Pocong Tampan

Pocong Tampan
Bertemu Kang Ujang


__ADS_3

Jangan lupa klik Like terus Vote yak... koin seikhlasnya juga boleh banget... Makasih banyak lho... 😘😍😊


***


Kembali kerumah sakit rutinitas yang hampir dua minggu ini Dita jalani menjadi asisten pribadi Dokter Dewi baik dirumah maupun mencukupi kebutuhannya di rumah sakit, biar bagaimanapun Dokter Dewi sudah berbaik hati menampung Dita di rumahnya.


"Neng Dita..." seseorang laki-laki yang suaranya Dita kenal memanggilnya saat di rumah sakit.


"Akang Ujang..., Alhamdulillah... udah sembuh kang? duh maaf ya Dita belum sempet jenguk apalagi akang kan sempet koma tuh seminggu jadi aku takut nemuin akang ."


Dita mencium punggung tangan Kang Ujang.


"Eh saya jadi gak enak nih kamu tumben salim sama saya, kamu takut saya gentayangan yak?"


"Ih si akang mah, iya juga sih hehehehe..."


"Kamu udah jenguk Pak Herdi?"


"Udah, astagfirullah Dita lupa kerumah Anita kasih uang pesangon dia, jahat banget aku kang, terus uang kang Ujang sama Doni juga ada sama Dita udah ditransfer sama Pak Herdi, akang masih disini kan?"


"Insha Allah saya pulang besok Ta, tapi kata kapten polisi saya harus siap kalo dipanggil dipersidangan, padahal saya bingung yak Ta, kasian Pak Herdi tapi masa iya kita bilang dia kerasukan."


"Iya kang Dita juga kasian, yaudah besok aku kesini lagi kasi uang kang Ujang sama titip buat keluarga Doni."


"Iya neng siap."


Dita pamit pada kang Ujang menuju ruangan Manan dirawat.


"Permisi numpang ya kek, anak perawan mau lewat, mana sih Anan."


"Hadir..." Anan merangkul pundak Dita di lift didepan hantu kakek menunggu lift.


"Lepas ah malu tau diliatin si kakek, mana lukanya belum di perban lagi." ucap Dita melepas pelukan Anan.


"Wuih si kakek darahnya pada netes tuh kek." Anan tersenyum jahil pada hantu kakek itu.


Hantu kakek tersenyum menyeringai makin mendekat pada Dita.


"Stop mundur kek, maafin aku hehehe." Dita berbalik badan buru-buru keluar dari lift saat pintunya terbuka.


"Kabur Nan...."


Masih dengan nafas tersengal-sengal Dita menabrak dokter Dewi.


"Kamu kenapa sih lari-larian gini?"


"Hehehe biasa Tante, ada yang tak enak dipandang."


"Siang-siang gini masih ada hantu?"


"Ada nih." Dita menunjuk Anan.


"Maksud kamu aku gak enak di pandang?" sahut Anan kesal.


"Bukan kamu lah, itu si kakek tadi."

__ADS_1


"Dita ih... jangan suka ngomong gak jelas gitu depan aku." ucap Dokter Dewi.


"Eh iya maaf Tante, Anan nih gangguin aja."


"Anan...? kalo Andri ada?"


"Ehm ehm cie Tante nyariin Andri."


"Apaan sih kamu Ta cuma tanya doang juga."


"Kayaknya Andri ke ruangan ayahnya deh tadi."


"Oh... ya udah kamu tengok Manan gih, bacaan ini buat sensor pendengarannya."


Dokter Dewi memberikan buku novel romantis pada Dita untuk dibacakan pada Manan.


"Nge dongeng mah kalo mau tidur Tante, ini siang-siang."


"Sama aja kan dia lagi tidur, nanti aku beliin pizza deh."


"Jangan Tante aku gak doyan, beliin soto ayam Lamongan aja baru saya doyan maklum lidah kampung."


Dokter Dewi tersenyum dengan kepolosan Dita.


"Gimana kamu aku ajak makan sushi makanan favorit nya Anan."


"Iyakah? Anan doyan sushi ikan mentah iyeeekkk.." Dita menoleh ke Anan yang menunjuk dirinya sendiri dan menggeleng tak tahu.


"Iyak Ta,,, oh iya nanti kamu pake handphone aku yak, soalnya hape baru aku udah dateng biar bisa WhatsApp an lah masa pake hape jadul itu terus."


Dokter Dewi mengangguk tersenyum lalu berlalu meninggalkan Dita.


Bersiap dengan pakaian ICU dan masuk keruangan Manan.


"Hai ganteng... apa kabar? aku bawa buku buat kamu, bukan aku sih dari Tante aku bacain ya ceritanya kayanya bakal baper nih."


Anan tersenyum memandang Dita lalu duduk dibawah lutut Dita menyandar kepalanya di lutut Dita. Dita membiarkan sikap Anan yang seperti itu, entah kenapa semakin hari berat rasanya jika suatu saat Dita harus melepas Anan pergi.


***


Dita bersiap menuju rumah Anita sehabis magrib menggunakan angkutan umum yang biasa ia gunakan dulu bersama Anita.


Sempat melewati wahana kolam renang milik pak Herdi yang kini ditutup tampak makin menyeramkan dilihatnya.


"Kangen banget sama suasana dulu disana." gumam Dita.


Angkutan umum yang Dita tumpangi tak bisa menjangkau rumah Anita karena berada di sebuah gang sempit yang hanya bisa masuk kendaraan bermotor. Dita harus meneruskan nya dengan jalan kaki sekitar tiga ratus meter.


"Booo..." sahut Anan di belakang Dita yang datang tiba-tiba.


"Ah Anan ngagetin nih gelap tau lampu jalanan nya mati."


Anan tersenyum meringis tak lama Andri datang melambaikan tangannya.


"Hai Andri... kalian mau nemenin aku yak?"

__ADS_1


"Ya aku kan emang penjaga kamu." sahut Anan.


"Kalo aku nih Ta selama ada disini juga bakal jagain kamu." ucap Andri merangkul bahu Dita.


"Lepasin gak." Anan melepas paksa tangan Andri dari bahu Dita.


Dua orang preman setempat menghampiri Dita.


"Sendirian aja neng, ikut Abang dangdutan yuk!" ucap preman bertubuh besar dan penuh tato di lengan.


"Idih najissss hari gini masih dangdutan." sahut Andri.


Dita hanya menggeleng dan mundur beberapa langkah.


"Ayok neng mau kemana deh biar Abang anterin." ucap preman satu lagi yang bertubuh agak kurus dengan gigi agak maju.


"Yeee... ini lagi, gigi belum rata aja sok sokan godain cewek." sahut Anan.


"Enggak bang, makasih saya bisa jalan sendiri." Dita berusaha menyembunyikan tasnya yang terdapat amplop uang untuk Anita.


"Gelap lho neng nanti takut lho ada setan' hiiyy.." preman kurus itu meledek Dita.


"Saya gak sendirian kok." ucap Dita.


Kedua preman tersebut heran dan tertawa terbahak-bahak.


"Dia becanda, mana temennya? lagi dijalan yak? suru cepetan sebelum kamu kita apa-apain ya gak bro hahahaha." ucap preman gemuk satunya.


Dita melingkar kan tangannya di lengan Anan lalu tangan satunya menggenggam tangan Andri dan Andri menyentuh bahu Dita.


Kedua preman itu tersentak saking kagetnya melihat penampakan pocong dan hantu gosong yang menyeramkan di samping kanan dan kiri Dita.


Preman yang berbadan gemuk sudah lari terbirit-birit ketakutan sementara preman yang kurus terjatuh dan Anan menahan kakinya.


"Gimana bang? masih mau nemenin?" ucap Dita meledek si preman.


"Eng enggak neng ampun Abang minta maaf." sahut preman itu.


"Besok-besok nongkrong dimasjid bang jangan disini gangguin orang lewat apalagi sampe malakin."


"Enggak neng saya insaf dah."


"Awas yak kalo besok masih disini nanti aku suru si lontong Angus eh salah pocong dan si Angus eh maaf Ndri pokoknya mereka aku suruh gangguin Abang."


"Iya neng janji."


Anan melepas jeratan tangan nya di kaki preman itu, preman tersebut langsung lari terbirit-birit menjauh.


"Hahaha lucu banget badan gede tapi cemen mana ngompol lagi tuh bekasnya hahaha." ucap Andri .


Dita bersembunyi di balik badan Anan ternyata seram juga melihat penampakan Andri yang badan nya hangus terbakar.


***


Tobe Continue... happy Reading... 😊😍😘

__ADS_1


__ADS_2