
Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya... Jangan bosen bacanya ya...
Happy Reading 😊😘
*****
Sesampainya Anan dan Dita di bandara penerbangan domestik di Kota Angsa, Anan menghubungi om Kevin.
"Om dimana, aku udah sampe ni?" ucap Anan.
"Bentar tungguin ya, om jemput nih, diam-diam aja disitu." ucap Om Kevin lalu memutus sambungan teleponnya dengan Anan.
"Yanda makan yuk, laper nih!" ucap Dita.
"Mau makan apa emangnya?" Anan membuka kaca mata hitamnya dan menjepitkannya di saku kemejanya.
BRUG....!
Seorang pramugari sempat terantuk tiang karena terpesona dengan wajah Anan yang seolah-olah bersinar. Beberapa perempuan di sana juga menoleh dan memperhatikan suami Dita itu.
"Pakai lagi kacamatanya!" ucap Dita, wajahnya kini terlihat cemberut.
"Sih kok gitu, gelap soalnya bunda jadi aku buka."
"Pakai lagi...!!!"
Kali ini Anan tak bisa menolak perintah Dita. Diambilnya kaca matanya dari saku dan dipakainya lagi.
"Aku mau mie goreng, telor dadarnya di pisah." Sahut Dita.
"Ah siap sayangku cintaku, itu mah beres tuh ada restoran." Anan melingkarkan tangan Dita ke lengannya.
"Aku mau jus strawberry pakai susu ya tapi kamu yang buat." Dita mengedipkan matanya berkali-kali pada Anan.
"Hadeh... gak kuat dah kalau itu mata udah kedip-kedip gitu." ucap Anan.
Keduanya lalu memasuki restoran dalam bandara tersebut, Dita duduk di kursi terdekat dengan meja pelayan. Anan menghampiri pelayannya.
"Mba nasi goreng telur dadarnya pisah ya, terus jus strawberry sama susu, eh campur susu." ucap Anan.
Pelayan tersebut masih saja menganga memandang Anan dari dekat.
"Mbak... woi..." Anan menepuk tangannya di hadapan wajah mbak pelayan itu.
"Eh iya pak, tadi pesen apa?" tanya pelayan itu langsung meraih pulpen dan kertas menu.
"Saya ulang ya nasi goreng satu terus telur dadarnya pisah ya, terus jus strawberry campur susu, eh nanti yang buat jus saya aja ya mbak." ucap Anan.
"Lho kok gitu pak, jangan nanti saya di omelin bos saya." sahutnya.
"Tuh lihat istri saya ngidam, maunya saya yang buat jus nya." Anan menunjuk Dita yang terus memperhatikan Anan.
"Tapi gimana ya..."
"Boleh ya mba, saya bayar dobel deh harga jus nya." ucap Anan masih memohon pada mbak pelayan itu.
Pelayan itu menghampiri kawannya dan menceritakan keinginan Anan.
"Udah biarin aja, malah enak kita gak ngerjain hihihi." bisik pelayan satunya sambil memperhatikan Anan.
"Bo...Boleh pak, silahkan ini buahnya, ini susunya, ini air gula dan es batunya." ucap nya.
"Oke... makasih ya."
Selama Anan membuat jus, dua pelayan wanita itu masih memperhatikan seluruh tubuh Anan dan gerak- geriknya.
"Cakep banget nih cowok, kayaknya tajir mana sayang banget sama istri, duh mau gue satu kayak gini." bisik pelayan satunya.
"Jangankan elu, gue juga mau punya laki kaya gini." sahut pelayan satunya.
"Mbak ini gelasnya mana?" tanya Anan yang selesai membuat jus untuk Dita.
"Oh iya pak, bentar saya ambilkan." Pelayan itu meraih gelas di laci meja bawah di hadapan Anan.
"Ini pak gelasnya."
Tring... "Nasi goreng telur pisah, siap nih." ucap juru masak yang di dalam ruangan mengeluarkan sepiring nasi goreng dari kotak kecil itu.
"Sini mba saya aja yang bawa ke istri saya." pinta Anan lalu meraih nampan yang berisi sepiring nasi goreng dan segelas jus strawberry susu menuju meja Dita.
"Ini buat bunda tersayang..." ucap Anan.
"Yanda... Aku kan minta mie bukan nasi..." Dita menggerutu.
"Oh iya aku salah ya, tunggu ya aku pesen lagi."
Dita menepuk dahinya sendiri.
Setengah jam kemudian.
"Dita...!" om Kevin menepuk punggung Dita.
"Uhuk uhuk..." Dita tersedak saking terkejutnya.
"Minum bunda minum nih." Anan buru-buru menyerahkan gelas ke Dita.
"Om ini gimana sih, main nepok aja!" anan gantian menepuk bahu om Kevin.
"Maaf gak sengaja, kelepasan, maaf ya Ta." sahut Om kevin.
"Iya gak apa-apa." Dita tersenyum pada laki-laki di sampingnya itu.
__ADS_1
"Ayo buruan, kata Dewi suruh buruan!" ucap Om Kevin.
"Oh ya udah ayok." sahut Anan lalu mengikuti Om Kevin bersama Dita. Mereka menuju rumah yang di sewa Tante Dewi di sebuah perkampungan di Kota Angsa.
Di pilihnya tinggal di perkampungan, karena menurut Pak Diki, kalau mami Aiko tak akan menyangka mereka tinggal di perkampungan bukan memilih di apartemen atau rumah yang lebih mewah.
"Om...!!!" Dita berteriak mengejutkan semuanya, membuat Om Kevin menginjak rem tiba-tiba.
"Kenapa Ta?" Om Kevin menoleh.
"Iya kamu kenapa sih bunda?" tanya Anan.
"Mau rujak serut di gerobak itu..." Dita menunjuk gerobak rujak serut di samping trotoar dekat halte.
"Hadeehhh kirain apaan, tunggu bentar di sini." Ucap Anan, membuka pintu mobil, turun dari mobil lalu menuju gerobak rujak tersebut.
Anan langsung di sambut oleh ibu-ibu dan para gadis yang sedang membeli rujak dan siomay di samping gerobak rujak tersebut.
"Ya Allah cakep bener abangnya, duh gemes." UCAP salah satu ibu pembeli.
Ada yang mengajak Anan berfoto bersama, ada yang mencubit pipinya ada yang minta di elus perutnya saat sedang mengandung.
"Aduh maaf nih ya, saya bukan artis bu, ampun dah sakit jangan cubit-cubit." mohon Anan berusaha menutupi wajahnya dan kepalanya.
Dita hanya tertawa dari dalam mobil memperhatikan Anan.
"Seru banget ih liatnya." Ucap Dita sambil bertepuk tangan dari dalam mobil, sementara om Kevin menggeleng-gelengkan kepalanya bingung harus berbuat apa lagi.
"Bang buruan bang rujak serut dua." Sahut Anan meneriaki abang tukang rujak.
"Artis ya mas, heboh banget itu para ibu dan para cewek." sahut abang tukang rujak serut.
"Aduh ibu, mbak permisi dong jangan cubit juga sakit nih." teriak Anan.
"Foto ya mas ganteng." seorang perempuan memaksa Anan untuk berfoto bersama.
"Ih saya bukan artis mbak!" pekik Anan.
"Ganteng banget sih, jarang banget di kampung Jambu ini ada cowok ganteng kayak mas." UCAP ibu itu.
"Ah tau ah, bang buruan ini duitnya ambil nih kembalinya juga.
Anan menyerahkan selembar uang lima puluh ribu pada si tukang rujak.
"Bentar bang, nih dua bungkus." ucap tukang rujak itu seraya menyerahkan bungkusan plastik hitam berisi rujak serut untuk Dita.
"Makasih bang..." Anan langsung meraihnya dan berlari menuju mobil Om kevin.
"Cabut om, cabut...!" teriak Anan saat memasuki mobil Om Kevin.
***
Malam itu pukul setengah tujuh yang tertera di jam dinding kamar kos Shinta, membuatnya selalu menoleh ke jam dinding bergambar doraemon itu.
"Kak mau gak nih baksonya enak lho." Tasya menawari Shinta dengan semangkok baksobdi tangannya.
"Ogah ah, kan gue mau makan malem sama pacar gue, gak level makan bakso abang gerobak gitu." sahut Shinta mengejek Tasya dan Doni yang makan di teras kamar kos Shinta.
Tak lama kemudian Lee datang dengan mobil mercy hitam nan mewahnya.
"Tuh pacar gue dateng, keren kan?" ucap Shinta menunjuk ke arah Lee yang baru saja datang.
Keren dari mana, itu om item naik apa sih kayak gerobak gitu padahal.
Tasya melirik ke arah om item dengan tatapan aneh dan heran karena mata batinnya sudah bisa melihat siapa sebenarnya Lee, berbeda dengan Doni yang masih belum menyadari Lee, masih terpengaruh dengan ilusi dari om item.
"Hai semua!" sapa om item.
"Hai kak!" Doni menyapa balik.
"Hai..." sapa tasya yang perlahan mengangkat tangannya.
"Baby kita jadi kan makan di restoran mewah di dalam hotel yang mewah itu, jadi kan...?" Shinta melingkarkan tangannya di lengan Lee dengan erat.
"Jadi dong, yuk berangkat sekarang, kalian ikutan yuk!" ajak Lee.
"Lagi makan bakso sih tapi jadi pengen makan di hotel mewah." sahut Doni.
"Saya enggak ah di rumah aja." sahut Tasya.
"Sya sebaiknya kamu ikut aja, soalnya Dita titipin kamu ke saya." ucap Lee.
"Bentar, bentar, maksudnya Dita minta bantuan kamu buat jagain dia gitu?" Shinta menunjuk Tasya.
"Iya betul sekali." sahut Lee.
"Kok bisa kamu setuju aja sama perintah Dita?" tanya Shinta heran.
"Saya berhutang budi padanya, ayo kita berangkat!" ajak Lee.
"Ih sebel, kenapa sih semua orang suka banget baik sama Dita...!" Shinta langsung masuk ke dalam mobil Lee.
"Ayo Sya, lebih aman bersama daripada kamu sendirian kata Dita." Doni meraih mangkuk bakso di tangan Tasya lalu menyerahkannya pada tukang bakso gerobak sembari membayar. Doni lalu masuk ke dalam mobil Lee.
Tasya masih memperhatikan mobil gerobak yang menurut Shinta dan Doni mewah itu.
"Kalau orang liat kita pada naik gerobak jalan sendiri apa enggak malu ya kita." Gumam Tasya.
"Enggak lah, mereka gak akan bisa lihat kita kok, aku akan membawa kalian ke dalam auraku sehingga tak terlihat oleh para manusia awam." bisik Lee.
Tasya dengan terpaksa ikut serta masuk ke dalam gerobak milik om item itu.
__ADS_1
"Aku nyalain musik ya biar seru." Ucap Shinta lalu menekan tombol play pada mp3 player di dalam mobil Lee.
"Suatu saat nanti aku akan beli mobil kayak gini Sya biar kita bisa ngedate." ucap Doni sambil mengangguk-anggukan kepalanya mengikuti alunan musik.
"Gak usah don, jangan sampe deh punya mobil kayak gini, mending naik motor." sahut Tasya.
"Percuma Don kalau ngomong sama gembel gitu, mending milih naik motor daripada dia naik mobil mewah gini, lah naik angkot aja pasti mabok ya kan...?" Shinta mengejek Tasya.
"Hmmm.... terserah kamu aja deh... dasar nenek lampir. " gumam Tasya.
"Eh apa elo bilang? gue denger lo ngatain gue kan barusan?" Shinta menghardik Tasya.
"Enggak kok cuma bilang ada nenek tuh kaya nenek lampir hehehe." sahut Tasya berbohong.
"Udah sih jangan pada ribut terus, sebagai calon ipar harus rukun dong, saling akur." sahut Doni.
"IDIH...NAJISSSS...!!!"
ucap Shinta dan Tasya berbarengan ke arah Doni.
Seorang anak kecil perempuan menarik-narik bajunya dan menunjuk ke arah Tasya. Tak lama kemudian ia tertawa melihat rombongan Tasya.
Tasya menoleh ke anak itu dengan tatapan malu menghinggapinya sampai ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Sesampainya di sebuah parkiran hotel mewah berbintang lima, Lee menyerahkan kuncinya pada valet parkir lalu membawa semuanya masuk ke dalam hotel.
Tasya menoleh pada petugas parkir yang gak mempunyai wajah itu. Tubuhnya di penuhi belatung yang mencoba keluar dari rongga pipi, bagian lengan dan kaki yang berwarna pucat pasi.
"Don, kamu lihat petugas itu gak?" tanya Tasya.
"Iya emangnya kenapa?" tanya Doni.
"Serem ya Don?"
"Apanya yang serem biasa aja sih." sahut Doni.
Wah kayanya Doni bisa ke pengaruh si om item nih.
Tasya menepuk jidatnya.
"Gila keren parah ni restoran, bergaya eropa banget." puji Shinta, matanya tak berhenti berkeliling penuh takjub.
"Aku udah pesen makanan yang enak dan lezat untuk kalian." ucap Lee.
"Ah makasih ya baby kamu tuh udah buat aku makin cinta deh." Shinta mengusap bahu Lee.
Apanya yang keren, kita tuh ada di kebon pisang gini, meja juga dari kayu gelondongan bekas, lapuk, idih mana ada rayapnya, masa duduk di tanah lembab gini pada gak nyadar sih.
Tasya memasang wajah jijik dan takut saat melihat sekelilingnya.
"Ini boleh dimakan semua kak?" Tanya Doni yang kegirangan melihat spaghetti, makaroni dan daging asap, steak daging, buah-buahan lezat serta minuman jus buah dan sirup lainnya.
"Boleh dong dimakan kalau mau nambah juga boleh, ayo silahkan." Ucap Lee.
Shinta dan Doni langsung melahap tanpa malu. Sementara Tasya masih memandang jijik makanan yang ada di hadapannya.
Ia hanya melihat sepiring cacing tanah besar yang masih menggeliat, gundukan tanah, serta daging tikus busuk dengan saus darah dan nanah yang makin membuat Tasya sangat jijik.
"Tasya silahkan di makan." ucap Lee.
"Tau ih bukannya di makan, oh jangan-jangan elo belum pernah makan makanan seenak dan semahal kayak gini ya, dasar gembel!" Shinta mengejek.
"Emang belum pernah makan kak, jangan sampe deh, eh maksudnya saya kenyang." sahut Tasya menahan mualnya ingin muntah apalagi kala melihat para cacing besar itu menggeliat masuk ke mulut Doni.
"Kakak gak boleh gitu." sahut Doni mengucap dengan makanan penuh di dalam mulutnya.
"Whuueeeeeeekkk..." Tasya tak tahan lagi ia langsung pergi dari meja tersebut.
"Ih si gembel kenapa sih, norak banget!" ucap Shibta mencibir.
"Kakak ih, pasti Tasya kesel gara-gara kakak!" Doni berdiri lalu menyusul Tasya.
Shinta yang tak perduli hanya tersenyum puas melihat kepergok Tasya.
"Sya maafin kakak aku ya? kamu tersinggung ya?" Doni meraih lengan Tasya.
"Saya gak kesinggung kok sama dia, saya jijik Don." Sahut Tasya.
"Jijik kenapa sih." Doni mengusap bekas saus di bibirnya padahal cairan nanah dan darah yang menempel.
"Hueeeeeekkkk...!" Tasya tak kuat lagi langsung menembak ke arah kaki Doni.
"Tasya ih jorok... jijik tau kenapa kamu muntah di kaki aku sih?"
*****
Bersambung guys…
Jangan lupa main ya ke cerita terbaru ku
“WITH GHOST”
ramaikan disana.
Baca juga :
- Kakakku Cinta Pertamaku
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
__ADS_1
Vie Love You All… 😊😘