Pocong Tampan

Pocong Tampan
Dokter Shinta


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak ... apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget yak... thank u so much... love u all... 😘😍😊


***


"Tuh kan aku gak bohong." sahut Anan bangga.


"Ma maaf pak, saya gak tau, saya Shinta saya baru dua bulan jaga di sini dan gak pernah liat bapak." ucap dokter Shinta itu menunduk tak berani menatap Anan.


"Udah masih pada ngapain di sini, balik kerja lagi sana !" perintah Shinta lagi membuat dua orang satpam itu pamit dan sedikit kesal pada Shinta.


"Kamu tau alamat - alamat mayat yang masuk beberapa hari lalu gak yang..."


"Anak perempuan kecil sekitar lima tahun akibat kebakaran di warung bubur depan Kak." potong Dita.


"Oh yang itu bentar aku cari." Shinta menghampiri laci arsip itu dan menunjukkan sebuah alamat.


"Ini bukan Adelia Fauziah, lima tahun, alamat Jalan Kenari nomer lima Bojong Indah." tunjuk dokter Shinta.


"Nah iya bener tuh." sahut Dita mengambil sebuah buku dan merobek selembar kertasnya dan sebuah pulpen dari atas meja.


"Itu kan buku catatan aku." ucap Shinta.


"Maaf kak, pinjem yak, eh minta hehehe."


"Mana bisa dilarang, udah terlanjur diambil." ucap Shinta kesal.


"Oh iya ada yang lupa, pakaian pasien itu dimana ya?" tanya Dita


"Loh emang kamu saudaranya tanya barang-barang pribadi pasien?"


"Bukan saya cuma mau tanya terus kalau ada liontin di saku celananya tolong kasih ke istrinya yang lagi dirawat pasca kecelakaan tadi." sahut Dita.


"Dari mana kamu tau?"


"Udah turutin aja, dimana pakaian mayat itu." ucap Anan.


"Eh kalo bapak yang nyuruh mah saya gak bisa nolak." Shinta menatap Anan penuh rasa kagum.


"Panggil aja saya Manan, gak usah bapak kesannya saya tua banget." Anan tersenyum pada Shinta.


"Tapi kan emang bapak bos saya, jangan senyum gitu pak manis banget lihatnya." Shinta mencoba menggoda Anan.


"Hmmmm siap-siap aja Ta, calon pelakor tuh." bisik Andri membuat Dita makin mengepalkan tangannya kesal.


Shinta menarik laci di bawah kabinet menyerahkan barang pasien yang penuh darah berbau anyir dan amis ke Anan.


"Taro meja aja."


"Iya pak, ini celananya coba saya cek yak, lho iya pak ini ada liontinnya." Shinta menyerahkan liontin ke Anan.


"Nih Ta, terus gimana?" tanya Anan.


"Serahin ke Tante Dewi lah biar di kasih ke pasien yang kecelakaan bareng dia tadi." sahut Dita kesal lalu keluar dari ruangan.


"Ta, Ta tungguin Ta, kenapa lagi nih orang." Anan langsung menyusul Dita begitu pula Andri yang menggandeng Adelia menyusul Dita.


Prang.... Andri tak sengaja menendang tong sampah kecil di dekat meja.


"Maaf mbak maaf yak." Andri menyentuh dagu Shinta.

__ADS_1


"Apaan tuh... duh merinding kan gue." ucap Shinta lirih.


***


"Dita tunggu dong, kamu kenapa sih?"


Anan menahan tangan Dita.


"Lepas ah, aku laper mau makan dulu terus cari rumah Adel." sahut Dita kesal.


"Sejak kapan kamu laper malah marah-marah?"


"Sejak sekarang...!!" Dita menepis tangan Anan.


"Ta, kamu ngapain disini?" dokter Dewi menghampiri Dita.


"Eh Tante mau cari alamat anak yang korban tabrakan kemaren, mau aku balikin arwahnya biar tenang nyari neneknya terus, Tante mau ikut?" tanya Dita.


"Ih ogah."


"Oh iya Tante tau korban kecelakaan tadi yang suaminya badannya terbelah?" tanya Anan.


"Iya terus kenapa?"


"Ini tolong kasih istrinya, ada disaku suaminya tadi."


Anan menyerahkan kalung liontin ke telapak tangan Tante Dewi.


"Terus kamu mau kemana?" tanyanya.


"Ya nemenin Dita lah Tante nanti yang jagain dia siapa?"


"Eh no no no kalo kamu dijagain sama Andri mending jangan, temenin Dita aja Nan." perintah dokter Dewi.


"Tuh kan Tante Dewi aja malah suruh aku temenin kamu jauhin dari dia." Anan menyenggol bahu Andri.


Gedebug....!!! Andri mendorong Anan sampai jatuh membuat Tante Dewi heran.


"Ini kenapa bocah jatoh sendiri sih." ucap Tante Dewi.


"Udah biasa tante, cuekin aja." sahut Dita.


"Bukannya bantuin aku bangun Ta." Anan merangkak menarik Andri agar jatuh juga. Mereka saling serang dan berguling di lantai Adelia makin tertawa terhibur melihat perkelahian Anan dan Andri.


"Itu Anan kenapa sih Ta guling-gulingan gak jelas gitu?" tanya Tante Dewi.


"Cuekin aja Tante, makan bakmi ayam aja yuk." Dita menarik tangan dokter Dewi meninggalkan Anan dan Andri.


"Jagain mereka ya Del!" ucap Dita.


***


"Hai dokter Dewi." Shinta menyapa dokter Dewi di restoran bakmi ayam samping rumah sakit sambil membawa nampan pesanan nya.


"Hai Sin, sini duduk bareng, eh ini kenalin keponakan aku." Tante Dewi memperkenalkan Dita ke Shinta.


"Oh udah kenal tadi di kamar mayat."


"Hai namaku Dita." Dita mengulurkan tangannya.


"Udah kenal gue kan? gue Shinta masih inget kan?" tanya Shinta lalu duduk satu meja dengan Dita dan dokter Dewi.

__ADS_1


"Aduh Dita mah aku ditinggalin." Anan datang dengan nafas tersengal-sengal menyentuh kedua bahu Dita.


"Udah nan akrobatnya?" goda Tante Dewi.


"Gara-gara Andri tuh rese banget."


"Minum dulu pak biar capeknya ilang." Shinta menyodorkan segelas es teh manis pada Anan.


"Makasih ya, seger banget." Anan menenggak habis segelas es teh manis itu duduk disamping Dita.


"Sama-sama pak." Shinta memandangi Anan penuh takjub dan terpesona.


"Ehm ehm panas banget sih Tante hawanya." ucap Dita.


"Perasaan mendung Ta, kayanya mau hujan malah." sahut Tante Dewi.


"Iya Ta, panas dari mana?" sahut Anan.


"Panas panas banget kaya kuah bakmi ini."


Tak...


Dita menusuk kesal pangsit di mangkok bakminya dengan garpu.


"Ih Dita ngagetin aja." ucap Tante Dewi.


"Aku kok baru liat Pak Manan ya Bu?" tanya Shinta.


"Oh dia baru aja sadar dari koma."


"Berarti dia sekarang kerja disini Bu?"


"Iya dong, Nan kamu harus belajar buat jalanin rumah sakit ini." ucap dokter Dewi.


"Aku Tante?"


"Iya lah siapa lagi yang bakal terusin perusahaan ayah kamu kalau bukan kamu." sahut dokter Dewi.


"Wah berarti bisa tiap hari dong saya liat Pak Manan?" tanya Shinta makin tersenyum senang, Dita memperhatikan Shinta dengan raut wajah kesal.


"Ya bisa jadi saya tiap hari kesini kalo gak libur." Anan berusaha ramah pada Shinta.


"Wah boleh request jadwal gak Bu, kali aja bisa bareng pak Manan terus hehehe."


"Uhuk uhuk... pedes banget nih kuah." ucap dita.


"Minum Ta minum." dokter Dewi menyodorkan botol air mineral ke Dita.


"Makasih Tante." Dita meminumnya.


"Boleh minta nomer telponnya gak pak?" tanya Shinta kepada Anan.


Bbbuuaah.... !!!


Dita menyemburkan air minum di dalam mulutnya ke wajah Anan.


***


To be continued...


Happy Reading...

__ADS_1


__ADS_2