu?"
"Kau harus membawanya ke rumah sakit, saya mohon..." pinta Pak Herdi.
"Hmmm... untuk apa aku membawanya ke rumah sakit toh nantinya dia akan mati menjadi santapan lezat Yang Mulia Iblis Ro, hahahhaha..." Eva tertawa dengan senangnya sambil menatap Ken yang menimpali ikut tertawa.
"Dasar kau perempuan iblis...!" Pak Herdi membentak Eva.
Di pangkuannya Arga makin demam dan menggigil. Daya tahan tubuhnya melemah seiring dengan kondisinya yang ikut lemah.
"Arga kuat ya, kamu harus kuat," ucap Pak Herdi mencoba menyemangati Arga.
"Ayo kita mulai persembahannya!" ucap Bu Eva membuka sebuah ruangan dan menarik meja pemujaan di sana.
"Kenapa kita tak pergi ke tempat suku Ro?" tanya Ken.
"Ah sudahlah kita coba saja memanggil dari sini," ucap Bu Eva.
"Oh iya berikan ponsel itu pada Herdi, suruh dia hubungi si Kevin untuk menyerahkan berkas perpindahan hartanya kepadaku," ucap Bu Eva.
"Tapi aku tak akan memberikan harta ku padamu jika kalian menyakiti dua anak ini, lagi pula harta ku sudah berada di tangan orang lain," ucap Pak Herdi.
"Orang lain? orang lain siapa yang kamu maksud?" Eva menghampiri Pak Herdi.
"Lepaskan anak aku!" Dita masuk membuka pintu gudang tersebut.
Disamping Dita sudah beridiri Anan, sementara Sahid bersembunyi untuk bersiap menghadang Ken.
"Bunda, yanda..." Anta berteriak girang memanggil kedua orang tuanya.
"Perasaan cuma sendiri, kenapa dia manggil yanda ya?" gumam Ken bertanya di samping Bu Eva.
"Perasaan juga kayak kenal sama nih perempuan, pernah ketemu dimana gitu Ken, kamu ingat gak?" tanya Bu Eva pada Ken yang mengangkat kedua bahunya.
"Sudah jangan banyak bicara, lepaskan anak itu!" Dita menunjuk ke arah Anta dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya berada di balik punggungnya seolah-olah ia memegang pistol.
"Akting aku udah keren belum yanda?" bisik Dita.
"Keren bunda lanjutin lagi, eh itu pak Herdi sama Arga di dalam sana, aku kesana ya kamu coba alihkan perhatian mereka," ucap Anan.
"Tapi yanda, kan yanda gak kelihatan, ngapain juga aku mengalihkan perhatian, udah yanda lewat aja sana!" ucap Dita.
"Oh iya iya dari tadi aja aku lakuin hmmm," Anan segera melompat ke arah Pak Herdi.
*****
Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...
Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.
- WITH GHOST
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â 9 Lives (END)
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â Gue Bukan Player
Vie Love You All 😘😘😘
__ADS_1