Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Dita


__ADS_3

Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up. Vie mohon dong, mohon banget, jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...


Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh.


Mampir ya ke Novel terbaru aku yang uwwu


"Diculik Cinta" yang siap mengocok perut kalian.


Happy Reading...


******


Pagi itu saat Dita terbangun dari tidurnya, ia langsung menuju ke kamar mandi. Rasa mual menghinggapinya, oleh karena itu ia muntahkan seluruh isi perutnya ke dalam kloset.


Anan yang mendengar muntah-muntah hebat ala Dita langsung terbangun dan menghampiri Dita.


"Kamu kenapa, bun? kamu masuk angin?" tanya Anan.


"Gak tau nih, tiba-tiba eneg, pusing terus mual gitu," sahut Dita.


"Kita ke dokter ya, aku takut kamu kenapa-napa," ucap Anan yang langsung merasa cemas.


"Nanti aja sekalian antar Anta sekolah, aku mau buat sarapan dulu," sahut Dita, lalu ia mencoba berdiri untuk meraih pakaian untuknya dan untuk Anan. Namun, saat menuju ke arah lemari pakaiannya tiba-tiba Dita terjatuh ke lantai dan tak sadarkan diri.


"Bunda!" seru Anan yang langsung menghampiri Dita dan membopongnya segera menuju mobil.


"Hoaammm... eh mbak Dita kenapa, aduh ya ampun, diapain pak sampai mbak Dita kayak gini, sih?" pertanyaan Jerry yang sembari berteriak-teriak itu langsung membangunkan semua penghuni rumah dan menghampiri Dita serta Anan.


"Udah deh kamu tolong ambilin kunci mobil saya di kamar, ketinggalan!" ucap Anan memberi perintah.


"Biar aku aja," sahut Tasya dari lantai dua.


"Dita kenapa, nan?" tanya tante Dewi.


"Pingsan tante," sahut Anan.


"Iya tante tau kalau Dita pingsan, maksudnya awal mulanya kenapa gitu?" tanya Tante Dewi lagi.


"Aduh, nanti deh tanyanya, lumayan nih pegel," sahut Anan.


"Mau aku gantiin sini, biar aku gendong dulu," ucap Mark menawarkan diri.


"Gak usah Mark, aku gak suka ada laki-laki lain yang sentuh istri saya," ucap Anan mencegah Mark menyentuh Dita.


Raut kecewa muncul di wajah Mark kala itu. Tak lama kemudian Tasya berlari sambil membawa kunci. Di belakangnya Anta mengikuti juga sambil berlari kecil.


"Sini kuncinya, biar tante bukain," ucap Tante Dewi meraih kunci mobil dari tangan Tasya.


Setelah pintu mobil dibuka, Anan segera memasukkan Dita di dalam mobil.


"Aku aja yang ikut menemani Dita, kamu Tasya jangan lupa urusin Anta sekolah!"


Seru tante Dewi memberi perintah.


"Oke, Tante. Nanti kabari ya, ada apa dengan Dita," pinta Tasya.


"Iya, nanti dikabari."


Mobil Anan langsung melaju menuju rumah sakit.


"Bunda kenapa sih, Tante?" tanya Anta.


"Belum tau, Nta. Doain aja ya semoga bunda gak kenapa-kenapa, sekarang mandi yuk!" ajak Tasya.


Langkahnya terhenti kala melihat Jerry sedang menangis duduk di sofa.


"Kamu kenapa, Ry?" tanya Tasya.


"Aku takut terjadi sesuatu sama Mbak Dita, huhuhu..." sahutnya sambil menangis.


"Makanya kamu doain kalau Dita enggak kenapa- kenapa," ucap Tasya menenangkan Jerrry.


Tak lama kemudian Mark sudah rapih dengan jaket kulit hitamnya dan menjinjing helmet di tangannya menuruni anak tangga dari kamarnya.

__ADS_1


"Kamu mau kemana, Mark? masih pagi rapih banget?" tanya Tasya.


"Aku mau nyusul ke rumah sakit," sahut Mark lalu pergi begitu saja.


"Hadeh..., bucin banget sih tuh orang, mana gak liat-liat lagi siapa yang dia kejar," gumam Tasya yang tak sengaja keceplosan sampai terdengar Anta dan Jerry.


"Tante, bucin itu apa, sih?" tanya Anta.


"Coba tanya Tante Yerry, aku mau buatin kamu bekal roti panggang," ucap Tasya menunjuk ke arah Jerry.


"Bucin apa, Tante?" Anta langsung menoleh pada Jerry.


"Aduh, apa ya? itu tuh yang buat penyedap rasa kali," jawab Jerry seraya menggaruk-garuk kepalanya.


"Itu micin, tau...," celetuk Tasya dari dapur.


"Hehehe iya itu micin," ucap Jerry meringis ke arah Anta.


"Jadi bucin apa, dong?" Anta masih saja memaksa sampai ia tahu jawabannya.


"Nanti aja kalau Anta udah gede, baru aku kasih tau bucin itu apa," ucap Tasya.


"Janji ya kalau nanti Anta udah gede, Tante kasih tau bucin itu apa, berarti Anta harus makan banyak biar badannya gede, ya?" tanya Anta menoleh lagi pada Jerry.


"Bukan gitu Anta nanti kalau kamu kegedean malah gendut lho, haduh gimana caranya biar dia diem gak nanya terus, Sya?" Jerry menoleh pada Tasya.


"Diemin dia mah gampang, ajak sini, kita sumpel sama makanan mulutnya," ucap Tasya.


Jerry langsung menggendong Anta menuju dapur.


***


Sesampainya di rumah sakit, Dita langsung dibawa ke rumah instalasi gawat darurat oleh dua orang suster.


"Sebentar ya Tuan, nanti dokter jaganya akan datang memeriksa," ucap salah satu suster lalu pergi memanggil dokter jaga.


Tak lama kemudian datang seorang pria bernama Dokter Kian pada name tag yang ia gunakan.


"Halo, selamat pagi, perkenalkan saya Kian, dan saya dokter jaga hari ini," ucapnya dengan senyum hangat.


"Saya gak mau istri saya sama dokter, yang dokter jaga perempuan ada, gak?" tanya Anan.


"Tenang saja, Pak... istri bapak akan saya tangani dengan baik," jawabnya.


"Enggak bisa! saya gak mau kamu pegang istri saya," cegah Anan.


"Udah sih, Nan... Biarkan saja dokter itu bekerja dengan baik," sahut Tante Dewi.


"Enggak bisa! pokoknya gak boleh! kalau sampe dia nekat juga mau pegang Dita, saya acak-acak nih ruangan," ancam Anan.


"Haduh preman banget sih anak ini, gini aja dokter Kian biar saya bantu periksa, coba pinjam stetoskopnya," pinta Tante Dewi.


"Tapi, nyonya...."


"Lebih baik nurut deh, karena saya yakin banget dia bakalan acak-acak ruangan ini kalau istrinya disentuh orang lain selain dia dan kaum perempuan," ucap Tante Dewi melirik sinis ke arah Anan.


"Lho, kenapa? hak saya dong, tau gitu saya cari rumah sakit yang dokternya perempuan semua sama semua karyawannya kalau perlu," sahut Anan.


"Udah diem, diem di situ!" Tante Dewi langsung memberi perintah Anan dengan tatapan tajam.


"Ummm, ada dokter spesialis kandungan gak hari ini?" tanya Tante Dewi pada Dokter Kian.


"Kok kandungan, emang Dita hamil, Tante? eh bentar maksud Tante, Dita kemungkinan hamil?" Anan langsung menghampiri Tante Dewi.


"Cuma curiga aja sih, tapi kan itu bukan bidang aku, Nan. Jadi, ada gak dokter spesialis kandungan hari ini?" Tanyanya lagi pada Kian.


"Ada sih namanya...."


"Dokter yang perempuan ya," ucap Anan memotong ucapan Dokter Kian.


"Pokoknya saya gak mau yang laki-laki, awas kalau sampe...."


Tante Dewi langsung membekap mulut Anan dengan gemas.

__ADS_1


"Bisa diem dulu, gak!" seru Tante Dewi.


"Sayangnya gak ada, hari ini adanya dokter Nicky," ucap Dokter Kian.


"Hah, kok bisa gak ada, rumah sakit macam apa ini?" pekik Anan.


Tante Dewi langsung menginjak kaki Anan dengan gemas.


"Hari ini adanya dia, kamu mau Dita kenapa-kenapa kalau gak segera ditangani? iya kalau hamil kalau bukan gimana?"


Tante Dewi menatap kesal pada Anan yang masih mengaduh karena kakinya diinjak barusan oleh Tante Dewi.


"Oke, tapi yang pegang-pegang Dita, cukup tante aja," ucap Anan memberi peringatan.


"Hmmm... eh ngomong-ngomong Dita pingsan apa pules ya, kok gak bangun-bangun, tapi napas," Tante Dewi menyentuh pipi Dita sambil menepuk-nepuknya pelan.


Dita tersenyum seraya meregangkan tubuhnya lalu meringkuk ke kiri masih dengan mata terpejam.


"Astaga..., ini mah si Dita dari pingsan sampai pules, Anan...."


Tante Dewi langsung memukul bahu Anan lalu mencubit pipi Dita dengan gemas.


"Aww... sakit!" pekik Dita langsung mengusap pipinya.


"Ih Tante jahat nih, nanti kalau pipi Dita luka gimana, terus gak mulus lagi gimana?" ucap Anan mengusap pipi istri tercintanya itu.


"Bodo amat!" Tante Dewi langsung pergi keluar ruangan diikuti Dokter Kian.


"Ini pasangan romantis banget apa lebay ya, Nyonya?" tanya Dokter Kian.


"Dua-duanya! sudah daftarkan saja pasien Anandita sama Dokter Nicky," pinta Tante Dewi.


"Baik, Nyonya segera saya daftarkan," sahut Dokter Kian.


***


Saat Mark hendak mengintip Dita dan Anan, seseorang menariknya menuju koridor sepi.


"Tuan Worm? sedang apa kau di sini?" tanya Mark.


"Yosep, dia mati. Orang terakhir yang bertahan bersama kita hanya tinggal kau, aku dan satu orang lagi. Kau belum juga ya berhasil mendapatkan tubuh Anan?" tanya Tuan Worm.


"Aku sudah berhasil mendapatkannya, tapi lagi-lagi dia sembuh, seperti ada yang selalu melindunginya, apa dia sudah mempunyai Ratu Sanca atau pelindung seperti Ratu Sanca itu ya?" gumam Mark.


"Entahlah, kini fokus kau temukanlah di mana Ratu Sanca berada! Untuk saat ini Kau cari tubuh orang lain, daripada kita yang membusuk dipenuhi belatung," ucap Tuan Worm.


"Lagipula di mana para cacingmu itu, dasar monster tak berguna!"


"Entahlah, aku juga tak tau kenapa para cacing itu bisa kalah," sahut Tuan Worm.


"Oke, aku akan mencari tubuh lain, tapi tetap juga aku berharap Anan pergi dari Dita," ucap Mark.


"Kau benar-benar menyukai wanita itu, ya?"


Mark mengangguk, lalu ia pergi dari hadapan Tuan Worm hendak mencari keberadaan Dita dan tau kondisi terkininya.


*****


Bersambung ya...


Mampir juga ke :


- Diculik Cinta


- With Ghost


- 9 Lives


- Gue Bukan Player


- Kakakku Cinta Pertamaku


Vie Love You All... 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2