Pocong Tampan

Pocong Tampan
Harga Cincin


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍


*****


Malam itu sesampainya Dita dan kawanannya di rumah besar Anan. Dita langsung menghampiri Tante Dewi ditemani Anan. Mereka menceritakan mengenai kematian Cindi serta hubungannya dengan batu permata tersebut. Menurut Dita hantu Cindi akan bisa tenang jika batu permata itu dikembalikan ke gunung tempat dia mendaki tempo hari. Lagipula Dita takut jika hantu yang mengganggu Cindi dan sampai membuat suster itu mati, nantinya juga akan mengganggu Tante Dewi jika wanita itu terus memakai cincin permatanya.


"Ta kamu tahu gak cincin ini berapa harganya?" tanya Tante Dewi.


Dita menggelengkan kepalanya dan mengangkat kedua bahunya. Tante Dewi menunjukkan lima jarinya ke hadapan Dita.


"Lima juta?" ucap Dita Tante Dewi menggeleng.


"Lima puluh juta? wah mahal ya." Tante Dewi masih menggeleng.


"Lima ratus... juta?"


Tante Dewi mengiyakan.


"Astagfirullah cincin doang setengah m, kalau ilang apa gak nyesek Tante." ucap Dita.


"Memangnya kamu pikir cincin yang aku kasih kamu berapa Ta?" tanya Anan.


"Ini paling jutaan ya Nan?"


Anan menggeleng menunjukkan jari telunjuk yaitu angka satu maksudnya.


"Jangan bilang ini harganya satu m?"


Anan mengiyakan.


"Astagfirullah... ini cincin satu m! mana pernah masuk WC lagi hadeh." ucap Dita memandangi cincin pernikahan di jari manisnya.


"Idih jorok terus kamu kobok gitu Ta buat ambil cincinnya?" tanya Tante Dewi bergidik jijik.


"Enggak lah, aku suruh pak Herdi buat ambil hehehe."


"Ya ampun bunda, itu pocong nurut banget sih sama kamu hahaha." Anan tertawa geli memegangi perutnya.


"Kamu juga sama sih nurut sama aku waktu jadi lontong kisut hihihi." Dita gantian menertawakan Anan.


"Nih, demi kalian aku kembalikan, demi Cindi, tapi ganti ya?" ucap Tante Dewi menyerahkan cincin permata hijau dari jarinya begitu pula om Kevin yang ikut menyerahkan cincin tersebut ke tangan Dita.


"Siap makasih Tante dan om ku sayang, nanti aku ganti, nanti aku langsung pesen di toko yang sama, yang harganya sama, model sama, tapi permata beda ya, sini Yanda kartu hitam kamu." pinta Dita pada Anan.


"Hadeh... gara-gara Cindi setengah m melayang." Anan mengusap wajahnya dengan telak tangan kanannya.


"Ehm ehm kalau begitu, bisa tinggalkan kami berdua, maklum mau malam pengantin." om Kevin menyela.


"Hehehe sampai lupa kita gangguin, yuk ah Yanda kita tinggalkan pasangan ini, jangan lupa om jamu kuatnya di minum." Dita menggoda om Kevin.

__ADS_1


"Gak perlu Ta, saya masih kuat kok." ucap om Kevin dengan bangganya.


***


Ke esokan paginya setelah pertempuran sengit terjadi antara Om Kevin dan Tante Dewi, begitu pula dengan Anan dan Dita tadi malam, mereka semua sudah siap di meja makan.


Bu Mey yang paham mencoba menahan tawanya terlebih melihat rambut Dita dan Tante Dewi yang masih agak basah.


Sarapan pagi itu terasa canggung terlebih Tante Dewi dan om Kevin yang terlihat malu-malu.


"Tante pamit ya, mau nitip apa?" tanya Tante Dewi membuka suara mencairkan suasana canggung pagi itu di meja makan.


"Mau Maneki Neki dong sama coklat Kitkat Tante, seru kan kiat kucing tangannya manggil-manggil." sahut Dita.


"Oke deh."


"Tante mau nemuin papi sama mami juga?" tanya Anan.


"Mungkin... lagipula kalau Tante udah nikah sama mas kan papi kamu gak berhak buat nolak kehadiran mas Kevin."


"Cieeee manggilnya udah mas panggil papi mami dong, apa ayah bunda apa mama papa apa mbok e sama pak e, Abah sama umi juga boleh." Dita menggoda keduanya.


"Udah deh Ta, yuk mas nanti pesawatnya ketinggalan." ucap Tante Dewi menarik tangan om Kevin.


"Kita kali ketinggalan pesawat." sahut om Kevin.


"Iya itu maksudnya, Bu jaga rumah ya, aku pergi dulu." Tante Dewi menoleh pada Bu Mey yang mengangguk sambil tersenyum.


***


Di rumah sakit milik keluarga Arjuna, Anan makin sibuk menghandle semua tugas karena kepergian Tante Dewi untuk sementara. Dita menemani Anan di ruangannya.


"Hai guys." Susi menyapa Tasya lalu memeluk Doni.


"Lepas, lepasin!" pinta Doni.


"Gue kan kangen tau sama kalian, lagian kemaren gue di tinggal aja, ya udah gua muter-muter rumah sakit ini." ucap Susi.


"Pusing gak Sus udah muter-muter?" tanya Tasya.


"Ih garing deh Tasya, eh Jojo udah bisa pindah tempat, eh ada suster ngesot juga." ucap Susi menunjuk Cindi.


"Iye kenapa Lo?" ucap Cindi menatap Susi tajam.


"Biasa aja dong say!"


Tak lama Dita keluar dari ruang kerja Anan.


"Nih permatanya." ucap Dita menunjukkan cincin permata hijau pada Cindi.


"Wah makasih banyak ya Ta, gue gak nyangka banget deh." ucap Cindi.


"Gara-gara itu tuh, aku harus beli cincin lagi seharga setengah M." ucap Dita.


"Bhuuaaahhh, setengah m?" Tasya menyemburkan air putih yang baru di minumnya ke wajah Doni.


"Aku udah mandi Sya, kok disembur sih?" Doni mengusap wajahnya.

__ADS_1


"Lagian cincin mahal banget." ucap Tasya menutup botol air mineralnya itu.


"Yang ini malah satu M." Dita menunjukkan cincin kawinnya.


Doni siap menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Saya lagi gak minum Don, lagi gak kaget cuma syok, haaaaahhhh satu m?"


Tasya langsung memegang tangan Dita memperhatikan cincin tersebut dengan saksama.


"Tuh kan kalau gue merit sama pak bos harusnya gue yang pake tuh cincin." ucap Cindi.


"Dih pede banget lho!"


sahut Susi membuat Cindi makin melotot kepadanya.


"Eh eh bentar ini harganya setengah M?" tanya Cindi.


"Iya." sahut Dita mengangguk.


"Lah gue aja jual sama Babah Liong dihargain lima juta, ckckckkc bener-bener dah si engkoh, untungnya gede banget." ucap Cindi


"Yang untung tuh yang punya toko perhiasan dalam mall, bisa aja dia beli dari si engkoh puluhan juta dia jual ratusan juta, encer tuh otak dagang harus kayak gitu." sahut Dita.


"Terus ini yang anter cincin siapa?" tanya Cindi.


Dita dan Tasya menoleh pada Doni bersamaan.


"Harus aku gitu?" Doni menunjuk dirinya sendiri.


Dita dan Tasya langsung mengangguk bersamaan.


***


Sementara itu sesampainya Tante Dewi dan om Kevin di Jepang, mereka langsung mengunjungi daerah-daerah terkenal di Tokyo. Selama dua hari mereka menghabiskan bulan madu mereka dengan bahagianya.


"Kita ke rumah mas Arjuna sekarang yuk?" ajak Tante Dewi


"Kamu yakin?" tanya om Kevin.


"Aku yakin."


Om Kevin dan Tante Dewi memesan tiket pesawat menuju pinggiran kota Okinawa.


*****


To be continued


Jangan lupa mampir ke novel baru aku yak


"With Ghost"


dan novel ku lainnya ya guys...


- Kakakku Cinta Pertamaku


- 9 Lives

__ADS_1


- Gue Bukan Player


Ku tunggu like dan komen kalian disana.


__ADS_2