Pocong Tampan

Pocong Tampan
Menolong Dimas


__ADS_3

"Kamu mau kemana Ta?" tanya Anita yang melihat Dita sudah berpakaian rapih padahal hari ini hari liburnya.


"Aku ada urusan nih pergi dulu yak."


"Kok gak ajak aku sih?"


"Kan bukan giliran kamu libur, kapan-kapan yak nanti kita jalan oke."


Bruk... Dita menabrak Pak Herdi yang baru datang.


"Mau kemana Ta?"


"Eh maaf pak, saya Ada perlu pak."


"Kamu mau dianterin gak?" tanya Pak Herdi.


"Ehem ehem aduh aus nih, hehee." Anita berpura-pura memegang tenggorokannya.


"Gak usah pak, kan bapak harus kerja nanti saya ganggu lagi."


"Bener nih? nanti kalo kamu butuh saya telpon saya aja yak."


"Ehem ehem..." makin keras batuk pura-puranya Anita.


"Kenapa sih kamu Nit?" Dita menoleh ke Anita.


"Enggak kering banget tenggorokan ku hehehe."


"Yudah saya pamit yak pergi dulu."


"Hati - hati ya Ta." Pak Herdi menepuk bahu Dita pelan.


Dita melambaikan tangannya menuju arah gerbang masuk wahana.


"Kenapa liatin saya Nit, mau saya ambilin minum segalon biar gak kering tuh tenggorokan?"


"Hehe gak usah pak, udah sembuh."


Anita tersenyum malu sambil melihat punggung pak Herdi yang menghilang ke dalam ruangannya.


***


"Kita mau kemana nih?" ucap Dita pada Anan yang sudah berada di dalam taxi online pesanan Dita.


"Maaf mbak ini di aplikasi mau ke kantor polisi kan?"


"Eh iya pak, maaf sesuai aplikasi pak hehehe."


Dita lupa bahwa driver itu tak bisa melihat Anan disampingnya.


"Kita jalan ya mbak."


"Silahkan pak."


Anan menyentuh tangan Dita lalu menggenggam tangan nya membuat Dita terperanjat dan menoleh padanya.


Anan meletakkan telunjuk tangan satunya di bibirnya.

__ADS_1


"Udah diem aja." bisiknya.


***


Dita sampai di kantor polisi dan menanyakan jasad Dimas yang kemarin korban kecelakaan. Agak sulit mendapat informasi ini meski Dita mengaku sodara sepupu Dimas sampai akhirnya Dita bertemu dengan wartawan yang meliput kecelakaan kemarin dan memberitahukan Dita rumah sakit Dimas di otopsi.


Dita langsung meluncur ke arah Rumah Sakit Keluarga XX tempat jasad Dimas.


Bruukkk... Dita menabrak seorang wanita paruh baya yang keluar dari arah lift.


"Maaf Bu, maaf ya." ucap Dita.


"Gak papa kok Nak." ucapnya sambil tersenyum.


Senyum ibu itu mirip siapa yak, mata sipitnya juga duh pernah ketemu dimana ya?


"Kenapa?" ucap Anan mengagetkan Dita didalam lift itu.


"Liat ibu tadi gak? kok mirip sama.... sama kamu Nan."


"Aku..?"


"Iyak kamu liat gak?"


Anan menggeleng pelan.


Ting... Dita keluar dari lift menuju ruang dokter bagian ahli forensik disana.


"Halo saya Andri dokter spesialis forensik disini, ada yang bisa saya bantu?"


Seorang dokter yang bisa di bilang masih muda dan terlihat maskulin dan tampan menyapa Dita.


"Hah cari mayat, perempuan cantik kaya kamu gini ngapain carinya mayat, hahaha kamu anak kedokteran?"


"Bukan dok emm maksudnya kemarin sepupu saya kecelakaan katanya mayatnya ada di rumah sakit ini?"


"Korban yang mana yak? kemarin ada perempuan tabrakan yang kakinya putus, terus tiga orang dalam satu keluarga kecelakaan mobil, anak kecil yang jatuh dari mall lantai 5 kepalanya hancur loh, ada juga laki-laki yang kelindes truk kepala nya ancur juga terus..."


"Stop dok, stop itu yang barusan kelindes truk dok kayaknya."


Dita langsung memotong ucapan sang dokter makin lama di dengar makin ngeri dibayangkan Dita.


"Ada surat kepolisian gak?"


"Yah dok mana saya tau, please dok dia bilsng sama saya suru ambil sesuatu dari saku celananya katanya suruh kasih ibunya?"


"Kapan bilangnya kan udah meninggal orangnya?"


"Sebelum dia kecelakaan dok maksudnya dia telpon saya, please dok penting banget buat ibunya." Dita memohon pada dokter itu setelah memberi alasan yang masuk akal.


"Oh...jaminan nya apa yak? ada nomer telpon kamu yang bisa saya hubungi?"


"Ada dok."


Dita mengeluarkan ponselnya dan memberikan pada dokter nomer telponnya.


"Telpon aja dok, pasti nyambung kalo gak percaya." ucap Dita.

__ADS_1


Dokter itu menyentuh layar mengetuk nomer telpon Dita dan tersambung.


"Oke saya nemuin sebuah surat yang saya gak berani buka di saku korban, tapi bagaimana saya bisa percaya pada kamu kalau saya kasih surat itu?"


Dokter Andri mengernyitkan dahinya ragu melihat ke arah Dita.


"Dok saya aja gak berani buka, surat itu bakal saya kasih ke ibunya Mas Dimas di Ngawi."


"Kapan kamu mau kesana?"


"Besok dok."


"Oke aku ikut kebetulan jasadnya memang mau dikembalikan ke kampung halamannya setelah urusan administrasi dari kepolisian selesai."


"HAH...??"


Gila ni cowo baru kenal udah main ikut ikut aja pake bilang gak percaya lagi.


Dita menahan tangan Anan yang ingin meninju wajah dokter Andri saking kesalnya.


"Gimana deal?"


"Oke deh deal mana suratnya dok?"


"Besok dong saya serahin ke kamu sekalian anter jasadnya, mau liat ke ruang mayat dibawah?"


"Gak usah deh Dok udah pernah liat, saya permisi kalo gitu."


Dokter Andri tersenyum memperhatikan Dita agak aneh mendengar ucapan Dita barusan.


***


"Kesel banget aku kayanya dia suka deh sama kamu."


"Masa baru ketemu langsung suka gimana sih ada-ada aja."


"Lah aku aja baru ketemu kamu langsung suka."


Anan keceplosan mengutarakan perasaannya.


"Apaan kayanya tadi aku salah denger deh."


Dita tersenyum-senyum di buatnya.


"Neng, senyum-senyum sendiri kesambet loh." seorang pria masuk ke lift mengagetkan Dita.


"Hehehehe gak pak, saya abis nonton film lucu kebayang aja." ucap Dita mencari alasan.


Dita akhirnya pulang menuju wahana tempat kerjanya dan berniat meminta ijin cuti pada bosnya itu mengenai kepergiannya besok.


"Semoga lelahku ini menjadi berkah ku menolong para arwah itu Yaa Allah..."


"Amin." sahut Anan merangkul bahu Dita.


***


To be continued...

__ADS_1


Happy Reading... Kalau suka bacanya jangan lupa vote yak..


😘😘😘


__ADS_2