Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Di Kediaman Tuan Jhon


__ADS_3

Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...


Happy Reading semoga makin suka 😊😊😊


Note : Dear pembaca tercinta, Vie mohon gak usah ributin masalah bahasa ya, ceritanya udah di translate, kalaupun ada bahasa di luar KBBI, pastinya Vie lengkapi dengan artinya.


Happy Reading semoga makin suka 😊😊😊


******


Ting tong


Anan menekan bel rumah milik tuan dan nyonya Jhon.


"Hallo, selamat malam..." sapa nyonya Kate pada keluarga Anan.


"Halo... Selamat malam...!" sapa Anan.


"Halo, selamat malam... ini cobain rendang buatan saya," ucap Dita menyodorkan wadah tempat makan berisi rendang ke hadapan nyonya Kate.


"Thank you, please come in!" ajak Nyonya Kate ke dalam rumahnya.


"Rumahnya bagus ya yanda," ucap Dita.


"Iya."


"Silahkan duduk, saya panggil suami sama anak saya dulu ya," ucap nyonya Kate.


Tak lama kemudian, Tuan Jhon datang menuruni tangga bersama istrinya dengan putrinya di belakangnya mengikuti.


"Selamat datang di rumahku," ucap Tuan Jhon menjabat tangan Anan dan Dita bergantian lalu mengusap pipi Anta.


"Ini perkenalkan putri saya yang bernama Leona," ucap Tuan Jhon mempersilahkan Leona menjabat tangan Anan, Dita dan Anta.


"Bagaimana kalau kita makan dulu, sambil berbincang-bincang, nanti di lanjutkan lagi ya," ucap Tuan Jhon mempersilahkan kepada Anan dan yang lainnya menuju ruang makan.


Perbincangan demi perbincangan terjadi di meja makan sampai tak habis kata pujian demi pujian membanjiri Dita kala mencicipi rendang buatannya.


"So, Anan can I join in your new restaurant later?"


(Jadi, apakah saya boleh bergabung dalam restoran mu nanti?) tanya Tuan Jhon.


"Tentu, tentu saja nanti kita bicarakan lebih lanjut, lagi pula saya belum liat lagi rupa restorannya seperti apa hehehe," ucap Anan.


"Bunda, aku boleh main sama kakak Leona?" tanya Anta.


"Boleh..." ucap Dita.


"Makasih bunda," Anta mengikuti Leona ke lantai dua menuju kamar Leona.


"How old is she?" tanya Nyonya Kate perihal umur Anta.


"Three years," sahut Dita.


"Wow, cara bicaranya sudah lancar ya, dia pasti anak pintar," ucap Nyonya Kate dengan bahasa inggrisnya..


Dita dan Anan menjawab dengan senyuman.


"Anak kami Leona dia sudah berusia delapan tahun, tapi tetap saja ia selalu diam tak mau bicara, sedangkan anak mu itu sangat cerewet, menggemaskan," ucap Nyonya Kate.


"Apa pernah mengunjungi dokter anak sebelumnya terkait perkembangan Leona?" tanya Dita.

__ADS_1


"Waktu kami bawa dari panti asuhan, dia tampak sehat tapi memang tidak pernah bersuara, dia hanya memberi isyarat pada kami, meskipun pihak panti asuhan bilang dia sempurna dan sehat, tidak ada trauma serius yang terjadi padanya, mungkin dia memang tak suka berbicara," ucap Nyonya Kate menjelaskan tentang Leona.


"Ya mungkin saja begitu, pelan-pelan nanti juga akan terbiasa," sahut Dita yang mulai lancar berbahasa inggris untuk menimpali.


"Oh iya, aku punya koleksi mawar di ruang belakang, aku merangkai taman buatanku sendiri, apa kau mau melihatnya?" tanya Nyonya Kate.


"Oh tentu saja, saya ingin melihatnya," sahut Dita lalu mengikuti nyonya Kate menuju ruang belakang.


"Well... karena para nyonya sedang merangkai bunga, apa kau mau bermain play station dengan ku?" tanya Tuan Jhon.


"Sure... why not!"


(Tentu saja, kenapa tidak.)


***


Di ruangan penuh berbagai jenis bunga mawar dengan dinding dari kaca itu terlihat sangat cantik. Berbagai jenis bunga mawar yang beraneka warna di tanam oleh nyonya Kate sendiri dengan indah. Meski terdapat banyak jenis dan warna bunga mawar, namun bunga mawar dengan warna apapun tetap mengeluarkan wangi yang khas yang hampir sama.


"Warna apa yang paling kau sukai?" tanya Nyonya Kate pad Dita.


"Semua warnanya cantik, tapi pada umumnya entah kenapa aku menyukai mawar yang berwarna putih," tunjuk Dita.


"Hmmm apa kau tahu bunga mawar putih itu melambangkan keharmonisan, baik itu dengan pasangan hidup maupun dalam hubungan persahabatan. Selain itu, mawar putih juga punya makna kesucian serta kemurnian hati, terlihat jelas kemurnian hati di dirimu Nyonya Dita, pantas saja kau memilih warna putih," ucap Nyonya Kate memuji Dita dengan filosofi warna bunga mawar yang ia tahu.


"Ah anda bisa saja, saya kan hanya menjawab berdasarkan selera saya nyonya," Dita tersenyum tulus pada nyonya Kate.


"Tapi ya nyonya Dita mengenai nawar putih itu, di sisi lain mawar putih juga punya arti negatif yaitu melambangkan perpisahan dan penghormatan terakhir," ucap Nyonya Kate menambahkan.


"Oh iya pantas saja mawar putih suka di pakai di acara pernikahan dan juga acara pemakaman," ucap Dita.


"Nah betul, apa kau mau merawatnya? ku beri satu mawar putih, rawatlah dengan baik," ucap Nyonya Kate.


"Ah tak usah nyonya, nanti malah mati dan tidak terawat dengaj baik oleh saya," sahut Dita mencoba menolak dengan halus.


"Nyonya Dita apa kau baik-baik saja?" nyonya Kate bertanya sambil menepuk bahu Dita.


"Oh iya saya baik-baik saja, maaf nyonya sebelumnya, apa anda punya dua anak perempuan?" tanya Dita.


"Saya hanya punya satu anak kandung tapi dia sudah meninggal, hmmm saya tahu, anda pasti mendengar rumor murahan tentang keluarga ku ya?" tanya Nyonya Kate.


"Bukan, bukan seperti itu, saya hanya bertanya karena ada dua foto keluarga yang saya lihat tadi," ucap Dita, kini dia takut jika nyonya Kate marah karena perkataannya barusan.


"Apa kau mau mendengar dari versi ku?" tanya Nyonya Kate merebahkan bokongnya di kursi yang terletak di sudut ruangan.


"Saya mau nyonya, ceritakanlah versi kalian, versi cerita yang sebenarnya terjadi. Karena rumor atau gosip murahan pasti banyak yang di tambah-tambah. Dita ikut duduk di samping nyonya Kate.


Hantu anak perempuan nyonya Kate tersebut sebenarnya berada di belakang mereka. Dita berusaha tak peduli pada hantu tersebut yang selalu mengamatinya sedari tadi.


"Anakku bernama Clara, dia tewas karena terbakar, Suamiku terlalu mabuk untuk mengingatnya begitu juga dengan ku ," ucap Nyonya Kate. Ada keinginan yang ia ingin tuangkan, tapi tetap dia tahan demi nama baik keluarga pemilik yayasan.


"Lalu apa yang membuat Clara terbakar?" tanya Dita.


"Dia sedang bermain pematik dan tanpa sadar membakar baju panjang yang ia kenakan. Saat aku dan suamiku pulang, tubuhnya hangus dan lemah tapi kami yang terlalu mabuk karena obat terlarang itu malah menertawai anak kami yang sekarat, sampai pagi kami berbaring di ruang tamu, dan saat terbangun kami dapati anak kami meninggal dunia," ucapnya tak dapat lagi menahan isak tangis yang keluar dari kedua matanya.


"Dan kau tau nyonya Dita, para tetangga malah membicarakan kami, mereka bilang kamu orang tua yang bodoh, yang selalu mabuk-mabukan. Dan setelah Clara meninggal Jhon tak pernah menyentuhku, dia selalu marah-marah dan menyalahkan ku karena tak mengajari Clara bahayanya bermain api," ucap Nyonya Kate yang kini di peluk oleh Dita.


"Tenanglah nyonya, aku yakin dia juga tau kondisi sebenarnya yang menimpa nyonya dan tuan Jhon, aku yakin dia pasti memaafkan kalian," ucap Dita memeluk nyonya Kate dan menoleh pada hantu clara yang tersenyum padanya.


Di sini lah Clara suka melukis, tepat duduk di sini," ucap Nyonya Kate .


Pantas saja hantu Clara muncul di sini, dia begitu menyukai tempat ini. batin Dita.

__ADS_1


"Bunda... ayo kita pulang!" ajak Anan yang berseru dari pintu belakang kediaman tuan Jhon.


"Iya yanda, panggil Anta dulu," sahut Dita.


"Mari nyonya," Dita ke layar dari ruangan taman bunga mawar tersebut dan menoleh pada sosok hantu Clara sambil tersenyum. Anak itu sebenarnya terlihat ingin memeluk ibundanya namun apa daya ibundanya gak dapat melihatnya.


"Lily mau minum teh, yuk minum teh," Anta menyuapi boneka Lily dengan air dalam cangkir mainan di tangannya. Lily tak bisa bernafas saat air itu masuk ke dalam hidungnya. Lily terantuk dan membuat Leona menoleh pada boneka tersebut.


"Uhuk uhuk... Anta batuk nih," sahut Anta mencoba menipu Leona yang hanya terdiam sepanjang bermain.


"Anta... pulang yuk sudah malam," ucap Dita dari pintu kamar Leona.


"Oke bunda, besok main lagi ya kak?" tanya Anta yang dijawab anggukan oleh Leona.


Dita menatap Leona dengan perasaan tak menentu. Aura hitam terlihat mengelilingi Leona. Anak itu balik menatap Dita dengan tajam, terus memperhatikan punggung Dita saat ia pergi menjauh menuruni Anak tangga sambil menggendong Anta.


"Bunda nanti Anta buatin susu cokelat ya sebelum tidur," pinta Anta.


"Beres, ayo pamit dulu sama Uncle Jhon dan Aunt Kate," ucap Dita.


Anta mencium punggung tangan ke dua orang di hadapannya yang terkejut kala melihat perbuatan Anta.


"Itu memang tradisi kami untuk hormat pada orang yang lebih tua," ucap Dita.


"Oh I see, she really a nice girl, thank you for coming to my house, and please come again."


(Oh begitu, dia memang anak yang baik, terima kasih sudah mampir ke rumahku, dan datanglah kembali.)


Ucap nyonya Kate dengan senyum cantiknya.


"Thank you for Rendang hahaha," ucap Tuan Jhon sebelum Dita, Anan dan Anta melangkahkan kaki keluar dari rumahnya.


"So, kapan-kapan mainlah ke rumah kami," ucap Anan.


"Ke rumah Mark? dia pasti tak akan suka melihat kami datang ke sana," ucap Tuan Jhon.


"Jangan bilang begitu, ini kan aku yang undang bukan Mark, oke, dah semuanya." Anan melambaikan tangannya diikuti Dita dan Anta.


"Jhon, I guess Dita can see our daughter, Clara."


(Jhon aku rasa Dita bisa melihat putri kita Clara.)


"Oh please honey... I don't believe in ghost."


(Ayolah sayang... aku tak percaya dengan hantu.)


******


Masih bersambung ya guys...


Jangan bosen-bosen untuk VOTE dan maaf ya kalau Vie mulai slowres balas komen-komen kalian tapi aku selalu like dan baca lho komen kalian sebagai penyemangat Vie untuk nulis. Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.


- WITH GHOST (UP)


-          Kakakku Cinta Pertamaku


(season 1 END, Season 2 - hiatus)


-          9 Lives (END)


-          Gue Bukan Player (END)

__ADS_1


Vie Love You All 😘😘😘


__ADS_2