
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak ... apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget yak... thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
Pagi menjelang Dokter Dewi sudah berada dirumah Anan, Dokter Dewi dan Bu Mey menatap bingung ke arah Anan yang tidur di sofa depan kamar Dita.
"Den.. Den... bangun ngapain tidur disini?" Bu Mey mengguncang tubuh Anan sampai terbangun.
Anan mengucek kedua matanya dan menguap sambil merenggangkan tubuhnya.
"Pada kenapa sih kok pada ngeliatin aku kaya gitu?" tanya Anan heran.
"Menurut kamu emang kenapa kita ngeliatin kamu kaya gini" Dokter Dewi sudah bertolak pinggang sambil mengetuk-ngetukkan sepatunya ke lantai.
"Emmm ini bisa aku jelasin kok Tante."
"Jelasin? kamu mau nemenin Dita tidur kan?"
Anan mengangguk.
"APA...?!! jadi beneran kamu punya niat mesum kaya gitu??!!" Bentak Tante Dewi.
"Ih aku gak mesum Tante, semalem Dita teriak-teriak ketakutan tanya deh Bu Mey terus pintunya aku dobrak."
Bu Mey mengangguk mengiyakan ucapan Anan.
"Terus Dita nya mana?" tanya Dokter Dewi.
"Tuh masih ngorok." Anan menunjuk Dita yang menggelepar dengan dengkuran keras di atas kasurnya.
"Astaga anak perawan tidurnya menjijikan macam gini."
Anan tertawa geli melihat Dita yang tidur dengan mulut menganga dan dari mulutnya mengalir iler dengan leluasa membentuk pulau diatas kasur yang di tidurinya.
"Dita... Ta... bangun Ta... udah pagi..." ucap dokter Dewi menyentuk bahu Dita.
"Ehmm... hooaaammm lima menit lagi Tante." Dita menggeliat dan menyeka cairan yang menetes dari mulutnya dengan mata masih terpejam.
"DITA....!!! WOY...!!! BANGUN...!!" Dokter Dewi berteriak di telinga Dita.
"Siaaaaappp graaaakkk....! lapor komandan..." Dita langsung berdiri spontan memberi hormat pada dokter Dewi membuat Anan makin tertawa geli dan Bu Mey tersenyum saking lucunya Dita.
"Udah mimpinya? lagi mimpi upacara yak?" dokter Dewi tak dapat menahan tawanya.
"Eh Tante... hehee... kirain komandan, Aduh jadi malu nih aku lagi mimpi jadi polwan Tante hihihi." Dita menunduk sambil memilin ujung kaus nya dengan wajah merona malu.
"Cepetan mandi...! Tante tungguin di meja makan terus kita pulang.." ucap Tante Dewi berlalu bersama Bu Mey menuju ruang makan.
"Oh jadi mau jadi polwan nih...?" goda Anan.
"Apaan sih, cuma cita-cita dari kecil aja kok kebawa mimpi."
__ADS_1
Anan mendekat ke wajah Dita yang mundur beberapa senti menutup matanya.
"Ta... boleh ngomong gak?" tanya Anan dengan suara pelan yang terdengar seksi menggoda Dita.
"Mau ngomong apaaaah...?" jawab Dita tak kalah seksinya dengan suara Anan.
"Kamu maskeran iler yak? tuh kerak iler semua di muka kamu hahahhaa."
"Sompreeettt....!! awas yak kamu yak nih aku jigongin hah hah hah." Dita meniup kan hawa bangun tidur dari mulutnya ke wajah Anan.
"Bau tau, bau banget sumpah ih..." Anan berlari menghindari Dita.
"ANAN....!! DITA....!!"
Dokter Dewi sudah bertolak pinggang dengan mata yang melotot menatap tajam ke arah Anan dan Dita.
"Iya maaf Tante, aku mandi nih." ucap Dita kembali ke kamarnya bersiap untuk mandi.
"Oke, oke, aku juga mau naik ke kamar buat mandi." sahut Anan bergegas berlari naik kelantai atas.
"Nyonya kok manggil Den Anan sih..?" tanya Bu Mey memastikan kalau pendengaran nya tak salah.
"Eng enggak Bu, mungkin saya kangen sama Anan." jawab dokter Dewi mencoba membuat alasan tak mau menatap mata Bu Mey.
***
"Kamu ngapain sih Nan, ikut kita pulang?" tanya Dita di dalam mobil dokter Dewi melirik Anan dari kaca spion
"Aku mau nemenin kamu." sahut Anan mencolek bahu Dita.
"Mana Anita nya?"
"Oh iya ya kemana tuh bocah pas semalem terpental sama si nyai?"
"Nyai siapa Ta?" tanya dokter Dewi penasaran.
"Itu Tante dari kemaren aku udah dua kali digangguin dia, tangan aku ditusuk tapi enggak ada bekasnya aku pikir aku mimpi tapi pas malem aku juga ditusuk di punggung sini tapi kata Anan gak ada bekasnya juga masa aku mimpi juga."
"Itu nyai hantu gitu dirumah Anan?"
"Iya hantu, hantu lukisan perempuan yang pake kebaya sama selendang di kamar tamu aku."
"Hah lukisan itu masa sih?"
"Bener Tante, terus ada lagi ada pocong yang lewat taman minta bukain iketan nya masa."
"Ah masa sih rumah itu banyak hantunya?"
"Ya kalo pocong mungkin numpang lewat, kalo hantu si nyai ya dari dalem rumah itu Tante ihhhh makanya semalem aku minta temenin Anan pas tidur gara-gara Anita ngilang."
"Minum dulu Ta, takut capek dari tadi nyerocos aja." Anan menyodorkan botol air mineral ke arah Dita.
"Emang aku bawel banget yak?" ucap Dita ketus sambil meraih botol di tangan Anan dan meminumnya.
__ADS_1
"Hahahaha... gak usah di jawab juga udah paham." senyum Tante Dewi sambil fokus menyetir.
Mereka akhirnya sampai di apartemen dokter Dewi.
"Kamu mau ngapain Nan ikut turun?" tanya dokter Dewi saat menurunkan Dita di depan apartemen nya.
"Mau jagain Dita Tante."
"Berduaan aja gitu?"
"Lah emang sekarang berdua terus kenapa?"
"Nanti kalo terjadi hal-hal yang diinginkan di dalam rumah Tante gimana?"
"Idih... jangan sampe deh Tante." sahut Dita.
"Terus Dita sendirian dong."
"Dia kan banyak yang nemenin, udah ayo kita ke rumah sakit !" perintah dokter Dewi.
"Tapi Tante..."
"Udah gak ada tapi - tapian." Dokter Dewi membuka pintu mobilnya menyuruh Anan masuk.
"Udah sana ! aku gak papa kok ada Adel sama Bani juga nemenin." jawab Dita.
"Nanti kalo Andri ada di dalam sana gimana? aku gak rela kamu berduaan sama Andri." sahut Anan kesal.
"APA??!! Andri...?? dia masih suka ke rumah ku Ta?" tanya dokter Dewi.
"Kadang sih Tante." jawab Dita.
"Sembarangan kan udah aku bilang.."
"Cuma mampir kok Tante paling cuma mau liat Tante aja hehehe." potong Dita membuat dokter Dewi merona di wajahnya.
"Anan ayo cepetan masuk..!"
Anan tak bisa membantah lagi perintah tantenya dan masuk ke dalam mobil yang langsung melaju menuju rumah sakit.
***
Tring... pintu Iift di lantai dua puluh terbuka Dita mendengar suara anak kecil yang menangis di sudut koridor lantai itu.
"Adel, Adel kan? kenapa nangis Del?" Dita menghampiri hantu Adel yang menangis dengan posisi jongkok menutup wajahnya.
Dita mundur beberapa langkah saat hantu Adel mengangkat wajahnya. Tubuhnya hangus semua dengan kulit mengelupas dari dagingnya, wajah Adel menghitam menyeramkan dengan kulit pipi yang mengelupas memperlihatkan daging berwarna merah. Air mata Adel malah tampak seperti darah yang menetes dari matanya.
"Kakak Dita, huhuhuhu Adel kangen nenek, Adel mau ketemu nenek." ucapnya memeluk Dita.
Bau hangus bercampur anyir darah menusuk hidung Dita yang sebenarnya bergidik ngeri dengan tubuh gemetar mendapat pelukan dari Adel.
***
__ADS_1
To be continued...
Happy Reading... 😍😘